
"Kang Aji, saya cari toilet dulu ya?"
Ajimukti menoleh kearah Habiba yang tiba tiba sudah berdiri.
"Mau saya antar, Ning?" Sahut Ajimukti sembari ikut bangun dari duduknya.
Seketika wajah Habiba memerah dan ekspresinya berubah drastis.
"Anu, Kang. Emmm, tidak usah. Itu... Emmm, itu... Saya cari sendiri saja." Ucap Habiba sedikit kikuk dan terlihat sangat gugup.
"Saya titip itu saja, Kang." Lanjut Habiba seraya menunjuk tas yang ditinggalkannya itu dan masih dengan sedikit kikuk Habiba mempercepat langkahnya.
Ajimukti hanya memandang Habiba yang terkesan buru buru melangkah. Kini digaruk garuknya sendiri keningnya menyadari kesalahan pertanyaannya barusan.
Ajimukti kembali duduk di tangga keramik di depan toko yang tutup itu. Kini ia merogoh saku bajunya. Sebuah gelang yang tadi diberikan oleh Habiba kini dipandangnya dengan seutas senyum terlukis diwajahnya. Gelang ini sama persis dengan gelang yang juga Habiba pakai. Ajimukti mencoba memakai gelang itu di pergelangan tangan kirinya. Dan kembali memandang gelang itu dengan sebuah senyuman khas dari bibirnya.
Tak lama setelah itu terlihat Faruq akhirnya selesai membeli oleh oleh. Beberapa plastik yang cukup besar ditentengnya di kedua tangannya. Faruq berjalan semakin dekat. Ajimukti segera bangun dari duduknya dan membantu membawakan belanjaan Faruq, dan segera memasukkannya ke dalam mobil sesuai instruksi Faruq.
"Loh, Habiba mana, Kang?" Tanya Faruq sesaat setelah menyadari Habiba tak sedang bersama Ajimukti saat ini.
"Anu, itu, Gus. Ning Biba ke toilet." Jawab Ajimukti.
"Sendiri, Kang?" Tanya Faruq lagi.
"Iya, Gus. Tadinya mau saya antar. Tapi Ning Biba nya nggak mau, Gus."
Entah kenapa Faruq justru tersenyum mendengar penuturan Ajimukti.
"Yasudah kita tunggu dia disini saja, Kang." Faruq duduk ditempat Ajimukti tadi duduk.
"Tadi Habiba akhirnya jadi beli nggak, Kang?" Tanya Faruq kemudian.
"Jadi, Gus." Sahut Ajimukti singkat.
"Beli apa Kang si Habiba tadi?"
"Be..Beli gelang saja, Gus." Sahut Ajimukti.
Faruq hanya mengangguk kepala ringan.
"Maaf saya rokok ya, Gus?" Ucap Ajimukti kemudian sembari membuka bungkus rokoknya.
"Oh, iya, Kang. Silahkan. Rokok rokok saja, Kang. Jangan sungkan sungkan."
Ajimukti hanya mengangguk ringan. Dan kemudian menyalakan sebatang rokoknya.
Disaat itu tanpa Ajimukti sadari, Faruq sepintas melirik sesuatu yang dikenakan Ajimukti di tangan kirinya.
"Kang Aji juga suka gelang kaoka?" Tanya Faruq kemudian.
__ADS_1
Ajimukti mendadak gugup dan sedikit salah tingkah.
"Anu, Gus. Emmm, ini tadi... Ini tadi Ning Biba yang belikan." Sahut Ajimukti ragu ragu.
Faruq sedikit mengerutkan keningnya.
"Habiba, Kang?" Tanyanya penuh penasaran.
"Iya, Gus." Ajimukti tertunduk sembari memainkan sebatang rokok di tangannya.
Faruq tak lagi berkomentar, diam diam dia hanya tersenyum tanpa Ajimukti sadari.
Selang beberapa saat. Faruq nampak melirik jam di tangannya. Ajimukti pun nampak ekspresi kegelisahannya.
"Habiba sudah lama Kang Aji pamit ke toiletnya?" Tanya Faruq mulai nampak cemas.
"Sudah cukup lama, Gus." Sahut Ajimukti ikut melihat jam ditangannya.
"Kemana anak itu? Apa mampir beli sesuatu dulu?" Faruq terlihat mulai bangun dari duduknya.
Ajimukti tidak ingin berpikir macam macam saat ini. Meski kekhawatiran juga sedikit nampak di garis wajahnya.
Faruq mencoba meraih ponselnya. Mencoba menghubungi Habibah.
Trrrt! Trrrt! Trrrt! Suara ponsel bergetar dari arah tas yang ditinggalkan Habiba.
"Ah, anak itu. Hape nya pakai ditinggal lagi." Gerutu Faruq kini mulai benar benar merasa cemas.
"Tidak apa apa, Kang. Lagian mungkin Habiba tidak nyaman jika ke toilet di temani laki laki yang belum lama dikenalnya." Sahut Faruq sembari sedikit melempar senyumnya ke arah Ajimukti.
"Apa saya cari saja, Gus?" Usul Ajimukti benar benar mulai sedikit cemas.
Faruq menghela nafas. "Baiklah, Kang Aji. Kita berpencar saja kalau begitu."
"Saya coba cari kearah sana, Gus. Tadi Ning Biba berjalan ke arah sana." Tunjuk Ajimukti kemudian.
"Baik, Kang. Saya coba cari disekitar pasar. Siapa tahu Habiba lagi cari cari sesuatu di pasar." Sahut Faruq.
"Baik, Gus. Saya permisi." Ajimukti segera melangkah ke arah Habiba sempat berpamitan tadi, begitu juga Faruq segera menyela di antara kerumunan orang orang di pasar.
Pandangan Ajimukti liar mencari sosok Habiba di segala penjuru. Sudah beberapa toilet umum dia datangi, bahkan bertanya pada penjaga toilet, tapi semua menjawab tidak hafal siapa siapa yang sudah datang ke toilet.
Ajimukti terus saja memusatkan pandangannya. Pikirannya mulai sedikit cemas kali ini.
Ditempat lain, Faruq juga memusatkan pandangannya diantara kerumunan orang orang disekitar pasar. Hingga hampir ujung pasar tak nampak sosok Habiba disana. Faruq pun kini mulai nampak sedikit cemas. Apalagi Habiba tidak membawa ponselnya.
Ajimukti terus saja mengitari daerah itu bahkan kini ia sudah hampir sampai di ujung pasar. Ajimukti menundukkan badannya seperti halnya ketika ruku'. Ia mencoba mengatur nafasnya yang tersengal senggal.
"Bagaimana, Kang?" Tiba tiba suara Faruq mengagetkannya.
__ADS_1
"Eh, Gus. Maaf. Tidak ketemu, Gus." Sahut Ajimukti kini kembali berdiri.
"Yasudah, Kang. Kita kembali ke tempat tadi. Siapa tahu Habiba sudah disana." Ajak Faruq.
Faruq dan Ajimukti berjalan beriringan dengan masih memandang ke kanan kiri diantara kerumunan orang orang di pasar. Namun sosok Habiba belum juga terlihat. Hingga mereka sampai di depan toko yang tutup tempat Ajimukti dan Habiba duduk tadi.
"Kok belum juga ada ya, Kang? Kemana anak itu?" Gerutu Faruq lagi, kini wajahnya benar benar memancarkan aura kecemasan.
Ajimukti juga terlihat begitu cemas ditambah rasa kecewa karena tadi tidak menemani Habiba mencari toilet. Beberapa kali Ajimukti hanya terus menghela nafasnya.
"Bagaimana sekarang, Gus? Apa kita cari lagi?" Tanya Ajimukti sekali lagi melihat Faruq yang sejak tadi mondar mandir karena cemas.
Disaat yang bersamaan sebuah panggilan masuk ke ponsel Faruq.
"Sebentar, Kang Aji. Dari pondok." Ucap Faruq setengah berbisik.
"Halo, Assalamu'alaikum Pakdhe." Ucap Faruq ketika mengangkat telfonnya.
"Wa'alaikumsalam, Ruq. Gimana Ruq hasil kompetisinya. Sudah ada pengumuman pesantren mana yang memenangkan kompetisi?" Tanya Kyai Aminudin dari seberang telfon.
"Alhamdulillah, Pakdhe. Pesantren kita yang juara tahun ini." Sahut Faruq.
"Kamu serius Faruq?" Tanya Kyai Aminudin dari seberang seperti tengah senang.
"Iya, Pakdhe." Jawab Faruq singkat.
"Terus sekarang dimana Nak Aji?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.
"Ini ada, Pakdhe. Apa Pakdhe mau bicara dengan Kang Aji?" Tanya Faruq balik.
"Nanti saja kalau kalian sudah balik. Kapan kalian balik. Ini sudah selesai kan?" Tanya Kyai Aminudin lagi.
"Sudah, Pakdhe." Sekali lagi Faruq hanya menjawab singkat.
"Lalu Habiba mana, Ruq?" Tanya Kyai Aminudin lagi, kali ini menanyakan anaknya, -Habiba.
Faruq tercengang, bingung harus menjawab apa. Kyai Aminudin pasti akan marah besar jika tahu saat ini Habiba tidak sedang bersamanya. Tapi kalau dia bilang Habiba ada, bagaimana kalau Kyai Aminudin ingin bicara dengan Habiba. Pertanyaan itu berkecamuk dalam hati Faruq.
"Halo, Faruq. Habiba bagaimana?" Tanya Kyai Aminudin lagi dari seberang telfon, menyadarkan lamunan Faruq.
"Eh, iya, Pakdhe. Habiba.... Habiba lagi cari aksesoris itu." Ucap Faruq kemudian.
"Oh yasudah. Kalau sudah selesai cepat ajak balik, Ruq." Ucap Kyai Aminudin kemudian.
Tak lama telfon ditutup. Faruq bernafas lega. Setidaknya Kyai Aminudin tidak bertanya macam macam soal Habiba.
Langit mulai terlihat sedikit buram. Perlahan mentari sudah mulai memudar dilangit sebelah barat. Sholawat tarhim sudah berkumandang dari beberapa masjid terdekat bersautan, menandakan bahwa sebentar lagi masuk waktu Maghrib.
Tanda tanda keberadaan Habiba belum juga mereka ketahui. Ekspesi gelisah dan cemas dari dua orang lelaki begitu jelas tergambar di wajah. Pandangan mereka terus berburu disegala arah. Berharap menemukan Habiba di sekitar lahan parkir itu.
__ADS_1
Bersambung...