BROMOCORAH

BROMOCORAH
Filosofi Punakawan


__ADS_3

"Jadi bagaimana, Lek?"


Prastowo mengubah posisi duduknya. Sambil menyalakan sebatang rokok kretek, ia melanjutkan ceritanya.


"Mungkin tidak banyak ya mas yang tahu karakter punakawan dan filosofi apa yang terkandung dari setiap karakter bahkan nama tokoh tokoh wayang itu?" Ucap Prastowo kemudian.


"Seperti halnya Semar. Ada yang menyebutkan, Semar berasal dari kata Sammir yang artinya siap sedia. Namun, ada pula yang meyakini bahwa kata Semar berasal dari bahasa arab Ismar. Menurut orang yang berpendapat ini, lidah orang Jawa membaca kata is- menjadi se-. Contohnya seperti Istambul dibaca Setambul. Ismar sendiri berarti paku. Tak heran, jika tokoh Semar selalu tampil sebagai pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada. Ia selalu tampil sebagai penasihat. Ya, seperti itulah Kang Salim. Entah saat kami masih dijalan atau setelah kami menemukan jalan. Kang Salim seperti Semar. Entah sebagai yang Sammir atau Ismar. Sebagai Sammir, Kang Salim jelas selalu siap sedia. Dia selalu yang didepan diantara kami, menjadi perisai bagi kami. Sebagai Ismar pun Kang Salim adalah Paku. Ya, paku.'' Sejenak Prastowo menghentikan ucapannya, lalu menghisap lagi rokoknya.


"Tak hanya saya. Mungkin Anggoro dan Dullah juga mengakui kepakuan Kang Samir. Ingat sebuah pepatah. Hanya paku yang lurus yang akan terus kena hantaman. Nah, begitulah Kang Salim. Terus dan terus dihantam. Dari saat kematian Satriyo, dari keluarga Mbak yu Kartika, juga dari..." Prastowo lagi lagi menghentikan ucapannya dan sejenak menghela nafas.


"Pondok Hidayah." Potong Ajimukti. Prastowo hanya mengangguk pelan.


"Lalu tentang kalian, Lek?" Tanya Ajimukti sejurus kemudian.


"Lalu seperti saya, Mas. Kenapa Pak Zaini menggambarkan saya seperti Gareng. Karena ada yang berpendapat, Gareng berasal dari kata Khair yang bermakna kebaikan atau kebagusan. Pendapat lain meyakini, Nala Gareng diadaptasi dari kata Naala Qariin. Orang Jawa melafalkannya menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman. Ya, begitulah saya, Mas. Sebagai orang kecil dan pedagang pasar saya harus bisa grapyak, lembah manah. Itulah kenapa saya punya banyak sekali teman dipasar."


Ajimukti mengangguk. Pun dengan yang ada di ruangan itu.


"Lalu seperti Anggoro ini, Mas." Prastowo menepuk lutut Anggoro yang berada disebelah Ajimukti. "Dia ini digambarkan seperti Petruk. Kenapa? Karena Ada yang berpendapat, Petruk berasal dari kata Fatruk yang berarti meninggalkan. Selain itu, ada juga yang berpendapat kata Petruk diadaptasi dari kata Fatruk—kata pangkal dari sebuah wejangan tasawuf, Fat-ruk kulla maa siwalLaahi yang artinya tinggalkan semua apa pun yang selain Allah. Kenapa kok Pak Zaini menggambarkan Anggoro ini seperti Petruk. Karena dia ini dulu sangat ndableg, Mas."


"Ya, dulu saya yang paling ditakuti setelah Kang Salim, Mas. Semua sudah pernah saya cicipi. Sampai akhirnya melalui Kang Salim, Allah memberi saya hidayah untuk meninggalkan jalan itu dan mencari jalan yang diridhoi Allah." Potong Anggoro.


"Wah, bapak ini termasuk gentho gede kalau gitu ya, Pak?" Sahut Manan dengan terbahak meski ia pun sebenarnya sudah tahu masa lalu bapaknya seperti apa.


Semua yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa mendengar ucapan Manan itu.


"Ya, tapi semua sudah masa lalu, Nan. Lihat bapakmu yang sekarang. Contoh bapakmu yang sekarang." Sahut Dullah kemudian.


"Iya, Pak lek. Saya bangga punya bapak yang memberi saya banyak pelajaran."


Mendengar ucapan Manan itu, membuat Anggoro spontan menepuk pundak anaknya itu.


"Saya lanjutkan ya, Mas." Ucap Prastowo kemudian.


Ajimukti mengangguk dan sekali lagi menyimak cerita Prastowo tentang punakawan.

__ADS_1


"Sedangkan Bagong, diyakini berasal dari kata Bagho yang artinya lalim atau kejelekan. Pendapat lainnya menyebutkan, Bagong berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yakni, berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan. Begitulah yang Pak Zaini temukan dari dalam diri Almarhum Dasman juga Dullah." Ucap Prastowo melanjutkan.


"Saya jadi ingat bagaimana Dasman berusaha taubat kala itu. Dan bagaimana ia berjuang bersama Kang Salim setelahnya. Mengajak orang orang pasar untuk kembali ke jalan Allah. Sungguh semua itu bukan sebuah perjuangan yang mudah. Beruntunglah ia, meninggalkan dalam keadaan yang sudah taubat. Semoga Allah menempatkannya ditempat yang terbaik." Sahut Anggoro.


Semua hanya mengangguk mengaminkan ucapan Anggoro itu.


"Tak jauh berbeda dengan Dullah ini, Mas." Lanjut Prastowo kemudian.


"Sejak memutuskan ikut dengan Kang Salim. Dullah ini menyerahkan hidupnya sepenuhnya untuk mengabdi sama Kang Salim dan segenap dhuriyah nya." Lanjut Prastowo lagi.


"Tapi jika dibanding dengan Dasman. Saya sangat jauh, Pras." Sahut Dullah kemudian.


"Jangan pernah membandingkan, Dul. Kamu dan Dasman memiliki cara sendiri untuk berjuang bersama Kang Salim." Tegur Anggoro.


Dullah hanya tersenyum.


"Saya sekarang tahu sesuatu." Ucap Manan kemudian.


"Dengan semua ini, sudah bisa saya jawab sendiri semua pertanyaan saya selama ini." Lanjutnya lagi.


"Baguslah jika kamu sudah tahu, Le." Ucap Anggoro kemudian. "Jadi tanpa bapak, Pak lek Dul atau Pak Dhe mu Pras jelaskan, kamu sudah tahu apa tugasmu?" Tanya Anggoro kemudian.


"Saya tahu, Pak." Ucap Anggoro meyakinkan.


Sekali lagi Anggoro menepuk pundak Manan.


"Lalu apa langkah kamu selanjutnya, Jik?" Tanya Manan pada Ajimukti sejurus kemudian.


Ajimukti hanya tersenyum.


"Biarkan semua berjalan sesuai rencana awal, Nan." Sahut Dullah.


Manan mengangguk.


"Bahkan pertemuan ini pun diluar rencana kami. Apalagi bertemu kamu." Imbuh Dullah, ucapannya masih tertuju pada Manan.

__ADS_1


"Iya, Le, Nan. Tetaplah seperti biasanya tanpa membuat orang orang curiga." Imbuh Anggoro.


Manan sekali lagi hanya mengangguk.


Ajimukti menegakkan posisi duduknya. Sejenak menghela nafasnya.


"Untuk saat ini saya belum memiliki rencana lanjutan. Saya ingin fokus dulu ke kompetisi antar pesantren." Ucap Ajimukti.


"Maksud Mas Aji." Dullah mengerutkan keningnya sarat keheranan.


"Ya soal siang itu kenapa Gus Faruq memanggil saya, Lek." Ucap Ajimukti.


"Lantas?" Tanya Dullah memastikan.


"Saya diminta untuk mewakili Pondok Hidayah mengikuti kompetisi itu." Ucap Ajimukti tenang.


Dullah tersentak. "Tapi bagaimana mungkin, Mas. Pihak pondok kan taunya Mas Aji santri baru di pondok. Bagaimana Mas Aji bisa menjadi perwakilan Pondok Hidayah?" Tanya Dullah penuh ketidak pahaman.


Ajimukti hanya tersenyum dan kembali menyandarkan tubuhnya ke bangku.


"Lek Dul tenang saja. Justru dengan begitu saya lebih mudah untuk masuk ke lingkup pondok lebih dalam." Jawab Ajimukti.


Dullah hanya mengangguk.


"Saya justru berterima kasih sama yang sudah mengusulkan nama saya untuk ikut kompetisi itu." Lanjut Ajimukti.


Dullah sekali lagi nampak kaget. "Mengusulkan? Berarti itu bukan kemauan Mas Aji sendiri atau dari pihak Pondok Hidayah?" Tanyanya kemudian.


Ajimukti hanya menggeleng.


"Lalu siapa yang mengusulkan nama Mas Aji dalam kompetisi itu?" Tanya Dullah penuh rasa penasaran.


Sejenak Ajimukti menghela nafasnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2