BROMOCORAH

BROMOCORAH
Agen Rahasia


__ADS_3

Hari itu selepas kepulangan Nyai Kartika juga Dullah dan Sobri, Ajimukti sengaja menemui Nafisa yang sedang menyiapkan beberapa sayuran untuk di masaknya hari itu.


Melihat kedatangan dan panggilan Ajimukti, Nafisa segera menghentikan aktifitasnya.


"Ada apa, Mas?" Tanya Nafisa ketika itu dengan sedikit keheranan.


"Ada hal yang ingin saya tanyakan padamu, Sa." Ucap Ajimukti sembari mengambil duduk tak jauh dari Nafisa.


"Mengenai apa itu, Mas? Kok sepertinya serius sekali?" Tanya Nafisa keheranan.


Ajimukti nampak menghela nafas membuat Nafisa semakin sarat keheranan dengan sikap Ajimukti itu.


"Mengenai kabar dari seseorang yang saya terima." Ucap Ajimukti kemudian.


"Kabar? Kabar apa itu, Mas?" Tanya Nafisa lagi, masih juga dipenuhi rasa penasaran.


"Hexa. Apa kamu kenal anak itu?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Hexa? Emmm, siapa itu, Mas?" Tanya Nafisa kembali mengerutkan keningnya.


Ajimukti sedikit memicingkan matanya, agak keheranan ketika tahu Nafisa bahkan tidak mengenal nama Hexa. Ajimukti segera meraih ponselnya dan menunjukkan foto yang sempat Ari Godril kirimkan padanya.


"Anak dalam foto ini?" Tanya Ajimukti sembari menunjukkan foto di layar ponselnya pada Nafisa.


Nafisa kembali mengerutkan keningnya.


"Anak ini? Bukankah dia santri disini, Mas?" Tanya Nafisa setelahnya.


"Benar. Apa kamu mengenalnya?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Kenal tidak, Mas. Tahu namanya Hexa juga sekarang ini. Dan mengenai foto itu, pasti teman kamu mengirimkannya sewaktu saya ke pasar waktu itu." Ucap Nafisa kemudian.


"Benar." Sahut Ajimukti kemudian.


"Bagaimana kamu bisa bersamanya jika kamu tidak mengenalnya, Sa?" Tanyanya lagi.


"Emmm, saya juga heran, Mas. Dia tiba tiba saja menawarkan diri untuk menemani saya di pasar waktu itu. Saya sudah menolaknya, hanya saja dia terus mengikuti saya sampai saya kembali ke sini waktu itu." Ucap Nafisa kemudian menceritakan tentang pertemuannya dengan Hexa di pasar waktu itu.


"Hmmm, jadi begitu." Sahut Ajimukti sembari mengangguk anggukan kepalanya.


"Ada apa, Mas? Sepertinya ada sesuatu dengan anak bernama Hexa itu?" Tanya Nafisa melihat ekspresi berbeda di wajah Ajimukti saat ini.


"Tidak ada apa apa. Hanya saja saya merasa ada sesuatu yang anak itu sembunyikan. Tapi apa saya pun tidak tahu. Makanya saya sempat menempatkan orang di pasar." Sahut Ajimukti kemudian.


"Emmm, yang mengambil foto saya dan anak itu?" Tanya Nafisa memperjelas.


"Benar."


Nafisa mengangguk paham.


"Oh, iya, Mas. Saya harap soal pertemuan saya dengan anak itu tidak sampai terdengar ke Manan ya, Mas. Bukan apa apa. Saya hanya tidak ingin dia berpikir tidak tidak saja." Ucap Nafisa kemudian.


"Kamu tenang saja, Sa. Saya tahu soal itu." Sahut Ajimukti.


Setelah berkata seperti itu, Ajimukti kembali beranjak dari duduknya dan meninggalkan Nafisa. Kali ini ia nampak kembali merogoh ponsel yang berada di sakunya. Dari tampilan layar juga getarannya, sebuah panggilan terlihat masuk.


"Kang Godril?" Gumam Ajimukti begitu melihat siapa yang menelfonnya saat itu. Segera Ajimukti mengangkat panggilan itu.


"Assalamu'alaikum, Kang. Ada apa?" Tanya Ajimukti setelah panggilan itu diterimanya.


"Wa'alaikum salam, Gus. Begini, Gus. Mohon maaf, dua hari ini saya tidak melihat anak itu di pasar. Apa memang anak itu tidak keluar pesantren?" Tanya Ari Godril kemudian.


"Hmmm, sepertinya memang tidak keluar, Kang. Sebaiknya sampeyan kembali saja, Kang." Ucap Ajimukti kemudian. Sebenarnya ia ingin meminta Ari Godril untuk mampir ke pesantren, tapi ia ingat jika Ari Godril ke pesantren, bisa saja Hexa melihatnya dan menggagalkan rencana mereka.


"Baik Gus kalau begitu." Sahut Ari Godril kemudian.


"Ini sampeyan dimana, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Ini saya di warung, Gus. Ngopi." Sahut Ari Godril.

__ADS_1


"Pantas saja terdengar ramai." Sahut Ajimukti pula setelahnya.


Ari Godril memang menyadari keadaan warung mendadak menjadi sedikit lebih ramai.


"Maaf, Gus. Sepertinya disini ada sesuatu terjadi, jadi terdengar ramai." Jelas Ari Godril begitu melihat segerombolan orang datang dan sedikit berdebat dengan pemilik warung.


"Iya, Kang. Hampir tidak terdengar suara sampeyan karena saking ramainya itu." Sahut Ajimukti lagi.


"Iya, Gus. Maaf, Gus. Kalau begitu saya tutup dulu saja telfonnya. Saya hanya ingin mengabarkan itu tadi saja." Ucap Ari Godril kemudian.


"Baik, Kang. Terima kasih dan maaf merepotkan." Setelah saling mengucap salam, panggilan pun berakhir.


Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku, Ari Godril mengamati keramaian di warung itu.


Tak jauh darinya seorang pria brewok bertopi yang sebelumnya datang bersama dua anak buahnya, nampak sedang beradu mulut dengan si pemilik warung.


"Pokoknya bayar hutang kamu sekarang. Saya tidak mau tahu. Kamu janji hari ini akan melunasinya kan?"Ucap pria brewok itu dengan suara tinggi dan angkuh.


"Maaf, Bang. Tapi untuk saat ini saya belum punya uang itu." Ucap si pemilik warung terdengar memelas.


"Saya tidak mau tahu. Atau kamu ingin saya obrak abrik warung kamu ini!" Bentak si pria itu lagi.


"Jangan, Bang. Beri saya waktu lagi. Saya janji saya akan segera mencari uang itu." Ucap si pemilik warung itu memohon.


"Hah, banyak omong!" Pria brewok itu hampir melayangkan tamparannya ke arah si pemilik warung, namun seketika itu seorang pemuda menangkap pergelangan tangan pria brewok itu.


"Hentikan, tidak harus dengan kekerasan kan?" Ucap si pemuda.


"Oh, kamu Arya." Pria brewok itu tersenyum sinis begitu melihat Arya berdiri di depannya menahan pukulannya pada si pemilik warung.


Arya segera melepas pegangan tangannya pada pria brewok itu.


"Saya tidak ada urusannya dengan kamu Arya. Kamu jangan ikut campur masalah ini." Ucap pria brewok itu pada Arya dengan senyum menyeringainya.


"Saya memang tidak ada urusannya dengan masalah ini. Tapi saya hanya tidak suka melihat kekerasan terjadi di depan mata saya saja. Saya harap Pak Guntoro tidak berbuat kekerasan disini." Ucap Arya terdengar santai.


Mendengar itu, pria brewok bernama Guntoro itu nampak menahan emosinya. Gigi gerahamnya nampak bertaut memperjelas bentuk rahangnya yang mengeras.


Arya hanya tersenyum pias.


Sementara Ari Godril yang menyaksikan itu, tak sedikit pun mengalihkan pandangan matanya dari perdebatan Arya dan Guntoro itu.


Guntoro mengangkat tangannya memberi aba aba pada dua anak buahnya. Seketika kedua anak buah Guntoro berusaha menyerang Arya. Arya dengan sigap menghindari serangan kedua anak buah Guntoro itu. Si pemilik warung gemetaran melihat pertikaian di depan matanya.


"Sialan!!!" Gertak salah seorang anak buah Guntoro ketika serangannya meleset.


Sekali lagi salah satu anak buah Guntoro berusaha melayangkan tinjunya ke arah Arya, dan sekali lagi pula Arya berhasil menghindar membuat anak buah Guntoro itu hampir terjerembab dan hampir menabrak Ari Godril. Ari Godril mengangkat toples kosong tak jauh darinya dan tepat mengenai kepala anak buah Guntoro itu. Anak buah Guntoro mengaduh lalu mengalihkan pandangannya pada Ari Godril.


Guntoro yang melihat itu pun semakin geram, kemudian ikut mengarahkan pandangannya pada Ari Godril.


"Heh, siapa kamu? Jangan ikut campur disini?" Bentak Guntoro pada Ari Godril.


Namun salah seorang anak buah Guntoro begitu melihat Ari Godril nampak gemetar lalu mendekati Guntoro dan berbisik.


"Bos, pemuda itu Godril. Dia anak punk dari Jogja, tapi disini, namanya cukup disegani oleh anak anak jalanan. Sebaiknya kita tidak berurusan dengannya, Bos. Atau kalau tidak kita sendiri yang akan kesulitan." Bisik anak buah Guntoro pada Guntoro.


Guntoro yang mendengar itu hanya kemudian mengerutkan keningnya sembari melihat pemuda dengan tatto memenuhi lengan tangannya itu.


"Kita kembali!" Teriak Guntoro pada kedua anak buahnya.


"Dan kamu! Ingat saya beri waktu satu Minggu untuk melunasi hutang kamu itu." Ucap Guntoro beralih pada si pemilik warung.


"Dua Minggu." Sahut Arya.


Guntoro nampak tidak suka ketika Arya tiba tiba menyahut ucapannya itu, namun Guntoro memikirkan ucapan anak buahnya tadi.


"Baiklah, dua Minggu. Dua Minggu lagi saya akan kembali kesini, saya harap kamu sudah menyiapkan uang itu." Ucap Guntoro pada si pemilik warung, si pemilik warung hanya kemudian mengiyakan lirih sembari mengangguk. Setelah mengucapkan itu, Guntoro beserta kedua anak buahnya berlalu dari warung itu.


"Terima kasih, Mas." Ucap Arya sembari mendekat ke arah Ari Godril.

__ADS_1


"Terima kasih untuk apa, Mas?" Tanya Ari Godril kemudian.


Arya tersenyum, "Berkat bantuan sampeyan, Mas. Pak Guntoro bisa segera pergi dan tidak membuat masalah." Ucapnya kemudian.


Ari Godril pun kini membalas senyuman Arya, "Saya tidak merasa sedang menolong atau membantu tadi itu, Mas. Jadi jangan sungkan. Tadi itu saya hanya membela diri saja. Orang yang hampir memukul Mas tadi tapi meleset justru hampir mengenai saya, makanya saya spontan saja melemparnya dengan toples tadi." Sahut Ari Godril kemudian.


"Ya apapun itu tapi saya tetap harus berterima kasih, Mas." Imbuh Arya lagi.


"Sama sama, Mas. Tapi saya lihat Mas ini juga tidak mungkin kalah dari kedua orang itu tadi. Emmm, saya lihat kuda kuda Mas nya ini sangat luwes sekali. Mas nya ini pasti jago silat ya?" Ucap Ari Godril kemudian.


Arya tertawa, "Tidak, Mas. Saya juga cuma asal asalan saja tadi. Saya justru penasaran sama sampeyan, Mas. Begitu melihat sampeyan, anak buah Pak Guntoro tadi langsung terlihat ketakutan, pasti sampeyan bukan orang sembarangan ini." Balas Arya setelahnya.


"Tidak benar itu, Mas. Mungkin mereka kira saya ini preman karena tatto saya ini saja." Ari Godril kemudian ikut tertawa.


"Ngomong ngomong kita belum berkenalan, Mas. Perkenalkan nama saya Arya." Ucap Arya sembari mengulurkan tangannya ke arah Ari Godril.


"Panggil saja Godril, Mas." Jawab Ari Godril sembari menerima ajakan jabat tangan dari Arya.


"Sebaiknya kita ngobrol sambil ngopi dulu, Mas Godril." Ajak Arya kemudian.


"Tentu saja." Sahut Ari Godril kemudian.


Mereka pun segera menuju tempat duduk di warung itu. Si pemilik warung segera menghampiri Arya dan Ari Godril untuk mengucapkan terima kasihnya, lalu tak lama setelahnya membawakan mereka berdua dua gelas kopi.


"Saya tidak pernah melihat sampeyan. Apa sampeyan bukan asli sini, Mas?" Tanya Arya kemudian.


"Bukan, Mas. Saya dulunya di Jogja. Tapi orang tua saya asli sini." Jelas Ari Godril kemudian.


"Oh, pantas saja. Saya baru pertama ini melihat sampeyan." Sahut Arya sembari menganggukkan kepalanya.


Setelah saling berkenalan dan sama sama menikmati kopi di warung itu. Arya dan Ari Godril pun terus melanjutkan obrolan mereka cukup lama. Bahkan kini mereka terlihat sangat akrab seolah mereka sudah sangat lama kenal.


"Sampeyan disini kerja atau bagaimana, Mas?" Tanya Ari Godril kemudian.


"Tidak, Mas Godril. Saya ya hanya begini, lontang lantung begini. Kebetulan saya ada misi dengan seseorang, jadi saya disini sembari menunggu informasi dari teman saya yang saya mintai tolong itu." Sahut Arya kemudian.


"Oh, begini ya. Wah, jangan jangan sampeyan agen rahasia, Mas." Celetuk Ari Godril kemudian.


Arya tertawa mendengar itu, "Bukan, Mas. Ini sesuai amanah Kakek saya saja, Mas" Ucapnya kemudian.


"Oh, misi keluarga, Mas?" Tanya Ari Godril memperjelas.


"Anggap saja begitu, Mas." Sahut Arya.


"Kalau sampeyan sendiri, kesini mau beli sesuatu atau bagaimana, Mas?" Tanya Arya setelahnya.


"Sebenarnya tidak jauh beda, Mas. Saya disini juga untuk mengawasi seseorang atas perintah teman yang sudah saya anggap seperti guru saya." Sahut Ari Godril kemudian.


Arya nampak mengangguk, "Wah, jangan jangan sampeyan justru yang malah sebenarnya agen rahasia ini." Balas Arya kemudian.


Ari Godril pun tertawa mendengar celetukkannya tadi di kembalikan padanya. Keduanya pun kini tertawa bersama di warung itu.


"Apa perlu saya bantu, Mas. Kebetulan seisi pasar ini saya tahu dan kenal saya." Arya menawarkan bantuannya pada Ari Godril.


"Terima kasih, Mas Arya. Tapi ini amanah yang teman saya itu berikan pada saya. Jadi ini sudah menjadi tanggung jawab saya." Sahut Ari Godril kemudian.


Arya mengangguk paham, "Baiklah kalau begitu. Sepertinya memang tugas yang teman sampeyan itu berikan pada sampeyan sangat penting sekali ya Mas Godril."


"Sebenarnya tidak begitu penting, Mas. Teman saya itu hanya ingin tahu kegiatan salah seorang yang dimintanya untuk saya awasi itu apa disini, hanya itu sebenarnya. Mungkin sepele, tapi itu menjadi sangat penting untuk saya karena hal sepele pun kalau sudah amanah itu sudah berubah sifat." Sahut Ari Godril.


"Wah, sepertinya Mas Godril ini nyantri ya?" Tanya Arya kemudian.


"Nyantri sih tidak, Mas. Ya, itu tadi seorang teman yang sudah saya anggap guru itu yang menunjukkan jalan pada saya mana jalan yang seharusnya saya lalui." Sahut Ari Godril setelahnya.


Arya lagi lagi hanya mengangguk paham.


"Saya jadi ingin sekali bertemu dengan guru sampeyan itu, Mas." Ucap Arya kemudian.


"Wah, tentu saja, Mas. Insya Allah saya akan ajak sampeyan bertemu dengan teman saya itu." Sahut Ari Godril bersemangat.

__ADS_1


Setelah itu keduanya terus melanjutkan obrolan mereka hingga suara kumandang adzan Dzuhur menghentikan obrolan itu.


Bersambung...


__ADS_2