
Sore itu cuaca cukup bagus, angin sepoi sepoi berhembus menggoyangkan beberapa daun daun pada ranting ranting pohon. Sorot matahari dari ujung sebelah barat pun terlihat menyelinap di antara daun daun itu dan menjilat hamparan rumput yang tumbuh subur di halaman sebuah rumah. Di halaman itu juga tumbuh beberapa bunga bunga sepertinya sengaja di tanam dan dirawat pemilik rumah.
Rumah itu nampak sepi jika dilihat dari jalan raya depan. Tepat mengarah pintu utama rumah itu membentang jalan setapak yang hanya dibuat dengan bebatuan yang ditata rapi, dari tepi jalan hingga persis di teras rumah. Di kiri kanan jalan pun terpagari dengan pagar yang terbuat dari bambu, pagar itu memisahkan jalan dengan tanah halaman rumah.
Godril hanya masih memandangi rumah itu dari atas motor Vespanya yang ia berhentikan di tepi jalan dekat pagar bambu rumah itu. Merasa di rumah itu tidak ada orang, Godril memupuskan niatnya untuk mampir barang sejenak ke rumah itu.
Tepat disaat itu, seorang wanita paruh baya yang sejak tadi mengamati gerak gerik Godril mendekat ke arahnya. Melihat penampilan Godril, wanita itu sedikit menaruh rasa curiga.
"Ada apa ya, Mas?" Tanya wanita itu dengan tatapan antusias dan penuh kecurigaan. Wanita itu terus menatap Godril dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Maaf, Bu. Apa pemilik rumah ini tidak ada di rumah ya?" Tanya Godril kemudian.
Wanita itu mengerutkan kening. Untuk saat ini dirinya masih sedikit menaruh curiga pada Godril.
"Apa Mas ini kenal dengan pemilik rumah ini?" Tanya wanita itu dengan nada penuh kecurigaan.
"Saya anaknya Bu Gitun." Ucap Godril kemudian.
Wanita itu nampak kaget. Itu terlihat jelas dari ekspresi wajahnya dan caranya memandang Godril.
"Loh, setahu saya anaknya Bu Gitun itu cuma satu dan masih sekolah itu, Mas." Ucap wanita itu kemudian.
Godril tersenyum, sedikit menarik nafas sebelum akhirnya menjelaskan, "Saya anak dari suami Bu Gitun yang dulu, Bu." Ucapnya kemudian.
Wanita itu lagi lagi nampak terkejut lalu menganggukkan kepalanya. "Oh, begitu rupanya."
"Maaf, apa ibu ini orang baru di sini? Soalnya tetangga disini rata rata saya kenal." Ucap Godril kemudian.
"Benar, Mas. Saya baru beberapa Minggu disini. Jadi tidak tahu kalau Bu Gitun punya anak lain selain yang ikut tinggal disini." Sahut wanita paruh baya itu.
Sekali lagi Godril hanya tersenyum.
"Oh, iya, Bu. Perkenalkan nama saya Ari. Orang orang biasa manggil Godril. Saya memang sudah jarang sekali pulang kesini sejak bapak kandung saya meninggal, Bu." Godril pada akhirnya memperkenalkan diri pada wanita paruh baya itu.
"Saya Bu Sarah, Mas. Saya ngontrak di rumah itu." Ucap wanita paruh baya itu sembari menunjuk sebuah rumah tepat di samping rumah milik orang tua Godril.
"Apa tidak masuk dulu saja, Mas. Soalnya biasanya Bu Gitun sama suaminya kalau pulang itu larut, Mas." Ucap wanita paruh baya bernama Sarah itu kemudian.
"Tidak saja, Bu. Soalnya saya harus kembali ke Jogja. Kebetulan saya kesini hanya karena ada keperluan niatnya sekalian mampir. Ya, mungkin lain waktu saja, Bu." Ucap Godril kemudian.
"Walah, jauh jauh dari Jogja masak tidak bertemu, Mas. Apa nggak sayang itu?" Sahut Sarah kemudian.
Godril hanya tersenyum, "Kebetulan saya juga sering ke kota ini, Bu. Jadi bisa lain waktu saja."
Sarah kini hanya tersenyum, di tidak lagi menaruh curiga dengan Godril seperti pada awalnya. Apalagi setelah berbincang sejenak, ternyata Godril tidak seperti penampilannya. Tutur bahasanya pun sopan.
"Atau mungkin ada pesan, biar nanti saya sampaikan, Mas?" Sarah menawarkan.
__ADS_1
"Tidak saja, Bu. Malah saya berpesan jangan bilang ibu saya kalau saya mampir, Bu." Ucap Godril kemudian.
Sarah nampak mengerutkan keningnya. "Loh, kenapa, Mas?" Kini Sarah kembali menaruh curiga pada Godril.
Godril menyadari itu, lalu ia tersenyum, "Sebenarnya saya ingin memberi kejutan pada ibu saya, Bu. Jadi mungkin besok besok lagi saja saya kesini lagi kalau mungkin beliau di rumah." Ucap Godril beralasan agar Sarah tidak berpikir macam macam terhadapnya.
"Oalah, jadi begitu tho, Mas. Surprise ceritanya?" Ucap Sarah sedikit tertawa ringan.
Godril hanya kemudian tersenyum. Tak lama setelah itu pun ia berpamitan dan kembali menyalakan mesin Vespanya dan berlalu dari tepi jalan depan rumah itu. Sementara Sarah kembali ke rumahnya dan kini terlihat meraih sapu lidi untuk menyapu dedaunan yang berserakan di halaman rumahnya.
"Siapa, Mi?" Tanya seorang laki laki dari dalam rumahnya.
"Itu, Bah. Anaknya Bu Gitun dari suaminya yang dulu." Ucap Sarah pada laki laki itu yang sepertinya suaminya.
"Oh, Abah pikir siapa." Ucap laki laki itu kemudian.
Sarah tak menyahut lagi, ia hanya lalu mulai menyapu dedaunan kering yang jatuh berserakan di halaman rumahnya. Begitulah kesibukannya setiap sore sejak ia mengontrak rumah itu dari beberapa Minggu yang lalu.
Sementara itu jauh di Pacitan sana, disalah satu pondok pesantren, dua orang gadis sedang berjalan menyusuri lorong. Sesekali mereka terdengar tengah berbincang, sesekali pula terdengar tawa mereka diantara perbincangan mereka itu. Mereka adalah Ajeng dan Habiba.
"Kamu beneran tidak mau menghubungi rumah, Jeng?" Tanya Habiba saat ini.
"Nggak, Ba. Lagian jam segini bapak sama ibu pasti lagi sibuk di kandang ayam." Sahut Ajeng.
"Yasudah kalau begitu." Habiba terlihat sedikit menaikkan pundaknya.
Tak lama setelah meminta ijin dan berbincang dengan pengurus disana, Habiba pun masuk ke dalam bilik telfon itu. Sementara Ajeng hanya menunggu diluar ruangan.
Untuk sesaat Habiba terdiam sembari memandang secarik kertas di tangannya. Di dalam kertas itu ada nomor Ajimukti yang ia minta dari pengurus yang sempat ditinggali nomor oleh Ajimukti. Habiba saat ini merasa ragu, apakah ia harus menghubungi Ajimukti atau tidak.
Habiba terlihat menekan nomor yang tertera di kertas itu, tak lama ia menghapusnya kembali. Ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ajimukti saat ini meski rasa penasaran sejak saat dimana ia mendapat kabar bahwa Ajimukti sempat ingin bertemu dengannya, masih belum hilang dari pikirannya.
Habiba kini kembali menekan nomor, ia kini mencoba menghubungi Abahnya, Kyai Aminudin. Tak lama, terdengar suara dari seberang telfon.
"Assalamu'alaikum, Bah..." Ucap Habiba begitu terdengar panggilannya di angkat.
"Wa'alaikumsalam... Ada apa, Nduk?" Tanya seseorang dari seberang setelah menjawab salam Habiba. Suara laki laki, dan itu adalah Kyai Aminudin.
"Tidak ada apa apa, Bah. Umi kemana, Bah?" Tanya Habiba kemudian.
"Umimu lagi nyapu latar itu. Mau ngobrol sama Umimu?" Tanya Kyai Aminudin sejurus kemudian.
"Sebentar saja, Bah. Nggak apa apa." Sahut Habiba kemudian.
"Sebentar Abah panggilkan kalau begitu." Ucap Kyai Aminudin dari seberang.
Beberapa setelahnya terdengar perbincangan Abah dan Uminya dari seberang.
__ADS_1
"Enek Opo, Nduk?" Tanya suara seorang wanita. Dan itu adalah Nyai Sarah, ibunya Habiba.
"Nggak ada apa apa, Mi. Bagaimana kabar Umi?" Tanya Habiba kemudian.
"Harusnya Umi yang tanya itu, Nduk. Kamu baik baik saja kan disana?" Tanya Nyai Sarah membalik pertanyaan anaknya itu.
"Alhamdulillah, Mi. Habiba baik baik saja." Sahut Habiba.
"Pokoknya kamu baik baik disana. Nggak usah mikir yang neko neko." Pesan Nyai Sarah pada Habiba.
"Iya, Mi." Suara Habiba kini terdengar berat. Nyai Sarah menyadari itu meski tidak menatap wajah anaknya itu.
"Kenapa, Nduk? Kok jawab iya nya abot ngono? Apa ada sing mbok pikirkan?" Tanya Nyai Sarah tanpa basa basi.
Habiba menghela nafas. Suara desah nafasnya begitu terdengar sampai ke seberang.
"Tidak ada apa apa, Mi. Habiba sedang tidak memikirkan apa apa kok. Umi sama Abah tenang saja." Habiba mencoba meyakinkan uminya.
Nyai Sarah cukup hafal bagaimana Habiba. Meski Habiba tidak mengatakannya, tapi dari caranya berbicara jelas ada sesuatu yang sedang dipikirkan anak gadisnya itu.
"Apa kamu masih kepikiran bocahe itu, Nduk?" Tanya Nyai Sarah berterus terang.
"Maksud Umi?" Habiba seolah menolak tebakan Uminya itu.
"Nak Aji, Nduk. Apa kamu masih memikirkan dia?" Tanya Nyai Sarah dengan kini semakin diperjelas.
Habiba kembali menghela nafas berat, dan sekali lagi ******* itu terdengar jelas oleh Nyai Sarah.
"Tidak, Mi. Untuk apa Habiba memikirkannya terus. Habiba sudah sadar, Mi. Siapa dia siapa Habiba." Meski menjawab seperti itu, tapi suara Habiba terdengar sangat berat, seperti ada yang sedang ingin ditahannya kuat kuat.
"Kamu tidak sedang tidak jujur sama Umimu ini tho, Nduk?" Tanya Nyai Sarah yang tidak begitu saja percaya dengan apa yang di ucapkan Habiba padanya.
Habiba terdiam. Dia hanya berkali kali menghela nafasnya. Kini di ruangan itu, tatapannya terlihat mulai kosong. Dari wajahnya memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Nduk, Cah ayu. Mau seperti apa pun kondisinya, mau sejauh apa pun jaraknya, kalau memang jodoh ya pasti bertemu. Kamu tidak usah bingung seperti apa jodohmu kelak. Entah memang dia atau yang lainnya. Insyaallah jodoh kamu tidak akan jauh daripada sifatmu saat ini, Nduk. Percaya sama Umi." Nyai Sarah menasehati Habiba yang untuk beberapa saat terdiam.
"Perbanyak istighfar. Tenangkan hatimu dulu. Setelah hatimu tenang, mintalah petunjuk Allah, Nduk. Dan siapa pun dia yang akhirnya Allah tunjukan pada kamu. Umi pasti akan merestuinya." Nyai Sarah melanjutkan wejangannya.
"Iya, Mi. Terima kasih. Habiba akan ingat pesan pesan Umi ini." Ucap Habiba dengan suara yang masih berat.
Tak lama setelah itu pun Habiba mengakhiri panggilannya dan segera keluar menemui Ajeng yang masih menunggunya diluar ruangan itu. Melihat perubahan ekspresi wajah Habiba yang tidak seceria sebelumnya, Ajeng sedikit penasaran.
"Ada apa, Ba?" Tanya Ajeng kemudian.
Habiba hanya menggelengkan kepalanya ringan.
Ajeng tak memaksa Habiba untuk bercerita, ia hanya kemudian merangkul pundak Habiba. Entah apapun yang membuat wajah Habiba diselimuti kesedihan saat ini, Ajeng hanya berharap sedikit sentuhannya ini mampu menenangkan hati sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung...