BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sebuah Janji


__ADS_3

"Kang Salim, Prastowo, kesini, Kang! Ada mayat." Teriak Anggoro dari arah kamar mandi belakang pasar sore itu.


Salim dan Prastowo juga beberapa orang yang mendengar teriakan Anggoro itu segera berlari menuju tempat Anggoro berada saat ini.


Di sana terbujur tubuh seorang lelaki dengan bekas luka sayat didada sebelah kirinya. Darah segar masih terus mengalir dari luka sayat yang cukup besar itu.


Salim segera mendekati tubuh itu dan meraba pergelangan tangannya beberapa saat.


"Masih hidup." Seru Salim. "Pras, Ro, segera bawa orang ini ke rumah sakit terdekat sebelum dia kehabisan darah!" Seru Salim lagi pada Anggoro dan Prastowo.


"Yang lain bantu carikan mobil!" Imbuhnya.


Sesegera mungkin Anggoro dan Prastowo mengangkat tubuh lelaki yang sudah berlumuran darah itu.


Sebuah mobil bak terbuka tak lama meluncur kearah tempat mereka berada. Anggoro dan Prastowo dibantu beberapa orang menaikkan tubuh lelaki itu ke dalam bak mobil. Dengan cepat mobil itu meluncur ke arah rumah sakit terdekat.


Salim melepas baju yang ia kenakan, menutupkannya pada luka lelaki itu untuk menahan darah agar tidak terus keluar.


"Lebih cepat lagi. Kita harus cepat sampai rumah sakit!" Teriak Salim pada si sopir.


Tak ada jawaban tapi si sopir mengikuti perintah Salim. Ia segera menambah kecepatan mobilnya.


Tak berselang lama kini mereka sudah berada di depan IGD sebuah rumah sakit. Salim segera melompat dari bak mobil itu. Beberapa perawat tanpa komando segera membawa tandu dan membawa lelaki itu kedalam.


"Tunggu disini ya, Pak. Kami akan segera memberikan pertolongan pada pasien. Sepertinya pasien kehilangan banyak darah." Ucap salah seorang perawat.


Salim hanya mengangguk. Wajahnya gelisah. Sama seperti ketika beberapa tahun yang lalu ketika dirinya membawa Satriyo ke rumah sakit ini.


Anggoro dan Prastowo mendekati Salim dengan baju mereka yang juga penuh darah saat mengangkat tubuh lelaki itu.


Waktu terus berlalu, sore sudah berlalu. Kumandang adzan Maghrib sudah terdengar bersautan dari masjid masjid terdekat.


"Kita sholat dulu, Kang!" Ajak Prastowo kemudian.


"Bagaimana dengan kalian? Baju kalian banyak darah." Ucap Salim melihat baju Anggoro dan Prastowo yang belepotan darah di sana sini.


"Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mengambil baju ganti. Mungkin mereka sebentar lagi sampai. Sambil menunggu kabar dokter selanjutnya kita sholat dulu saja, Kang." Ucap Anggoro kemudian.


"Baiklah." Salim beranjak dari duduknya dan segera berjalan ke mushola rumah sakit. Didepan, mereka bertemu orang suruhan Anggoro yang sudah membawa baju ganti mereka.


Tak lama setelah sholat Maghrib, Salim kembali ke depan kamar pria itu sedang ditangani dokter masih ditemani Anggoro dan Prastowo.


Dokter keluar dari dalam ruang periksa dan segera menemui Salim.


"Keluarga pasien?" Tanya dokter tersebut.

__ADS_1


Salim hanya mengangguk, "Bagaimana kondisi orang itu, Dok?" Tanyanya kemudian sedikit gelisah.


"Pasien mengalami pendarahan hebat, Pak. Banyak darah yang keluar. Dan saat ini pasien membutuhkan transfusi darah. Sayangnya stok darah di rumah sakit ini kosong. Apa dari keluarga ada yang bergolongan darah A?" Ucap dokter tersebut.


Salim, Anggoro dan Prastowo saling pandang.


"Saya tidak tahu golongan darah saya, Kang." Ucap Anggoro lirih.


"Saya juga, Kang." Imbuh Prastowo.


Salim hanya menghela nafas karena dirinya juga tidak tahu golongan darahnya sendiri.


"Apa kami bisa cek golongan darah kami, Dok. Mungkin salah satu diantara kami ada yang cocok." Ucap Salim kemudian.


"Baiklah, Pak. Mari ikut saya." Ucap dokter itu kemudian melangkah ke sebuah ruangan.


Tak lama setelah proses itu, dokter kembali menemui Salim yang masih terlihat gelisah.


"Saudara Salim?" Tanya dokter itu.


"Golongan darah anda cocok dengan pasien." Lanjut Dokter itu kemudian.


Salim segera berdiri, "Baiklah ambil darah saya, Dok. Berapa pun yang dibutuhkan."


Dokter membawa Salim kembali ke sebuah ruangan untuk beberapa saat.


Salim terlonjak ketika salah satu perawat memanggilnya.


"Bagaimana kondisi orang itu?" Tanya Salim dengan wajah gelisah.


Perawat itu tersenyum, "Alhamdulillah, pasien sudah siuman, Pak. Meski luka didada pasien cukup parah dan memerlukan banyak jahitan juga sempat kehabisan banyak darah. Tapi sepertinya pasien orang yang kuat, Pak."


"Apa sudah bisa ditemui?" Tanya Salim kemudian.


"Silahkan, Pak!" Ucap perawat itu seraya berlalu dari hadapan Salim, Anggoro dan Prastowo.


Di dalam kamar itu seorang lelaki tengah terbaring dengan beberapa alat bantu medis terpasang di sana sini.


"Terima kasih." Ucap lelaki itu dengan suara berat.


Salim hanya tersenyum dan berdiri disisi kiri lelaki itu, dibelakangnya ada Anggoro dan Prastowo, "Sudahlah. Sampeyan jangan banyak gerak dulu agar luka sampeyan segera pulih."


"Kalau boleh tahu siapa sampeyan sampeyan ini?" Tanya lelaki itu dengan suara berat dan sedikit serak.


"Saya Salim, ini kedua teman saya, Anggoro dan Prastowo."

__ADS_1


Lelaki yang terbaring itu hanya tersenyum, "Saya Dullah. Dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena kalian sudah menyelamatkan nyawa saya."


"Sudahlah. Sekarang sampeyan istirahat saja." Ucap Salim sedikit meraba tangan lelaki itu, -Dullah.


Dua bulan sudah berlalu sejak saat itu. Kini Dullah sudah benar benar kembali pulih dan sudah bisa untuk beraktifitas.


"Bagaimana saya harus membalas kebaikan sampeyan, Kang." Ucap Dullah lirih kepada Salim ketika mereka berdua bersama duduk di emperan langgar.


Salim hanya tersenyum, "Tidak usah sampeyan pikirkan itu. Yang terpenting sampeyan sehat dulu."


"Saya pikir saya sudah mati sore itu, Kang. Ternyata masih ada pertolongan yang Gusti kirim untuk orang seb*j*t saya ini." Keluh Dullah sedikit menghela nafas.


Salim menepuk pundak Dullah, "Sudahlah tidak usah dipikirkan. Yang terpenting sekarang sampeyan berubah selagi Allah masih memberi sampeyan kesempatan."


"Tapi kalau boleh saya tahu. Sebenarnya apa yang terjadi sampai sampeyan separah itu." Tanya Salim kemudian.


Dullah menghela nafasnya, "Saya bersama rekan saya, Gandung. Dulu kami sering mabuk mabukan di desa sebelah, juga memalak beberapa warga yang melintas tempat kami nongkrong untuk membeli minuman. Dan siang itu beberapa orang yang mengenakan penutup wajah, tiba tiba menyerang kami. Kami sempat memberi perlawanan tapi karena jumlah mereka yang sangat banyak. Kami pun tidak bisa berbuat apa apa. Kami lari sebisa kami namun orang orang itu terus mengejar kami. Sampai akhirnya saya dan Gandung memutuskan untuk berpencar. Saya lari ke terminal dan di sana seseorang sudah menghadang saya. Saya berusaha berlari lagi tapi akhirnya di depan kamar mandi itu, dijalan buntu itu pelarian saya berkahir. Tanpa basa basi orang itu menyabetkan celurit ke arah saya. Saya terjatuh dan tidak sadarkan diri. Sejak itu saya tidak tahu apa yang terjadi. Juga bagaimana nasib Gandung teman saya."


Salim kembali menepuk pundak Dullah, "Semoga teman sampeyan itu baik baik saja."


Dullah tertunduk, tanpa ia sadari air matanya mulai membasahi kedua kelopak matanya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan temannya itu.


Hari hari berlalu. Sejak Dullah tinggal bersama Salim di rumah itu, keadaan Dullah semakin jauh lebih baik.


"Saya berjanji, Kang. Sampai kapan pun saya akan mengabdi sama sampeyan. Saya bisa merasakan kehidupan lagi yang seperti ini, semua berkat sampeyan." Ucap Dullah siang itu.


"Bukan. Semua adalah kehendak Allah yang Allah kirimkan pada sampeyan melalui saya."


Dullah hanya mengangguk. "Saya tahu, Kang. Tapi bagaimanapun juga sampeyan sudah banyak sekali berjasa pada hidup saya ini. Kiranya hal apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan sampeyan itu, Kang. Pasti. Pasti akan saya penuhi. Meski nyawa saya sekalipun."


Salim hanya tersenyum, "Sampeyan berlebihan." Salim menghela nafas. "Tapi jika sampeyan tidak keberatan. Saya ingin menugaskan sampeyan satu hal. Satu hal saja." Ucap Salim kemudian.


"Katakan, Kang. Apapun itu. Pasti saya siap lakukan."


Kembali Salim menghela nafasnya, "Seperti yang sampeyan tahu. Tiga bulan yang lalu ketika saya menitipkan sampeyan pada Anggoro dan Prastowo, itu karena istri saya di Jogja, baru melahirkan. Saya butuh seseorang untuk membantu istri saya di sana. Karena saya juga tidak mungkin meninggalkan anak anak yang ada disini. Saya tidak mungkin begitu saja menyepelekan amanah yang sudah diserahkan pada saya ini."


Dullah kini pun terdengar menghela nafasnya, "Saya tahu, Kang. Ijinkan saya yang ke Jogja."


Dullah meraba raba bekas jahitan karena luka di dadanya. Ingatan dua puluh dua tahun itu tidak mungkin begitu saja dilupakannya, bersama bekas luka yang tidak akan pernah hilang ditubuhnya.


"Gandung. Bagaimana kabarmu, Ndung. Apa kamu waktu itu baik baik saja. Ataukah...." Dullah menghela nafasnya.


Dari tempatnya, dilihatnya Ajimukti masih tertidur pulas. Dullah memandang wajah teduh Ajimukti yang terlelap itu sembari tersenyum.


"Lihatlah, Kang. Dia mirip sekali denganmu. Tidak hanya wajahnya. Perangainya. Kebijaksanaannya. Kebaikannya. Unggah ungguhnya. Tapi juga semangatnya. Dan seperti janji saya dulu, Kang. Nyawa saya sekalipun akan saya pertaruhkan untuk melindunginya."

__ADS_1


Dullah kini merebahkan tubuhnya. Menutup pintu kenangan dua puluh dua tahun silam. Menutup ingatannya tentang Gandung temannya yang sampai saat ini tak pernah ia ketahui kabar keberadaanya.


Bersambung...


__ADS_2