
Ajimukti duduk di kursi yang cukup empuk meski tak se-empuk sofa di teras rumah Kyai Aminudin disisi kiri panggung. Sikapnya tenang, sedikit pun tidak menampakkan kegelisahan atau kegugupan. Disampingnya sederet peserta juga tampak sudah bersiap di kursi mereka masing masing yang sudah disiapkan oleh panitia sesuai nomor registrasi mereka. Ada sekira lima puluhan peserta yang akan mengikuti kompetisi ini yang datang dari berbagai pesantren se-Jawa Timur. Sementara agak jauh di depannya, disisi kanan panggung empat kursi dengan meja meja kecil yang diatasnya ada beberapa botol minuman juga vas bunga terlihat masih kosong.
Ajimukti melirik nomor yang tertempel didada sebelah kirinya. Disana tertera angka 24, itu artinya ia akan tampil setelah hampir setengah dari peserta tampil.
Tak lama seorang laki laki berperawakan sedang dengan busana khas ala santri berdiri ditengah panggung dengan memegang mic pengeras suara. Sepertinya pembawa acara.
Dan benar, pembawa acara itu pun segera memulai acara pada pagi menjelang siang ini. Setelah berbasa basi cukup lama, pembawa acara itu pun memperkenalkan siapa yang akan menjadi juri kompetisi ini.
Setelah dipanggil, ke empat juri pun keluar dari arah kanan panggung. Tiga orang juri laki laki dan seorang juri perempuan. Dua orang laki laki diantara empat juri itu mungkin seumuran Dullah dan sepertinya masih keturunan Habaib, yang satunya lagi agak sepuh dan dari penampilannya sepertinya dia seorang Kyai yang alim, sementara juri perempuannya mungkin umurnya sekitar empat puluh tahunan, mungkin seorang ustadzah.
Tak berselang lama acara pun dimulai setelah pembawa acara memperkenalkan satu persatu nama peserta juga asal pesantrennya.
Peserta pertama tampak tenang dengan apa yang disampaikannya. Ajimukti hanya memperhatikan sekilas. Begitu juga ketika peserta kedua ketiga dan seterusnya.
Sorak sorai penonton yang hadir pun cukup riuh ketika salah satu peserta selesai menyampaikan isi kotbahnya.
Satu persatu peserta telah tampil dihadapan para juri. Kini tiba giliran Ajimukti. Pembawa acara memanggil Ajimukti untuk maju ke tengah panggung.
"Peserta nomor 24. Atas nama Ajimukti. Dipersilahkan untuk ke tengah panggung!" Ucap si pembawa acara lantang.
Dengan tenang Ajimukti berjalan menuju ke tempat pembawa acara itu berdiri. Menyalami si pembawa acara dan berdiri di sebelah si pembawa acara tersebut.
"Baik. Bisa diperkenalkan diri lagi?" Tanya si pembawa acara, lebih tepatnya perintah.
Ajimukti menghela nafasnya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Ismahuulii an u'arrifa nafsii lakum jamii'an... Ismii Ajimukti Aufatur Muthoriq wa yunaaduunanii bi Ajimukti... Anaa mim-madrasatun Hidayah jaawii asy-syarqiyyah..." Ajimukti memperkenalkan dengan bahasa Arab seperti halnya peserta sebelum sebelumnya. Tenang dan tanpa keraguan.
Pembawa acara pun kembali berbasa basi pada Ajimukti juga para juri. Disaat yang bersamaan pandangan Ajimukti justru tertuju pada bangku penonton, seorang gadis yang sejak tadi pun juga mengamatinya dan kali ini gadis itu sedikit mengangkat tangan kanannya yang terkepal. Sebuah isyarat untuk Ajimukti bersemangat. Diam diam Ajimukti melempar senyum ke arah si gadis itu.
Kembali pembawa acara meneruskan ucapannya. Mempersilahkan Ajimukti untuk menyampaikan kotbahnya dan setelahnya si pembawa acara menepi. Kini ditengah tengah panggung itu hanya ada Ajimukti berdiri sendiri dan menjadi pusat perhatian berpuluh puluh pasang mata.
Ajimukti memulai kotbahnya. Semua yang ada di ruangan itu pun seketika membungkam. Ruangan itu kini terasa hening, hanya suara Ajimukti yang terus menyampaikan kotbahnya siang ini. Hingga akhir dari kotbahnya, Ajimukti tampak tenang tanpa keraguan sedikit pun, seolah semua ini sudah terbiasa baginya.
Pembawa acara kembali ketengah panggung menghampiri Ajimukti. Seketika ruangan yang tadinya hening kini pecah oleh suara teriakan para penonton yang ramai riuh. Juga ketika para juri memberikan komentar positif mereka, ruangan itu pun penuh dengan suara tepuk tangan para penonton.
Waktu terus berjalan, sesaat setelah istirahat dan sholat Dzuhur acara pun dilanjutkan hingga pada ke peserta terakhir. Kini seluruh peserta kompetisi sudah seluruhnya menampilkan kemampuannya. Dan setelah beberapa saat setelah juri berdiskusi, kini tiba saatnya mengumumkan siapa yang akan menjadi juara kompetisi antar pesantren tahun ini.
Seluruh peserta seketika tampak tegang. Jelas sekali terlihat dari ekspresi wajah wajah mereka yang duduk di sisi kiri panggung. Namun tidak dengan Ajimukti. Sejak awal bahkan ketika menunggu pengumuman hasil kompetisi, Ajimukti tampak tenang, tidak sedikit pun terlihat kecemasan dari raut wajahnya.
"Baiklah hadirin yang dimuliakan Allah SWT. Inilah saat yang kita tunggu tunggu. Disini saya sudah membawa hasil dari keputusan semua juri..." Pembawa acara sudah memulai mengumumkan hasil keputusan juri dalam kompetisi kali ini.
"Juara ketiga atas keputusan, pertimbangan dan penilaian para juri di raih oleh peserta dengan nomor..." Pembawa acara dengan dialeknya yang khas, mampu membuat jantung para peserta berdebar debar, juga para penonton yang menyaksikan.
"Dan sekarang saatnya, saya akan sampaikan siapa yang berhak menyandang predikat juara pertama dalam kompetisi tahun ini... Dan atas keputusan, pertimbangan juga penilaian para juri yang terhormat, dengan nilai skor 385... Diraih oleh nomor peserta 24... Atas nama Ajimukti... Selamat untuk Ajimukti.... Kepada Ajimukti dipersilahkan untuk maju ketengah panggung." Seketika Ruangan itu pun kembali riuh oleh sorak Sorai dan tepuk tangan para penonton.
Sekali lagi dengan tenang Ajimukti berjalan ke tengah panggung. Disana ke empat juri juga si pembawa acara sudah menunggu Ajimukti. Juga seorang panitia yang sudah membawa nampan berisi piala yang untuk sebagian peserta itulah yang mereka harap harapkan dalam kompetisi ini.
__ADS_1
Waktu sudah berlalu. Ketegangan dan suara sorak sorai juga riuh tepuk tangan sudah tida lagi terdengar.
Ajimukti berjalan kearah Faruq dan Habiba yang sudah menunggunya sejak tadi. Senyum merekah seketika tercurah dari bibir Faruq dan Habiba ketika Ajimukti menghampiri mereka dengan membopong piala di tangannya.
"Selamat Kang Aji. Luar biasa." Puji Faruq sembari merangkul Ajimukti.
"Selamat ya, Kang." Imbuh Habiba yang terlihat membunyikan tatapannya dibalik wajahnya yang tertunduk.
"Terima kasih, Gus. Terima kasih, Ning. Ini semua berkat doa dan support kalian. Dan ini saya persembahkan untuk Pondok Hidayah." Ucap Ajimukti sedikit tertunduk.
"Baiklah, Kang. Sekarang kita istirahat dulu. Kita cari makan. Kita rayakan kemenangan sampeyan ini." Ucap Faruq terlihat begitu bersemangat.
"Kita kabarin Abahnya sekarang atau nanti, Mas?" Tanya Habibah kemudian.
"Sudah itu nanti Mas yang urus. Pakdhe tahu Kang Aji menang pasti juga sudah senang luar biasa nanti." Faruq sedikit mengibaskan tangannya.
Habiba hanya menaikkan bahunya.
"Yasudah ayo Kang Aji. Kita cari makan dulu saja." Ajak Faruq sekali lagi.
Ajimukti hanya mengangguk ringan.
"Kita habis ini langsung pulang atau jalan jalan dulu, Mas?" Tanya Habiba disela sela makan mereka.
Faruq mengerutkan kening. Sepertinya dia tahu Habiba berharap dirinya jawab apa.
Benar saja. Ekspresi wajah Habiba seketika nampak senang meski coba disembunyikannya. Tapi sayang, Faruq cukup hafal ekspresi wajah adik keponakannya itu.
Selesai makan mereka memilih berjalan jalan disekitar tempat diadakannya kompetisi. Cukup ramai, dibahu bahu jalan banyak pedagang yang menjajakan dagangan mereka, dari makanan, oleh-oleh, aksesories, pakaian juga kitab dan peralatan ibadah. Sebuah pemandangan yang hampir sama seperti ketika berziarah ke makam para Auliya'.
"Kang Aji mau beli oleh oleh untuk Lek Dullah mungkin?" Tanya Faruq sembari melihat lihat disekelilingnya.
"Nggak tahu ini, Gus. Bingung juga saya." Jawab Ajimukti yang juga melihat pemandangan yang sama dengan Faruq.
"Mas, kita lihat itu yuk!" Sahut Habiba menunjuk kesalah satu penjual aksesoris.
Faruq hanya menggerakkan bibirnya, lalu bersama Ajimukti mengekor di belakang Habiba yang sudah lebih dulu berjalan.
"Mari mari silahkan. Ini bagus lho, Mbak. Kayu kaoka asli." Ucap si penjual mempromosikan dagangannya ketika mereka sudah berada di depan lapak si penjual.
"Mas, pilihin yang bagus dong!" Rengek Habiba pada Faruq.
Faruq hanya geleng geleng kepala, "Kok Mas yang suruh milih sih, Ba. Kamu sendiri yang pilih suka yang mana."
Habiba nampak memasang wajah cemberutnya. Faruq hanya membalas dengan seulas senyum kecut.
"Kamu pilih dulu lah. Mas mau beli oleh-oleh buat Gus Ali sama Pakdhe." Ucap Faruq kemudian, "Kang Aji nitip Habiba sebentar ya." Lanjut Faruq beralih ke Ajimukti. Ajimukti hanya sedikit mengangguk.
__ADS_1
"Loh, Mas?" Timpal Habiba sedikit gugup, tapi Faruq tak menggubris dan melangkah ke salah satu lapak yang menjual oleh-oleh.
Habiba mulai kebingungan. Sejak tadi dia hanya memilih milih saja tanpa segera membeli.
"Kang Aji, maaf. Ini kira kira bagus nggak ya, Kang?" Tanya Habiba pada Ajimukti meminta saran.
Ajimukti meraih gelang yang terbuat dari kayu kaoka itu. "Bagus kok, Ning. Warnanya cocok dengan kulit Ning Biba."
Kata kata Ajimukti itu entah saran entah pujian. Tapi untuk sesaat membuat jantung Habiba berdesir.
"Ini satu ya, Cak!" Ucap Habiba kemudian pada si penjual sembari menyodorkan gelang pilihannya.
"Satu saja? Nggak dua sekalian, Mbak. Biar sepasang gitu sama si Masnya. Biar makin serasi." Sahut si penjual dengan dialek Khas Surabaya nan.
Habiba mendelik, sedikit gelagapan mendengar ucapan si penjual. Wajahnya memerah dan sejenak itu membuatnya salah tingkah.
"Yasudah dua, Cak. Sama ini." Ucap Habiba sembari menyodorkan satu gelang lagi namun rasanya jantungnya masih saja berdegup kencang.
"Terima kasih, Mbak." Ucap si penjual setelah Habiba membayar itu.
Habiba dan Ajimukti melangkah menjauh dari lapak aksesoris itu.
"Ini, Kang. Buat sampeyan satu!" Ucap Habiba dengan tiba tiba menyodorkan gelang yang satunya ke arah Ajimukti.
"Loh, Ning. Kok malah buat sa, -ya." Sahut Ajimukti yang seketika kikuk atas sikap Habiba itu.
Habiba hanya sedikit melengkungkan bibirnya memperlihat lesung pipinya, juga wajahnya yang memerah yang tidak bisa lagi disembunyikannya.
"Te... Terima kasih, Ning." Ajimukti meraih gelang itu dan sedikit gemetaran, rasanya pergelangan tangannya begitu berat.
"Dipakai ya, Kang." Ucap Habiba lirih dengan wajah sedikit tertunduk.
Ajimukti hanya mengangguk pelan sembari mengatur nafasnya.
Habiba berjalan kearah sebuah emperan toko yang tutup. Ajimukti hanya mengikuti dibelakang Habiba. Diam diam dia menggenggam erat gelang kaoka dalam genggaman tangan kanannya dan sedikit melengkungkan bibirnya.
"Duduk dulu Kang Aji sambil menunggu Mas Faruq selesai cari oleh-oleh." Ajak Habiba yang sudah lebih dulu duduk.
"Iya, Ning." Sahut Ajimukti singkat dan kemudian duduk tak jauh dari Habiba.
Pandangan Ajimukti berkeliaran mencari sosok Faruq diantara kerumunan orang orang. Sudah cukup lama Faruq membiarkan mereka berdua dalam kondisi kecanggungan dan rasa yang tidak beraturan.
Sekelebat pandangan Ajimukti tertuju kearah Habiba yang sepertinya kesulitan memakai gelang yang baru saja dibelinya itu.
"Mau saya bantuin memakainya, Ning?" Ajimukti menawarkan.
Seketika Habiba tersentak dan menoleh ke arah Ajimukti yang ternyata diam diam mengamatinya. Kini untuk beberapa saat pandangan mereka beradu. Membuat suasana sekitar seakan berhenti untuk beberapa detik kedepan.
__ADS_1
Bersambung...