
Jauh di luar Pondok Hidayah.
"Sepertinya ada yang istimewa dari kalung itu, Bang?" Tegur Budi ketika melihat Arya sedang duduk sembari mengamati kalung yang dipegangnya tepat di depannya.
"Ah, kamu, Bud. Tidak salam, mengagetkan saja." Sahut Arya sedikit terkejut.
Budi menyungingkan senyumnya lalu ikut duduk di sebelah Arya.
"Saya sudah salam, tapi sampai yang ketiga kalinya saya tidak mendapat jawaban, Bang. Seperti Bang Arya sedang menikmati lamunan." Gumam Budi kemudian.
Arya tertawa kecil mendengar itu, "Maaf maaf, Bud."
Budi sekali lagi hanya tersenyum tipis.
"Sepertinya memang ada yang istimewa dengan kalung itu ya, Bang?" Tanya Budi sekali lagi.
Arya menaikkan bahunya, "Untuk saya iya, Bud."
"Hmmm, jadi benar. Pantas saja sampai dibawa melamun. Apa itu dari seseorang yang juga istimewa, Bang?" Tanya Budi lagi.
Arya mengangguk ringan, "Benar, Bud. Sangat istimewa bahkan."
"Siapa, Bang? Kenapa tidak pernah kamu kenalkan? Pasti orang istimewa itu di kota ya, Bang?" Tanya Budi lagi.
Arya tersenyum tipis lalu menoleh sejenak pada Budi, setelahnya ia mengangkat kalung itu tepat ke hadapannya.
"Kalung ini pemberian kakek saya, Bud. Bandul kalung ini pun sebenarnya ada dua. Hanya saja, satunya diberikan pada anak tertua kakek saya yaitu Pak Dhe saya, sementara yang punya saya ini, dulunya kakek berikan pada ibu saya." Jelas Arya masih dengan posisi yang sama dengan sebelumnya.
Mendengar itu Budi nampak mengangguk.
"Pantas saja jika kalung itu terlihat sangat berharga, Bang." Ucapnya kemudian.
Arya hanya sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Oh, iya, Bang. Saya dengar kamu baru saja pulang. Apa itu benar?" Tanya Budi kemudian.
"Iya ,Bud. Kangen jangan santene ibu." Sahut Arya setelahnya.
"Tapi ngomong ngomong, siapa yang memberitahu kamu kalau saya pulang?" Tanya Arya nampak keheranan.
Budi sedikit tertawa ringan, sementara Arya melihat ekspresi Budi itu pun ikut tersenyum.
"Baguslah, Bud." Ucapnya lirih.
"Saya pikir, tidak baik juga terlalu memikirkan masalah lalu itu, Bang. Dan lagi tidak seharusnya saya menyalahkannya, dia pun sama tidak tahu apa apanya dengan semua itu." Sahut Budi.
"Bagus, Bud. Tanamkan yang seperti itu terus. Untuk bijaksana itu sulit, sangat sulit. Tapi dengan kebijaksanaan, hal yang sangat sulit pun akan terasa ringan." Timpal Arya kemudian.
Budi hanya kemudian mengangguk mengiyakan.
"Kamu belum bertemu dengannya lagi?" Tanya Arya kemudian.
"Belum, Bang. Terakhir kali ya kemarin itu. Setelah itu belum bertemu lagi." Sahut Budi.
Untuk sesaat Arya terdiam, Budi pun kini sama diamnya, tak ada lagi percakapan diantara keduanya untuk beberapa saat. Setelah sekian lamanya dalam diam, Arya nampak menghela nafasnya dalam.
"Jika saya berkunjung ke tempat itu, apa kamu mau menemani saya?" Ucap Arya kemudian.
Mendengar itu Budi sedikit mengernyitkan dahinya, "Maksud Bang Arya ketempat itu? Ke...?"
Arya mengangguk, "Benar."
"Bagaimana?" Tanyanya kemudian.
__ADS_1
Budi nampak menegakkan duduknya, lalu menaikkan bahunya, "Entahlah, Bang."
Arya sedikit tersenyum, "Kalau kamu keberatan tidak usah juga tidak apa apa, Bud. Biar saya sendiri saja." Ucapnya kemudian.
"Bukan keberatan, Bang. Tapi kan kamu tahu sendiri, Bang. Bagaimana sebelum ini." Sahut Budi kemudian.
Arya lagi lagi tersenyum, lalu menepuk lutut Budi, "Justru karena itu, Bud. Justru karena alasan itu yang membuat saya berpikir untuk mengajak kamu."
"Kok begitu, Bang?" Tanya Budi sedikit penasaran.
"Apa kamu mau terus terusan menyimpan kebencian itu?" Tanya Arya kemudian.
Budi tak segera menyahut pertanyaan Arya itu, ia hanya kemudian menghela nafasnya.
Sekali lagi Arya menepuk lutut Budi, "Ingat, Bud. Kebencian hanya akan menghalangi ampunan Allah."
Mendengar itu Budi menelan ludah, lalu menundukkan kepalanya.
"Kamu ingat yang dulu sekali pernah saya ucapkan padamu? Tuftahu abwaabul-jannati yaumal-itsnaini wal-khomiisi fayughfaru likulli 'abdin laa yusyriku billah syai'an illa rajulan. Kamu ingat kan kata saya dulu bahwa Pintu pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah mendapat ampunan. Tapi disana, Allah punya pengecualian, Bud. Kaana bainahu wa baina akhiihi syahnaa'. Kecuali lelaki yang antaranya dan saudaranya ada kebencian." Ucap Arya kemudian.
Budi hanya masih tertunduk setelah mendengar itu.
"Dan tentu kamu ingat kan, Bud? Apa kata Allah menyikapi itu? Andhiruu hadzaini hatta yashtholihaa. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai." Lanjut Arya lagi setelahnya.
"Iya, Bang. Saya ingat itu." Suara Budi lirih menyahut ucapan Arya kepadanya.
"Sungguh tak ada alasan bagi kita untuk membenci orang lain terutama dengan orang yang seiman. Karena jangankan untuk membenci, kita malah tidak berhak berprasangka buruk sedikit pun kepada orang lain. Apabila terdapat sesuatu yang tidak disukai dari orang lain, maka kita dituntut untuk memaafkan dan tidak menampakkan rasa kesal, marah dan kebencian." Sahut Arya kemudian.
Budi hanya menyahut dengan anggukan kepalanya.
"Maaf, Bud. Mungkin ucapan saya ini terkesan menyudutkan kamu. Tapi jika saya tidak bicara, saya pun akan gagal menjadi orang yang kamu percaya untuk kamu ikuti." Ucap Arya lagi.
"Tidak apa apa, Bang. Justru saya yang berterima kasih karena kamu tidak pernah lelah mengingatkan saya." Sahut Budi kemudian.
"Percayalah, Bud. Kebencian hanya akan mengundang datangnya keburukan keburukan yang lain. Kebencian membuat kita melupakan kebaikan seseorang terhadap kita, menjadikan kita mengungkit kebaikan kita terhadapnya, mengingat semua kesalahannya, dan melupakan kesalahan kita kepadanya. Lali ngoco githok'e dewe." Lanjut Arya kemudian.
Untuk sejenak Budi terdiam tak menyahut. Ia hanya kemudian menunduk.
"Baik, Bang. Saya akan ikut." Ucap Budi lirih setelah beberapa saat.
Arya tersenyum.
"Setelah saya pikir pikir, sebenarnya memang semua akar masalah dari saya. Saya yang dulu terlalu mengagungkan kekuasaan bapak saya, hingga semua membuat saya menjadi sombong. Jika kebencian itu ada, seharusnya saya yang pantas dibenci bukan saya yang membenci." Ucap Budi kemudian.
Arya tak menyahut, ia hanya ingin membiarkan Budi berjelaga dengan semua perubahan cara berpikirnya kali ini.
"Dulu saya merasa orang paling pandai, tapi saya lupa bahwa saya sebenarnya hanya seekor katak dalam tempurung. Lalu ketika ada orang yang mengungguli saya, saya merasa tersaingi." Setelah berkata seperti itu Budi terdengar menghela nafasnya dalam dalam.
"Kapan kamu akan kesana, Bang?" Tanyanya kemudian.
Arya menaikkan pundaknya, "Belum bisa saya pastikan. Tapi secepatnya, tenang saja, Bud. Saya pastikan akan memberi kamu kabar." Ucap Arya kemudian.
"Baik, Bang. Saya harap setelah ini semua akan jauh lebih baik." Sahut Budi.
Arya hanya mengangguk.
"Tapi bagaimana dengan rencana kamu dengan anak itu, Bang?" Tanya Budi kemudian.
"Hexa maksud kamu?" Tanya balik Arya.
Budi mengangguk.
"Kamu tenang saja, Bud. Hexa disana atas paksaan bapaknya pada awalnya. Bapaknya berharap dia bisa menjadi lebih baik tapi sebenarnya Hexa begitu karena ia ingin diperhatikan bapaknya, tapi sayangnya bapaknya tidak paham akan kemauan Hexa itu. Lalu bapaknya justru menganggap bahwa Hexa adalah anak yang membangkang, kemudian memasukkannya kesana. Sebelumnya Hexa sempat menolak, dia datang pada saya untuk meminta saran saya, tapi begitu tujuannya ke tempat itu, tanpa pikir panjang saya mengiyakan sekaligus memintanya memberi informasi tentang anak itu." Ucap Arya kemudian.
__ADS_1
Budi mengangguk, "Maaf, Bang. Maaf jika saya bertanya seperti ini. Apa selain karena orang itu teman pondok kamu yang sekaligus rival kamu, apa ada hal lain?" Tanya Budi kemudian.
Arya tersenyum mendengar itu, "Iya, Bud. Ada. Tapi untuk saat ini biarkan saya menyimpannya saja. Kelak kamu juga akan tahu." Sahut Arya kemudian.
"Baiklah, Bang. Jika kamu tidak ingin menceritakannya saya tidak akan memaksa." Sahut Budi juga setelahnya.
"Terima kasih untuk pengertiannya, Bud."
"Kembali bicara mengenai Hexa, saya sudah memikirkannya. Dan saya pikir sekarang dia lebih betah disana." Lanjut Arya kemudian.
"Saya pun melihatnya begitu, Bang. Entah ada apa sejujurnya saya pun penasaran, Bang." Sahut Budi.
Arya tersenyum, "Dia begitu karena ada yang sedang dia incar sepertinya, Bud."
Budi sedikit mengerutkan keningnya, "Maksud kamu, Bang?"
"Dia sedang ingin mendekati salah satu santriwati disana." Tegas Arya.
"Santriwati? Santriwati siapa, Bang. Setahu saya, pondok putri baru siap bangunannya dan belum di resmikan. Meski sudah menerima pendaftaran, tapi belum ada yang tinggal di asrama. Lalu santriwati itu siapa, Bang?" Budi semakin nampak penasaran.
"Entahlah, Bud. Saya pikir gadis itu santriwati disana."
Budi menaikkan alis matanya, "Selain Habiba disana tidak ada gadis lain, Bang. Dan sekarang Habiba sudah tidak tinggal disana. Lalu siapa gadis itu?"
Arya tertawa mendengar itu, "Kamu itu, Bud. Kenapa justru memikirkan gadis itu siapa."
"Bukan begitu, Bang. Hanya saja... Ah, sudahlah, Bang. Benar kata kamu, kenapa harus memikirnya." Sahut Budi menghentikan ucapannya, meski begitu dari ekspresi wajahnya ia nampak berbeda, seolah ada kekhawatiran yang tidak bisa ia jelaskan pada Arya saat ini.
"Setelah ini kita akan kemana, Bang?" Tanya Budi kemudian.
"Kita? Kok kita, Bud?" Tanya Arya penasaran.
"Hari ini saya sedang tidak ada kegiatan. Jadi saya mau ikut kemana kamu pergi saja, Bang." Sahut Budi kemudian.
"Hmmm, baiklah kalau begitu. Saya kebetulan ingin mendatangi majelis teman saya." Ucap Budi kemudian.
"Dimana itu, Bang?" Tanya Budi sedikit penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu, Bud." Sahut Arya kemudian.
"Saya curiga. Apa majelis ini ada hubungannya dengan orang itu?" Tanya Budi nampak menyelidik.
Arya tertawa setelahnya, "Tidak, Bud. Hanya saja, teman saya yang mendirikan majelis ini juga teman orang itu. Justru orang itu jauh lebih dekat dengan yang akan kita datangi ini." Ucap Arya setelahnya.
"Emmm, tapi dia sudah jauh lebih mapan, Bang." Sahut Budi.
"Iya, Bud. Setidaknya ia berani mengambil sikap. Keluar dari zona nyamannya dan pada akhirnya mendirikan majelisnya ini." Sahut Arya juga.
"Keluar dari zona nyamannya? Maksudnya, Bang?" Tanya Budi semakin penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu, Bud." Arya sedikit menyunggingkan senyumnya.
Sementara itu di teras ndalem Pondok Hidayah.
"Gus, ada kiriman surat untuk njenengan." Ucap Khalil pada kesempatan itu.
"Surat? Dari siapa, Kang?" Tanya Ajimukti sembari menerima sepucuk surat yang Khalil sodorkan padanya.
"Ngapunten, Gus. Saya tidak sempat tanya. Mungkin disana tertera siapa pengirimnya." Sahut Khalil kemudian.
"Yasudah, Kang. Terima kasih." Setelah itu Khalil pun berlalu, sementara Ajimukti mengamati sepucuk surat itu.
"Kira kira surat dari siapa?" Gumamnya sembari membuka surat itu.
__ADS_1
Di dalamnya hanya ada selembar kertas yang terlipat, begitu ia membuka lipatan kertas itu, seketika matanya terbelalak. Ajimukti nampak terkejut melihat isi surat dengan tulisan Arab Pegon itu.
Bersambung...