
Dua hari setelah pertemuannya dengan Mulatsih. Ajimukti kembali menjalani aktifitasnya di Pondok Hidayah. Kembali pada rutinitasnya sebagai pengasuh pesantren penerus bapaknya, Kyai Salim.
Siang itu, di antara terik yang berpadu dengan awan keabu-abuan disisi langit yang lain. Ajimukti nampak sedang duduk di pelataran masjid bersama Sobri. Tidak ada percakapan serius diantara keduanya.
Namun tak lama setelahnya, Hexa nampak datang menghampiri mereka. Kini, sikap anak itu nampak jauh lebih baik daripada beberapa Minggu sebelumnya.
Melihat langkah Hexa yang mendekat kearahnya, Ajimukti nampak sedikit melengkungkan senyumnya.
"Sini, Xa. Duduk sini. Ngobrol sini." Ucap Ajimukti begitu Hexa sudah lebih dekat dengan tempatnya duduk.
"Assalamu'alaikum, Gus. Kang Sobri." Ucap Hexa yang tidak seperti biasanya memang.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah..." Sahut Ajimukti hampir berbarengan dengan Sobri.
"Darimana Kang Hexa?" Tanya Sobri kemudian.
"Dari semak'an sama Gus Faruq, Kang." Sahut Hexa sembari menyalami Ajimukti juga Sobri.
"Sudah banyak perkembangan kamu, Xa. Alhamdulillah." Sahut Ajimukti sedikit memuji atas perubahan Hexa kali ini.
Hexa hanya kemudian tersenyum mendengar pujian Ajimukti pada dirinya itu.
"Kadang saya bingung, Gus." Ucapnya kemudian.
Mendengar itu, Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya, pun dengan Sobri yang sejurus kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Hexa.
"Bingung? Bingung dalam hal apa, Xa?" Tanyanya pada Hexa kemudian.
"Sampai detik ini saya tidak tahu tujuan untuk saya sendiri nyantri, ngaji itu apa, Gus. Yah, selain karena manut dawuh ayah." Sahut Hexa polos.
Mendengar itu Ajimukti tertawa ringan, lalu menepuk pundak Hexa.
"Xa....! Sekarang begini saja. Pokok'e waton ngaji begitu saja dulu. Mbuh arep dadi Opo, sing penting gondelane ngaji. Tidak ada ruginya kok. Anggap saja kita ini, yang masih mau ngaji ini adalah orang-orang yang beruntung, Xa. Karena faktanya, sekarang itu sudah banyak yang meninggalkan ngaji. Tidak paham apa itu ngaji. Sementara, ngaji itu sebenarnya satu hal pokok. Pondasi semua ibadah, ya ngaji." Ucap Ajimukti kemudian.
Hexa yang kali ini, sepertinya benar-benar memperhatikan sekali apa yang diucapkan Ajimukti itu.
"Santri waras itu harus mau ngaji, Xa. Mau model yang bagaimana pun tetap kembalinya ya ke ngaji. Ngaji, ngaji, ngaji. Sudah itu saja. Sebab tanpa ngaji, bakal luput semuanya, salah kaprah, kewolak walik. Tanpa dasar." Sambung Ajimukti lagi.
"Sekarang yang namanya ngaji itu sudah sangat jarang kita temui kalau bukan di pesantren seperti ini, sudah jarang. Eman eman kalau sampai kita meninggalkan ngaji. Sekarang banyak yang ngomongin tasawuf, ngomongin Pengeran. Bagus itu. Tapi tanpa ngaji ya apa gunanya? Mletre. Ujung-ujungnya terdoktrin faham yang tidak sesuai ilmu. Pakai ilmu, tapi ilmu sing awur-awuran." Lanjut Ajimukti lagi.
"Leres, Gus. Seperti saat ini, banyak amal-amalan, ijazah, wirid yang di share di media sosial. Bagus tapi terkadang malah melupakan ngajinya, lebih senang nge-share yang seperti itu." Imbuh Sobri kemudian.
__ADS_1
"Iya, Kang Sobri. Yang seperti itu dibaca boleh, nggak pun juga tidak masalah. Tapi kalau menurut saya pribadi, Kang. Ini mungguhe Kulo, Kang. Masih banyak ulama, banyak Habaib, banyak Kyai, kenapa harus ngaji sama media sosial? Bagi saya, saya ngaji ngedep guru saya itu lebih baik daripada semua wirid yang saya baca, Kang. Karena karomah seorang guru kadang bukan dari apa yang beliau ucapkan, tapi kadang datang dari pandangan pun bisa. Terus bagaimana kalau ngaji tanpo nyawang sing mulang? Kan begitu?" Sahut Ajimukti.
"Ngaji itu pinter nomer loro, Kang. Sing nomer siji teko. Sudah, datang saja dulu. Bab pintar itu urusan belakangan. Bisa akan datang karena terbiasa. Ojo mburu lanyah, nanging burunen Istiqomah. Ngaji itu seperti itu." Imbuhnya lagi.
"Setuju, Gus." Sahut Sobri mengamini ucapan Ajimukti.
"Lalu bagaimana maksud ucapan njenengan ngaji pondasi semua ibadah, Gus?" Tanya Hexa kemudian.
"Begini, Xa. Untuk bisa sholat kita harus tahu ilmunya sholat, untuk bisa sedekah kita harus tahu ilmunya sedekah, untuk bisa puasa kita harus tahu ilmunya puasa, untuk bisa tayamum, wudhu, mandi besar dan lain sebagainya, kita harus tahu ilmunya itu. Nah, untuk tahu ilmunya semua itu, ya sholat, ya sedekah, puasa, tayamum, wudhu, mandi besar dan lain sebagainya itu kan dari ngaji. Kalau kita tidak ngaji bagaimana kita tahu ilmunya?" Ucap Ajimukti.
"Bisa njenengan pahami?" Tanyanya kemudian pada Hexa.
Hexa mengangguk, "Nggeh, Gus. Saya paham."
"Sekarang banyak kita temui, Kang. Banyak penafsiran penafsiran yang tidak pas tapi membudaya." Ucap Ajimukti kemudian.
"Seperti apa itu, Gus?" Tanya Hexa.
Ajimukti terdiam sejenak, matanya menyipit, "Seperti Hijrah misalnya. Sering kan kita dengar itu? Nah, kalau orang ngaji, tidak akan mengartikan taubat itu dengan bahasa hijrah. Sudah jauh itu artinya. Yang mengatakan taubat dengan hijrah, sudah jelas itu santri modern yang anti ngaji."
"Tapi bukankah hijrah itu sama artinya dengan taubat, Gus?" Tanya Hexa kemudian.
"Berbeda, Xa. Taubat itu dari yang tidak mengenal agama menjadi ingin mengenal agama, mendekat pada Allah. Dari yang maksiat menjadi taat. Nah, Kalau hijrah itu pindah. Makanya benar orang orang sekarang pakai istilah hijrah, pindah. Dari yang dulunya di jalan, sekarang pindah ke masjid. Tapi kelakuannya masih sama. Berbeda dengan taubat, kalau sudah taubat itu pasti dari akhlak, adab dan kebiasaan akan berubah." Terang Ajimukti.
"Misal ini, kamu pakai bahasa hijab seperti ini. Misal kamu BAB di sungai, jangan lupa pakai hijab. Itu boleh, Xa. Pakai hijab, penutup. Kan bukan berarti pakai jilbab kan, Xa?" Ajimukti masih melanjutkan.
Hexa mengangguk, "Benar, Gus. Kalau dengan contoh seperti ini, saya jadi paham."
"Berarti tetap yang sesuai ya, Gus?" Tanyanya kemudian.
"Jilbab bisa, Khimar juga bisa, Xa." Jawab Ajimukti.
"Khimar? Apa itu, Gus. Bisa njenengan jelaskan?" Tanya Hexa kemudian.
"Khimar itu kerudung, Xa. Sebagian ahli bahasa mengatakan, khimar adalah yang menutupi kepala wanita. Jamaknya akhmarah, atau khumr, atau khumur, atau khimirr. Itu seperti yang tertulis dalam Al-Qur'an surat An-Nuur ayat ketiga puluh satu. Wa qul lilmu'minaati yaghdhudhna min abshorihinna wayahfadzna furuujahunna walaa yubdiina ziinatahunna Illa maa dzoharo minhaa walyadhribna bikhumurinna 'ala juyuubihinna. Katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan ***********, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar kedadanya." Jelas Ajimukti kemudian.
"Adapun secara bahasa, khamara artinya menutupi. kha mim dan ra, asalnya membentuk makna taghthiyyah, menutupi, dan pencampuran sesuatu dalam menutupi sesuatu yang lain. Itu dijelaskan dalam Maqayis Al Lughah. Nanti kamu bisa cari di perpustakaan kitabnya." Sambung Ajimukti lagi.
"Baru tahu saya, Gus." Sela Hexa sembari sedikit mengulaskan senyumnya.
"Ya, diluar sana. Ini dianggap tidak penting, Xa. Yang penting pakai saja. Bahkan tidak pakai pun tidak masalah. Ya kan? Wes biasa." Balas Ajimukti.
__ADS_1
"Benar, Gus."
"Oh iya, dalam Tafsir Jalalain pun juga dijelaskan, Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar ke dadanya. Maksud dari menjulurkan itu yaitu menutup kepala-kepala, leher-leher dan dada-dada mereka dengan qina‘. Qina' itu semacam kerudung." Imbuh Ajimukti.
"Qina', Gus?" Tanya Hexa seperti asing mendengar istilah itu.
"Qina‘ itu kerudung yang memiliki ujung-ujung, yang dijulurkan ke dada wanita, untuk menutupi dada dan bagian yang harus ditutupi pada wanita, Kang." Imbuh Sobri menambahi.
"Benar itu, Xa. Ath Thabari juga menjelaskan hal serupa. Khumur adalah jamak dari khimar, dijulurkan ke dada-dada mereka sehingga tertutuplah rambut, leher dan anting-anting mereka. Ringkasnya, para ulama menjelaskan bahwa khimar adalah kerudung yang menutup bagian kepala hingga dada wanita, Xa." Ajimukti menambahkan.
"Oh, begitu ya, Gus. Lalu kalau jilbab sendiri, Gus? Apakah itu berbeda dari khimar khimar itu tadi?" Tanya Hexa kemudian.
"Kang Sobri bisa menjelaskan?" Tanya Ajimukti pada Sobri.
Sobri mengangguk, "Begini Kang Hexa, mengenai jilbab pun sama halnya Khimar. Allah pun berfirman mengenai jilbab. Itu ada dalam surat Al Ahzab ayat yang ke lima puluh sembilan. Ya ayyuhaannabiyyu qul liazwaajika wa banaatika wanisaa'il-mu'miniina yudniina 'alaihinna min jalaabiihinna. Yang artinya, Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Secara bahasa, jilbab berasal dari kata al jalb, Al Jalb artinya menjulurkan atau memaparkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain. Sedangkan makna jilbab secara spesifik adalah gamis. Dan jilbab itu adalah pakaian yang lebih lebar dari khimar, yang selain rida’. Yang dipakai oleh wanita untuk menutupi kepala dan dadanya. Wallahu a'lam bish-shawab." Jelas Sobri.
"Tepat sekali apa yang dikatakan Kang Sobri, Xa. Namun para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna jilbab dalam surat Al Ahzab itu, Xa. Dalam kitab Fathul Qadir, Asy Syaukani membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai jilbab itu sendiri." Imbuh Ajimukti.
"Perbedaan pendapat, Gus? Apa saja itu, Gus?" Tanya Hexa kemudian.
"Benar, Xa. Al Jauhari mengatakan, jilbab adalah milhafah, kain yang sangat lebar. Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah al qina’ sejenis kerudung untuk menutupi kepala dan wajah. Sebagian ulama lain mengatakan, jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Sebagaimana dalam hadits shahih, dari hadits Ummu Athiyyah, bahwa ia mengatakan, Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab. Lalu Rasulullah menjawab, hendaknya ada dari kalian yang menutupi saudarinya dengan jilbabnya. Al Wahidi mengatakan, menurut para ulama tafsir jilbab digunakan untuk menutupi wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya saja, sehingga diketahui mereka adalah wanita merdeka sehingga tidak diganggu orang. Al Hasan mengatakan, jilbab digunakan untuk menutupi setengah wajah wanita. Qatadah mengatakan, jilbab itu menutupi dengan kencang bagian kening, dan menutupi dengan ringan bagian hidung. Walaupun matanya tetap terlihat, namun jilbab itu menutupi dada dan mayoritas wajah. Jilbab adalah rida‘ selendang untuk menutupi bagian atas yang dipakai di atas khimar. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Al Hasan Al Bashri, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An Nakha’i, Atha’ Al Khurasani, dan selain mereka. Dan menurut definisi ini maka jilbab itu sebagaimana izaar di zaman sekarang, Xa." Terang Ajimukti.
"Paham kamu, Xa?" Tanyanya kemudian pada Hexa yang nampak bingung.
Hexa yang ditanya Ajimukti seperti itu nampak hanya menyembunyikan senyumnya saja.
"Oh iya, Gus. Dari Tafsir Karimirrahman pun juga dijelaskan Jilbab adalah yang dipakai di atas pakaian, baik berupa milhafah, khimar, rida’ atau semacamnya, yang dipakai untuk menutupi wajah dan dada mereka." Imbuh Sobri kemudian.
"Ya ya ya, benar, Kang. Ada yang terlewat."
"Nah, Xa. Dari sini, kita dapati para ulama berbeda pendapat dalam memaknai jilbab. Jadi, Makna jilbab yang bisa kita simpulkan dari penjelasan para ulama, Jilbab adalah milhafah, kain yang sangat adalah khimar atau al qina’, yaitu kerudung untuk menutupi kepala hingga dada. Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Jilbab adalah penutup wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya adalah penutup setengah wajah adalah penutup kepala dan wajah kecuali matanya, hingga ke adalah rida‘, selendang untuk menutupi bagian atas yang dipakai di atas khimar. Lalu, Dengan mengesampingkan masalah apakah wajah termasuk aurat yang wajib ditutup atau tidak, secara umum kita bisa bagi makna jilbab menjadi sama dengan khimar, yaitu kain yang menutupi kepala, leher, hingga ke dada wanita. Jilbab adalah kain yang lebih lebar dari khimar dan dipakai di atas khimar. Artinya, jilbab berbeda dengan khimar, sehingga ulama yang memaknai demikian mewajibkan muslimah ketika keluar rumah memakai tiga hal itu, yaitu tsaub atau pakaian, khimar, dan jilbab. Yang ketiga, Jilbab sama dengan hijab muslimah, yaitu seluruh pakaian yang menutupi aurat, lekuk tubuh dan perhiasan wanita." Jelas Ajimukti kemudian.
"Ringkasnya, Kang. Para ulama khilaf mengenai makna jilbab. Kita hendaknya bijak dalam memaknai dan menggunakan makna jilbab sesuai dengan konteks yang ada dan dengan menghormati khilaf ulama dalam hal ini, Kang." Imbuh Sobri kemudian.
"Benar itu yang dikatakan Kang Sobri, Xa. Kembali ke intinya tadi, yang terpenting ngaji, Xa. Kalau kamu ngaji kamu bisa membedakan mana yang seharusnya digunakan, mana yang tidak tepat digunakan. Jadi tidak asal ikut trend tapi tanpa dasar. Itu sama seperti dengan mendombakan diri sendiri, Xa. Tahu domba kan, Xa? Domba itu kawannya ke kanan ikut ke kanan, ke kiri ikut ke kiri. Berbeda dengan santri yang ngaji. Santri itu harus menjadi singa. Singa itu tidak pernah bersama kawanan, berburu sendiri pun berani. Karena dia kuat. Nah, sebagai santri kita harus punya kekuatan itu, kekuatan kita apa? Ilmu. Darimana dapat ilmu, Ya Ngaji. Kan begitu, Xa?" Terang Ajimukti kemudian.
Hexa mengangguk paham isyarat membenarkan ucapan Ajimukti itu.
"Berarti harus menjadi santri singa ini ya, Gus?" Kelakar Hexa pada akhirnya.
"Betul, Kang. Kalau Sayyidina Umar bin Khatab mendapat julukan Assadullah, yaitu singa Padang pasir. Kita sebagai santri harus menjadi Singa Ladang ilmu, Kang." Imbuh Sobri kemudian.
__ADS_1
Bersambung...