
"Jika ingin menemui dia. Dia biasanya nongkrong di Sanggar Seni dekat alun alun, Fa."
"Sanggar Seni dekat alun alun?" Ajimukti sedikit menganggukkan kepalanya.
"Betul, Fa."
"Baiklah, sekali lagi matur suksma, Bli" Ucap Ajimukti.
"Sama sama, Fa. Insya Allah kalau ada waktu tiang juga pengen dija ke jumah sira, Fa. Oh, maksud tiang pesantren." Ucap orang itu terdengar berujar sembari sedikit terkekeh.
"Wah, harus itu, Bli. Tiang tunggu." Sahut Ajimukti sembari tertawa lepas.
"Tunggu waktu luang, Fa. Insya Allah." Sahut orang di seberang telfon itu kemudian.
"Atau kalau sira makurenan sekalian nyumbang, Fa." Imbuh orang itu sembari terkekeh.
"Ah, Bli Nyoman bisa saja. Doakan saja, Bli. Nanti juga pasti tiang kabari." Sahut Ajimukti juga sembari terkekeh.
"Harus itu, Fa! Kalau tidak, sira tidak lagi anggap tiang ini saudara." Timpal orang dia seberang telfon bernama Nyoman itu.
"Sira itu senior tiang, Bli. Laduk lah kalau tiang tidak berkabar." Sahut Ajimukti laginlagi terkekeh.
"Iya, Fa. Kewanen. Su'ul adab." Sahut Nyoman juga terdengar terkekeh.
"Sudah pintar bahasa Jawa sampeyan, Bli?" Tanya Ajimukti sedikit meledek.
"Kulo sampun dangu mapan wonten Jawi Mas Aufa, mosok'o nggeh mboten saget." Sahut Nyoman kini terdengar tertawa lepas.
Ajimukti pun disini juga terdengar begitu lepas tertawa mendengar Nyoman berbicara dengan dialek Jawa.
Tak lama setelah perbincangan itu pun, Ajimukti menutup telfonnya dan kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi teras ndalem nya.
"Nglaras, Gus." Sapa Faruq yang tiba tiba datang di iringi Khalil dan Imam.
"Ah, nggeh, Gus." Sahut Ajimukti segera menegakkan posisi duduknya.
"Untuk acara nanti sore kemungkinan dari warga juga akan cukup banyak, Gus. Karena sejak delapan tahun ini, Pondok Hidayah sudah tidak mengadakan Rebo Pungkasan lagi." Ucap Faruq sembari duduk di kursi depan Ajimukti duduk.
"Tapi semua sudah disiapkan para santri, Gus. Jadi Gus Aji tenang saja." Imbuh Khalil.
"Hmmm, terima kasih Gus, Kang. Semoga saja dengan itu bisa kembali mendekatkan pesantren dengan warga sekitar." Sahut Ajimukti.
__ADS_1
"Benar, Gus." Sahut Faruq.
"Oh, iya, Gus. Untuk saya, ini kali pertama mengikuti itu, karena selama pesantren di pegang Kyai Aminudin, kegiatan itu tidak ada. Bisa sedikit nyuwun gambaran, Gus. Ngapunten sakderenge." Ucap Khalil kemudian.
"Benar, Gus. Saya pun sarujuk sama Khalil. Saya juga ingin tahu lebih soal Rebo pungkasan." Imbuh Imam setelahnya.
"Pripun niku, Gus?" Tanya Ajimukti pada Faruq seolah mengisyaratkan untuk meminta pendapatnya.
"Monggo njenengan jelaskan saja, Gus. Dengan bahasa njenengan, pasti akan jadi mudah ditangkap." Sahut Faruq sungkan.
Ajimukti kemudian menghela nafasnya, "Anu, Kang. Berbicara soal Rebo wekasan atau Arba Mustakmir atau Arba Musta'mir. Nah, diantara masalah yang menjadi pembicaraan warga pada akhir bulan Safar adalah Rebo Pungkasan ini. Yang dimaksud adalah amalan yang dikaitkan dengan Rabu terakhir di bulan Safar." Ucap Ajimukti mengawali penjelasannya.
Khalil dan Imam mengangguk pelan, "Lalu adakah hal hal yang terkait Rebo Pungkasan itu, Gus? Karena seperti yang tadi kami sampaikan, kami buta soal itu." Sahut Khalil kemudian.
"Soal itu, Kang. Abdul Hamid Quds dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail al-Azminah wash-Shuhur menjelaskan banyak para wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual tinggi mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah menurunkan tiga ratus dua puluh ribu macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar." Jelas Ajimukti setelahnya.
"Jadi memang ada hal luar biasa ya Gus di hari Rabu itu?" Sela Imam.
"Benar, Kang Imam. Oleh sebab itu, hari tersebut menjadi waktu terberat di sepanjang tahun. Maka barangsiapa yang melakukan shalat empat rakaat nawafil, sunah, di mana setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kautsar tujuh belas kali lalu surat al-Ikhlas lima kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali. Lalu setelah salam membaca doa, maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjaga orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun. Wallahu a'lam bish-shawab." Sahut Ajimukti menjelaskan.
"Jadi hari itu akan turun bala bencana ya, Gus. Itu sama saja dengan hari nahas begitu kah, Gus?" Tanya Imam masih tidak paham.
"Tidak begitu juga, Kang. Tidak ada nash hadits khusus untuk akhir Rabu bulan Safar, yang ada hanya nash hadits dhoif yang menjelaskan bahwa setiap hari Rabu terakhir dari setiap bulan adalah hari naas atau sial yang terus menerus. Dan hadits dhoif ini tidak bisa dibuat pijakan kepercayaan juga. Dan juga tidak ada anjuran ibadah khusus dari syara. Ada anjuran dari sebagian ulama tasawuf namun landasannya belum bisa dikategorikan hujjah secara syari." Jelas Ajimukti kemudian.
"Memang, Kang. Tapi niat kita hanya sebatas shalat hajat lidaf'il bala' Al-makhuf, untuk menolak balak yang dihawatirkan. Atau nafilah mutlaqah, shalat sunah mutlak, sebagaimana diperbolehkan oleh syara, karena hikmahnya adalah agar manusia bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Ibaratnya, Kang. Sama sama hujan hujanan, tapi ketika kita sudah pakai mantol, resiko masuk angin itu lebih bisa di minimalisir. Begitu kira kira." Lanjut Ajimukti kemudian.
Khalil dan Imam hanya kemudian kompak mengangguk.
"Bagaimana, Lil, Mam. Sudah paham dengan yang dijelaskan Guse?" Tanya Faruq menyela.
"Sedikit paham, Gus." Sahut Khalil sembari sedikit senyum lebar, memperlihatkan giginya.
"Sedikit mengutip tentang hadits kesialan terus menerus pada Rabu terakhir di tiap bulan. Nahas yang dimaksud adalah bagi mereka yang meyakininya, bagi yang mempercayainya. Tetapi bagi orang orang yang beriman meyakini bahwa setiap waktu, hari, bulan, tahun ada manfaat dan ada mafsadah, ada guna dan ada madharatnya. Hari bisa bermanfaat bagi seseorang, tetapi juga bisa juga nahas bagi orang lain." Ucap Faruq kemudian.
"Benar sekali itu kata Gus Faruq, Kang. Yang artinya hadits ini jangan dianggap sebagai suatu pedoman, bahwa setiap Rabu akhir bulan adalah hari nahas yang harus dihindari. Karena ternyata pada hari itu, ada yang beruntung, ada juga yang buntung. Tinggal manusia berikhtiar meyakini, bahwa semua itu adalah anugerah Allah, kehendak Allah dan kuasa Allah." Imbuh Ajimukti setelahnya.
"Yang paling penting adalah kita meyakini, apapun itu, semua adalah kehendak Allah. Wallahu a'lam bish-shawab, hanya Allah yang tahu kebenarannya." Imbuh Faruq lagi.
"Benar, Kang. Kita tidak bisa menghukumi apa itu targhib atau tarhib, anjuran atau peringatan. Yang terpenting seperti kata Gus Faruq. Meyakini bahwa Allah lah yang berkehendak, bukan hari itu yang seperti inilah seperti itulah. Seperti halnya hari Jum'at. Hari Jum'at adalah hari baik, lalu apakah hari hari lainnya tidak baik? Tetap bisa menjadi hari baik. Hari baik itu kan tergantung kita sendiri yang membuatnya. Sama, Kang. Jika kita anggap hari Rabu terakhir hari nahas, lalu apakah tidak ada kebahasaan di hari hari lain?" Jelas Ajimukti setelah itu.
Lagi lagi Khalil dan Imam hanya kompak mengangguk.
__ADS_1
"Hindari thiyarah, Kang. Meyakini adanya pertanda buruk. Rasulullah senang dengan tafaul, mengharap kebaikan. Dan tidak suka dengan tathayyur, merasa sial." Imbuh Ajimukti lagi.
"Tapi itu komponen lengkap lho, Gus. Ngarepkene mesti sing apik apik, kesandung sitik sambate ngaru oro." Celetuk Khalil sembari sedikit tertawa.
"Ya, itulah manusia, Lil. Sambate kadang ora sumbut." Imbuh Faruq juga ikut tertawa.
"Soal pertanda buruk, Gus. Kan di Jawa ini, hal itu sudah sangat tidak bisa dipisahkan. Ada tanda apapun selalu dikaitkan dengan hal hal tertentu." Sela Imam kemudian.
"Iya memang, Kang. Hampir di seluruh daerah mitos mitos seperti itu memang ada dan begitu diyakini. Seperti yang paling sering kita dengar, manuk gagak mabur gondol nyowo, misalnya." Ucap Ajimukti kemudian.
"Benar, Gus. Ya yang semacam itu. Itu kan sering sekali kita temui." Sela Imam cepat.
"Itu gimana, Gus?" Tanya Khalil sedikit penasaran.
"Ya, memang, Kang. Itu benar." Sahut Ajimukti kemudian.
Khalil dan Imam saling pandang, "Jadi itu bukan mitos, Gus?" Tanya Khalil kemudian.
"Bukan, Kang. Kan emang manuk gagak mabur gondol nyowo. Kalau tidak bawa nyawa, namanya burung gagak mati, kalau mati berarti sudah tidak bisa terbang. Kang gitu." Sahut Ajimukti kemudian sedikit tertawa.
"Ealah, Guse ini bisa saja. Saya kira serius ini tadi, tahunya." Celetuk Imam merasa dikerjai Ajimukti.
"Seperti jago kluruk wayah surup, ada yang bilang ada perawan hamil. Ya kalau sudah hamil, sudah bukan perawan lagi namanya. Ada kupu kupu masuk rumah, bakal ada tamu. Meneh, soal tokek, Kang. Apabila suara tokek terdengar dekat, tandanya makhluk halus berada lumayan jauh. Namun, jika suara tokeknya menjauh, itu tandanya hantu ada di dekat kita. Untuk suara tokek genap, ini merupakan pertanda baik, sedangkan ganjil berarti ada makhluk halus berada di dekat kita. Dan masih banyak lagi." Ucap Ajimukti lagi.
"Benar itu, Gus." Khalil pun membenarkan di ikuti anggukan kepala Imam.
"Lalu soal orang mati di loncati kucing hidup. Itu juga sering kan kita dengar?" Lanjut Ajimukti.
"Benar, Gus. Sering sekali." Sahut Imam.
"Itu juga benar, Kang." Sahut Ajimukti pula.
"Benarnya, Gus?" Tanya Khalil setelah saling pandang dengan Imam.
"Ya, benar, Kang. Orang mati diloncati kucing hidup. Kalau kucingnya mati ya mana bica meloncat tho, Kang." Lagi lagi Ajimukti tertawa karena berhasil mengerjai Khalil dan Imam.
Khalil dan Imam hanya bisa garuk garuk kepala merasa dua kali kena dikerjai Ajimukti.
"Wah, wah, wah, sepertinya seru sekali. Boleh gabung tidak ini?"
Ajimukti seketika menaikkan bola matanya, lalu mengerutkan kening. Faruq, Khalil juga Imam kompak memutar kepala mereka menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Bersambung...