
Langit diatas sudah seluruhnya menghitam. Gelap sudah benar-benar melahap di tiap sudut pekarangan. Tak ada rembulan tergantung menghiasi kepekatan malam. Yang ada hanya beberapa kunang-kunang yang kadang hinggap diatas bunga Soka Jawa yang tumbuh subur menjadi pagar pembatas antara jalan dan halaman rumah, lalu setelahnya terbang kembali.
Baru pukul delapan malam, tapi jalanan di depan rumah sudah nampak lenggang, hanya sesekali saja ada kendaraan yang melintas, itu pun bisa dihitung jari. Selebihnya, hanya akan ada kesunyian dan menjadikan jelas suara katak yang saling bersautan dengan rengek'an jangkrik.
Di teras rumah, dibawah lampu neon yang tak begitu terang, seorang gadis tengah duduk sendiri diatas kursi anyaman rotan. Sesekali pandangannya melihat melihat kiri kanan.
Tak jauh dari tempatnya duduk, di teras rumah sebelah yang terbatasi pekarangan kosong yang ditumbuhi beberapa pohon singkong dan kacang panjang, nampak seorang duduk menyendiri sama sepertinya. Beberapa kali nampak asap mengepul, itu terlihat dari bias cahaya lampu di teras rumah sebelah itu.
Hanya sesekali gadis itu memperhatikan tetangga sebelah rumahnya itu, setelahnya pandangannya kembali meliar, memperhatikan anak-anak katak yang melompat bergantian diantara bunga keladi dan pacar air yang juga tumbuh subur di halaman rumahnya.
Gadis itu kini menaikkan kakinya ke atas kursi kemudian menyembunyikannya di balik rok panjang yang dikenakannya. Merapatkan jaket yang sejak awal tak dikancingkannya lalu tangannya pun mulai saling mendekap. Angin malam yang berhembus sesekali itu perlahan-lahan membuatnya sedikit merasakan dingin.
"Mbok ya masuk kalau sekiranya diluar dingin, Nduk." Tegur seorang laki-laki paruh baya yang kini sudah berdiri di pintu.
Gadis itu menoleh ke asal suara, "Ah, abah mengagetkan Habiba saja."
Lelaki itu, Kyai Aminudin, kini justru berjalan mendekati Habiba dan segera duduk di kursi sebelah Habiba.
"Sedang memikirkan apa malam-malam begini diluar sendirian?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.
"Tidak ada, Bah. Habiba hanya sedang ingin menikmati udara malam saja. Selagi tidak hujan, Bah. Karena beberapa hari ini kan kalau malam sering hujan." Sahut Habiba kemudian.
"Hmmm, anak muda memang terkadang punya sensasi yang berbeda dengan orang-orang yang sudah tua seperti Abah ini." Gumam Kyai Aminudin kemudian.
Mendengar itu Habiba hanya tersenyum, "Umi apa sudah tidur, Bah?" Tanyanya kemudian.
"Belum. Itu masih lihat tv. Kalau remote sudah sama umi mu sudah pasti ganti Chanel ke sinetron. Kayak tidak tahu saja kesukaan umi mu itu, Nduk Nduk." Gerutu Kyai Aminudin kemudian.
Mendengar Abahnya menggerutu seperti itu, Habiba hanya nampak menahan tawanya. Ia tahu betul bagaimana uminya, Nyai Sarah, kalau sudah mantengin sinetron kesukaannya. Sementara Abahnya, Kyai Aminudin yang lebih suka melihat berita pada akhirnya hanya akan mengalah.
"Oh, iya, apa Ajimukti sudah menghubungi kamu lagi, Nduk?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.
Mendapati pertanyaan mengenai Ajimukti, sedikit membuat Habiba salah tingkah kali ini. Ia pun sedikit menegakkan duduknya. Lalu kemudian menggelengkan kepalanya, "Belum, Bah."
"Lalu bagaimana kabar anak itu sekarang? Apa saking sibuknya sampai-sampai tidak ada waktu untuk menghubungi kamu?" Gumam Kyai Aminudin lagi.
"Alhamdulillah, kabar beliau sehat, Bah. Meski kami tidak saling berkomunikasi, tapi Ning Afis, adiknya Gus Aufa sering memberikan kabar disana sama Habiba, Bah. Jadi Habiba tidak pernah sedikitpun cemas soal itu, Bah." Sahut Habiba kemudian.
"Yah, Abah mengerti, Nduk. Kalian punya cara sendiri untuk saling bertukar kabar. Dan Abah tidak akan terlalu ikut campur. Abah sudah terlalu takut, Nduk. Takut kalau Abah salah langkah seperti yang sudah-sudah." Ucap Kyai Aminudin sembari menghela nafas berat.
Habiba hanya kemudian terdiam.
"Apalagi yang sekarang ini berkaitan dengan hati, Nduk. Hati itu sangat rentan. Rentan goyah, rentan sakit juga rentan dengan hal-hal yang sepele sekalipun." Imbuh Kyai Aminudin kemudian.
"Iya, Bah. Abah tenang saja." Sahut Habiba menenangkan pikiran Kyai Aminudin yang sepertinya memikirkan betul mengenai hubungan Habiba dan Ajimukti.
"Bapak ingin cerita sedikit, Nduk. Kalau kamu belum mengantuk." Ucap Kyai Aminudin kemudian, seolah ingin mengalihkan topik pembicaraannya dengan Habiba.
Habiba seketika mengerutkan keningnya dengan perubahan tiba-tiba Abahnya itu.
"Cerita, Bah? Cerita apa?" Tanya Habiba sedikit keheranan.
__ADS_1
"Dulu, sewaktu Abah nyantri, Nduk. Abah pernah mendapat wejangan dari Kyai nya Abah. Yah, gini-gini Abah juga pernah benar-benar nyerap ilmu, Nduk."
Mendengar akhir ucapan Abahnya itu, Habiba hanya tertawa ringan. Ia merasa, akhir-akhir ini, watak Abahnya itu sedikit lebih senang bercanda. Sangat berbeda dengan Abahnya yang selama ini ia kenal.
"Wejangan Kyai nya Abah itu apa, Bah?" Tanyanya kemudian.
"Soal hati, Nduk."
"Hari, Bah?" Tanya Habiba keheranan. Dahinya lagi-lagi nampak mengkerut.
"Yah, benar. Hati. Kamu tahu hati kan, Nduk?" Tanyanya pada Habiba kemudian.
Habiba mengangguk, "Iya, Bah. Tahu. Lalu wejangan mengenai hati itu apa, Bah?"
"Begini? Abah tanya dulu. Yang dinamakan hati itu menurut kamu apa, Nduk?"
Mendapati pertanyaan seperti itu, Habiba terdiam sejenak. Ia bimbang, pertanyaan ini pertanyaan yang harus dijawab atau sekedar pancingan.
"Kenapa diam, Nduk? Ayo, menurut kamu, hati itu apa" Tanyanya pada Habiba sekali lagi.
"Emmm, hati ya, Bah? Ya, kalau menurut Habiba hati itu ya poros diri setiap manusia, Bah. Mesin utama pada diri manusi. Dan meski wujud fisik hati hanya segumpal daging, tapi seperti dalam hadits riwayat Bukhari, Bah. Jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk pula seluruh tubuh manusia itu." Jawab habiba kemudian.
"Benar sekali, Nduk."
"Tapi apa kamu tahu hal lain mengenai hati?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.
Habiba menggeleng, "Tidak, Bah."
"Nah, dulu, Nduk. Abah pernah di wejang sama Kyai nya Abah. Ternyata, Nduk. Dalam khazanah pengetahuan Islam, terdapat dua puluh macam sifat hati manusia yang disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim." Lanjut Kyai Amudin.
"Dia puluh sifat hati, Bah?" Tanya Habiba yang kini duduknya lebih mengarah ke arah Abahnya.
"Ya, dua puluh sifat hati, Nduk. Dan kesemuanya itu ada di dalam Al Qur'an." Sahut Kyai Aminudin.
"Lalu, kedua puluh sifat hati itu apa saja, Bah?" Tanya Habiba kemudian.
"Sifat hati yang pertama itu ada dalam Al Qur'an surat Asy Syuara ayat ke delapan puluh sembilan, Nduk. Sifat hati itu, hati yang Salim, yang selamat dan suci. Yaitu hati yang ikhlas dan kosong dari sifat kufur, munafik, dan kotoran." Terang Kyai Aminudin kemudian mulai bercerita tentang wejangan Kyai nya dulu.
"Lalu, Bah?"
"Yang kedua, hati yang Munib, yang selalu inabah. Yaitu hati yang selalu kembali, dan tazkiyah taubat kepada Allah, dengan selalu mengerjakan perintahNya. Itu sesuai isi surat Qaff ayat ketiga puluh tiga, Nduk. Lalu yang ketiganya, hati yang Mukhbit, yang tunduk. Yaitu hati yang selalu patuh, merendah yang tenang dan lapang sakinah. Mengenai hati yang Mukhbit ini, ada dalam Al Qur'an surat Al Hajj ayat kelima puluh empat, Nduk." Jelas Kyai Aminudin.
Habiba mengangguk paham, otaknya mulai merekam penjelasan Abahnya ini.
"Lalu ke empatnya, hati yang Wajal, yang bergetar. Yaitu hati yang selalu takut, jikalau tidak mengerjakan perintah dan tidak selamat dari azab. Itu ada di surat Al Mukminun ayat ke enam puluh. Lalu yang kelimanya, hati yang Taqiy, yang bertakwa. Yaitu hati yang selalu mengagungkan syiar Allah SWT. Itu sama seperti hati yang Mukhbit, dijelaskan dalam surat Al Hajj hanya ayatnya yang berbeda, yaitu ayat ketiga puluh dua. Yang ke enam, hati yang Mahdiy, yang diberi hidayah. Yaitu hati yang selalu ridha dengan takdir Allah, dan berserah atas perkaraNya. Itu ada di surat At Taghabun ayat kesebelas. Yang ke..."
"Tujuh, Bah..."
"Iya, yang ketujuhnya itu, hati yang Muthmainnah, yang tenang. Yaitu hati yang selalu mantap dengan keesaan Allah dan terus berdzikir. Itu terdapat di surat Ar Ra'ad ayat ke dua puluh delapan, Nduk. Lalu yang kedelapan, hati yang Hayyu, yang hidup. Yaitu hati yang kasyaf dari seluruh kejadian yang dialami oleh manusia. Ini juga dijelaskan di surat Qaaff di ayat yang ketiga puluh tujuh. Lalu yang kesembilan, hati yang Maridh, yang sakit. Yaitu hati yang terkena penyakit seperti ragu, munafik, yang didalamnya ada ilham untuk fujur, mendorong kepada syahwat haram. Ini terdapat pada surat Al Ahzab ayat yang ketiga puluh dua. Lalu yang kesepuluhnya itu, hati yang A'maa, yang buta. Yaitu hati yang tidak bisa melihat kebenaran, dan ibrah dari bashirahnya." Ini juga di surat Al-Hajj tapi di ayat yang ke empat puluh enam." Jelas Kyai Aminudin sembari mengingat dan mengatur nafasnya.
Hawa dingin semakin terbawa oleh hembus angin yang sesekali terasa semilirnya. Membuat Habiba sesekali harus merubah posisi duduknya sembari mendengarkan wejangan Abahnya itu.
__ADS_1
"Lalu yang kesebelas sampai kedua pulihnya, Bah?" Tanyanya kemudian pada Abahnya.
"Sebentar, Nduk. Ini Abah sambil mengingat. Karena semua itu terdapat dalam Al-Qur'an, ya takutnya Abah salah ingat surat juga ayatnya." Sahut Kyai Aminudin.
"Iya, Bah. Maaf maaf."
Sejenak Kyai Aminudin menghela nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Yang kesebelas nya, yaitu hati yang Lahiy, yang lalai. Maksudnya yaitu hati yg selalu lalai dari al-quran. Selalu terlena, sibuk dengan kebatilan dunia dan syahwatnya. Hal itu seperti yang tersirat dalam surat Al Anbiya ayat ketiga. Lalu yang kedua belas, hati yang Atsim, yang berdosa. Maksudnya yaitu hati yang menyembunyikan kesaksian terhadap kebenaran. Ini sesuai surat Al Baqarah ayat kedua ratus delapan puluh tiga. Yang ketiga belas, hati yang Mutakabbir, yang sombong. Yaitu hati yang tidak mau mentauhidkan Allah dan ketaatan padaNya. Banyak melakukan kezaliman dan permusuhan. Ada dalam surat Ghafir ayat ketiga puluh lima. Selanjutnya, yang ke empat belasnya, hati yang Ghalidh, yang kasar. Yaitu hati yang dicabut rasa empati dan kasihan terhadap sesama. Ada dalam surat Ali 'Imran ayat seratus lima puluh sembilan. Lalu yang kelima belas, Hati yang Makhtum, yang terkunci. Yaitu hati yang mendengar nasehat, tapi tidak melaksanakan nasehat. Jenis hati ini ada dalam surat Al Jatsiyah ayat kedua puluh tiga."
"Selanjutnya yang ke enam belasnya itu, hati yang Qaasiy, yakni hati yang keras. Hati yang ugal-ugalan, tidak memiliki kelembutan untuk iman dan tidak pernah berbekas ancaman, dan berpaling dari zikir kepada Allah. Jenis ini ada dalam surat Al Maaidah ayat ketiga belas. Selanjutnya, yang ketujuh belas, hati yang Ghaafil, yang Lalai. Yang tidak berdzikir, lebih memilih hawa nafsunya, dari pada ketaatannya. Jenis ini terdapat dalam surat AlKahfi ayat dua puluh delapan. Yang kedelapan belasnya, hati yang Aghlaf, yang terhijab, hati yang tertutup, tidak mau menerima nasehat. Ada di Al Baqarah ayat delapan puluh delapan. Yag kesembilan belas, hati yang Zaa-igh, yang miring. Yang selalu condong kepada selain kebenaran. Ada di Ali 'Imran ayat ketujuh. Lalu yang terakhir, yang sering dimiliki manusia, yaitu hati yang Muriib, yang selalu ragu, mamang, yang tidak ada kepastian, dan selalu goyah. Jenis yang terakhir ini ada dalam surat At Taubah ayat ke empat puluh lima."
"Wah, Abah, Habiba salut sama Abah. Abah bisa hafal itu diluar kepala." Puji Habiba kemudian.
"Yah, karena itu wejangan yang menurut Abah lain dari yang lain, Nduk. Yah, dulu pun Abah itu nyantri juga karena benar-benar mau ngangsu ilmu. Meski pada akhirnya Abah justru tidak bisa mengendalikan hati Abah sendiri. Dan, yah... Seperti yang kamu tahu. Bagaimana Abah sempat terjerumus." Sahut Kyai Aminudin.
"Sudahlah, Bah. Yang lalu biar berlalu. Jangan terus di ingat-ingat. Yang terpenting kan sekarang. Habiba bahagia sekali dengan Abah yang sekarang. Disini Abah jadi benar-benar bisa menularkan ilmu Abah."
Kyai Aminudin hanya kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sudah semakin larut ini. Kamu tidak berniat masuk, Nduk?" Tanyanya kemudian.
"Abah masuk dulu saja kalau mau masuk. Habiba masih mau disini dulu, Bah." Sahut Habiba.
"Hmmm, kamu saja dari tadi Abah lihat sudah njingkrang njingkrung kedinginan begitu kok." Goda Kyai Aminudin.
Habiba hanya kemudian tersenyum malu-malu, "Iya sih, Bah. Tapi tidak apa-apa, Abah masuk dulu saja kalau sudah mau istirahat."
"Hmmm..." Kyai Aminudin hanya kemudian menggumam. Baru sedikit menegakkan badannya, pandangnya kemudian tertuju pada rumah tak jauh darinya.
"Itu di teras rumahnya Pak Slamet, sepertinya ada orang to, Nduk?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.
"Iya, Bah. Itu sepertinya Kang Ari. Anaknya Bu Dhe Gitun dari suaminya yang dulu, Bah." Sahut Habiba yang kemudian ikut mengarahkan pandangannya ke rumah sebelah.
"Pemuda yang banyak tattoo sama tindiknya itu?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.
"Iya, Bah. Tapi meski begitu dia sekarang sudah taubat lho, Bah. Kan dia juga teman baiknya Gus Aufa."
"Yah, Abah tahu. Itulah yang Abah tidak habis pikir dari Ajimukti." Gumam Kyai Aminudin kemudian.
Habiba sedikit mengerutkan keningnya, "Tidak habis pikir bagaimana, Bah!"
"Kemampuan dia yang tidak semua orang bisa. Bahkan diusia Abah sekarang pun Abah harus mencontohnya." Sahut Kyai Aminudin.
"Maksud Abah?" Tanya Habiba yang masih belum juga mengerti maksud ucapan kyai Aminudin itu.
"Anak itu, bisa merangkul semua kalangan. Dari yang memang sudah punya latar belakang ngalim, dari yang hanya Islam kabangan, dari yang ndugal sekalipun. Semua bisa dirangkulnya." Untuk kali pertama Kyai Aminudin nampak bersungguh-sungguh dari hati memuji Ajimukti.
Mendengar itu, ada yang berdesir dihari Habiba. Diam-diam dia hanya bisa menahan senyumnya.
"Yasudah, Nduk. Dilanjut kalau masih mau disini. Abah masuk dulu." Ucap Kyai Aminudin seraya berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumahnya kembali meninggalkan Habiba di teras rumah itu seorang diri.
__ADS_1
Bersambung...