BROMOCORAH

BROMOCORAH
Hal Tatazawajani...!


__ADS_3

"Sebenarnya njenengan dari mana, Gus?" Tanya Habiba pada kesempatan siang itu.


Ajimukti menegakkan duduknya, lalu meraih gelas kopi yang tadi disuguhkan Nyai Sarah padanya.


"Sebenarnya tadi saya dari Lapas, menjenguk Pak Nugroho, setelah itu saya langsung kesini, Ning." Sahut Ajimukti kemudian menyeruput kopi yang sudah dipegangnya.


Mendengar itu, Habiba sontak mengerutkan keningnya, ekspresi wajahnya nampak terkejut.


"Pak Nugroho? Bukankah dia...?"


"Bapaknya Mas Budi. Yang pernah melamar kamu melalui Pak Kyai untuk Mas Budi." Potong Ajimukti sembari meletakkan gelas kopinya kembali ke atas meja.


"Ada perlu apa Njenengan menemui Pak Nugroho, Gus?" Tanya Habiba kemudian masih dengan ekspresi penasaran nya.


Ajimukti tersenyum, "Panjang jika harus saya ceritakan, Ning." Ucap Ajimukti lirih, kemudian kembali menyandarkan punggungnya ke kursi tempat ia duduk.


Habiba melenguh, "Sepanjang apa sampai tidak bisa diceritakan? Apa tidak bisa dipersingkat?" Tanya Habiba kemudian.


Ajimukti memperlebar senyumnya, ia tahu rasa penasaran di wajah Habiba tidak bisa lagi ia tutupi.


Pada akhirnya, Ajimukti pun menceritakan semua tentang apa yang terjadi beberapa bulan lalu. Bahkan sampai dirinya bisa sampai ke rumah ini.


Mendengar cerita Ajimukti itu, Habiba sedikit tersentak. Ada kekhawatiran terlukis di wajahnya ketika itu juga.


"Njenengan yakin Pak Nugroho sudah berubah, Gus?" Tanya Habiba dengan nada bicara yang terdengar berat.


Ajimukti mengangguk, "Insya Allah, Ning. Kenapa sampeyan sekhawatir itu kelihatannya?" Tanya Ajimukti memojokkan Habiba.


Wajah Habiba memerah, ia nampak tersipu malu dengan pertanyaan Ajimukti padanya itu.


"Saya... Emmm, saya bukannya khawatir, Gus. Hanya saja..." Habiba menghentikan ucapannya.


Ajimukti sedikit menaikkan alis matanya, menunggu Habiba melanjutkan ucapannya.


"Ah, sudahlah, Gus. Kalau sampeyan saja sudah yakin, kenapa saya harus khawatir." Ucap Habiba cepat.


Ajimukti tersenyum, "Berarti benar kan sampeyan khawatir?"


Habiba semakin tersudut, rona merah di pipinya tidak bisa lagi ia sembunyikan kali ini. Disaat itu, Ajimukti melirik jari manis di tangan Habiba. Pandangannya tertuju pada cincin yang melingkar disana. Ajimukti hafal betul dengan cincin itu.


Habiba menyadari itu, ia pun segera menutupi jarinya dengan tangan sebelahnya.


"Itu dulu milik Sibu. Itu diberikan bapak saat sedang berjuang memenangkan hati Sibu, meyakinkan Sibu, juga keluarga Sibu. Alhamdulillah ternyata sangat pas di jemari sampeyan, Ning." Ucap Ajimukti tanpa basa basi.


Habiba sedikit menaikkan dagunya menatap ke arah Ajimukti, ketika mata mereka beradu, Habiba segera kembali menundukkan wajahnya.


"Njenengan hari ini nggak ngajar, Gus?" Tanyanya beralih topik bahasan.


"Ini hari Selasa, pesantren libur, Ning." Sahut Ajimukti.


Habiba mengerutkan kening, "Loh, bukannya pesantren liburnya Jum'at ya, Gus? Kok sekarang Selasa?" Tanya Habiba keheranan.


Ajimukti mengangguk, "Memang, Ning. Dulu sewaktu Bapak juga Pak Kyai, pesantren libur pada hari Jum'at. Tapi sekarang saya sengaja menggantinya ke hari Selasa, Ning."

__ADS_1


"Kenapa, Gus? Apa ada sesuatu dengan hari itu?" Tanya Habiba kemudian.


Ajimukti mengerutkan kening sebelum menjawab, "Untuk saya pribadi sebenarnya tidak ada, Ning. Hanya saja saya mengadaptasikan dari beberapa hal juga tragedi di setiap hari Selasa. Dengan pertimbangan itulah saya mengganti libur pesantren ke hari Selasa." Jawabnya kemudian.


"Beberapa hal dan tragedi, Gus? Memangnya itu apa?" Tanya Habiba sarat dengan rasa keingintahuannya.


"Emmm, begini, Ning. Seperti kita ketahui, pembangunan dunia ini ada dua tahapan, dengan yang pertama pada hari Ahad sama Senin. Tahap kedua adalah penyempurnaan saat bumi disempurnakan dengan ilmu. Maka dimulailah ilmu itu hari Selasa dan Rabu. Jika dilihat dan dipahami, Ahad itu kan artinya satu, maka Ahad yang bermakna satu itu milik Allah. Yang kedua adalah Senin, yang kedua itu Kanjeng Nabi. Makanya, Ning. Rasulullah itu meninggalnya hari Senin. Dan pewaris nabi itu ulama. Al ulama'u warotsatul-anbiya. Makanya, tidak heran, banyak alim ulama yang meninggalnya hari Selasa, Ning. Selain itu, hari Selasa kata Rasulullah juga hari berdarah." Ucap Ajimukti kemudian.


"Hari berdarah, Gus? Maksudnya? Kok saya baru dengar ya?" Sahut Habiba.


"Ya karena hari itu hari dimana Sayyidati Hawa pertama kali haid dan pada hari itu juga Habil putra Adam 'alaihissalam terbunuh oleh saudaranya sendiri, Qobil." Jelas Ajimukti.


"Selain itu ada kejadian lain yang berhubungan dengan hari itu, Ning." imbuh Ajimukti.


"Apa itu, Gus?" tanya Habiba kemudian.


"Terbunuhnya Jurjais bin Fathin 'alaihissalam, beliau seorang pemuda yang hidup pada masa Raja Dardaniyah. Wafatnya Nabi Yahya 'alaihissalam yang saat ini menolak perkawinan sedarah, Wafatnya Nabi Zakaria 'alaihissalam saat beliau dalam pelarian lalu atas ijin Allah beliau bisa bersembunyi di dalam batang sebuah pohon, hanya saja setan membisiki kaum Bani Israil, lalu memotong batang pohon itu beserta Nabi Zakaria yang berada di dalamnya. Wafatnya Istri pertama Rasulullah, Sayyidati Khadijah, sekaligus wanita pertama yang memeluk Islam juga dihari itu. Lalu meninggalnya tukang sihir Fir'aun juga hari Selasa, bahkan istri Fir'aun pun, Asiah binti Muzahim juga hari Selasa. Sahib, sapi betina kaum Bani Israil juga disembelih pada hari Selasa." jelas Ajimukti.


"Jurjais bi Fathin itu siapa, Gus?" Tanya Habiba kemudian.


"Jurjais bin Fathin atau biasa dipanggil Jirjis. Beliau salah satu utusan Allah juga, Ning. Beliau hidup di Mozul, Irak. Jurjais semasa hidup kerap disebut Jirjis-I-Baqia yang artinya, atas izin Allah SWT mampu kembali hidup setelah disiksa dan dibunuh, ada riwayat mengatakan beliau mengalami tujuh puluh kali kematian dan hidup kembali atas izin Allah, namun ada pula yang mengatakan sampai seratus kali. Nabi yang berasal dari Byzantium dan tinggal di Palestina itu kemudian kembali pada kaumnya untuk menerima ajaran Allah SWT. Sayangnya, kesabaran Nabi Jirjis tidak menjadikan Raja Kooraazaanaa atau Raja Dardaniyah dan pengikutnya mempercayai Allah SWT. Raja justru memerintahkan pengusiran dan pembunuhan Nabi Jirjis di luar wilayah kekuasaannya di Syria. Sebelum meninggal, Nabi Jirjis berdoa jika Allah SWT hendak membinasakan kaum tersebut maka mereka yang beribadah dan mengingatNya jangan sampai menerima adzab. Ya, Wallahu a'lam bish-shawab, Ning. Kurang lebih begitu." Ucap Ajimukti setelahnya.


Habiba mengangguk, "Saya paham sekarang, Gus. Berarti ini tidak ada kegiatan?" Tanya Habiba lagi.


Ajimukti menggeleng. "Tidak, Ning."


Sekali lagi Habiba hanya mengangguk anggukan kepalanya.


"Oh, iya, Ning. Lain yang dibahas. Emmm, nanti jika asrama putri sudah siap beroperasi. Sampeyan bisa kan bantu bantu di pesantren?" Tanya Ajimukti kemudian.


Ajimukti hanya tersenyum tanpa komentar.


"Saya... Saya tidak ingin mendengar ucapan ucapan yang tidak mengenakan tentang Abah, Gus." Ucap Habiba kemudian.


Ajimukti mengangguk paham dengan kebimbangan hati Habiba saat ini. Ia kemudian menghela nafasnya.


"Insya Allah Ruwah nanti semua akan berbeda, Ning." Ucap Ajimukti kemudian.


"Ruwah, Gus? Maksudnya?" Tanya Habiba justru kini kembali dibuat penasaran dengan ucapan Ajimukti itu.


"Hal tatazawajani, Ning." Ucap Ajimukti tanpa lagi basa basi.


Seketika Habiba tersentak namun kemudian tertunduk menyembunyikan wajahnya.


Melihat Habiba seperti itu, Ajimukti kembali meyakinkan dari pertanyaannya itu.


"Bagaimana, Ning?" Tanyanya kemudian.


"Apa Njenengan tidak salah pilih orang, Gus. Saya kan..."


"Tidak. Yahlumur rojulu bi imro'atin kaamilatin, wa tahlumul maratu birojulin kaamilin. Wa laa ya'lamuuna annallaaha kholaqohum liyukmilaa ba'dhohum al ba'dho. Seorang laki-laki selalu mengidam idamkan seorang wanita yang sempurna dan wanitapun begitu selalu mengidam idamkan laki laki sempurna. Padahal mereka tidak paham bahwa Allah mencipatakan mereka untuk saling melengkapi satu sama lain. Bukankah begitu, Ning?" Ucap Ajimukti dan sedikit menekan dengan pertanyaan.


Habiba menghela nafas, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Saat ini rasanya semua campur aduk. Ada rasa berdesir di ulu hatinya, jantungnya pun berdetak tak beraturan.

__ADS_1


"Bagaimana, Ning? Hal tatazawajani." Ulang Ajimukti lagi.


Habiba menaikkan dagunya, sedikit memberanikan diri menatap Ajimukti.


"Insya Allah, Gus." Ucapnya lirih sembari malu malu.


Ajimukti pun kemudian tersenyum.


"Insya Allah dalam waktu dekat saya akan ajak Sibu silaturahmi kesini, Ning." Ucap Ajimukti kemudian.


"Soal itu njenengan matur Abah saja, Gus. Saya tidak berani memutuskan." Sahut Habiba.


"Kalau soal itu pasti, Ning. Nanti pasti saya akan matur sama Pak Kyai." Sahut Ajimukti juga.


Ajimukti kemudian melirik jam di tangannya.


"Sepertinya saya sudah harus kembali ke pesantren, Ning." Ucap Ajimukti kemudian.


Habiba hanya mengangguk, "Iya, Gus."


"Tolong panggilkan Pak Kyai sama Bu Nyai ya, Ning." Pinta Ajimukti kemudian.


Habiba kemudian hanya mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam.


Tak lama, Kyai Aminudin pun nampak keluar di susul Nyai Sarah.


"Kyai, Nyai saya pamit dulu. Maaf sudah merepotkan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Kenapa buru buru? Apa sudah mengobrolnya?" Tanya Kyai Aminudin tanpa maksud menyindir Ajimukti.


"Iya, Nak Aji. Kenapa buru buru?" Imbuh Nyai Sarah.


Ajimukti kemudian tersenyum, "Maaf, Kyai. Saya takut kalau lama lama sama Ning Biba saya kengguh sama godanya setan." Sahut Ajimukti sedikit cengengesan.


Nyai Sarah dan Habiba hanya saling melempar senyum mendengar itu.


"Bisa juga kamu kegoda setan. Saya pikir iman kamu cukup kuat." Ucap Kyai Aminudin.


"Kyai bisa saja." Sahut Ajimukti.


"Saya tidak menyindir ini." Timpal Kyai Aminudin.


"Saya juga tidak sedang merasa tersindir, Kyai. Iman saya mungkin kuat, Imran yang mungkin lemah." Sahut Ajimukti tidak mau kalah.


Kyai Aminudin tersenyum kecut, "Makanya gek rabio!" Ucapnya sedikit ketus dan datar.


"Insya Allah, Kyai. Ruwah nggeh? Ning Biba juga sudah mau." Timpal Ajimukti masih dengan sedikit cengengesan.


"Baru kali ini saya ketemu anak senekat kamu." Kyai Aminudin geleng geleng kepala.


Ajimukti kemudian hanya tersenyum lalu benar benar pamit dari kediaman Kyai Aminudin itu. Namun sebelum benar benar pulang, ia menyempatkan berpamitan dengan Ari Godril yang kebetulan Gitun dan suaminya pun sudah ada dirumah saat itu.


Setelah berpamitan Ajimukti pun memacu mobilnya dan berlalu dari tempat itu menerobos terik siang yang menyengat.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian ketika ia sudah sampai di desanya. Samar samar dari kaca mobilnya, dilihatnya di kejauhan seorang lelaki tua dengan udeng khas Jawa sedang berjalan sendiri di pinggiran jalan. Ajimukti cukup hafal dengan lelaki tua itu. Ia pun segera menarik gasnya dan berhenti tepat di samping lelaki tua itu. Melihat ada mobil berhenti di dekatnya, lelaki tua itu pun menghentikan langkahnya dan melihat siapa gerangan pengemudi mobil itu. Namun begitu melihat sosok Ajimukti yang keluar dari dalam mobil, seketika senyum lelaki tua itu mengembang, memperlihatkan sebagian giginya yang sudah tanggal.


Bersambung...


__ADS_2