BROMOCORAH

BROMOCORAH
Gejolak Hati Sobri


__ADS_3

"Bagaimana kabar kamu, Dik?" Tanya Ajimukti pada Ajeng sembari duduk menikmati rokok di ruang tamu rumah Prastowo. Ajeng yang duduk di sebelah ibunya segera mendongak dan sedikit memandang Ajimukti, nampak sedikit canggung.


"Ba...baik, Kang. Kang Aji sendiri bagaimana kabarnya?" Tanya Ajeng membalik.


Ajimukti tersenyum, "Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, Dik."


Ajeng kemudian hanya membalas dengan senyuman juga anggukan yang sedikit ditahannya.


"Kemungkinan dalam dua tiga bulan ke depan gedung santriwati sudah siap untuk dipergunakan. Pihak pesantren juga sudah berencana untuk membuka pendaftaran bagi santriwati yang ingin nyantri disini begitu gedung siap untuk digunakan. Nanti kalau sudah siap semua, kamu bisa bantu saya disana kan, Dik? Saya sangat berharap sekali sumbang sih ilmu kamu disana?" Ucap Ajimukti kemudian.


Ajeng kemudian mengangguk, "Insya Allah, Kang. Kalau memang ilmu yang sudah saya dapat kiranya bisa bermanfaat, tidak ada alasan saya untuk menolaknya." Sahutnya kemudian.


Ajimukti cukup puas dengan jawaban Ajeng itu, "Nanti kamu tidak sendiri, Dik. Rencananya saya juga akan mengajak Habiba juga adik keponakan saya dari Jogja." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Habiba, Kang?" Ajeng sedikit mengerutkan keningnya mendengar nama itu.


"Iya, Dik. Habiba. Kalian berteman baik kan? Jadi akan lebih mempermudah dalam bersosialisai nantinya." Imbuh Ajimukti.


Ajeng sedikit tersenyum, sejujurnya ia senang dengan rencana Ajimukti mengajak Habiba turut mengajar di Pondok Hidayah nantinya. Bagaimana pun selama di pesantrennya di Pacitan, ia dan Habiba selalu bersama, mereka bahkan sudah seperti saudara, tentu ini akan membuat mereka tidak perlu beradaptasi lagi nantinya.


Berbeda dengan Ajeng. Sobri justru merasa khawatir dengan semua itu ke depannya. Bagaimana pun perasaan Ajeng kepada Ajimukti masih begitu terasa bahkan dari setiap gerakan dan tatapannya terhadap Ajimukti. Diam diam Sobri menghela nafas. Ia menepis semua pikirannya, ia yakin, ke depan, dengan Ajimukti sudah memutuskan ini, tentu sudah dengan semua pertimbangan, dan pasti sudah menemukan penyelesaian untuk semua keputusannya itu.


Setelah cukup lama berbincang dan mengobrol, Ajimukti pun pamit undur diri dari rumah Prastowo itu.


"Kalau begitu saya sama Sobri permisi dulu ya, Lek. Soalnya saya masih harus nyemak lare lare." Ucap Ajimukti mengakhiri perbincangannya dengan Prastowo pagi ini.


"Iya, Mas. Silahkan." Sahut Prastowo.


"Sekali lagi sampaikan terima kasih kami sekeluarga untuk Bu Nyai Kartika ya Mas Aji untuk oleh olehnya. Sampaikan salam kami juga untuk beliau." Imbuh Sumiatun.


"Iya, Bu Lek. Nanti saya sampaikan." Sahut Ajimukti setelahnya.


Ajimukti pun segera akan melangkah meninggalkan rumah Prastowo.


"Sebentar, Kang Aji..." Seru Ajeng tiba tiba membuat Ajimukti menghentikan langkahnya dan kembali memutar badannya. Seruan Ajeng itu juga membuat perhatian Sobri, Prastowo juga Sumiatun segera tertuju ke arahnya.


"Maaf, Kang Aji. Emmm, apa saya boleh pinjam waktunya Kang Sobri hari ini. Soalnya saya harus ke kota. Saya berniat untuk mengajak Kang Sobri menemani saya. Itu juga kalau Kang Sobri tidak sedang ada kegiatan." Ucap Ajeng kemudian.


Ajimukti tersenyum, ia kemudian mengangguk. Namun Sobri, seketika menelan ludah mendengar ucapan Ajeng barusan.


"Silahkan, Dik. Kebetulan Kang Sobri longgar sampai Azar nanti. Iya kan, Kang Sobri." Ucap Ajimukti sembari menyenggol kan sikutnya ke Sobri.


Sobri sedikit gugup, "I...iya, Gus." Ucapnya kemudian.


Ajeng segera merekahkan senyumnya. "Terima kasih, Kang."

__ADS_1


Ajimukti tersenyum kemudian mengangguk.


"Yasudah kalau begitu Kang Sobri disini saja menunggu Dik Ajeng siap siap. Saya balik sendiri saja." Ucapnya pada Sobri.


"Saya temani dulu kembali ke pesantren tidak apa apa, Gus. Nanti saya kesini lagi." Sahut Sobri.


"Tidak usah, Kang. Saya sendiri saja kembali ke pesantrennya. Kang Sobri disini saja." Ucap Ajimukti sembari mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum.


Sobri pun kemudian hanya mengangguk malu malu. Setelah itu Ajimukti pun berlalu dari halaman rumah Prastowo dan berjalan sendiri kembali ke pesantren.


"Kamu mau ke kota mau ngapain, Nduk?" Tanya Sumiatun pada Ajeng sedikit penasaran.


"Emmm, tidak mau ngapa ngapain sih, Bu. Mau jalan jalan saja. Kan lama Ajeng nggak lihat suasana kota ini." Sahut Ajeng sembari sedikit nyengir.


Sumiatun hanya bisa mengerutkan keningnya. Untuk kali ini ia merasa aneh dengan anak gadisnya itu.


Sobri pun kembali duduk di teras rumah Prastowo menunggu Ajeng bersiap. Prastowo sudah kembali lagi ke kandang ayamnya untuk melanjutkan kegiatan rutin paginya.


"Apa mau di buatkan kopi, Nak Sobri. Sembari menunggu Ajeng." Ucap Sumiatun kemudian.


"Tidak usah, Bu Lek. Tadi sudah. Nanti malah klempoken." Sahut Sobri sedikit bercanda.


Sumiatun kemudian tersenyum, "Emmm, Bu Lek titip Ajeng ya, Nak Sobri. Bu Lek yakin Nak Sobri kelak pasti akan bisa memenangkan hatinya Ajeng."


"Pangestunipun Bu Lek kemawon. Apapun hasilnya, saya nderek kersane Gusti Bu Lek." Sahut Sobri tenang sembari sedikit melengkungkan bibirnya.


Tak lama Ajeng pun keluar dari dalam. Ia berdandan cukup santai kali ini. Penampilan Ajeng yang berbeda dari biasanya ini membuat Sobri untuk sepersekian detik melamun memandang Ajeng.


"Kenapa, Kang? Kok melihat saya nya begitu?" Tanya Ajeng sedikit salah tingkah.


Menyadari kesalahannya, Sobri segera istighfar dalam hati kemudian membuang tatapannya pada Ajeng.


"Tidak apa apa, Dik. Sudah siap?" Tanya Sobri kemudian.


"Sudah, Kang. Ini kunci motornya bapak. Kita pakai motor bapak saja, Kang." Ucap Ajeng sembari menyodorkan kunci motor pada Sobri.


Sobri segera meraih kunci motor itu lalu kemudian berdiri dari duduknya.


"Saya pamit sama Pak Lek sama Bu Lek dulu, Dik." Ucap Sobri kemudian melangkah ke arah Prastowo berada.


Setelah berpamitan, Sobri dan Ajeng pun berangkat dan berlalu dari halaman rumah itu. Untuk saat ini, sejujurnya ada rasa canggung dan perasaan tak menentu yang sedang Sobri rasakan dalam dirinya.


Sepanjang perjalanan Sobri dan Ajeng lebih banyak diam. Mereka nampak berbicara hanya sepatah dua patah kata saja, itupun ketika Sobri menanyakan tujuan Ajeng.


Tak berapa lama, Ajeng mengajak Sobri menepi ke sebuah taman kota yang cukup ramai meski pagi sudah merangkak menuju siang.

__ADS_1


"Kang Sobri pernah pacaran?" Tanya Ajeng ketika mereka sudah memilih tempat duduk di pinggiran taman.


Mendengar pertanyaan Ajeng yang seperti itu, membuat jantung Sobri berdetak tak menentu. Ia kemudian hanya mengerutkan kening dan merasa heran dengan pertanyaan yang dilempar Ajeng kepadanya. Ia tak berani menerka nerka maksud dari pertanyaan Ajeng itu. Namun ketika melihat ekspresi di wajah Ajeng dengan sedikit menaikkan alisnya yang seolah menunggu jawaban Sobri. Sobri pun kemudian hanya menggelengkan kepala ringan.


Merasa sudah mendapat jawaban, Ajeng justru terlihat tertawa. Tapi tawa Ajeng kali ini semakin membuat Sobri di selimuti rasa penasaran.


"Emmm, maaf, Kang. Kang Sobri pasti bingung kenapa saya tanya begitu. Mungkin pertanyaan saya yang salah. Sekarang saya ganti pertanyaannya, Kang." Ucap Ajeng kemudian.


Sobri hanya menoleh tanpa ekspresi.


"Kang Sobri pernah nggak jatuh cinta?" Tanya Ajeng melanjutkan ucapannya.


Sobri masih diposisi nya menoleh ke arah Ajeng. Kali ini Sobri sedikit melengkungkan bibirnya.


"Andai kamu tahu, Dik. Untuk pertama kalinya saya merasa bagaimana jatuh cinta dengan ciptaan-Nya yang bukan mahram saya itu ya sama kamu." Batin Sobri.


Setelah sesaat memandang Ajeng, Sobri pun meluruskan pandangannya sejajar dengan posisi badannya, kemudian menghela nafas.


"Pernah, Dik. Tapi saya tidak terlalu optimis untuk bisa memenangkan hatinya." Ucap Sobri kemudian.


Ajeng mengerutkan kening, ia sedikit penasaran dengan alasan atas jawaban Sobri itu.


"Kenapa, Kang?" Tanyanya kemudian.


"Yang saya tahu, sudah ada orang lain yang terlanjur menempati hatinya. Sulit untuk saya menggesernya. Jangankan menggesernya, sedikit membuatnya memberi celah pun saya tidak memiliki keyakinan." Setelah mengucapkan itu Sobri kembali menoleh ke arah Ajeng dan melengkungkan bibirnya.


"Kenapa pesimis, Kang? Ingat pepatah, sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan lho, Kang. Saya yakin gadis itu akan sangat bahagia jika ia tahu bahwa dia mendapatkan perasaan khusus dari Kang Sobri." Ucap Ajeng sembari tersenyum.


Sobri hanya menghela nafas, "Apakah benar begitu, Dik? Apakah kamu pun akan menjadi gadis yang bahagia itu jika kamu tahu kamulah gadis itu." Batin Sobri lagi lagi.


"Berjuang, Kang. Semangat. Arwa'u maa qad yakuunu an tasy'ura bil hubbi, wa laakinnal ajmala an yasy'ura bika man tuhibbu. Hal terindah itu ketika engkau jatuh cinta, akan tetapi lebih indah jika orang yang kau cintai menyadari cintamu. Bukan begitu, Kang?" Ucap Ajeng lagi.


Sobri sekali lagi tersenyum, "Maa ash’ab an tuhibbu syakhson bi junuun wa anta ta'rifu annaki lahu lan takun. Betapa susahnya tatkala engkau mencintai seseorang yang engkau sendiri tahu ia tidak akan pernah jadi milikmu, Dik." Sahut Sobri.


Mendengar ucapan Sobri itu, Ajeng kemudian terdiam. Ia menghela nafas. Ia pun teringat Ajimukti. Bagaimanapun ia juga tidak tahu bagaimana perasaan Ajimukti terhadapnya. Akankah cinta itu hanya bergelora di dirinya saja.


"Kang Sobri benar. Alhubbu kal harbi, minas-sahli an tus’ilaha, walaakin minash-sha’bi an tukhmidaha. Cinta itu laksana sebuah perang, amat mudah mengobarkannya, namun amat sulit untuk memadamkannya." Ucap Ajeng kemudian.


Sobri tak menyahut, ia hanya kemudian menangkupkan telapak tangannya dan menempelkannya antara dagu dan mulutnya.


"Lau arofal hubbu miqdaaro hubbii laka, latamannal hubbu an yakuuna habiibati. Laukaanal hubbu kalimat tuktabu, lantahat aqlami. Walakinal hubbu riihun tahub. Lau jama’tu ayyaama ‘umri min farohin, maa tusaawi lahzhata min waqtii ma’aki. Uhibbuki fii kulli lahdzotin tamuuru fii hayati. Akhofu alaika min ayyi huznin yasriku ibtisamataka. Kalau saja cinta tahu besarnya cintaku padamu, niscaya sang cinta akan berharap untuk menjadi kekasihku. Kalaulah cinta itu kata yang harus ditulis, niscaya penaku sudah habis. Tapi untunglah cinta itu adalah udara yang terus berembus. Kalaulah aku kumpulkan semua saat saat gembira dalam hidupku, semuanya tidak akan dapat menyamai indahnya waktu yang aku habiskan bersamamu. Aku mencintaimu sepanjang waktu dalam hidupku. Aku selalu mengkhawatirkanmu dari setiap kesedihan yang akan mencuri senyummu." Sekali lagi Sobri hanya bisa mengutarakan isi hatinya dalam hati. Untuk saat ini ia tidak ingin berharap lebih, meski ia tak bisa lagi mengelak akan semua gejolak perasaannya pada gadis yang kini duduk tak jauh darinya.


Untuk sesaat bangku itu terasa hening. Tak ada lagi percakapan, hanya desah nafas masing masing yang mengisyaratkan perasaan keduanya.


Terik matahari semakin terasa. Sorotnya pun mulai menjilat beberapa tempat yang sebelumnya belum terjamah biasnya. Lalu lalang para pengunjung taman masih seperti ketika mereka datang. Obrolan dari beberapa orang yang melintas di depan mereka duduk hampir tidak terdengar karena bising kendaraan dari jalan raya tak jauh dari taman itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2