BROMOCORAH

BROMOCORAH
Khansa binti Khadzdzam


__ADS_3

Kisah hidup Khansa binti Khadzdzam seorang Muslimah pada zaman Rasulullah  SAW sarat akan pesan bagi kaum Hawa. Ia menjadi contoh dan saksi hidup betapa ajaran Islam yang disebarkan Rasulullah SAW sangat memuliakan perempuan.


Perjalanan hidup Khansa menjadi pelajaran penting bahwa Islam tak mengekang kebebasan kaum wanita. Bahkan, sejak dini, Islam telah memberikan kebebasan kepada kaum wanita: kebebasan dalam menentukan calon suami, kebebasan berpendapat, dan sebagainya.


Bahkan, tak berlebihan jika dikatakan bahwa Islam dalam hal kebebasan berpendapat lebih mendengarkan pendapat kaum wanita daripada kaum laki-laki. Sampai ambang pintu perceraian pun, Islam masih menghormati kedudukan seorang wanita.


Sebagai contoh, jika seorang suami memutuskan hubungan dengan istrinya atau bercerai sebelum digauli, suami harus membayar setengah mahar yang telah ditentukan. Namun, jika suami mencerai istrinya setelah digauli, ia harus membayar mahar itu secara utuh.


Pada saat itu, si suami tidak bisa semena-mena dengan berkata, dari sisi keturunan dan  kedudukan, dia dalam hal ini si istri masih di bawahku.


Kisah Khansa berisi sebuah pelajaran bahwa seorang wanita hendaknya harus memahami betul arti sebuah pernikahan yang seharusnya dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang.


Rasulullah SAW menegaskan bahwa sebuah perkawinan tak boleh mengandung unsur penipuan atau paksaan. Oleh karena itu, seorang wali tidak berhak memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya.


Atas dasar itulah, Rasulullah SAW mengurungkan pernikahan Khansa. Ketika ia dipaksa ayahnya untuk menikah dengan orang yang tak dicintainya.


Khansa adalah keturunan Bani Amr bin Auf bin Aus. Ketika masih belia, dia bertemu Rasulullah SAW. Khansa juga tercatat meriwayatkan beberapa hadis dari Rasulullah.


Dikisahkan, Khansa dilamar oleh dua pemuda, yakni Abu Lubabah bin Mundzir salah seorang pahlawan pejuang dan sekaligus sahabat Nabi SAW, serta yang satunya ialah seorang laki-laki dari Bani Amr bin Auf yang masih kerabatnya.


Sebenarnya, Khansa tertarik pada Abu Lubabah. Namun, sang ayah punya kemauan sendiri, yakni memilih anak pamannya untuk putrinya itu.


 


Khansa pun akhirnya dinikahkan ayahnya dengan anak pamannya. Lalu, Khansa segera menemui Rasulullah dan mengadukan masalah itu.


Ya, Rasulullah, sesungguhnya bapakku telah memaksaku untuk kawin dengan orang yang diinginkannya, padahal aku tidak mau.


Rasulullah bersabda, Tidak ada nikah dengannya, kawinlah engkau dengan orang yang kamu cintai.


Lalu, Khansa menikah dengan Abu Lubabah. Para ahli hadits saling berbeda pendapat tentang status Khansa saat perkawinan keduanya dengan Abu Lubabah.


Sebuah riwayat dalam al-Muwaththa’ dan ats-Tsauri menuturkan bahwa Khansa saat pernikahan kedua masih perawan.

__ADS_1


Sementara itu, menurut hadits riwayat Bukhari dan Ibnu Sa’ad, saat pernikahan kedua, Khansa sudah janda karena ia pernah berkata kepada Rasulullah, Wahai, Rasulullah, sesungguhnya paman anak saya, yaitu suami Khansa pertama, lebih suka kepada saya. Nabi SAW lalu menyerahkan urusan Khansa sepenuhnya kepadanya.


Habiba tertegun membaca kisah tentang Khansa binti Khadzdzam seperti yang disarankan Ajimukti kepadanya. Diam diam ia tersenyum sendiri. Memang tidak salah dirinya meminta saran pada Ajimukti siang tadi.


Habiba kini semakin yakin untuk tidak mengiyakan lamaran Budi nantinya. Tapi dibalik semua kelegaan itu Habiba pun masih takut untuk benar benar menolak keinginan Abahnya itu. Bagaimana ia akan mengatakan penolakannya pada Abahnya. Habiba tidak cukup punya keberanian untuk itu.


Sekali lagi Habiba nampak murung jika harus mengingat itu. Bagaimana pun juga selama ini ia tidak pernah sekalipun menolak keinginan Abahnya itu.


Habiba kini terduduk lemas. Sebelum akhirnya terdengar suara gaduh di ruang tengah Kyai Aminudin. Habiba mencoba mencari tahu ada kegaduhan apa disana. Samar samar ia mendengar suara Abahnya yang meninggi. Sepertinya Kyai Aminudin sedang marah marah diruang tengah itu.


"Abah sudah berulang kali bilang kan, Mi. Habiba tetap akan menikah dengan Budi anaknya Pak Nugroho. Apa umi lupa kalau Pak Nugroho sudah bersedia membantu pembangunan pondok putri di pesantren kita ini?" Suara Kyai Aminudin menggelegar hampir memenuhi ruangan itu.


Habiba yang hanya melihat dan mendengar suara tinggi Abahnya dari balik tembok mendadak nyalinya menciut. Habiba tahu betul bagaimana Kyai Aminudin yang sekarang kalau sudah marah.


"Tapi, Bah. Bagaimanapun Habiba juga yang nantinya akan menjalaninya. Bagaimana Habiba bisa bahagia kalau Habiba tidak cinta sama Nak Budi?" Kali ini Uminya terdengar mulai membela Habiba.


"Cinta! Cinta! Cinta! Halah!!! Apa cukup kalau cuma makan cinta? Buanyak Mi buktinya mereka yang katanya menikah karena cinta, tapi mana buktinya? Apa mereka bahagia? Jadi orang itu mbok ya yang realistis, Mi. Kebahagiaan itu, ya kalau sudah punya semuanya. Nah, Nak Budi lho Mi. Umi tahu sendiri to? Nak Budi itu pewaris tunggal Pak Nugroho. Kurang apa dia? Soal cinta lama lama juga akan tumbuh sendirinya kalau semua kebutuhan anak kita tercukupi. Ingat, Mi. Witing tresno jalaran Soko kulino. Lama lama gendhuk juga bakal cinta mati sama Nak Budi Mi kalau mereka sudah menikah nanti. Dan lagi apa umi tidak senang melihat anak kita satu satunya hidup enak berkecukupan?" Kyai Aminudin semakin terus meninggikan suaranya.


"Ah, mbuh lah, Bah. Susah ngomong sama Abah. Umi cuma nggak mau kebahagiaan anak kita Abah pertaruhkan demi ambisi Abah saja." Istri Kyai Aminudin pun kini terlihat mulai sedikit kesal dengan sikap suaminya itu.


"Masa depan yang seperti apa, Bah? Masa depan Habiba atau masa depan Abah?" Tiba tiba Habiba berdiri dan mulai mengeluarkan suaranya di samping tembok ruang tengah. Entah dorongan apa yang membuatnya nyalinya kini seberani ini.


Kyai Aminudin melotot dan terlihat geram. Untuk pertama kalinya anak perempuannya itu berani mengucapkan kata kata itu pada dirinya. Kyai Aminudin menatap tajam ke arah Habiba dengan sorot mata murka. Istrinya pun, terlihat kaget ketika mendengar Habiba berani mengatakan itu pada Abah yang selalu ditakutinya selama ini.


"Kamu!!!" Kyai Aminudin masih menatap tajam ke arah Habiba. Gigi gerahamnya terdengar mulai gemerutuk dan saling bertaut.


"Kenapa, Bah? Apa salah Habiba mengatakan ini? Bukankah Rasulullah sudah mengatakan wanita pun harus dimintai izin ketika hendak dinikahkan, dan inilah yang disebut sebagai nikah al mukrah?" Habiba kini mulai melangkahkan kakinya. Sorot matanya tak pernah setajam ini sebelumnya. Tidak ada sedikitpun keraguan yang terpancar di wajahnya.


"Berani kamu ngomong seperti itu pada Abahmu, Nduk? Sudah merasa pinter kamu sekarang? Apa ini hasil mu nyantri selama ini? Untuk melawan Abahmu? Heh?" Kyai Aminudin semakin terlihat geram dengan tatapan anaknya yang tajam ke arahnya.


"Tidak ada yang Habiba takutkan lagi, Bah. Selama Habiba benar. Selama Habiba mempertahankan hak Habiba. Tunjukan pada Habiba, Bah! Mana letak kesalahan dari yang Habiba sampaikan?" Habiba kini berhenti. Jaraknya dengan Abahnya hanya sekitar dua langkah. Tatapan matanya masih setajam tadi.


Kyai Aminudin menyeringai. Lalu menoleh ke arah istrinya, "Mi, lihat! Lihat, Mi. Anak kebanggaan kita. Sekarang sudah berani melawan orang tuanya!"

__ADS_1


Istri Kyai Aminudin hanya bisa menghela nafas lalu mencoba melangkah mendekati anak perempuannya itu untuk menenangkan nya.


"Sudah lah, Mi. Habiba hanya menyampaikan apa yang perlu Habiba sampaikan. Habiba tidak ada maksud untuk berani melawan Abah. Tapi Habiba hanya ingin hak Habiba sebagai anak dipenuhi oleh Abah sebagai wali Habiba." Habiba tetap dengan pendiriannya meski uminya berusaha menenangkannya.


"Tapi sudah, Nduk! Jangan begitu sama Abahmu!" Ucap Uminya lirih sambil mengelus pundak Habiba.


"Habiba yakin. Abah sebagai seorang Kyai yang begitu banyak tahu tentang hadits dan kitab, Abah pun tahu tentang kisah Khansa binti Khadzdzam?" Habiba mencoba menggunakan apa yang ia dapatkan dari Ajimukti sebagai tameng dirinya saat ini.


Kyai Aminudin memutar badannya dan kembali menatap tajam Habiba.


"Kamu berani kamu bilang seperti itu sama Abahmu, Nduk?" Kyai Aminudin mulai naik pitam mendengar ucapan Habiba yang barusan.


Habiba tersenyum sinis, "Kenapa, Bah? Tentu sudah tidak asing untuk Abah dengan nama itu kan? Dan Abah pun pasti tahu tentang kisahnya kan?" Habiba semakin mendesak.


Wajah Kyai Aminudin kali ini benar benar merah padam. Bola matanya melotot sebesar biji kelereng. Dia tidak menyangka kalau Habiba akan mengatakan itu kepadanya.


"Didik anakmu untuk tahu caranya berbicara dengan orang tua, Mi!" Kyai Aminudin meninggalkan Habiba dan istrinya diruang tengah itu. Desakan dari ucapan ucapan Habiba membuatnya tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia yakin jika dia meneruskan perdebatan ini, Habiba akan semakin memojokkannya.


Dalam kemelut hatinya yang dipenuhi kemarahan. Kyai Aminudin semakin khawatir kalau saat Pak Nugroho datang kembali untuk meneruskan pembicaraan mengenai lamaran Budi terhadap Habiba. Habiba akan masih tetap dengan pendiriannya saat ini. Menolak. Untuk saat ini Kyai Aminudin lebih memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan. Dirinya yakin Habiba saat ini tidak lagi mudah untuk menuruti keputusannya.


Diruang tengah Habiba masih berdiri mematung. Sikapnya begitu tenang meski sudah berbicara itu kepada Abahnya. Untuk kali pertama Habiba merasakan dirinya yang baru yang tak hanya bisa menangis dan menangis saja.


Uminya sekali lagi mencoba menenangkan hati anak gadisnya itu. Sekali lagi di elusnya punggung Habiba dengan penuh kelembutan.


"Sudah, Nduk. Tenangkan dulu hatimu." Ucap Uminya begitu melihat Abahnya sudah pergi meninggalkan mereka.


"Insya Allah Habiba cukup tenang kali ini, Mi. Bagaimanapun Habiba harus tetap menyampaikan ini pada Abah. Habiba tidak ingin Abah dipenuhi ambisi dan melupakan semua hak dan kewajibannya sebagai wali Habiba, Mi." Ucap Habiba masih mematung.


Kini Uminya mencoba meraih pundak anak gadisnya itu dan memutar badannya menghadap ke arahnya. Uminya memandang Habiba dalam dalam bahkan pandangan itu sampai menembus ke dalam hati Habiba.


"Apa santri itu yang membuatmu sekuat ini sekarang, Nduk?" Tanya Uminya lembut sembari mengangkat dagu anak gadisnya.


Habiba hanya menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk ringan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2