
Malam itu selepas Isya'. Suasana Pondok Hidayah cukup hening. Hanya ada beberapa santri yang tengah menikmati kopi di beberapa sudut pesantren.
Berbeda halnya dengan teras ndalem pesantren. Di teras itu nampak beberapa orang tengah mengobrol. Mereka tak lain adalah Ajimukti, Nyai Kartika, Dullah, Sobri, Manan juga Kang Harun, salah seorang penderek sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Fadhlun Muthoriq.
"Mungkin ibu besok harus kembali ke Jogja lagi, Le." Ucap Nyai Kartika di tengah tengah perbincangan mereka.
Ajimukti menegakkan posisi duduknya, lalu kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya ke hadapan Nyai Kartika.
"Apa Sibu tidak ingin lebih lama lagi disini? Lusa mungkin." Tanya Ajimukti seolah ingin menahan ibunya itu.
Nyai Kartika tersenyum lalu mengelus pundak Ajimukti, "Inginnya seperti itu, Le. Tapi nanti juga kasihan yang disana kalau ibu tinggal terlalu lama."
Ajimukti menghela nafas dan sedikit menganggukkan kepalanya, "Saya mengerti, Bu." Ucap Ajimukti lirih.
Nyai Kartika kembali mengusap pundak Ajimukti sembari tersenyum menyemangati Ajimukti yang baru akan berjuang di Pondok Hidayah ini.
"Mas Aji, maaf saya menyela." Ucap Dullah yang kini sedikit menegakkan posisi duduknya.
"Ada apa, Lek?" Tanya Ajimukti melihat ekspresi tidak biasa Dullah.
"Saya rasa, urusan disini pun sudah selesai. Dan lagi, disini ada Prastowo juga yang akan siap sedia jika terjadi apa apa." Dullah menghela nafas.
Ajimukti dapat menangkap ucapan Dullah.
"Bagaimana kalau saya ikut Mbak Yu kembali ke Jogja saja, Mas?" Tanya Dullah sedikit ragu.
Seperti dugaan Ajimukti. Ajimukti pun hanya tersenyum.
"Ya, Lek. Saya pun memahami itu. Dan mungkin Lek Dul juga sudah kangen sama Bu Lek Tri ya?" Goda Ajimukti kemudian.
Dullah hanya tersipu. Semua yang ada disana pun tertawa mendengar ucapan Ajimukti itu.
"Tapi, Pak. Apa boleh kalau Sobri tinggal disini dulu untuk sementara waktu?" Tanya Sobri tiba tiba menyela.
Dullah mengerutkan kening, lalu beralih pandang ke Nyai Kartika juga Ajimukti. Nyai Kartika mengangguk. Dullah pun mengerti apa maksudnya.
"Emmm, baiklah. Sekalian kamu bantu bantu Mas Aji disini." Ucap Dullah kemudian.
"Tenang saja, Pak. Sobri pasti bantu Gus Aufa disini." Sobri nampak bersemangat setelah mendapat izin Dullah untuk tetap tinggal di Pondok Hidayah sementara waktu ini.
"Sepertinya disini akan lebih berkembang jika diserahkan pada yang muda muda Kang Dullah. Sementara yang sepuh sepuh tugasnya sekarang hanya mengarahkan." Ucap Nyai Kartika kemudian.
"Benar Mbak Yu. Saya juga yakin generasi muda ke depan jauh akan lebih baik dari generasi muda saya dulu." Dullah menambahi ucapan Nyai Kartika.
Nyai Kartika hanya tersenyum. Namun tiba tiba ekspresi wajah Nyai Kartika agak sedikit berubah. Nampak kegelisahan terpancar di antara kerutan wajahnya. Dullah menyadari itu.
"Ada apa Mbak Yu? Sepertinya ada yang Mbak Yu pikirkan?" Tanya Dullah kemudian.
Mendengar itu, membuat Ajimukti dan Sobri mengarahkan pandang mereka ke arah Nyai Kartika.
"Iya, Bu. Apa ada yang Sibu sedang pikirkan saat ini?" Tanya Ajimukti setelah melihat ekspresi kegelisahan itu di wajah Nyai Kartika.
Nyai Kartika menghela nafas lalu melengkungkan bibirnya. "Saya hanya sedang memikirkan Ustadz Amin. Sampai hari ini, beliau tidak ada kabar. Waktu acara kemarin pun beliau tidak hadir." Ucap Nyai Kartika sedikit berat.
Ajimukti memahami apa yang dipikirkan ibunya itu. Dirinya pun juga memikirkan hal yang sama saat ini.
"Saya juga memahami itu, Bu. Saya juga Manan dibantu Gus Faruq juga sudah mencoba mencari kabar Kyai Aminudin sekeluarga. Tapi kata Gus Faruq, Kyai Aminudin sudah pindah dari rumah lamanya. Selepas pergi dari sini, mereka kembali ke rumah mereka sebelumnya, tapi ternyata mereka disana hanya dua malam, setelah itu mereka pindah kemana tidak ada yang tahu." Ajimukti menjelaskan. Manan pun nampak mengangguk membenarkan.
"Itulah, Le. Ibu sebenarnya berharap, Ustadz Amin mau menyadari kesalahan nya dan tetap tinggal disini. Tapi ternyata, beliau memilih pergi." Nyai Kartika nampak begitu cemas kali ini.
__ADS_1
"Bukan Kyai Aminudin yang menginginkan pergi, Mbak Yu. Tapi Bu Nyai Sarah juga Habiba putri beliau lah yang memaksa Kyai Aminudin untuk pergi dari sini." Dullah menyela.
Nyai Kartika meraih tangan Ajimukti.
"Ibu harap kamu tetap mencari tahu keberadaan mereka, Le. Tetap jaga hubungan baik dengan beliau." Pesan Nyai Kartika pada Ajimukti.
"Insya Allah, Bu. Saya akan terus mencari keberadaan mereka dimana." Ajimukti nampak bersungguh sungguh dalam ucapannya kali ini.
Nyai Kartika kembali hanya mengangguk lalu tersenyum. Dan untuk sesaat suasana teras itu hening. Tidak lagi terdengar perbincangan.
Ditengah kebisuan itu. Samar samar suara desing mesin sepeda motor mengarah ke arah halaman ndalem. Seketika pandangan tertuju pada dua sepeda motor yang berhenti tak jauh dari teras ndalem.
"Itukan Pak Dhe Pras sama Budhe Sum juga Ajeng, Jik." Bisik Manan pada Ajik.
"Ada apa malam malam begini Prastowo kesini?" Gumam Dullah juga.
Tak lama Prastowo di ikuti istri dan anaknya melangkah menuju teras ndalem itu. Setelah mengucap salam, mereka pun ikut duduk di teras itu.
Sementara Manan segera bergegas ke pawon ndalem untuk membuatkan minum. Sobri yang menyadari apa yang akan dilakukan Manan itu pun, segera berdiri dan menyusul Manan.
"Bagaimana, Mbak Yu hari ini?" Tanya Prastowo sekedar menyapa Nyai Kartika setelah mengambil tempat duduk.
"Seperti yang Kang Pras tahu. Alhamdulillah sepertinya pesantren akan baik baik saja dan kemungkinan besok saya akan kembali ke Jogja, Kang." Sahut Nyai Kartika.
"Loh, kok buru buru Mbak Yu?" Sumiatun menyela.
"Kasihan anak anak disana Mbak Sum, kalau saya tinggal lama lama." Sahut Nyai Kartika.
"Padahal saya masih ingin ngangsu ilmu sama njenengan lho Mbak Yu." Ucap Sumiatun mungkin sekedar basa basi.
"Apa ikut saya ke Jogja saja Mbak Sum." Sahut Nyai Kartika sembari tersenyum.
Nyai Kartika pun kini ikut tertawa bersama Sumiatun.
"Saya juga ikut kembali ke Jogja, Pras." Ucap Dullah di tengah tengah obrolan Nyai Kartika juga Sumiatun itu.
"Loh, kamu juga, Dul?" Tanya Prastowo agak kaget.
"Iya, Pras. Saya juga harus mengurus yang disana. Kasihan mbok wedok kalau saya lama lama disini." Jawab Dullah kemudian.
"Iya iya iya. Saya paham, Dul." Sahut Prastowo dengan beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Saya titip Mas Aji, Pras. Kalau ada apa apa saya serahkan ke kamu untuk mengurusinya." Pesan Dullah pada Prastowo.
Prastowo menepuk pundak Dullah, "Kamu tenang saja, Dul. Kalau saya tidak mampu. Ada Anggoro juga. Dan kamu tahu sendiri bagaimana Anggoro. Kamu tenang saja lah." Ucap Prastowo begitu meyakinkan.
Dullah tersenyum tenang. Dia yakin, baik Prastowo juga Anggoro adalah sahabat sekaligus saudara yang begitu bisa diandalkan.
"Oh iya Mbak Yu, ini anak saya Ajeng, yang kemarin saya ceritakan itu." Ucap Sumiatun sambil mengenalkan Ajeng anaknya pada Nyai Kartika.
Ajeng hanya mengangguk karena dan kembali meraih tangan Nyai Kartika dan mencium punggung tangannya sekali lagi.
"Ayu temen anaknya Mbak Sum ini." Nyai Kartika memuji Ajeng. Ajeng yang mendengar itu pun tersipu dan pipinya memerah.
"Masih sekolah atau nyantri, Nduk, Cah ayu?" Tanya Nyai Kartika pada Ajeng.
Dengan tertunduk Ajeng gemetar untuk menjawab.
"Ajeng nyantri di Pacitan, Nyai." Sahut Ajeng singkat.
__ADS_1
"Oh, bagus itu, Nduk. Nanti kalau sudah selesai, bisa bantu bantu Kakangmu ngajar disini." Ucap Nyai Kartika kemudian.
Ajeng hanya mengangguk, dia tida tahu harus bicara apa lagi dengan Nyai Kartika. Saat ini, bisa berkenalan dan duduk bersama saja rasanya sudah tidak karuan bagi Ajeng.
"Sudah kenalan sama Bu Nyai, Nduk?" Prastowo menyela pembicaraan istrinya dan Nyai Kartika di tengah perbincangannya dengan Dullah.
"Sudah, Pak. Begitu itu anakmu. Isinane eram." Sahut Sumiatun. Sementara Ajeng sendiri hanya mengangguk.
Nyai Kartika sendiri hanya tersenyum sambil sesekali memuji Ajeng membuat Ajeng salah tingkah dan tersipu malu.
"Oh, iya, Dul. Sobri mana?" Tanya Prastowo menyadari Sobri tidak ada bersama mereka.
"Kebelakang, Lek. Bikin minum sama Manan." Sahut Ajimukti kemudian.
"Ajeng kemarin belum sempat saya kenalkan sama anakmu, Dul. Kesusu muleh kemarin itu." Ucap Prastowo.
"Iya, Pras. Kemarin saya tanya juga katanya belum bertemu anakmu." Sahut Dullah.
"Iya, Lek. Mumpung masih disini kenalin sekalian ngrembuk yang waktu itu." Celetuk Ajimukti mengingatkan sembari tertawa.
Tak lama, Manan dan Sobri keluar dari arah dalam membawa nampan minuman juga cemilan.
"Maaf, Pak Dhe. Tadi masak air dulu jadi agak lama." Ucap Manan.
"Iya, Nan. Tidak apa apa. Malah kamu repot repot." Sahut Prastowo.
"Tidak apa apa, Pak Dhe." Sembari menaruh gelas minum ke meja.
"Bu Nyai, unjukanipun dalem gantos." Ucap Sobri pada Nyai Kartika.
Nyai Kartika hanya mengangguk. Disaat itu sekelebat pandangan Sobri tertuju pada Ajeng. Meski hanya sekelebat tapi pandangan mereka sempat beradu.
"Nah, ini anaknya, Pras." Ucap Dullah pada Prastowo kemudian.
"Le, Bri. Ini anaknya Pak Lek. Ajeng namanya. Kemarin kalian belum sempat bertemu to?" Ucap Prastowo mengenalkan Ajeng pada Sobri.
Ajeng dan Sobri hanya saling menundukkan kepala dan melempar senyum. Ada ekspresi berbeda yang terpancar di wajah Sobri. Ajimukti menyadari itu dan hanya senyum senyum sendiri. Sementara Manan, justru merasakan sesuatu yang lain dengan keadaan Sobri itu.
"Nanti kalian kalian ini yang saya harapkan mampu untuk membantu Aufa di sini. Bantu bantu ngajar santri santri disini." Ucap Nyai Kartika pada ke empat anak muda itu.
Mereka hanya mengangguk malu malu.
"Secepatnya, saya dan Manan juga akan mencari keberadaan Kyai Aminudin, Bu. Kebetulan Kyai Aminudin juga memiliki seorang anak. Dan anak Kyai Aminudin itu juga satu pesantren dengan Dik Ajeng di Pacitan." Ucap Ajimukti, "Siapa tahu, Ning Biba, putrinya Kyai Aminudin itu mau ikut membantu ngajar santri putri disini." Sambungnya.
"Loh, iya to, Nduk? Anaknya Ustadz Amin teman kamu nyantri?" Tanya Nyai Kartika pada Ajeng.
"Leres, Nyai." Jawab Ajeng sembari menganggukkan kepala.
"Baguslah kalau begitu, Le. Mudah mudahan putrinya Ustadz Amin mau untuk kembali mengurus pesantren ini. Ibu sangat berharap kamu juga Nak Manan bisa mencari tahu keberadaan Ustadz Amin dan keluarganya sekarang ini." Ucap Nyai Kartika terlihat berharap.
"Pangestunipun Sibu mawon." Sahut Ajimukti setelahnya.
Nyai Kartika hanya tersenyum.
"Nanti Pak Lek juga coba bantu Mas Aji cari tahu keberadaan Kang Amin." Ucap Prastowo kemudian.
"Terima kasih Pak Lek."
Untuk beberapa saat suasana teras ndalem Gus Aufa cukup mampu memecah keheningan malam ini selepas Isya'. Diluar pun, beberapa santri juga nampak belum beranjak meninggalkan tempat mereka menghabiskan malam.
__ADS_1
Bersambung...