BROMOCORAH

BROMOCORAH
Ngwejang Manan


__ADS_3

"Jadi benar yang saya dengar dari Ajeng mengenai rencana boyong kamu itu karena... Emmm...?" Nafisa menghentikan ucapannya, sejenak ia ragu untuk meneruskan ucapannya.


Tanpa menunggu ucapan Nafisa. Manan mengangguk.


"Anggap saja begitu." Ucapnya sembari menoleh juga mengembangkan senyumnya.


"Tapi kenapa harus boyong? Emmm, maksud saya, kenapa tidak tetap disini saja. Kan bisa usaha sambil nyantri?" Ucap Nafisa kemudian.


Manan melebarkan senyumnya, "Kenapa kamu khawatir kalau kita akan jauh lagi?"


Mendengar itu Nafisa sedikit tersipu, "Bukan itu. Maksud saya..."


"Sudahlah, Sa. Saya juga cuma pindah situ kok, dari sini paling jalan kaki sepuluh menit. Saya masih bisa tetap ngluru ilmu disini. Dan juga..." Manan kembali menoleh Nafisa.


"Kita masih bisa saling bertemu." Lanjutnya kemudian.


Nafisa menghela nafasnya, "Padahal saya tidak pernah menuntut kamu untuk itu, Nan." Ucapnya kemudian.


Manan lagi lagi tersenyum, "Ini bukan sebuah tuntutan, Sa. Tanpa kamu tuntut pun pada akhirnya saya tetap harus begini. Tidak hanya saya, tapi setiap laki laki harus seperti ini, karena ada tanggung jawab yang harus di pikul pada akhirnya." Sahut Manan.


"Tapi, Nan."


"Bahkan, jika alasan saya pun bukan kamu, saya akan tetap melakukan ini, Sa. Jadi kamu jangan merasa ini karena kamu. Ini saya lakukan karena memang harus seperti ini." Potong Manan kemudian.


"Baiklah, Nan. Saya mengerti." Nafisa melirihkan suaranya setelah mendengar itu.


"Bapak dulu adalah seorang berandalan, bersama Kyai Salim, Pak Dhe Prastowo, juga sahabat sahabat beliau yang lain. Mereka pada masanya sama ndugalnya, Sa. Mereka seorang Bromocorah di masanya. Tapi meski begitu, bapak tidak sekalipun lepas tanggung jawabnya pada ibu. Kamu tahu kenapa, Sa?" Ucap Manan kemudian, kali ini tanpa menoleh lawan bicaranya.


Nafisa menggeleng, baru setelahnya Manan menoleh dengan seulas senyum.


"Karena bapak tidak ingin di anggap sebagai laki laki rendah. Bapak memegang teguh pendiriannya sebagai laki laki. Dan bagi bapak, laki laki itu punya kewajiban yang tidak bisa ditutupi dengan alasan apapun. Kewajiban itu yaitu tanggung jawab." Ucap Manan kemudian.


Nafisa hanya tertunduk mendengar ucapan Manan itu.


"Mungkin kamu akan sulit menangkap dan memahami ucapan saya ini, Sa. Saya memang bukan seorang yang pandai berargumen, tapi..."


"Saya paham, Nan. Saya bisa mengerti itu." Sahut Nafisa cepat memotong ucapan Manan.


Manan lagi lagi hanya tersenyum dan kembali meluruskan pandangannya. Setelahnya ia berdiri dan mulai melangkahkan kaki meninggalkan Nafisa.


"Saya ke depan, Sa. Tidak enak jika kita lama lama mengobrol seperti ini, saya khawatir akan menjadi fitnah." Ucap Manan sebelum benar benar berlalu dari hadapan Nafisa.


Nafisa hanya mengangguk dan memandang kepergian Manan itu.


Di teras depan, nampak Ajimukti sedang duduk menikmati sebatang rokoknya.


"Sudah, Nan?" Tanyanya ketika Manan sudah berada di dekatnya dan ikut duduk bersamanya.


"Sudah, Jik. Terima kasih untuk waktunya." Ucapnya kemudian.


Ajimukti mengangguk.

__ADS_1


"Ada yang ingin saya sampaikan padamu, Nan. Tapi maaf sebelumnya jika apa yang akan saya sampaikan ini nantinya justru membebani pikiran kamu." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan sedikit mengerutkan keningnya, "Katakan saja, Jik. Ada apa? Jangan membuat saya penasaran."


Ajimukti menghela nafasnya, "Ini mengenai hubungan kamu dan Nafisa."


"Memangnya ada apa, Jik?" Tanya Manan sarat penasaran.


"Apa tidak sebaiknya kamu mengkhitbahnya saja, Nan. Emmm, maksud saya begini. Bukankah kalian sudah sama sama cocok satu sama lain. Sudah saling mengenal. Dan saya pikir Nafisa tentu menunggu nunggu hal itu dari kamu. Maaf, Nan. Maaf, bukan maksud saya nyusu nyusu, semua ini lepas dari saya sebagai kakaknya Nafisa." Ucap Ajimukti kemudian.


Mendengar itu, Manan sedikit tertunduk.


"Melamarnya maksud kamu, Jik?" Tanyanya kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Kurang lebihnya begitu, Nan. Tapi tidak secara formal. Ya, sama seperti yang saya lakukan pada Habiba dulunya." Ucapnya kemudian.


"Di dalam Islam, pernikahan itu merupakan salah satu ibadah yang paling dianjurkan dan termasuk ke dalam sunnah Nabi, Nan. Tentu kamu pun tahu itu. Namun, Nan. Apabila kamu hanya mengetahui bahwa tunangan adalah sebuah proses menuju pernikahan. Maka dalam Islam kamu pun harus mengenal yang namanya khitbah. Khitbah adalah salah satu proses atau jembatan menuju pelaminan yang dianjurkan oleh Islam." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Jadi itu berbeda dengan tunangan, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Begini, Nan. Memang berbeda sebenarnya. Namun, walaupun tidak sama, akan tetapi khitbah menjadi salah satu proses yang hampir mirip dengan tunangan. Jika dilihat dari segi bahasa, khitbah memiliki arti meminta, melamar, atau meminang seorang perempuan untuk dijadikan sebagai seorang istri." Sahut Ajimukti.


"Emmm, maksud kamu nembak?" Sahut Manan juga setelahnya.


Ajimukti sedikit tertawa, "Jika mengikuti bahasa anak sekarang, anggap saja begitu, Nan."


"Tapi kan tanpa begitu pun, Nafisa juga sudah tahu, Jik." Ucap Manan kemudian.


"Memang ada beberapa hal yang tidak butuh pengucapan, Nan. Tapi ada kalanya sebuah ucapan adalah hal terpenting. Anggap itu layaknya stempel. Tanpa stempel sebuah proposal tidak diakui, Nan." Sahut Ajimukti setelahnya.


Manan mengangguk, "Berarti tetap berbeda dengan nembak kalau begitu, Jik?"


"Sama, Nan. Hanya saja kamu harus melibatkan keluarga si wanita." Sahut Ajimukti.


"Ah, itu sama dengan lamaran, Jik." Sahut Manan pula.


Ajimukti tertawa setelahnya.


"Karena begini, Nan. Pengertian khitbah sendiri sebenarnya adalah salah satu prosesi lamaran dimana pihak dari keluarga laki laki berkunjung ke rumah calon mempelai perempuan. Di dalam pertemuan itu, pihak keluarga laki laki akan mengungkapkan tujuan datang ke rumah yaitu mengajak calon mempelai perempuan untuk membangun rumah tangga atau menikah. Nah, lalu, permohonan tersebut dapat disampaikan langsung oleh calon mempelai laki laki atau juga bisa disampaikan oleh perwakilan dari pihak keluarga yang dipercaya dan sesuai dengan ketentuan agama. Kemudian, dalam proses khitbah, pihak perempuan hanya perlu menjawab iya atau tidak." Ucap Ajimukti kemudian.


"Lalu, Jik?"


"Ya, apabila calon mempelai perempuan menyetujui khitbah tersebut, maka dirinya bisa disebut sebagai makhthubah, yaitu berarti perempuan yang sudah resmi dilamar oleh laki laki. Dengan begitu, perempuan tersebut tidak diizinkan untuk menerima lamaran dari laki laki lain. Wes ditaleni, intinya." Sambung Ajimukti lagi.


Manan mengangguk paham, "Tapi, Jik. Apa ada hal hal yang perlu diperhatikan atau bagaimana ya? Emmm, maksudnya, sebelum khitbahan itu. Bagaimana itu?" Tanya Manan sedikit bingung mencari ungkapan yang tepat.


"Memang ada beberapa hal, Nan. Tapi saya anggap itu sudah tidak perlu saya tambahkan. Karena sebelum melaksanakan khitbah, calon mempelai laki laki perlu memperhatikan dan memahami beberapa hal yang digunakan untuk menentukan perempuan mana yang akan Ia lamar. Hal tersebut dimaksudkan supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan di masa depan. Karena perlu kita pahami bahwa pernikahan merupakan hal yang sangat sakral dan tidak dapat dilakukan dengan cara main main dan tidak mengikuti aturan agama. Sementara kalau kamu kan sudah pasti siapa sasarannya." Sahut Ajimukti kemudian.


Manan sekali lagi hanya mengangguk.


"Selain itu apa ada hal lain, Jik?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Ya yang pasti ya, Nan. Calon mempelai perempuan sedang tidak dalam proses khitbah dengan laki laki lain. Hal tersebut berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW, Seorang laki laki tidak diperbolehkan melamar seorang perempuan yang sudah dilamar oleh saudaranya. Dan begitu pun sebaliknya, wanita yang sudah di khitbah, haram menetima khitbah laki laki lain. Dalam proses khitbah pihak perempuan boleh menerima ataupun menolak laki laki yang melamarnya itu, Nan. Maka ketika melamar, ada baiknya jika calon perempuan ditanya dan ditunggu jawabannya terlebih dahulu. Hal ini bertujuan supaya tidak ada paksaan yang terjadi dalam proses khitbah tersebut. Juga, Nan. Tidak dianjurkan melamar perempuan yang sedang berada dalam masa Iddah. Perempuan yang sedang berada di dalam masa iddah atau baru saja ditinggal mati, diceraikan oleh suaminya, mempunyai waktu jeda yang tidak diperbolehkan menikah lagi. Apabila masa iddahnya belum selesai, maka pihak laki laki harus menunggu dulu dan dilarang melamarnya secara terus terang." Jelas Ajimukti kemudian.


"Hmmm, ya ya, Jik. Saya paham itu." Sahut Manan.


"Jadi setelah itu pun kamu akan lepas dari tuduhan pacaran itu haram, Nan. Itu karena kamu sudah mengkhitbahnya." Sahut Ajimukti juga setelahnya.


"Kamu benar, Jik."


"Karena pada dasarnya, Nan. Islam tak hanya mengatur soal pernikahan saja, tapi juga tentang khitbah. Di dalam Al Qur'an pun Allah SWT berfirman, Tidak ada dosa bagi siapapun yang meminang perempuan perempuan itu dengan cara bersembunyi atau hanya dengan sebuah keinginan di dalam hati untuk mengawini mereka dalam hatimu. Allah memahami bahwa kamu akan menyebutkan nama mereka, oleh karena itu janganlah kamu menyebutkan janji kawin dengan para perempuan secara rahasia, kecuali hanya sekadar mengucapkan, kepada mereka sebuah perkataan yang makruf. Dan jangan juga kamu bertetap hati atau berazam untuk berakad nikah, sebelum perempuan tersebut habis masa iddahnya. Dan ketahuilah bahwa Allah SWT mengetahui semua yang ada di dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya dan perlu kamu ketahui bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyantun. Itu sesuai Qur'an surat Al Baqarah ayat 235, Nan. Kamu bisa mencarinya nanti." Ucap Ajimukti kemudian.


"Di dalam hadits pun kamu juga bisa mencari mengenai ini, Nan. Nabi Muhammad SAW melarang seseorang untuk membeli barang yang sedang dibeli atau ditawar oleh saudaranya, dan Rasulullah juga melarang seseorang meminang seorang perempuan yang sudah dipinang hingga orang yang meminangnya meninggalkan perempuan tersebut atau mengizinkannya." Sambung Ajimukti setelahnya.


"Iya, Jik. Saya juga pernah dengar itu."


"Tapi, Nan. Ada hal yang perlu kamu ingat. Meski khitbah adalah salah satu tahapan atau proses sebelum melakukan pernikahan, akan tetapi tidak termasuk ke dalam pernikahan. Jadi, walaupun sudah dikhitbah, mereka akan tetap memiliki batasan yang harus diketahui oleh calon pengantin tersebut." Lanjut Ajimukti.


Manan menganggukkan kepalanya paham.


"Karena meski dengan awal Khitbah, itu tidak berarti menjadikan hubungan sepasang laki laki dan perempuan menjadi halal. Keduanya masih harus tetap dalam koridor syariat. Walaupun sudah dikhitbah, akan tetapi mereka harus tetap saling menjaga perbuatan dan sikap mereka yang dilarang oleh agama. Selain itu, mereka juga harus saling menjauhkan dengan cara menjaga jarak antara kedua belah pihak." Lanjut Ajimukti kemudian.


Sekali lagi Manan hanya mengangguk.


"Dan hal lain yang harus kamu ingat, yaitu tempo, Nan. Atau waktu." Ucap Ajimukti kemudian.


"Maksudnya, Jik? Tempo atau waktu yang bagaimana itu?" Tanya Manan kemudian.


Ajimukti sedikit tersenyum kalo ini. "Jangka waktu khitbah dan pernikahan tidak boleh terlalu lama, Nan. Kedua belah pihak harus menyegerakan pernikahan untuk menjauhkan dari fitnah dan berbagai hal yang terkesan kurang baik." Ucapnya kemudian.


"Waduh, ya ini, Jik. Ini yang tidak bisa gage gage." Sahut Manan sembari menggaruk belakang kepalanya.


Ajimukti hanya tertawa setelahnya.


"Oh, iya, Jik. Bicara khitbah. Apa khitbah berbeda dengan ta'aruf?" Tanya Manan setelah beberapa saat.


"Ta'aruf itu sebelum khitbah, Nan. Dan khitbah itu setelah ta'aruf." Sahut Ajimukti.


"Maksudnya, Jik?"


"Ta'aruf itu pengenalan, sementara khitbah itu sudah ke proses lamaran, Nan." Jelas Ajimukti.


Manan mengangguk.


"Seperti kata saya tadi, Nan. Mengenal itu hal utama dalam khitbah. Sementara kalau kamu saya anggap sudah sangat mengenal Nafisa. Kenapa pengenalan ini penting, karena hal itu juga termasuk ke dalam syarat mustahsinah atau syarat yang menganjurkan pihak laki laki untuk mencari tahu lebih dalam tentang perempuan yang akan Ia khitbah. Pihak laki laki berhak mengetahui lebih dulu sifat dan karakter dari perempuan yang akan dipinangnya, Nan." Jelas Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk paham sekali lagi.


"Sekarang sedang trend trendnya ta'aruf, Nan. Tapi dari banyaknya yang mengatas namakan ta'aruf, tidak sedikit yang justru kejeglong, salah kaprah, asal dan tanpa dasar." Lanjut Ajimukti sembari sekali lagi menyalakan rokoknya.


"Kamu benar, Jik." Gumam Manan menanggapi ucapan Ajimukti itu.


"Makanya, Nan. Sebagai anak muda, jadilah kita anak muda yang berlogika." Ucap Ajimukti sembari mengepulkan asap rokok dari mulutnya.

__ADS_1


"Sebelum ta'aruf, bekali diri dengan ilmu. Sebelum khitbah, bekali diri dengan restu. Ta'aruf masih memberi waktu untuk berpikir, sementara khitbah, harus menyegerakan waktu nikah. Hal itu harus menjadi dasar pengetahuan kita, Nan. Jangan ikut trend kalau kita tidak punya bekal, karena biasanya sebuah kaleng yang kosong, jika di pukul suaranya akan lebih keras dibanding yang isi." Ucap Ajimukti sebelum akhirnya kembali menghisap rokok yang belum lama dinyalakannya itu.


Bersambung...


__ADS_2