BROMOCORAH

BROMOCORAH
Binniyat


__ADS_3

Pagi ini di Pondok Hidayah.


Karena guyuran hujan dari kemarin sore hingga menjelang Isya', membuat sebagian halaman pesantren dipenuhi genangan air. Bau anyir tanah yang basah, juga aroma harum daun yang masih basah pun masih tersisa.


"Sedang santai saja, Jik?" Tanya Manan begitu melihat Ajimukti duduk di teras ndalem yang menghadap ke halaman pesantren itu.


"Iya, Nan. Kamu darimana?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Ini habis beli kopi." Sahut Manan sembari menunjukkan plastik hitam yang di tentengnya pada Ajimukti.


"Kamu mau saya buatkan kopi sekalian. Saya lihat kamu belum ngopi." Ucap Manan kemudian.


"Tidak usah, Nan. Terima kasih." Sahut Ajimukti.


"Wah, tumben kamu menolak kopi?" Ujar Manan sembari ikut duduk di kursi lain.


Ajimukti sepintas melempar senyum, "Bagaimana mau ngopi, wong saya puasa kok." Ucap Ajimukti kemudian.


"Oh, lagi puasa tho? Senin Kamis, Jik?"


Ajimukti mengangguk, "Iya, Nan. Kan kamu tahu sendiri."


"Maaf, Jik. Soalnya saya jarang nyenin kemisan." Sahut Manan sedikit malu malu.


"Kenapa? Wong amalan bagus kok. Kalau mampu sebaiknya kamu istiqomahkan, Nan." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan kemudian hanya meringis sembari menggaruk belakang kepalanya, "Kadang males, Jik. Dari pada tidak niat, mending tidak dulu. Nunggu benar benar niat dulu." Ucapnya kemudian.


Ajimukti kemudian menggelengkan kepalanya, "Kamu itu, Nan. Niat kok di tunggu. Niat itu di tancapkan."


"Ya, maunya begitu, Jik. Tapi namanya juga manusia, kadang niat kan naik turun. Ya, daripada menjadi amalan mubadzir mending tidak dulu saja." Ucap Manan kemudian.


"Mubadzir bagaimana, Nan? Hmmm..." Sekali lagi Ajimukti nampak keheranan.


"Ya, mubadzir lah, Jik. Puasa tanpa niat, cuma dapat haus lapar saja. Kan kamu tahu sendiri, amalan tanpa adanya niat itu seperti terbang satu sayap." Ucap Manan setelahnya.


"Memang benar, Nan. Tapi kadang mentang mentang tidak niat, terus tidak menjalankan amal tertentu. Sama mubadzirnya, Nan." Sahut Ajimukti.


"Lah, kok sama mubadzirnya sih, Jik." Debat Manan kemudian.


"Ya iyalah. Mubadzir ilmunya, tahu ilmunya tidak menjalankannya, mubadzir kan? Mubadzir waktu juga, menyibukkan dunia semata. Dan lagi dengan puasa, bisa menahan pikiran pikiran buruk, Nan. Jadi tidak Mubadzir juga pikirannya. Iso leren." Ucap Ajimukti kemudian.


"Kalau dipikirnya begitu ya juga, Jik. Tapi kan kamu juga tahu, Innama a'malu binniyat. Sesungguhnya amal itu karena adanya niat, Jik." Ucap Manan juga setelahnya.


"Ya, memang, Nan. Disana dikatan binniyat. Bi, karena. Karena itu kata ganti sebab. Jadi amal itu sebab niat. Begitu kan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk.


"Jadi jika menurut hadits itu, sebab amal itu karena niat, begitu kan?" Tanya Ajimukti lagi.


Sekali lagi Manan mengangguk, "Ya kurang lebih begitu, Jik." Sahutnya kemudian.


"Begini, Nan. Misalkan ini, kebetulan kamu datang ke sebuah acara atau bertamu. Lalu disuguhin makanan, sementara kamu tidak lapar. Itu bagaimana?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Ya, dimakan lah, Jik. Masak sudah disuguhin tidak dimakan." Sahut Manan cepat.

__ADS_1


"Nah, itu tahu." Sahut Ajimukti juga setelahnya.


"Maksudnya, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Untuk makan kan tidak harus menunggu lapar dulu, Nan. Ya, meski ada sebuah hadits mengatakan, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tapi untuk hal hal tertentu, ada adab yang harus kita sesuaikan, kan begitu?" Ucap Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk, "Lalu maksudnya bagaimana, Jik?" Tanyanya kemudian.


"Makan itu sebab lapar, hasilnya kenyang. Tapi jika sudah disediakan masak tidak dimakan, kan konsepnya begitu? Dan apa setelah makan meski belum lapar tidak akan menjadikan kenyang? Pertanyaannya begitu, Nan." Ucap Ajimukti lagi setelahnya.


"Ya kenyang lah, Jik. Sama saja, mau belum lapar atau sudah lapar, namanya setelah makan ya pasti kenyang." Sahut Manan cepat setelahnya.


"Nah, begitu juga dengan amalan, Nan. Amalan itu sama seperti ketika kita makan. Lapar itu niat. Kenyang itu pahala. Makan sebelum lapar juga kenyang. Sama, Nan. Amalan tanpa niat pun bisa mendapatkan pahala. Khusnudzon sama Allah. Yang mengatur pahala itu Dia, bukan kita sendiri yang memutuskan." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk paham.


"Bi dalam binniyat jangan dimakan mentah mentah dengan arti kata karena, Nan. Yang seharusnya itu, amalan apapun itu tergantung niat bukan karena niat." Ucap Ajimukti lagi setelahnya.


"Ya, Jik. Sedikit paham maksud kamu saya."


"Nah, yang menjadikan besar kecilnya pahala itu, ketergantungan niat itu, Nan. Tapi itu untuk yang kelasnya sudah luar biasa. Kalau untuk orang orang kayak kita yang kadang masih montang manting kanginan, ya jangan dulu mengandalkan ungkapan itu, Nan. Entar jadinya malah tidak jadi beramal karena tidak adanya niat. Untuk orang orang kayak kita cukup tanamkan dalam pikiran sendiri saja, sekiranya baik lakukan, sekiranya buruk tinggalkan, jadi tidak ada ketergantungan pada niat dulu." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Ketergantungan niat? Maksudnya, Jik?" Tanya Manan setelahnya.


"Begini, Nan. Kadang ada yang amalannya baik tapi niatnya buruk, kadang amalan yang dianggap buruk tapi niatnya baik pun juga ada. Tahu kan?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Kalau amalan baik tapi niat buruk saya paham, Jik. Banyak disekitar kita. Tapi kalau amalan buruk tapi Nia baik itu misalnya bagaimana, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Itu hanya bisa dilakukan oleh orang orang yang maqamnya sudah jauh diatas kita, Nan. Kalau kita belum sampai." Sahut Ajimukti.


"Ya ya ya. Kalau bahasannya belum sampai, saya paham, Jik." Sahut Manan kemudian.


"Sebagai seorang yang biasa, Nan. Jangan sedikit sedikit niat dijadikan alasan. Jika kita telaah, jika niat itu yang utama, pasti ulama dulu mengajarkan niat dulu baru amalan. Tapi toh yang diajarkan pertama amalannya dulu baru pelan pelan niat itu muncul dengan sendirinya." Ujar Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk paham.


"Bahkan, Nan. Dulu, orang orang di ajarkan amalannya dulu baru dikenalkan Islam. Kamu tahu kan?" Tanya Ajimukti setelahnya.


"Seperti cerita yang tak asing untuk kita. Dulu Sunan Kalijogo membuat Sekaten kemudian ada gamelan, jajanan, itu menarik untuk orang orang, tapi syaratnya siapa yang ingin masuk harus membaca syahadat. Dari situ, apa orang orang itu tahu kalau mereka masuk Islam? Apa orang orang itu masuk Islam karena niat? Kan tidak, Nan. Nunggu niat, Islam tidak seberkembang sekarang, Nan. Orang orang dulu secara tidak sengaja masuk Islam lantaran agar bisa melihat gamelan. Baru kemudian ketika mereka sudah semakin tertarik, barulah dikenalkan dengan Islam itu sendiri." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan lagi lagi hanya mengangguk.


"Sekarang juga banyak mualaf. Alhamdulillah. Alasan mereka pindah Islam yang paling populer bukan karena kemauan, tapi kebanyakan karena mendapat calon istri atau suami muslim lalu mereka menjadi mualaf. Apa itu salah karena niatnya begitu? Tidak, Nan. Biarkan saja, siapa tahu dengan sudah masuk Islam kemudian niat yang awalnya ini itu kemudian bisa benar benar niat lillahi ta'ala." Lanjut Ajimukti lagi.


"Setelah dipikir pikir memang benar ya, Jik." Sahut Manan sembari berkali kali mengangguk anggukan kepalanya.


"Yasudah sana kalau mau bikin kopi. Bikin dulu saja, Nan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Wah, nanti sajalah, Jik. Saya jadi tidak enak mau ngopi sementara kamunya puasa." Sahut Manan.


Ajimukti tertawa, "Kenapa, Nan? Toleransi?"


"Ya iya dong, Jik. Sebagai orang yang tidak berpuasa kita harus menghormati orang yang sedang berpuasa. Dibilang toleransi juga boleh." Sahut Manan membenarkan tebakan Ajimukti.


Sekali lagi Ajimukti tertawa, "Keliru, Nan. Toleransi dan menghormati itu bukan dari yang tidak puasa ke yang puasa. Tapi sebaliknya, Nan."

__ADS_1


"Lah, kok begitu, Jik?" Manan sedikit mengerutkan keningnya.


"Ya, sebagai orang yang puasa kita harus menghormati dan toleransi dengan yang tidak puasa dengan tidak merenggut kebebasannya, Nan." Sahut Ajimukti.


"Jadi bingung saya, Jik."


Ajimukti lagi lagi tertawa, "Kebanyakan dari kita, Nan. Kalau puasa justru tidak suka ketika ada yang tidak puasa makan di depannya, misal. Kemudian orang yang tidak puasa itu dianggap tidak menghormati yang lagi puasa. Padahal seharusnya yang menghormati itu mereka yang puasa kepada yang tidak puasa. Karena apa, hasil dari puasanya ya untuk dirinya. Ngoyak surgane dewe mosok wong liyo kon melu nyonggo rekasane, mengejar surganya sendiri masak orang lain disuruh ikut menyangga kesusahannya.Kan begitu, Nan? Jadi kalau lagi puasa ya hormati yang tidak puasa dengan tidak menganggu kebebasannya, itu baru toleransi."


"Dan ini berkaitan dengan niat, Nan. Seperti pendapat kamu. Kalau apa apa harus niat, berarti kalau sudah niat, tidak akan terganggu dengan keadaan sekitar, kan sudah niat. Kalau masih terusik, niatnya belum lurus berarti." Lanjut Ajimukti lagi.


Manan tertawa kemudian.


"Nah, kalau tidak puasa tapi ingin menghormati yang sedang puasa itu juga sangat bagus, Nan. Saling hormat menghormati, saling toleransi." Imbuh Ajimukti lagi.


"Nah, saya mau itu, Jik. Jadi yang bisa saling hormat menghormati." Sahut Manan merasa menemukan jawaban.


Ajimukti kemudian tertawa mendengar tanggapan Manan itu.


"Sudah tidak apa apa kalau mau ngopi. Ngopi sana, Nan. Kebetulan Nafisa tadi masak air. Mungkin sudah umup." Ucap Ajimukti kemudian.


"Nafisa di dapur, Jik?" Tanya Manan berbisik.


"Iya, kenapa? Jangan berduaan, kholwat." Ucap Ajimukti menggoda.


Manan hanya tertawa.


"Kalau begitu kebetulan yang betul begini, Jik. Saya suruh Nafisa saja buatkan kopi. Idep idep training." Bisik Manan diakhir ucapannya.


"Haishhh." Ajimukti mengibaskan tangannya. Manan hanya kemudian tertawa sembari beranjak ke dapur.


"Kamu tidak ingin kopi, Jik?" Goda Manan memundurkan langkahnya menggoda Ajimukti.


"Pantas saja setan setan sudah tidak takut pas dibacain ayat kursi." Gumam Ajimukti.


"Hah, apa hubungannya?" Manan masih menyempatkan menanggapi.


"Lha, setannya saja sudah wujud manusia yang malah hafal Al-Baqarah begini." Sahut Ajimukti.


"Ah, sialan kamu, Jik. Kamu samakan saya sama setan?" Gerutu Manan.


"Tidak."


"Lah, itu tadi apa coba?" Manan justru berkacak pinggang dengan ekspresi kesal pada Ajimukti.


"Tidak menyamakan, Nan. Justru nggumun saya itu." Sahut Ajimukti sembari menahan tawa.


"Nggumun! Nggumun! Nggumun apa coba?" Gerutu Manan lagi.


"Ya, nggumun saja, tidak menyamakan. Wong setannya beneran ada, tidak sekedar sama." Ujar Ajimukti lagi lagi sembari tertawa.


"Hah, terus terus terus!!!" Manan lagi lagi hanya menggerutu sembari ngeloyor masuk ke dapur.


Seberlalunya Manan dari hadapannya, Ajimukti kembali sendiri, ia sedang memikirkan sesuatu yang sejak pagi tadi sedikit mengganggu pikirannya.


Sebelumnya, pagi tadi, Ajimukti mendapat telfon dari Sibunya, Nyai Kartika. Hal yang kemudian menganggu pikirannya adalah mengenai Bu Lek nya, adik dari Almarhum bapaknya seperti yang dikatakan Nyai Kartika pagi tadi.

__ADS_1


"Bu Lek Mulatsih. Hmmm, kira kira Sibu menyuruh Lek Dul mencari petunjuk dimana lagi? Bahkan wajahnya pun baik Sibu maupun Lek Dul sama sama belum tahu." Gumam Ajimukti sembari mengusap keningnya.


Bersambung...


__ADS_2