BROMOCORAH

BROMOCORAH
Bicara Mulatsih


__ADS_3

"Sejak bayi cenger, Bulek Mas Aji yaitu Mulatsih, sudah begitu dekat dengan saya. Itu sebabnya tadi saya bilang dia sudah seperti anak wedok saya sendiri. Bahkan tak jarang, ia menginap di rumah saya ini dulunya, apalagi ketika Mursini lahir, Mulatsih begitu senang karena dia merasa punya adik perempuan." Ucap Sukrono kemudian mulai bercerita tentang Mulatsih.


"Berarti Simbah tahu tentang keberadaan Bulek saya itu, Mbah?" Tanya Ajimukti memburu.


Sukrono mengangguk, "Iya, saya tahu." Jawabnya lirih dan berat.


Seketika senyum merekah nampak memancar di wajah Ajimukti.


"Alhamdulillah, Lek. Usaha kita kali ini membuahkan hasil. Sibu pasti senang mendengar ini. Akhirnya amanah bapak bisa terpenuhi." Ucap Ajimukti pada Dullah.


"Benar, Mas. Akhirnya setelah puluhan tahun kita bisa juga menemukan Mbak Yu Mulatsih." Sahut Dullah tak kalah girangnya.


"Lalu dimana kami bisa menemuinya, Mbah. Emmm, maksud saya, apakah saya bisa minta alamat Bulek?" Ucap Ajimukti kemudian.


Mendengar itu Sukrono tersenyum, "Tentu saja, Mas. Tentu akan saya berikan."


Sukrono menuliskan alamat Mulatsih pada secarik kertas, setelahnya ia menyodorkan kertas itu pada Ajimukti.


"Ini alamat Bulek sampeyan." Ucap Sukrono kemudian.


Ajimukti mengamati tulisan Sukrono pada secarik kertas itu. Segera ia menyimpan alamat itu di sakunya.


"Terima kasih, Mbah. Terima kasih sekali. Berkat Mbah Sukro, saya jadi bisa bertemu dengan Bulek saya." Ucap Ajimukti kemudian.


Sukrono tersenyum, "Yang saya tahu hanya itu, Mas. Saya pun turut senang jika di akhir hidup saya bisa bermanfaat untuk sesama. Ngumpulke balung pisah, ini sebuah kebanggaan saya menjadi sahabat Kang Idris sepanjang hidup saya." Ucap Sukrono sedikit berbinar.


"Justru Mbah Sukrono adalah orang yang paling berjasa untuk keluarga Mbah Idris, Mbah. Saya sebagai cucu Mbah Idris mewakili Mbah Idris, sangat berterima kasih pada njenengan." Ucap Ajimukti kemudian.


Sukrono mengangguk, "Saya ingat betul. Sewaktu muda dulu Kang Idris itu sama persis seperti sampeyan ini, Mas. Santun, andap ashor, dan dalam pembawaan dirinya bisa nyrawung di semua kalangan." Ucapnya kemudian.


"Oh, iya, Mbah. Ada hal lain lagi yang ingin saya tanyakan sama Mbah Sukrono." Ucap Ajimukti kemudian.


Dullah yang mendengar pun ikut mengerutkan keningnya, karena setahu dia semua yang mereka cari sudah dapat petunjuk.


"Mengenai apa itu, Mas?" Tanya Sukrono kemudian.


Ajimukti menghela nafasnya, "Mengenai anak Bulek Mulatsih, Mbah."


Mendengar ucapan Ajimukti itu, seketika Sukrono nampak gelisah. Ia tidak menduga bahwa hal itu akan ditanyakan Ajimukti juga padanya. Ia sedikit bimbang, ia ingat akan pesan Arya sebelumnya.


"Jika Simbah tahu betul dengan Bulek dan menganggap Bulek layaknya anak Simbah sendiri. Berarti Simbah pun tahu soal anak Bulek yang otomatis adik saya." Ucap Ajimukti kemudian.

__ADS_1


Sukrono menghela nafasnya, "Ya, Bulekmu memang punya anak semata wayang, Mas. Hanya saja untuk lebih jelasnya, sebaiknya Mas Aji langsung tanyakan ini sama Bulek Mas Aji saja nantinya."


Ajimukti nampak penasaran dengan jawaban Sukrono kali ini, ia merasa ada hal yang membuat Sukrono seolah menahan ucapannya.


"Kenapa, Mbah? Apa ada sesuatu?" Tanyanya kemudian.


"Tidak, Mas Aji. Hanya saja, saya tidak berani menceritakan apa pun diluar pengetahuan saya." Ucap Sukrono kemudian.


Ajimukti hanya kemudian mengangguk, ia paham akan ucapan Sukrono. Ia pun tidak lagi ingin mendesak Sukrono. Sukrono pun nampak menghela nafas lega manakala tahu Ajimukti tidak mendesaknya untuk bercerita mengenai Arya, anak Mulatsih, Buleknya.


Untuk sesaat ketiga orang di ruangan itu sama sama terdiam. Tak lama terdengar desah nafas berat Sukrono.


"Saya sangat ingat hari itu. Beberapa bulan setelah wafatnya Kang Idris. Mas Gus Salim pada akhirnya datang menemui Mbak Yu Sumarsani. Mas Gus Salim bersimpuh layaknya seorang anak pada ibunya. Ketika melihat itu, saya yang saat itu masih sedikit brangasan pun tidak kuasa menahan air mata saya karena saking trenyuhnya. Jika orang melihat kejadian itu, orang tidak akan menduga bahwa Mbak Yu Sumarsani adalah ibu tiri Mas Gus Salim." Ucap Sukrono dengan kelopak matanya yang mulai sedikit basah.


Sejenak Sukrono kembali menghela nafas.


"Dan sejak saat itu, Mas Gus Salim begitu sangat melindungi Mulatsih. Bahkan ketika Mulatsih menginjak remaja, ketika Widodo datang pertama kali rekak'e ngapeli Mulatsih. Mas Gus Salim lah yang mewakili Kang Idris menanyakan perihal kedatangan Widodo waktu itu." Ucap Sukrono lagi.


"Widodo? Siapa Widodo itu, Mbah?" Tanya Ajimukti kemudian.


Sukrono tersenyum, "Dia Paklekmu, Mas. Suami Bulekmu. Tapi sayang..." Sukrono menghentikan ucapannya.


"Sayang? Sayang kenapa, Mbah?" Tanya Ajimukti penasaran.


"Innalillahi wa Inna ilaihi roji'un. Jadi Paklek Widodo sudah meninggal, Mbah?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Iya, Mas. Widodo meninggal karena kecelakaan kerja. Dia terjatuh saat sedang membetulkan talang di rumah tetangganya. Dan itu tak lama setelah Mas Gus Salim yang juga lebih dulu dipanggil Allah. Betapa terpukulnya Mulatsih saat itu saat harus kehilangan dua orang lelaki yang begitu berharga di hidupnya." Ucap Sukrono.


Ajimukti mengangguk paham.


"Tapi, Mbah. Maaf. Sibu bilang, sejak beliau dinikahi Bapak, Sibu belum sekalipun di ajak bapak menemui Bulek. Dan dari yang Sibu bilang kepada saya, itu karena ketika Simbah Putri meninggal, Bulek tidak lagi tinggal di kota ini." Ucap Ajimukti kemudian.


"Yah, itu memang benar, Mas. Tak lama setelah Mbak Yu Sumarsani meninggal. Widodo lantas meminang Mulatsih dan kemudian mengajak Mulatsih merantau ke Banyuwangi karena Widodo kala itu bekerja disana. Sejak merantau itu Mulatsih juga Mas Gus Salim sudah jarang bertemu, bahkan ketika Mas Gus Salim menikahi Sibumu pun Mulatsih tidak bisa datang karena terkendala biaya. Di Banyuwangi pula Widodo meninggal. Dan baru setelah beberapa bulan sepeninggal Widodo, Mulatsih kembali lagi ke kota ini. Hmmm, jadi tak heran jika Sibumu belum sempat mengenal adik iparnya. Bahkan Simbah juga hanya sekali bertemu dengan Sibumu, itu pun ketika takziah Mas Gus Salim dulu, Mas." Ucap Sukrono lagi.


"Tapi apa Bulek juga pernah mencoba mencari tahu keberadaan keluarga bapak, Mbah? Maaf, ini saya tanya barangkali Simbah tahu." Tanya Ajimukti kemudian.


"Ya, sebelum Widodo meninggal, Widodo sempat membeli tanah di kota ini yang ia pasrahne sama adiknya, si Slamet. Juga beberapa tabungan untuk masa depan anak mereka. Dibantu Slamet, akhirnya tabungan itu dibangunkan rumah ya yang sekarang di tempati Bulekmu, Mas. Setelah Bulekmu resmi menetap kembali di kota ini, Bulekmu beberapa kali mencoba mencari Sibumu, itu Slamet yang bilang karena Bulekmu minta tolong ya sama Slamet. Karena itu sudah sangat lama, dan belum membuahkan hasil, mungkin Mulatsih mulai menyerah, saya yang tahu itu pun berangsur angsur lupa, ya karena semakin tua, ingatan saya kadang morat marit. Bahkan ketika pertama Mas Aji kesini dan bilang putranya Mas Gus Salim pun saya belum sempat memberi tahu ini pada Mulatsih. Huh, dasar wong tuo, Mas. Pikun." Keluh Sukrono kemudian.


"Sudahlah, Mbah. Yang terpenting sekarang saya sudah mendapat alamat Bulek. Secepatnya saya akan menemui Bulek." Sahut Ajimukti kemudian.


"Sepertinya alamat itu tidak jauh dari sini, Mas. Apa tidak sebaiknya kita mampir saja sekalian, Mas." Usul Dullah kemudian.

__ADS_1


"Apa begitu ya, Lek? Apa kita tidak taren Sibu dulu, Lek?" Tanya Ajimukti.


"Sebaiknya memang taren Mbak Yu dulu, Mas. Mas Aji telfon Mbak Yu saja, selagi kita masih disini." Usul Dullah lagi.


"Sepertinya kalau kalian mampir sekarang, Mulatsih tidak ada di rumah." Sela Sukrono mendengar percakapan Ajimukti juga Dullah itu.


"Kemana, Mbah? Apa Simbah tahu?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Yang saya dengar, malam ini nyewu Almarhum bapak mertuanya Mulatsih. Kemungkinan hari ini Bulekmu itu ada di rumah iparnya, si Slamet itu." Ucap Sukrono kemudian.


"Atau kalau kalian ingin menemuinya disana saya bisa kasih alamatnya. Orang juga tidak jauh dari sini. Hanya kampung sebelah sana." Lanjut Sukrono kemudian.


"Gimana, Lek?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Gimana ya, Mas. Sebaiknya kita tunda dulu saja, Mas. Tidak enak kalau kita menemui Mbak Yu Mulatsih diluar. Apalagi ini pertama kalinya. Pasti ada rasa canggung." Sahut Dullah.


Ajimukti mengangguk, "Lek Dul benar. Mungkin besok saja kita langsung ke rumah Bulek Mulatsih nya, Lek."


"Iya, Mas. Saya pasti akan menemani menemui Mbak Yu Mulatsih." Sahut Dullah.


Tak lama setelah obrolan dengan Sukrono itu, Ajimukti juga Dullah segera undur diri dari rumah Sukrono.


"Kita langsung kembali ke pesantren atau bagaimana, Mas?" Tanya Dullah pada Ajimukti ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kembali saja, Lek." Sahut Ajimukti.


Dullah hanya kemudian mengangguk dan segera menyalakan mesin mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Sukrono. Dan ketika mereka kembali melewati jalan di depan rumah Kyai Aminudin juga Ari Godril, mereka melihat ramai ramai di rumah Ari Godril.


"Ramai juga, Mas. Apa tidak apa apa kita tidak datang, Mas?" Tanya Dullah pada Ajimukti ketika melihat ramai ramai di rumah Ari Godril.


"Mau bagaimana lagi, Lek. Saya kebetulan sudah lebih dulu ada undangan yang juga ba'da Isya' nanti." Sahut Ajimukti kemudian.


"Hmmm, saya khawatir Godril kecewa karena tadi sudah bermuatan mengundang kita lantas kita menolak undangan itu." Ucap Dullah kemudian.


"Insya Allah tidak, Lek. Insya Allah Kang Godril tidak akan berpikiran seperti itu, Lek." Sahut Ajimukti.


"Tapi sebenarnya kan yang di dekat pesantren bisa minta tolong santri santri untuk mewakili sampeyan, Mas." Ucap Dullah lagi.


"Tapi undangan itu di khususkan pada saya, Lek. Dan lebih dulu datangnya. Seperti diterangkan dalam ibanatul ahkam syarh bulughul maram, Lek. Idzaaj-tama'ad-daa'iyaani fa-ajib aqrabahumaa baaban, fainna aqrabahumaa baaban aqrabahumaa jiwaaran, wain sabaqa ahaduhumaa fa-ajibil-ladzii sabaqa. Jadi, Lek. Apabila ada dua undangan yang bersamaan, maka penuhilah yang lebih dekat pintu rumahnya diantara keduanya itu, sebab yang lebih dekat pintunya itulah tetangga yang paling dekat. Lalu apabila salah satu di antara dua undangan itu datang lebih dahulu, maka penuhilah undangan yang datang lebih dahulu itu.” Ucap Ajimukti kemudian.


Dullah hanya mengangguk paham, kemudian kembali mempercepat laju kemudinya menuju Pondok Hidayah.

__ADS_1


Ketika Ajimukti juga Dullah tiba di Pondok Hidayah, langit mulai gelap ditambah awan mendung yang sudah hampir menutupi seluruh atap atap di angkasa. Namun meski langit tidak begitu cerah, namun Ajimukti petang ini nampak terlihat begitu cerah. Wajahnya nampak berseri juga ekspresi senyum yang menggambarkan suasana hatinya yang memang sedang berbunga bunga.


Bersambung...


__ADS_2