
Daun waru yang menguning itu nampak sudah benar-benar terpisah dengan ranting yang menahannya. Daun itu pun mulai terbang terbawa hembusan angin. Kini, daun itu jatuh tepat di salah satu pundak pemuda di bawahnya.
Wajahnya nampak sedikit berkeringat meski ia berdiri di bawah tempat yang cukup teduh. Namun pantas, karena memang cuaca di sekitar pohon itu cukup tidak bersahabat. Terik panas terus saja menyengat setiap pagi hingga menjelang dhuhur, meski setiap lepas tengah hari, langit akan serta Merta berubah mendung dan hujan akan tiba-tiba mengguyur. Benar-benar cuaca yang tidak menentu.
Pemuda lain nampak berjalan menembus terik. Rambutnya yang sedikit lebih panjang dari sebelumnya sesekali menutupi keningnya membuat ujung rambutnya pun nampak basah oleh keringat di wajahnya.
"Ada apa? Kenapa tumben sekali kamu ingin bertemu saya?" Tanya pemuda yang lebih dulu berada di bawah pohon waru itu.
Pemuda yang baru datang itu tidak langsung menjawab. Ia melewati pemuda yang berdiri dan segera duduk di bangku di bawah pohon itu.
Pemuda yang berdiri itu pun segera menyusulnya duduk.
"Yang pasti ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu." Ucap pemuda yang baru datang itu lirih.
"Lalu hal apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya?" Tanya pemuda yang lebih dulu berada ditempat itu.
Pemuda yang diajak bicara itu menghela nafas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan lawan bicaranya.
"Ini mengenai bapak." Ucapnya kemudian, lirih dan seolah tertahan.
Pemuda yang mendengar ucapannya itu nampak sekali mengerutkan keningnya sarat keheranan.
"Bapak? Ada apa dengan bapak?" Tanyanya kemudian.
"Tidak ada apa-apa. Jika ada apa-apa, justru kamu kan yang seharusnya lebih tahu." Ucap pemuda berambut sedikit panjang itu.
"Lalu?" Tanya pemuda satunya.
"Samuel, saya lelah seperti ini terus." Desahnya dan sekali lagi seperti tertahan.
Samuel, pemuda yang sejak tadi menunggunya itu nampak melengkungkan bibirnya. Lalu menghela nafas.
"Bud, kita sudah bukan anak kecil. Kita sudah bisa berpikir sendiri sebagaimana semestinya. Seandainya bisa memilih, tentu sebagai anak, kita tidak ingin terlahir dengan kondisi yang seperti ini. Tapi apa bisa kita memilih? Yang bisa kita lakukan hanya Narimo ing pandum. Selebihnya, kita sendiri yang harus menentukannya." Ucap Samuel kemudian.
Budi, pemuda yang rambutnya sedikit lebih panjang dari biasanya itu terdengar menarik nafas kuat-kuat. Suara angin yang melewati tenggorokannya begitu terdengar jelas.
"Kamu benar, Sam. Sudah saatnya kita menyudahi perselisihan yang bahkan kita sendiri pun tidak tahu bagaimana awalnya itu." Ucapnya kemudian.
Samuel menepuk pundak Budi. "Kita temui bapak, Bud. Bapak sepertinya sangat merindukan kamu." Ucapnya setelah itu.
Budi tidak segera menjawab. Tapi dari sorot matanya jelas ia tidak juga menolak ajakan Samuel itu.
Samuel pun segera beranjak dari duduknya dan tanpa menunggu Budi mengikutinya ia segera melangkahkan kakinya. Namun beberapa langkah, Samuel berhenti lalu menoleh ke arah Budi yang masih duduk.
Mendapati tatapan Samuel yang penuh harap, Budi pun segera beranjak dan dengan langkah gontai mengekor di belakang Samuel menjauh dari pohon waru menerobos terik yang menyengat di pagi menjelang siang ini.
Sementara itu ditempat lain diwaktu yang sama.
"Sepertinya santri mas yang bernama Hexa itu sudah banyak perubahan sekarang, dan saya lihat sudah sering sekali ikut ngobrol sampeyan, Mas." Ucap Nafisa sembari menyodorkan kopi kearah Ajimukti.
Ajimukti mendekatkan cangkir kopi ke hadapannya, "Saya malah bersyukur mengenai perubahannya itu, Sa. Jadi dia lebih cepat beradaptasi dari prediksi saya."
Nafisa mengangguk ringan, "Iya, Mas. Oh, iya, Mas. Tapi bagaimana mengenai dia yang sering terlihat seliweran di pasar? Apa Sampeyan sudah dapat info dari teman Mas yang Mas suruh untuk mengawasi Hexa itu?" Tanyanya kemudian.
__ADS_1
Ajimukti menggeleng, "Belum, Sa. Karena kebetulan beberapa hari lalu teman saya itu sedang sibuk acara di rumahnya, jadi tidak sempat mengawasi anak itu." Sahutnya kemudian.
"Saya memang sempat sedikit menanam kecurigaan pada sikap Hexa, bukan ingin berprasangka, Sa. Tapi sejujurnya saya khawatir jika ada hal lain yang ia sembunyikan. Tapi setelah beberapa hari ini melihat perubahannya, kecurigaan saya berangsur-angsur saya tenggelamkan, Sa." Lanjutnya kemudian.
"Tapi, Mas. Bagaimana jika perubahannya itu bagian dari cara ia menyembunyikan sesuatu dari kita mengenai sesuatu yang lain yang sedang coba Mas cari tahu itu." Ucap Nafisa kemudian.
Ajimukti mengangkat bahunya, "Entahlah, saya tidak ingin su'udzon, Sa. Jika memang ada hal yang dirahasiakan Hexa dari saya. Saya yakin tidak lama juga saya akan tahu entah bagaimana dan darimana."
Nafisa mengangguk paham, "Yasudah, Mas."
"Assalamu'alaikum..."
Tepat disaat Ajimukti dan Nafisa menyudahi obrolan mereka itu. Sebuah salam terdengar dari dua orang yang berbeda yang terucap bersamaan.
Ajimukti dan Nafisa segera memutar pandangan ke arah suara salam itu. Disana sudah terlihat Sobri juga Ajeng sudah berdiri hendak menghampiri Ajimukti juga Nafisa.
"Kang Sobri, Dik Ajeng. Darimana ini kok barengan?" Tanya Ajimukti setelah sebelumnya menjawab salam keduanya.
"Dari rumah, Kang." Sahut Ajeng yang segera duduk disebelah Nafisa.
"Iya, Gus. Tadi saya sama bapak ke rumah Pak Lek Pras. Terus ini bapak masih bantu-bantu Pak Lek benerin kandang ayam. Pas saya mau balik kesini, Sik Ajeng ikut katanya suntuk dirumah, mau ketemu Ning Afis. Biar ada teman mengobrol." Imbuh Sobri.
"Kebetulan sekali, Kang. Tadi saya sebenarnya mau ikut pas tahu sampeyan sama Lek Dul mau ke rumah Ajeng. Tapi masak belum selesai, rencana mau nyusulin. E, malah sudah disini saja." Sahut Nafisa.
"Kopi, Kang?" Ucap Ajimukti kemudian menawarkan kopi.
"Sudah, Gus. Tadi sudah ngopi di rumah Pak Lek Pras." Sahut Sobri.
"Eh, ikut, Sa." Sahut Ajeng yang juga segera ikut berdiri.
"Tidak usah, Ning." Sahut Sobri mencoba menolak.
"Sudah tidak apa-apa, Kang." Imbuh Ajimukti.
Nafisa dan Ajeng segera melangkah ke dapur, meninggalkan Ajimukti dan Sobri berdua mengobrol di teras ndalem.
"Keberuntungan untuk sampeyan, Kang." Gumam Ajimukti tiba-tiba.
Sobri yang belum paham arah pembicaraan Ajimukti, sedikit mengerutkan keningnya.
"Keberuntungan, Gus? Maksud Gus Aufa?" Tanya Sobri sarat keheranan.
"Ya bagaimana tidak beruntung, Kang. Sampeyan bisa dapat calon istri seperti Dik Ajeng." Ucap Ajimukti kemudian.
Mendengar itu wajah Sobri nampak tersipu. "Doanya saja, Gus."
"Ditambah lagi, Kang. Tidak ada keberuntungan seorang mukmin kecuali, zaujatun muwafaqah, punya istri yang manut." Sahut Ajimukti kemudian.
"Ya, saya berharap Dik Ajeng memang bisa seperti harapan saya, Gus." Sahut Sobri nampak kebingungan menjawab.
Ajimukti tersenyum, memahami mimik wajah Sobri yang seperti itu, "Saya yakin Dik Ajeng bisa, Kang. Dia itu sudah ngangsu ilmu, dia itu wis wareg pemahaman, jadi saya yakin Dik Ajeng bukan wanita mentah, Kang." Imbuh Ajimukti.
"Iya, Gus."
__ADS_1
"Yah, Meski muwafaqah itu dimaksudkan kesesuaian atau kecocokan, tapi kalau namanya sudah manut, yang harusnya tidak sesuai bisa disesuaikan, yang harusnya tidak cocok bisa dicocokan, ya to, Kang?" Tambah Ajimukti.
"Leres, Gus." Jawab Sobri masih nampak malu-malu.
"Ngobrol apa sih, Mas? Sepertinya serius sekali." Tiba-tiba Nafisa datang membawakan kopi untuk Sobri yang membuat Sobri sedikit salah tingkah.
"Ah, tidak apa-apa, Sa. Loh, Dik Ajeng mana, Sa?" Tanya Ajimukti begitu tidak melihat Ajeng bersama Nafisa.
"Saya suruh ke kamar, Mas. Yasudah dilanjut ngobrolnya, saya mau ngobrol sendiri sama Ajeng saja di kamar." Sahut Nafisa sembari melenggang kembali ke dalam.
"Wanita memang begitu, Kang." Gumam Ajimukti sembari menyeruput kopinya.
Kembali ketempat kini Budi dan Samuel berada.
"Ayo masuk!" Ajak Samuel pada Budi yang masih berdiri mematung dan nampak ragu-ragu untuk melanjutkan langkahnya.
"Tapi, Sam...!" Sahut Budi dengan suara sedikit tertahan. Langkah kakinya terasa berat untuk menyusul Samuel di depannya.
"Sudahlah, Bud. Buang istilah tapi dalam pikiran kamu itu." Sekali lagi Samuel meyakinkan, kini ia yang balik mundur menghampiri Budi.
Budi mengangguk ringan. Menghela nafasnya yang berat dan mencoba mengatur detak jantungnya yang mulai tak beraturan.
Tak jauh darinya, seorang petugas berseragam biru nampak ramah menyapa beberapa pengunjung yang datang untuk menjenguk keluarga mereka di dalam. Bahkan saking ramahnya, nampak petugas dan salah seorang pengunjung ngobrol santai dan terlihat begitu akrabnya. yah, mungkin bisa jadi itu karena si pengunjung mungkin terlalu sering datang ke tempat ini sehingga membuat petugas itu hafal betul dengan si pengunjung.
"Mau besuk siapa?" Tanya petugas berseragam biru itu pada Samuel dan Budi ketika mereka berdua sudah berada tepat di hadapan si petugas.
"Pak Nugroho, Pak." Jawab Samuel yang sudah terbiasa datang mengunjungi Nugroho.
"Identitas dirinya, Mas." Pinta si petugas itu pada Samuel. Samuel segera meminta KTP Budi, Budi pun segera memberikannya pada Samuel dan segera pula oleh Samuel di serahkan pada petugas itu. Begitulah tata cara ketika akan mengunjungi keluarga yang berada di balik gedung ini, harus menunjukkan identitas diri untuk mencegah hal-hal dan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
"Baik, silahkan masuk untuk diperiksa." Ucap petugas itu lagi.
Setelah masuk mereka akan bertemu dengan petugas lain di bagian pemeriksaan barang dan badan. Sekali lagi ini untuk memeriksa keamanan, karena ditakutkan ada barang-barang larangan yang sengaja di selundupkan oleh pengunjung.
Setelah semua dirasa aman, mereka akan diarahkan untuk masuk keruang tunggu dan petugas akan memanggil keluarga yang akan mereka kunjungi.
"Silahkan masuk, ditunggu disana dulu ya, Mas. Kami panggilkan Pak Nugrohonya." Ucap petugas di bagian penerimaan tamu kunjungan.
"Baik, Pak. Terima kasih." Sahut Samuel yang segera berjalan ke arah ruang kunjungan di ikuti Budi yang mengekor di belakangnya.
Budi masih nampak makin tegang. Ini kali pertama dirinya masuk ke tempat ini semenjak ayahnya, Nugroho menjadi penghuni tempat ini.
"Santai, Bud. Relax. Tidak perlu tegang." Ucap Samuel yang sejak tadi memperhatikan ketegangan yang tidak bisa ditutupi di wajah Budi.
"Apa kelihatan sekali saya tegang, Sam?" Tanya Budi sembari mengusap-usap telapak tangannya.
Samuel tak menyahut, ia hanya tersenyum ringan untuk menenangkan Budi.
"Kita memang berbeda keyakinan, Bud. Tapi kita sama-sama percaya pada Tuhan. Dan saya yakin, apapun keyakinan yang kita anut, Tuhan ya Tuhan. Dan itu satu adanya. Serahkan semua pada Tuhan, Bud. Biarkan tangan-tangan Tuhan yang mengarahkan kita. Pasrahkan semua pada kuasa Tuhan. Saya yakin, niat saya, niat kamu, adalah niat yang baik. Jadi tidak mungkin tidak dimudahkan Tuhan. Tugas kita hanya mempercayakannya saja, Bud." Ucap Samuel kembali meyakinkan Budi.
Budi mengangguk ringan, "Terima kasih, Sam."
Bersambung...
__ADS_1