BROMOCORAH

BROMOCORAH
Ah, Ternyata Habiba


__ADS_3

"Saya coba cari lagi aja, Gus."


Faruq sekilas melihat kecemasan yang terpancar di wajah Ajimukti.


"Baiklah, Kang. Kita berpencar sekali lagi." Sahut Faruq.


Ajimukti hanya mengangguk. Dengan langkah cepat ia segera menyusuri kembali jalan yang sempat ia susuri tadi.


Pandangannya liar mencari sosok Habiba. Sesekali ia bertanya kembali pada orang orang yang sepertinya warga sekitar. Tapi tak ada jawaban yang meyakinkan.


Suara bedug sudah terdengar, tak lama gema adzan Maghrib pun berkumandang. Ajimukti hampir putus asa. Ia sejenak menyandarkan tubuhnya di tiang di depan sebuah warung. Raut wajahnya yang sayu memperlihatkan jelas guratan kecemasan di wajahnya.


Ajimukti menghela nafas. Semilir angin yang sesekali membelai wajahnya belum mampu mengeringkan bulir bulir keringat di wajahnya. Suara adzan Maghrib sudah berhenti, Ajimukti menegakkan kembali tubuhnya. Sekali lagi ia menghela nafas dalam dalam.


"Kang Aji." Tiba tiba suara yang cukup familiar itu membuatnya seketika menoleh ke arah sumber suara.


Benar saja Habiba kini berjalan ke arahnya, disampingnya ada seorang gadis dengan perawakan yang tak jauh beda dengan Habiba hanya kulitnya yang agak sedikit lebih gelap tapi tak mengurangi keanggunan di wajahnya.


Seketika Ajimukti menghela nafas lega dan tanpa ia sadari sebuah senyum begitu saja merekah dari bibirnya.


"Kemana saja, Ning. Saya sama Gus Faruq kebingungan nyari Ning Biba." Ucap Ajimukti tanpa basa basi lagi ketika Habiba sudah berada di hadapannya.


"Maaf, Kang. Tadi waktu nyari toilet ketemu temen saya ini. Jadi ngobrol dulu di warung. Maaf banget ya, Kang!" Habiba menangkupkan kedua tangannya ke depan.


"Iya, Ning. Cuma tadi Gus Faruq kelihatan cemas sekali." Padahal ketika itu pun di wajah Ajimukti masih terlihat sisa sisa kecemasannya juga.


"Terus mana ini Mas Faruq nya, Kang?" Tanya Habiba begitu menyadari Faruq tak sedang bersama Ajimukti.


"Gus Faruq juga masih muter muter nyari Ning Biba." Sahut Ajimukti.


Habiba justru cekikikan, "Oh iya, Kang Aji, kenalin ini Ajeng. Temen Habiba di pondok." Habiba memperkenalkan temannya yang bernama Ajeng itu pada Ajimukti.


Mereka hanya saling mengatupkan tangan di dada masing masing.


"Nah, Ajeng. Ini yang tadi aku ceritain. Santri Abah ku yang di kompetisi tadi dapat juara pertama padahal di pondok Abah, Kang Aji ini masih kelas Diniyah." Habiba terlihat menggebu gebu ketika mengenalkan Ajimukti pada Ajeng, temannya itu.


Ajimukti hanya menunduk malu mendengar pujian Habiba terhadapnya. Tapi Ajeng, teman Habiba sepintas mengamati Ajimukti untuk sejenak.


"Yasudah, Biba. Saya kembali ke teman teman ya. Ini kan sudah ada..."


"Kang Aji." Sahut Habiba ketika Ajeng terlihat lupa.


"Iya Kang Aji." Lanjut Ajeng.


"Oke oke, Jeng. Makasih ya Ajeng." Ucap Habiba terlihat menggemaskan.


Ajeng hanya mengangguk dan kemudian undur diri dari hadapan mereka setelah berpamitan dengan Ajimukti yang ditutupnya dengan sebuah senyuman.


"Yasudah kita kembali ke Gus Faruq, Ning. Kasihan kalau Gus Faruq nanti masih nyari Ning Biba." Ucap Ajimukti kemudian, setelah Ajeng berlalu dari hadapan mereka.


Sementara itu dari kejauhan Ajeng nampak menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Habiba dan Ajimukti yang masih berdiri di depan sebuah warung. Untuk sekali lagi ada senyum yang mengembang di wajah ayunya.


Ajimukti mempersilahkan Habiba duluan, sementara dirinya hanya mengiring Habiba di belakang. Untuk sesaat tak ada lagi obrolan antara mereka berdua.

__ADS_1


Tapi mendadak pandangan Habiba tertuju pada pergelangan tangan kiri Ajimukti dan diam diam ia tersenyum tersipu melihat itu. Jantungnya mendadak berdebar. Dan jika dilihat wajahnya pun kini mulai memerah.


Ajimukti melihat Faruq sudah lebih dulu ke tempat tadi mereka kebingungan mencari Habiba. Sesaat setelah Ajimukti menyapa Faruq. Pandangan Faruq seketika tertuju ke arah Habiba yang sudah cengar cengir di samping Ajimukti.


"Kamu ini dari mana, Ba. Bikin cemas saya sama Kang Aji tahu nggak." Gerutu Faruq ketika Habiba sudah tepat berada di depannya.


"Ya maaf, Mas. Tadi itu Habiba ketemu teman teman pondok Habiba, terus kita ngobrol di warung. E, kelupaan saking asiknya ngobrol." Sahut Habiba memanja.


Faruq hanya geleng geleng kepala, "Kenapa nggak kasih kabar. Bikin khawatir orang kamu itu."


"Kan HP Habiba, Habiba tinggal, Mas. Gimana Habiba kasih kabar coba." Bantah Habiba.


"Makanya, lain kali HP dibawa. Jadi kalau ada apa apa gampang menghubunginya." Ucap Faruq memberi pengertian ke Habiba meski nampak masih jengkel.


"Mas khawatir banget ya, Mas?" Habiba justru menggoda Faruq yang sudah mulai kesal dengan tingkah tak bersalah Habiba.


"Ya jelas Mas khawatir orang Mas di pasrahin Pakdhe buat jaga kamu kok. Kang Aji juga cemas dari tadi muter muter nyari kamu." Ucap Faruq.


Habiba tersentak, mendadak ada yang berdesir di ulu hatinya.


"Kang Aji cemasin Habiba?" Tanyanya lirih tanpa sadar.


Ajimukti yang mendengar itu kini wajahnya terlihat memerah dan jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Kikuk. Dan sedikit salting.


Faruq yang menyadari dirinya sudah keceplosan berusaha mengalihkan pembicaraan untuk segera menghentikan suasana canggung ini.


"Sudah sudah. Sudah adzan Maghrib. Kita cari masjid dulu. Sholat Maghrib habis itu kita balik ke pondok."


"Baik, Gus."


Tanpa menunggu lama karena memang sudah manjing Maghrib, mereka pun segera mencari masjid terdekat.


Tak lama setelah mereka selesai sholat Maghrib mereka bertiga pun segera menuju ke tempat Faruq memarkir mobilnya untuk segera kembali ke Pondok Hidayah.


"Sudah semua? Ada yang masih mau dibeli lagi?" Tanya Faruq kemudian.


"Tidak, Gus." Sahut Ajimukti.


Tapi entah kenapa Habiba seperti memikirkan sesuatu. Faruq menyadari itu.


"Gimana, Ba? Apa masih ada yang mau kamu beli disini? Kalau sudah tidak ada kita balik." Tanya Faruq sekali lagi.


"Emmm, nggak jadi ajalah, Mas." Ucap Habiba tiba tiba.


Faruq menggelengkan kepala. "Kalau emang masih ada yang pengen kamu beli, mending buruan, mumpung masih disini. Entar nyesel pas sudah sampai pondok."


"Sebenernya Habiba tadi sempet pengen beli Bross, Mas. Pas jalan cari toilet tadi. Tapi karena buru buru nggak sempet jadinya. Pas balik kesini lupa. E, ingetnya baru abis sholat tadi." Ucap Habiba sambil meringis manja.


Lagi lagi Faruq hanya menggelengkan kepala mendengar orasi adik keponakannya. "Yasudah sana!" Perintah Faruq kemudian.


"Biar saya temenin, Ning." Sahut Ajimukti tiba tiba.


Faruq dan Habiba seketika mengarahkan pandangan mereka ke Ajimukti.

__ADS_1


"Loh, nggak usah, Kang. Aduh. Saya bisa sendiri kok." Habiba nampak tersipu malu.


Sementara Faruq hanya tersenyum melihat tingkah adik keponakannya itu mulai terlihat salah tingkah.


"Nanti ilang lagi. Bikin cemas lagi. Udah nggak papa biar Kang Aji temenin, Ba." Gumam Faruq dengan mimik wajah menggoda Habiba.


Habiba lagi lagi hanya tersenyum malu meski kemudian pun melangkah di iringi Ajimukti di belakangnya.


Tak lama mereka pun sampai di depan sebuah lapak yang Habiba maksudkan. Untuk sejenak Habiba melihat lihat bross bross yang terpampang di lapak itu.


Habiba nampak bingung untuk memilih diantara banyaknya bross yang terpajang rapi di lapak bapaknya itu. Ajimukti hanya terus mengamati 'Ning' nya yang memang nampak bingung memilih.


"Ini bagus, Ning. Netral. Dipakai untuk model sama warna jilbab apa aja masuk." Ucap Ajimukti menunjuk salah satu bross. "Modelnya juga nggak terlalu mencolok." Imbuhnya.


Habiba tersentak, untuk sesaat di menoleh ke arah Ajimukti. Memandang wajah teduh pemuda yang kini menunduk di sampingnya.


"I..iya, Kang. Bagus. Makasih untuk pilihannya." Ucap Habiba sedikit kikuk sembari meraih bross yang tadi ditunjuk Ajimukti.


Sesaat Habiba mengamati bross itu, memang bagus dan sesuai seleranya. Habiba tidak menyangka Ajimukti memiliki selera yang pas dan sangat sesuai dengan seleranya. Diam diam Habiba tersenyum sendiri.


"Ini saja, Cak." Ucap Habiba menyodorkan satu bross yang dipilihkan Ajimukti tadi.


"Dua puluh lima ribu, Mbak." Kata si penjual sambil memasukkan bross itu ke dalam plastik kresek.


"Biar saya saja yang bayar, Ning." Sahut Ajimukti sudah menyodorkan selembar uang ke si penjual.


"Loh, Kang. Nggak usah. Ini ada kok." Sahut Habiba.


Ajimukti hanya tersenyum, "Buat ganti yang ini." Ajimukti mengangkat tangan kirinya.


Habiba paham maksudnya lalu ia pun tersenyum.


"Makasih ya, Kang." Ucap Habiba lirih.


Ajimukti hanya tersenyum.


"Sudah, Ning? Apa ada lagi?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Sudah ini aja, Kang." Sahut Habiba sedikit malu malu.


"Yasudah kita kembali ke Gus Faruq sekarang atau masih mau muter muter?" Tanya Ajimukti memastikan.


"Balik ke Mas Faruq aja, Kang. Entar keburu ngomel." Sahut Habiba sedikit tersenyum.


Ajimukti mengimbangi senyum Habiba.


Mereka pun kembali ke tempat Faruq memarkir mobilnya. Entah kenapa rasanya begitu jauh untuk sampai ke tempat parkir yang seharusnya hanya berjarak beberapa meter itu.


Hari sudah mulai gelap ketika mereka keluar dari lahan parkir yang cukup luas itu. Lampu lampu kota sudah mulai menyala memberikan nuansa warna warni di sepanjang jalan yang mereka lalui.


Untuk sesaat suasana di dalam mobil Faruq senyap. Tak ada percakapan antara ketiga penumpang di mobil mewah itu. Ajimukti diam diam meraba pergelangan tangan kirinya lalu menyembunyikan senyum diantara gelap yang menutupi wajahnya. Begitu juga Habiba yang juga diam diam sedang menggenggam erat sesuatu di balik tas yang dipangkunya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2