BROMOCORAH

BROMOCORAH
Bibit! Bebet! Bobot!


__ADS_3

Pagi itu sebuah mobil Toyota Camry berjalan menuju halaman parkir Pondok Hidayah. Tak lama setelah berhenti, dari dalam mobil sedan mewah itu keluar seorang laku laki paruh baya dengan setelan jas hitam. Perawakannya tinggi gagah, tatanan rambutnya pun rapi meski nampak sedikit mulai beruban. Dari janggutnya nampak sedikit brewok yang dicukur rapi yang semakin menampilkan bahwa laki laki itu orang berada.


Tak lama setelah turun dari mobilnya, laki laki itu berjalan tenang kearah ndalem Kyai Aminudin. Beberapa kali mengucap salam hingga akhirnya dari balik pintu kayu jati dengan ukiran batik, Kyai Aminudin menjawab salam itu.


"Selamat pagi, Pak Kyai." Ucap laki laki itu ramah setelah Kyai Aminudin menjawab salamnya.


"Wah, Pak Nugroho. Ada angin apa ini sampai sampai jauh jauh datang kesini." Sahut Kyai Aminudin tak kalah ramahnya, "Mari mari, Silahkan masuk." Lanjut Kyai Aminudin mempersilahkan tamunya itu masuk. Dan laki laki berstelan jas yang dipanggilnya dengan Pak Nugroho itu pun segera masuk ke dalam rumah Kyai Aminudin.


"Nduk, bikinkan minum." Ucap Kyai Aminudin kepada salah satu khodam perempuannya.


"Nggeh, Kyai." Sahut si khodam buru buru kedalam.


"Apa yang membuat seorang Pak Nugroho sampai jauh jauh kesini." Tanya Kyai Aminudin mengulang pertanyaannya di depan tadi.


"Ya, hanya untuk silaturahmi saja, Pak Kyai." Ucap Nugroho sembari bersandar di sofa ruang tamu Kyai Aminudin, "Sekalian mau tahu perkembangan Budi anak saya." Lanjutnya.


Kyai Aminudin tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Budi sekarang semakin banyak perkembangan, Pak. Ya karena kan Budi itu salah satu santri kebanggan pesantren ini." Ucap Kyai Aminudin memuji Budi anaknya Nugroho itu.


"Ya memang, Pak Kyai. Kalau soal prestasi, anak saya itu sudah tentu seperti saya. gathek'an, cepet nangkep. Jadi ya saya tidak heran kalau Budi anak saya itu jadi yang paling pandai. Sama seperti saya waktu sekolah dulu. Selalu ranking." Imbuh Nugroho mulai menyombongkan anaknya itu.


"Ya ya ya. Pasti itu Pak Nugroho. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Timpal Kyai Aminudin lagi.


Tak lama seorang khodam membawa nampan berisi cangkir teh juga beberapa makanan ringan.


"Monggo Pak Nugroho. Dinikmati seadanya." Kyai Aminudin mempersilahkan Nugroho untuk menikmati apa yang disuguhkan khodamnya itu.


"Tidak usah repot repot begini, Pak Kyai." Sahut Nugroho basa basi.


"Hanya minuman saja Pak Nugroho. Tidak ada yang repot."


Lalu mereka tertawa untuk beberapa saat.


"Oh iya, Pak Kyai. Denger denger dari si Budi katanya putri Pak Kyai lagi pulang ya?" Tanya Nugroho sejurus kemudian.


"Benar Pak Nugroho. Ya, karena tidak lama lagi akhirus-sanah jadi untuk beberapa waktu ini dibolehkan pulang untuk persiapan setelah test akhir kemarin." Jelas Kyai Aminudin.


Nugroho nampak menganggukkan kepalanya. Lalu mengubah posisi duduknya. Menegakkan sedikit tubuhnya.


"Itulah sebenarnya alasan saya sampai jauh jauh kemari, Pak Kyai." Ucap Nugroho kemudian.


Kyai Aminudin mengerutkan keningnya, "Maksud Pak Nugroho?" Tanyanya kemudian


Nugroho menarik nafas panjang.


"Ini karena permintaan anak saya, -si Budi." Lanjut Nugroho.


Kyai Aminudin masih tidak paham maksud dari ucapannya Nugroho.


"Sepertinya Budi begitu tertarik dengan putri Pak Kyai tersebut. Makanya saya diminta jauh jauh kesini ya untuk..." Nugroho menghela nafasnya lagi, dia mencari bahasa yang tepay untuk mengutarakan tujuannya. "Untuk melamar putri Pak Kyai untuk anak saya, -si Budi." Lanjut Nugroho tanpa basa basi.


Kyai Aminudin tercengang lalu tersenyum.


"Pak Nugroho ini bisa saja. Apa Pak Nugroho serius?" Tanya Kyai Aminudin sejurus kemudian.


"Tentu Pak Kyai." Sahut Nugroho singkat.


Kyai Aminudin terdiam sesaat lalu terlihat meraba dagunya.


"Begini Pak Nugroho. Alangkah lebih baiknya saya tanyakan dulu sama Habiba. Saya juga perlu pertimbangan dia." Ucap Kyai aminudin kemudian.


"Ya bisa saya pahami itu Pak Kyai. Tapi seperti yang Pak Kyai tahu. Anak saya itu satu satunya anak saya yang akan menjadi pewaris tunggal seluruh bisnis saya. Dan lagi dia paling berpotensi di pesantren ini. Jadi sudah tentu dari segi bibit, bebet, bobot Pak Kyai tidak usah ragu lagi. Putri Pak Kyai akan terjamin nantinya kalau bersama anak saya." Imbuh Nugroho mencoba meyakinkan Kyai Aminudin.


"Kalau soal itu saya sudah yakin, Pak. Saya tidak ragu dengan bibit, bebet, bobot anak Pak Nugroho." Kyai Aminudin kemudian tersenyum. "Dan kalau saya pribadi akan sangat senang bila bisa berbesanan dengan seorang Pak Nugroho ini yang seorang pengusaha sukses." Lanjut Kyai Aminudin.


Nugroho hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Saya akan coba menanyakan ke Habiba dan membujuknya untuk mau menerima lamaran bapak ini." Imbuh Kyai Aminudin.


"Terima kasih Pak Kyai. Saya sangat berharap hubungan baik kita ini akan menjadi sebuah hubungan keluarga." Timpal Nugroho.


"Dan satu lagi, Pak Kyai. Jika putri Pak Kyai mau menerima lamaran Budi anak saya. Saya sudah mendengar dari Budi tentang rencana Pak Kyai merenovasi pondok putri pesantren ini. Dan saya pastikan, semua renovasi saya yang tanggung." Nugroho menambahi ucapannya.


Seketika wajah Kyai Aminudin nampak berseri seri dan tersenyum merekah.


"Apa Pak Nugroho serius?" Tanya Kyai Ajimukti seolah tidak sabar.


"Loh, sebagai calon besan, kenapa tidak Pak Kyai?" Sahut Nugroho meyakinkan.


Lagi lagi senyum Kyai Aminudin mengembang.


"Saya pastikan, secepatnya saya akan membujuk Habiba Pak. Pak Nugroho tenang saja. Saya yakin Habiba dengan senang hati akan menerima lamaran Budi." Lanjut Kyai Aminudin kemudian.


Nugroho mengangguk, "Saya tunggu kabar bahagia itu, Pak Kyai."


"Secepatnya Pak Nugroho. Secepatnya." Kyai Aminudin mencoba meyakinkan Nugroho.


Untuk sesaat obrolan mereka berlanjut hingga cukup lama. Sementara itu Budi dan kedua rekannya nampak sedang asik berbincang di teras kamar lantai tiga.


"Sebentar lagi semua mimpiku akan jadi kenyataan." Budi kali ini tampak berseri seri. Senyumnya begitu terlihat mengembang dari bibirnya.


Khalil dan Imam hanya saling pandang.


"Kamu kenapa, Bud. Sepertinya ceria sekali hari ini?" Tanya Khalil ingin tahu ada apa dengan Budi.


"Iya, Bud. Lagi seneng banget kayaknya." Imbuh Imam.


Budi sepontan merangkul pundak kedua rekannya itu.


"Oh ya jelas dong." Ucap Budi dengan suara meninggi. "Kalian tahu tidak?" Lanjut Budi.


Khalil dan Imam serempak menggeleng, "Tidak, Bud. Memangnya ada apa?" Sahut Imam.


"Kalian lihat itu?" Budi mengarahkan pandangan ke bawah.


"Lihat mobil?" Menunjuk sebuah mobil yang terparkir dihalaman parkir pondok.


Khalil dan Imam hanya saling pandang. Mereka belum paham maksud Budi.


"Itu mobil bapakku." Lanjut Budi. Spontan Khalil dan Imam tersentak.


"Mobil baru bapakku. Harganya berapa? Ya kalian bisa kira kira sendirilah." Lanjut Budi menyombong.


"Wah, bapakmu keren, Bud." Puji Khalil.


"Jelas dong!" Ucap Budi bangga sedikit membusungkan dadanya.


"Kalian tahu tidak kenapa bapakku jauh jauh kesini?" Bisik Budi kemudian.


Khalil dan Imam kompak menggeleng.


"Seperti kataku kemarin. Semua akan beres kalau bapakku sudah turun tangan." Senyum Budi sinis.


"Maksud kamu, Bud?" Tanya masih belum paham lalu saling melempar pandang dengan Imam.


Budi terkekeh, "Bapakku hari ini melamar Habiba untukku langsung ke Pak Kyai." Ucap Budi setengah berbisik.


"Melamar Ning Biba?" Sontak kedua rekannya berteriak kaget. Budi segera membungkam mulut mereka.


"Diem!" Seru Budi.


"Maaf maaf, Bud. Kami syok." Sahut Imam.


"Wah, sebentar lagi kami harus panggil kamu Gus Bud dong!" Imbuh Khalil sembari terkekeh.

__ADS_1


"Ya, soal itu gampang." Lagi lagi Budi membusungkan dadanya.


"Rasanya sudah tidak sabar." Imbuh Budi sembari menggosok gosok tangannya.


"Wah, Bud. Saya jadi bayangin gimana megahnya nanti pernikahan kalian. Satu anak pengusaha sukses, satunya lagi putri Kyai kondang." Gumam Imam sembari mendongak keatas membayangkan sesuatu.


"Bakal meriah pasti." Imbuh Khalil.


"Tentu saja. Kolega dan klien bapakku rata rata orang besar. Para pengusaha sukses juga pejabat. Jadi bapakku pasti malu lah kalau cuma bikin pesta ecek ecek." Sahut Budi lagi lagi nampak menyombong.


Jauh dari Pondok Hidayah, sebuah mobil Range Rover Sport sedang melaju tak terlalu kencang di jalan yang cukup ramai. Si pengemudi tampak berbincang dengan seorang wanita cantik disebelahnya.


"Nanti pas dikompetisi itu sampeyan yang nganter Kang Aji, Mas?" Tanya wanita itu pada si pengemudi di sebelahnya.


Pemuda tanggung yang mengemudikan mobil mewah itu hanya tersenyum, "Kenapa Habiba?" Tanyanya kemudian.


Wanita itu, -Habiba, hanya pula tersenyum, "Tidak apa apa." Ucapnya datar.


Si pemuda, -Faruq, hanya geleng geleng kepala.


"Emmm, abah ikut, Mas?" Tanya Habiba lagi.


"Belum tahu. Sepertinya tidak. Kenapa memangnya?"


"Emmm, tidak apa apa. Tanya saja."


Lagi lagi Faruq geleng geleng kepala lalu terdengar mulutnya berdecak.


"Aku boleh ikut nganter, Mas?" Tanya Habiba kemudian.


Faruq mengerutkan kening, "Mau ikut? Kenapa? Jangan bilang nggak papa lagi." Sahut Faruq.


Habiba hanya terkekeh, "Ya, pengen ikut aja, Mas. Udah itu aja." Sahut Habiba memanja. "Boleh nggak?" Tanyanya lagi.


"Hmmm, lihat besok ajalah." Sahut Faruq datar.


"Harus boleh!" Habiba terkesan memaksa.


Faruq mengerutkan keningnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa kamu, Ba?" Tanyanya kemudian melihat Habiba yang seperti itu, "Emmm, Mas tahu ini." Imbuh Faruq sembari tersenyum.


Habiba melirik sinis Faruq, "Tahu apa?" Tanyanya kemudian.


Faruq hanya terkekeh.


"Diem diem ternyata adik Mas udah gede nih. Uluh uluh." Goda Faruq.


"Apaan sih, Mas." Habiba mulai terlihat salah tingkah.


"Ngaku hayyow."


"Ngaku apaan sih, Mas. Jangan bikin bingung deh."


"Bener nih nggak mau ngaku sama, Mas?"


"Emang ngaku apa sih?"


"Okelah, kalau nggak mau ngaku, berarti bener dugaan Mas."


"Bener apanya? Emang dugaan Mas apa?"


Habiba terlihat sewot, "Mas Faruq ini aneh." Gerutu Habiba.


Sementara Faruq hanya lagi lagi terkekeh melihat tingkah Habiba.


Mobil bercat silver itu terus melaju ditengah jalanan yang cukup padat pagi ini. Didalamnya perseteruan kakak dan adik keponakannya terus berlangsung hingga memasuki gerbang masjid Pondok Hidayah. Dari arah berlawanan sebuah mobil sedan mewah keluar dari arah parkir halaman pondok. Faruq mengerutkan kening, belum pernah dilihatnya mobil itu selama ia disini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2