BROMOCORAH

BROMOCORAH
Hobby


__ADS_3

"Sudah lama kamu tidak pulang kemari, Le." Ucap wanita aruh baya itu sembari merapikan beberapa tanaman di halaman rumahnya pada seorang pemuda yang tiba tiba datang menghampirinya.


"Apa kabarmu? Kemana saja kamu?" Lanjut wanita itu lagi kini sebuah senyum nampak mengembang di wajahnya.


"Maaf, Bu. Akhir akhir ini saya memang sedikit menyibukkan diri. Jadi baru sempat pulang sekarang ini." Sahut pemuda itu kemudian.


Wanita paruh baya itu kemudian tersenyum, lalu berjalan ke arah kran air, mencuci tangannya, mengelapnya, kemudian mengajak pemuda itu duduk di lantai teras rumah itu.


"Apa kamu sudah bertemu kakak kamu, Le?" Tanya wanita itu kemudian.


Pemuda itu sedikit menoleh lalu mengembangkan senyumnya, "Sudah, Bu. Saya belum ingin membahas itu dulu saat ini." Sahut si pemuda itu setelahnya.


"Ibu hari ini masak apa? Kebetulan saya lapar, tadi sewaktu kemari belum sempat sarapan. Emmm, selain itu saya juga rindu masakan ibu." Ucap pemuda itu kemudian.


"Hari ini ibu tidak sempat ke pasar, Le. Dan lagi masih ada sisa sayur kemarin. Sayang kalau tidak dihabiskan, wong ibu juga hanya sendiri." Sahut wanita paruh baya itu.


"Sayur apa, Bu?" Tanya si pemuda seolah memang benar benar lapar saat ini.


"Jangan Lombok, Le." Sahut wanita itu kemudian.


"Wah, cocok kalau begitu, Bu. Jangan santen wayu justru enak enaknya itu. Saya jadi semakin lapar, Bu." Sahut si pemuda nampak bersemangat.


"Yasudah kalau begitu, kamu cuci tangan dulu sana. Habis kena debu jalanan, tidak baik, banyak kuman." Ucap wanita paruh baya itu kemudian.


Si pemuda segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kran air, setelah mencuci tangan dan membasahi wajahnya, ia segera menyusul wanita paruh baya itu ke dalam rumah.


Pemuda itu segera mengambil piring dan menuangkan nasi. Cukup banyak menandakan bahwa ia benar benar lapar.


"Wah, enak sekali, Bu. Memang kalau soal masakan ibu juaranya." Puji si pemuda pada wanita paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum, "Sudah, makan dulu, jangan sambil bicara kalau makan, nanti keselak."


Pemuda itu hanya nyengir sembari terus mengunyah makanan di mulutnya.


"Pelan pelan kalau makan, Le." Ucap wanita paruh baya itu melihat cara makan si pemuda.


"Saya begitu rindu masakan ibu. Hal yang tidak pernah saya temui diluar sana ya ini, Bu. Jangan santen." Sahut pemuda itu masih sembari mengunyah makanan di mulutnya.


Wanita paruh baya itu hanya lagi lagi tersenyum.


Selesai makan pemuda itu kemudian menyalakan rokoknya dan duduk bersandar di kursi kayu dapur itu.


"Jadi bagaimana dengan pertanyaan ibu tadi?" Tanya wanita paruh baya itu kemudian.

__ADS_1


Pemuda itu sedikit tersentak, seolah acuh ia kemudian menghisap rokoknya dalam dalam.


"Bagaimana, Le? Kamu belum menjawab yang ibu tanyakan tadi lho?" Tekan wanita paruh baya itu kemudian.


Si pemuda nampak menghela nafas, "Pertanyaan yang mana, Bu?" Tanyanya membalik meski sebenarnya ia tahu apa yang wanita paruh baya itu tanyakan.


Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, "Apa kamu sudah bertemu kakakmu?" Tanyanya mengulangi pertanyaannya di awal.


"Oh, mengenai itu." Sahut si pemuda terdengar malas.


"Jadi bagaimana?" Wanita paruh baya itu semakin memojokkan si pemuda.


"Bagaimana apanya, Bu?" Pemuda itu seolah ingin membolak balik pertanyaan si wanita paruh baya.


"Apa kamu sudah bertemu dengan kakakmu?" Ulang si wanita paruh baya itu sekali lagi.


Pemuda itu kembali menghela nafas, ia sadar percuma ia menghindari pertanyaan wanita paruh baya itu.


"Iya, Bu. Sudah." Sahut si pemuda lirih.


Wanita paruh baya itu tersenyum, "Kamu sedang membohongi ibu kan?" Desak wanita itu setelah mendapat jawaban dari si pemuda.


"Bohong bagaimana, Bu?" Sahut si pemuda.


"Kalau ibu sudah tahu kenapa ibu masih menanyakannya?" Ucap si pemuda itu terdengar mendesah berat.


Wanita paruh baya itu tersenyum mendengar bantahan pemuda itu.


"Le, dulunya kakekmu hanyalah seorang penjual tahu keliling, itu pun beliau ambil dari orang, bukan buatan beliau sendiri. Tapi di balik itu, beliau adalah seorang cantrik yang sangat mumpuni. Beliau kebanggaan Kyai di tempat simbahmu dulu ngangsu ilmu. Lambat laun, simbahmu mulai dikenali kemampuannya, lalu orang orang mulai mengenalnya, beliau akhirnya diangkat menjadi Modin. Yah, berawal dari situlah. Kakekmu kemudian mengenal nenekmu. Simbah putrimu itu kemudian jatuh cinta pada Simbah kakungmu, sementara saat itu Simbah kakungmu sudah memiliki istri. Sebuah kesalahan yang dilakukan Simbah putrimu, yaitu jatuh cinta pada suami orang. Namun nyatanya, istri pertama kakekmu yaitu ibu dari pak dhemu justru merelakan kakekmu menikahi nenekmu. Sayangnya, pak dhemu yang saat itu masih remaja tidak begitu saja bisa menerima pernikahan kakek dan nenekmu yang kemudian menjadikannya pergi dari rumah bahkan sampai akhir hayat kakekmu, pak dhemu tidak pernah lagi sudi menemui kakekmu. Itulah penyesalan simbah Kakung juga Simbah putrimu. Itu kenapa hampir seluruhnya yang simbahmu punya, beliau titipkan pada rekannya untuk kemudian di serahkan sama pak dhemu yang lebih berhak." Ucap wanita paruh baya itu kemudian.


Pemuda itu menghela nafas, "Sudah berapa kali ibu ceritakan itu pada saya, Bu?" Sahut pemuda itu.


Wanita paruh baya itu tersenyum sembari menoleh si pemuda, "Cerita ini akan ibu ulang ulang sampai kamu mengerti, Le."


"Mengerti? Mengerti soal apa lagi, Bu? Bukankah selama ini saya juga sudah mengerti semua. Bahkan saya tetap menerima dia sebagai kakak meski dia tidak tahu itu." Sanggah si pemuda.


Wanita paruh baya itu kembali tersenyum, "Tidak, Le. Sebelum ibu melihat dia mengakui mu sebagai adik sepupunya. Ibu anggap kamu belum mengerti." Ucapnya kemudian.


"Ah, ibu. Kenapa pengakuannya tentang hubungan kami ibu kaitkan dengan saya mengerti atau tidak. Itu sama sekali tidak ada hubungannya kan, Bu?"


Wanita itu lagi lagi tersenyum sembari menoleh si pemuda, "Kenapa ibu bilang begiu, karena semua ini kamu yang mengerti bukan dia." Ucapnya sembari menepuk lutut si pemuda.


Pemuda itu menghela nafas kemudian tertunduk sembari memainkan rokok di tangannya.

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak merokok, Le. Apalagi minum kopi. Rokok dan kopi sangat tidak baik untuk kesehatan. Ngaji kamu sebaiknya di teruskan. Bagaimana pun juga, Simbah kakungmu juga berharap banyak sama kamu." Ucap wanita paruh baya itu mengalihkan pembicaraan menyadari si pemuda mulai terdesak saat ini.


"Merokok dan ngopi itu pekerjaan saya, Bu. Sementara ngaji itu hobby. Ibu tenang saja." Sahut si pemuda itu kemudian.


"Kamu itu gimana tho, Le. Ibu nasehati benar benar kamunya justru celelekan begitu." Wanita paruh baya itu kali ini nampak kesal dengan jawaban si pemuda.


"Kenapa, Bu? Apa ada yang salah?" Sahut si pemuda tanpa merasa bersalah.


"Dimana mana, ngaji itu dipenke, Le. Ora gur sewates hobby. Kamu jangan terkecoh dengan dunia, nanti akherat kamu keteteran." Tegas so wanita itu kemudian.


"Ibu salah penangkapan. Maksud dari ucapan saya tidak begitu, Bu." Pemuda itu mencoba menjelaskan.


"Tidak begitu piye? Wong jelas jelas semaurmu tadi saja begitu kok. Malah bilang ibu yang salah penangkapan." Wanita itu nampak semakin kesal dengan sikap si pemuda.


"Bu, kenapa saya bilang merokok dan ngopi itu pekerjaan sementara ngaji itu hobby, itu karena pekerjaan itu sebatas usia, Bu. Tidak ada pekerjaan yang langgeng. Entah kemampuan, entah kemauan, entah tuntutan usia, rasa bosan, pasti akan ada masa berhentinya. Sementara hobby, entah itu sudah tidak bisa apa apa lagi, namanya hobby tetap akan menjadi hobby, Bu. Sebuah kegiatan yang di gemari, yang tidak akan menimbulkan efek bosan. Kalau masih bosan, itu bukan hobby, Bu. Hanya rubuh rubuh gedang. Condong ke kiri ikut jatuh ke kiri, condong ke kanan ikut jatuh ke kanan. Tidak punya pendirian. Melu usum thok, berbeda dengan hobby." Pemuda itu akhirnya menjelaskan panjang lebar.


Mendengar itu si wanita paruh baya agak tertegun, ekspresi wajahnya seolah tidak percaya kata kata itu keluar dari si pemuda.


"Ternyata kamu sudah besar, Le." Ucap si wanita itu lirih, suaranya terdengar berat, bahkan kini tatapannya tidak setegas sebelumnya, ada bulir bulir bening kini nampak mulai menggenangi kelopak mata manita itu.


"Bu, kehidupan sudah banyak mengajarkan saya tentang bagaimana hidup, apa itu hidup, seperti apa itu hidup juga harus apa dalam hidup. Bayi kecilmu yang dulu kamu gendong kemana mana, sudah bisa berjalan sendiri, Bu. Ia sudah berhenti merangkak apalagi berjalan merambat. Bayimu mungilmu ini, kini sudah mampu berlari bahkan melompat." Ucap si pemuda itu sembari melengkungkan bibirnya.


"Buang kekhawatiran ibu." Lanjut pemuda itu menambahi.


"Ya, kamu benar, Le. Mungkin ibu memang terlalu khawatir." Sahut wanita paruh baya itu kemudian, kini ada seulas senyum kembali nampak di wajahnya.


"Ibu ingat? Dulu waktu kecil, ibu selalu menyuruh saya tidur siang. Bahkan ketika dengan mudahnya saya tertidur, dengan begitu lamanya saya tidur siang kala itu. Ibu akan sangat bangga dan akan tidak bosannya ibu bercerita membanggakan saya hanya karena tidur siang saya di masa itu. Tapi coba sekarang, jika saya di siang bolong tidur. Ibu hanya akan memarahi saya habis habisan, mengatai saya pemalas lah, ini lah itu lah." Pemuda itu nampak menggerutu.


Wanita paruh baya itu kemudian hanya tertawa mendengar ocehan pemuda itu.


"Maafkan ibu, Le. Ibu lupa bahwa kamu sudah dewasa. Tentu tidak hanya usia, namun juga cara berpikir kamu. Semua yang ada pada dirimu." Ucap wanita paruh baya itu kemudian.


"Hmmm, Bu. Sedewasa apapun saya sekarang. Tapi saya tetap butuh bimbingan ibu sebagai orang tua tunggal saya. Satu satunya keluarga yang saya miliki saat ini." Ucap pemuda itu lirih dengan suara tertahan di akhir ucapannya.


Wanita itu hanya tersenyum, matanya kembali sayup kali ini. Ia tidak ingin ingatannya kembali tertuju pada laki laki itu, laki laki yang meninggalkannya untuk hidup berdua dengan anak semata wayangnya.


"Sebaiknya kamu segerakan menemui kakakmu, Le." Ucap wanita paruh baya itu kembali mengalihkan pembicaraan sembari bangun dari duduknya.


Pemuda itu hanya kemudian mengangguk. Ia begitu paham akan ekspresi wanita paruh baya itu. Bagaimanapun, ia satu satunya keluarga wanita paruh baya itu kini, ia satu satunya anak wanita paruh baya itu. Ia tidak pernah tahu bapaknya, satu satunya yang ia miliki dari bapaknya bandul kalung yang terbuat dari kayu stigi.


Sesaat ia memandang bandul kalung yang selalu di sembunyikannya itu. Sejenak ia tersenyum, setelahnya ia menghela nafas.


"Ya, mungkin sudah saatnya."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2