BROMOCORAH

BROMOCORAH
Bertemunya Ajimukti Mulatsih


__ADS_3

Langit siang ini justru nampak sedikit muram. Ada beberapa gumpalan awan mengabu yang tergantung di atap atap langit bergerak gerak digiring angin. Tak ada celah untuk terik melirik bumi di bawahnya. Siang yang muram selayak kala sore datang.


Ajimukti baru saja menutup pintu mobil di ikuti Dullah dari pintu yang lain. Mereka kini berdiri di depan sebuah gerbang yang catnya sudah mengelupas dan sedikit mulai berkarat. Di balik gerbang, nampak beberapa bunga tapak dara juga lidah buaya yang banyak tumbuh di sepanjang jalan dari gerbang menuju pintu rumah itu. Dua pohon mangga dan satu pohon melinjo nampak berdiri gagah di halaman itu, daun daunnya yang kering yang berjatuhan nampak berserakan di bawahnya dan sesekali terbang terbawa angin.


"Benar ini kan alamatnya, Mas?" Tanya Dullah kemudian.


Ajimukti kembali merogoh secarik kertas yang ia dapat dari Sukrono, "Benar, Lek. Sama persis dengan yang ditulis Mbah Sukro."


"Pintunya tertutup, kira kira ada orang tidak ya, Mas?" Tanya Dullah sembari melihat lihat kearah rumah di balik gerbang.


"Sebaiknya kita pastikan dulu, Lek." Ajimukti mengetuk pintu gerbang itu sembari mengucap salam bergantian bersama Dullah.


Beberapa dan cukup lama, tapi belum juga ada respon dari si pemilik rumah.


"Apa jangan jangan sedang tidak ada orang, Mas?" Ucap Dullah kemudian.


"Entahlah, Lek." Sahut Ajimukti sembari sekali lagi mengetuk pintu gerbang dan kembali mengucap salamnya.


Namun setelah yang terakhir ini, dari pintu rumah nampak seseorang sedang membuka pintu. Suara perempuan pun terdengar menjawab salam Ajimukti itu. Mendapati itu, Ajimukti sedikit bergetar, tiba tiba jantungnya sedikit berdetak lebih kencang. Ada rasa gugup yang tiba tiba mulai dirasakannya.


Dullah menyadari itu, ia segera menepuk pundak Ajimukti untuk menenangkannya dan meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. Ajimukti mengangguk perlahan dan untuk sejenak ia menghela nafas hingga seorang perempuan paruh baya nampak keluar dari balik pintu itu.


Wanita yang keluar itu pun sejurus menatap Ajimukti juga Dullah yang masih berdiri di balik gerbang. Keningnya sedikit mengerut, sebuah rasa penasaran nampak jelas di wajah wanita itu. Ajimukti sedikit menganggukkan kepalanya, juga sedikit melempar senyumnya, sebuah isyarat penghormatan kepada wanita itu.


Wanita itu terus berjalan semakin mendekat senada dengan degup jantung Ajimukti yang semakin mengencang.


"Bapak dan Mas ini siapa?" Tanya wanita itu begitu ia sudah lebih dekat dengan tempat Dullah juga Ajimukti berdiri.


"Apa benar ini rumah Bu Mulatsih?" Tanya Dullah yang lebih tenang saat ini.


"Iya, benar, saya sendiri." Sahut wanita itu kemudian.


Mendengar jawaban wanita itu, Ajimukti nampak kembali bergetar.


"Bapak dan Mas ini siapa? Dan ada perlu apa mencari saya?" Tanya Mulatsih itu kemudian.


"Oh, iya sebelumnya, mari silahkan masuk dulu." Ucap Mulatsih setelah membuka pintu.


Untuk sesaat Ajimukti ragu namun kemudian ia mencoba menyalami Mulatsih juga mencium tangannya. Kembali, Mulatsih mengerutkan keningnya penuh penasaran.


"Sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan pada panjenengan dengan kedatangan kami kesini ini." Ucap Dullah begitu mereka bertiga sudah berada di dalam ruang tamu rumah Mulatsih itu.


"Silahkan, Pak. Apa yang ingin bapak dan Mas ini sampaikan." Sahut Mulatsih kemudian.


Sejenak Dullah menghela nafasnya, ia pun untuk sesaat sedikit gugup.


"Sebenarnya kami sudah lama mencari keberadaan panjenengan. Dan baru kali ini kami baru bisa benar benar mendapatkan petunjuk tentang keberadaan panjenengan." Ucap Dullah kemudian.


Mendengar apa yang diutarakan Dullah itu, Mulatsih sedikit terperanjat. Ia bahkan belum sedikit pun menebak siapa tamu dihadapannya ini. Hatinya masih diselimuti tanda tanya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari Dullah.


"Maksud bapak ini apa? Maaf, kok sepertinya saya masih belum bisa memahaminya." Ucap Mulatsih ingin segera melepaskan rasa penasaran di hatinya.


"Sebelumnya, ijinkan kami memperkenalkan diri dulu sama penjenengan." Sahut Dullah kemudian.


"Iya iya, benar. Bapak sama mas ini belum memberi tahu saya siapa sebenarnya bapak dan Masnya ini." Sahut Mulatsih sembari mengangguk anggukan kepalanya.


Sejenak Dullah mengalihkan pandang ke arah Ajimukti, memberinya isyarat untuk memperkenalkan diri. Ajimukti sedikit menganggukkan kepalanya ringan, lalu menghela nafas setelahnya.


"Saya Ajimukti, Bu Lek. Dan ini, Pak Lek Dullah." Ucap Ajimukti kemudian.


Mulatsih kemudian hanya mengangguk, ia belum menyadari siapa Ajimukti ini sebenarnya.

__ADS_1


"Lalu ada perlu apa bapak dan Mas ini dengan saya?" Tanyanya kemudian.


Ajimukti menoleh ke arah Dullah sebelum menjawab.


"Beliau ini, mas Aji ini hanya ingin nyambung balung pecah." Sahut Dullah kemudian.


Mendengar kalimat itu, Mulatsih kembali mengerutkan keningnya.


"Nyambung balung pecah? Maksudnya?" Tanyanya kemudian.


Dullah sedikit melengkungkan bibirnya, ekspresi Dullah ini semakin membuat Mulatsih bertanya tanya dalam hati.


"Ini berkaitan dengan Kang Salim. Tentu jika saya menyebut nama itu, panjenengan tidak akan asing." Ucap Dullah kemudian.


Mendengar itu seketika Mulatsih terbelalak, ekspresi terkejut nampak sekali di wajahnya.


"Kang Salim? Lalu siapa bapak dan Mas ini sebenarnya?" Tanyanya kemudian.


"Saya bukan siapa siapanya Kang Salim. Tapi beliau ini, Mas Aji ini adalah anak dari Kang Salim." Ucap Dullah kemudian.


Kembali ucapan Dullah membuat Mulatsih ternganga.


"Jadi kamu?" Ucap Mulatsih sedikit bergetar tertuju pada Ajimukti.


"Saya keponakan, Bu Lek." Sahut Ajimukti cepat.


Mendengar pengakuan Ajimukti itu, tanpa sungkan, Mulatsih segera berdiri dari duduknya dan serta merta memeluk Ajimukti. Ada isak mulai terdengar diantara pundak Ajimukti yang juga turut merasakan basah.


Ajimukti pun mulai tak sungkan membalas pelukan Mulatsih itu. Ada ketulusan yang benar benar tulus dalam pelukan Mulatsih terhadapnya.


"Kenapa kamu harus memperkenalkan dirimu dengan nama Ajimukti, Le?" Ucap Mulatsih setelah melepaskan pelukannya dan membelai pipi Ajimukti.


Mulatsih sedikit tersenyum, "Bu Lek tidak tahu nama lengkapmu, yang Bu Lek tahu nama kamu Aufa."


"Iya, Bu Lek. Sejak kecil memang saya di panggil Aufa. Tapi semenjak meneruskan pesantren bapak yang disini, saya memperkenalkan diri sebagai Ajimukti, Bu Lek." Jelas Ajimukti kemudian.


"Yasudah, Le. Yang penting sekarang Bu Lek senang bisa bertemu kamu." Ucap Mulatsih.


"Bagaimana kabar Mbak Yu Kartika, Sibu mu, Le?" Tanya Mulatsih kemudian.


"Alhamdulillah, Bu Lek. Semenjak kepergian bapak, Sibu mengurus pesantren yang di Jogja sendiri, untung saja ada Lek Dullah ini yang selalu membantu Sibu, Bu Lek." Ucap Ajimukti.


"Ya, Kang Salim sejak dulu memang di kelilingi orang orang yang baik, Le. Itu sebanding dengan kebaikan dia." Sahut Mulatsih.


"Bu Lek kemana saja? Kenapa tidak menemui kami?" Tanya Ajimukti kemudian.


Mendapati pertanyaan Ajimukti itu, Mulatsih kembali melengkungkan bibirnya, lalu mengusap kepala Ajimukti.


"Sepeninggal Kang Salim, bapakmu. Bu Lek memang menetap di rumah almarhum Pak Lekmu, Le. Dan baru setelah Pak Lekmu meninggal, Bu Lek kembali kesini. Sejak menikah dengan Sibumu, Bapakmu belum sempat mengenalkan Bu Lek dengan Sibumu. Itu salah satu alasan kenapa Bu Lek tidak bisa menemui Sibumu, Le." Cerita Mulatsih kemudian.


"Iya, Bu Lek. Saya sudah mendengar itu dari Sibu juga Mbah Sukro." Sahut Ajimukti kemudian.


Mendengar nama yang disebutkan Ajimukti, Mulatsih nampak mengerutkan keningnya.


"Mbah Sukro?" Tanyanya kemudian.


"Betul, Bu Lek. Dari beliau juga saya akhirnya mendapat alamat Bu Lek ini." Sahut Ajimukti lagi.


Mulatsih sedikit tersenyum, "Ternyata dunia ini sempit ya, Le. Tidak Bu Lek sangka bahwa kamu pun mengenal Mbah Sukro." Ucapnya lirih.


"Ceritanya panjang, Bu Lek. Namun meski begitu, saya yakin, ini semua sudah diatur sama Allah." Ucap Ajimukti juga setelahnya.

__ADS_1


"Kamu benar, Le."


"Lalu bagaimana kabar pesantren kamu?" Tanya Mulatsih kemudian.


"Yang Bu Lek dengar, sekarang pesantren Hidayah semakin berkembang pesat setelah kamu yang memegang kendali." Lanjut Mulatsih lagi.


"Loh, bagaimana Bu Lek tahu?" Tanya Ajimukti terlihat keheranan.


Lagi lagi Mulatsih tersenyum, "Sejujurnya, selama ini Bu Lek sudah tahu kamu, Le. Ya meski tidak secara langsung. Tapi meski begitu, Bu Lek selalu mengawasi kamu. Mencari tahu tentang setiap kabar dari kamu. Juga sempat sekali mengirim surat untuk kamu." Ucap Mulatsih kemudian.


"Surat?" Tanya Ajimukti kemudian.


Mulatsih mengangguk, "Benar. Mungkin kamu keheranan kan? Ya, surat itu Bu Lek yang kirim, Le. Keponakan Bu Lek dari Pak Lek mu yang Bu Lek utus mengantar ke pesantren Hidayah tempo hari." Jelas Mulatsih kemudian.


"Ah, pantas saja saya sangat asing dengan tulisan itu." Sahut Ajimukti.


"Tapi, Bu Lek. Jika Bu Lek sudah tahu keberadaan saya. Lalu kenapa Bu Lek tidak ingin menemui saya?" Lanjut Ajimukti bertanya.


"


Sejenak Mulatsih menghela nafas, "Itu rencana adikmu, Le." Ucapnya kemudian.


"Adik?" Tanya Ajimukti setelahnya.


Mulatsih kemudian mengangguk, "Betul. Adikmu, anak Bu Lek."


"Lalu dimana ia sekarang Bu Lek?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Dia jarang pulang, Le. Paling seminggu sekali dia baru kesini. Bahkan kadang sampai sebulan." Sahut Mulatsih.


"Apa dia bekerja Bu Lek?" Tanya Ajimukti.


Mulatsih menggeleng, "Tidak, Le. Dia hanya keluyuran sembari mengurus beberapa orang yang nyantri padanya."


"Jadi dia seorang ustadz, Bu Lek?" Tanya Ajimukti lagi.


"Bukan juga. Dia hanya ingin membagi ilmu yang sempat di kecapnya di pesantren dulu." Sahut Mulatsih.


"Jadi dia sempat mondok juga, Bu Lek?" Tanya Ajimukti lagi.


Mulatsih mengangguk.


"Dan kamu tidak akan menyangka kalau Bu Lek bilang bahwa dia dulu satu pesantren denganmu." Ucap Mulatsih kemudian.


Mendengar itu Ajimukti tersentak, "Satu pesantren, Bu Lek? Dan apa dia juga tahu bahwa saya ini Kakaknya?" Tanyanya memburu.


Mulatsih tersenyum, "Tentu saja dia tahu, Le. Wong dia itu nyantri juga karena mengikuti kamu. Awalnya dia mencari kamu ke Jogja, berhubung kamu mondok, makanya dia nekat nyusul kamu ke pesantren. Hanya saja pada akhirnya dia tidak berterus terang tentang siapa dirinya." Ucap Mulatsih.


"Kenapa, Bu Lek?" Tanya Ajimukti sarat keheranan.


Mulatsih mengangkat bahunya, "Bu Lek pun tidak tahu alasannya. Yang pasti dia ingin mengenal kamu hingga layak menjadi adik kamu. Begitu jawaban yang selalu dia berikan ketika beberapa kali Bu Lek sempat bertanya." Ucap Mulatsih kemudian.


"Apakah dia seangkatan dengan saya Bu Lek?" Tanya Ajimukti kemudian.


Mulatsih mengangguk.


"Siapa namanya Bu Lek? Jika dia seangkatan dengan saya, pasti saya mengenalnya. Paling tidak tahu namanya." Desak Ajimukti memburu.


Sekali lagi Mulatsih tersenyum lalu menghela nafasnya dalam dalam sebelum ia menjawab. Ajimukti serasa tidak sabar untuk segera tahu siapa anak dari Mulatsih, adiknya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2