BROMOCORAH

BROMOCORAH
Problema Kehidupan


__ADS_3

"Kenapa harus merasa tidak pantas, Kang Khalil?"


Khalil dan Imam hanya terus menundukkan kepalanya. Mereka sesekali terdengar menghela nafas berat.


"Saya yakin, Kang. Jika njenengan berdua bersungguh sungguh dalam berdakwah, disana, ditempat beliau saat ini, beliau, Simbah Kyai Abu Bakar pasti akan sangat bangga memiliki wayah seperti njenengan berdua." Ajimukti menasehati dua kakak beradik itu.


"Setelah menyaksikan bagaimana njenengan berusaha untuk meneruskan cita cita mulia Kyai Salim. Saya pribadi pun sejak saat itu tergugah dan berniat untuk benar benar mewujudkan cita cita bapak saya, Gus." Sahut Imam terdengar tulus dengan ucapannya itu.


"Begitu pun saya, Gus. Saya sama halnya Imam. Entah terwujud atau tidak kelak, tapi saya pun ingin menebus kekecewaan bapak pada kakek, Gus." Imbuh Khalil tak kalah serius.


Ajimukti tersenyum. "Saya pun masih terus berjuang, Kang. Kita bisa berjuang bersama." Ucapnya kemudian.


Mendengar ucapan tulus Ajimukti itu, rasanya ada yang berdesir dalam ulu hati kedua kakak beradik itu. Ada rasa ingin menangis seketika itu juga. Bagaimana tidak, Ajimukti yang awalnya selalu mereka hina dan rendahkan, kini justru menjadi seseorang yang pertama menumbuhkan kembali semangat mereka.


"Gus, terima kasih sebelumnya." Ucap Khalil lirih.


Ajimukti lagi lagi melengkungkan bibirnya. "Sama sama, Kang."


"Nyuwun pangestunipun njenengan, Gus. Semoga niat kami ini dipun ijabah kalian Gusti." Lanjut Khalil kemudian.


"Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh sungguh, akan berhasil. Man Shobaro zhafiro, siapa yang bersabar, akan beruntung. Man Yazro' yahshud, siapa yang menanam, akan menuai. Itu tiga mantra kehidupan yang harus menjadi motivator kita dalam melakukan usaha untuk segala hajat yang diniatkan, Kang." Ucap Ajimukti kembali mengutip tiga mantra kehidupan yang pernah membuat Sobri kala itu penasaran.


Khalil dan Imam sama sama menganggukkan kepala ringan. "Sekali lagi terima kasih, Gus." Ucap Imam kemudian.


"Yasudah, Gus. Kami permisi, mau ke tempat Gus Faruq dulu." Khalil mengakhiri perbincangannya dengan Ajimukti. Ajimukti kemudian mengangguk mengiyakan dan mempersilahkan mereka berdua untuk segera ke tempat Faruq.


Sementara itu di sebuah taman di pinggiran kota yang tidak terlalu ramai. Seorang lelaki dengan postur tinggi tegap sedang berjalan ke arah seorang pemuda yang sedang duduk di salah satu bangku di taman itu. Pemuda dengan model rambut mohawk yang di cat pirang juga telinga yang di peirching itu, kemudian berdiri begitu melihat seorang lelaki yang begitu dikenalnya, berjalan ke arahnya.


"Sudah lama kamu?" Tanya lelaki itu pada si pemuda.


"Belum, Lek. Lek Suko apa tidak ada kesibukan hari ini?" Tanya pemuda itu pada si lelaki yang ternyata Suko, anak buah Baron.


"Ada tugas dari bos Pak Lek, tapi cuma masalah kecil. Bisa Pak Lek atasi nanti nanti." Sahutnya sembari duduk di ikuti pemuda itu yang juga kembali duduk di bangku taman itu.


"Ada apa sebenarnya kamu sampai meminta bantuan Pak Lek, Le?" Tanya Suko pada pemuda itu kemudian.


"Begini, Lek. Saya dimintai tolong oleh seseorang untuk mencari alamat orang ini." Pemuda itu menunjukkan sebuah foto.


Suko mengambil foto itu. "Ada urusan apa?" Tanyanya kemudian.


"Kalau soal itu saya pun tidak tahu, Lek. Teman saya hanya ingin tahu alamat tinggalnya yang sekarang saja. Soal ada keperluan atau masalah apa dia tidak mengatakannya pada saya." Jawab pemuda itu.


"Saya juga sudah meminta bantuan anak anak di jalan. Menyebar beberapa orang juga." Imbuhnya lagi.


"Baiklah. Nanti Pak Lek bantu." Ucap Suko sembari memasukan foto itu ke saku jaketnya.


"Yasudah kalau begitu, Lek. Itu saja. Saya akan langsung kembali ke Jogja sore ini." Ucap pemuda itu kemudian.

__ADS_1


"Tunggu!" Suko menahan pemuda itu.


Si pemuda mengerutkan keningnya, "Ada apa, Lek?" Tanyanya kemudian.


Suko menghela nafasnya, "Ari, apa kamu tidak berniat mampir ke rumah emak mu? Sekedar menjenguknya." Ucapnya kemudian.


Pemuda bernama Ari itu mengusap wajahnya. "Mungkin lain waktu, Lek." Sahutnya singkat.


"Kenapa harus menunggu lain waktu, Le? Mumpung kamu disini. Mampirlah! Tengok ibumu. Dia pasti juga merindukanmu." Ucap Suko mencoba meyakinkan pemuda bernama Ari itu.


Ari hanya tersenyum kecut.


"Apa kamu masih juga belum bisa menerima pernikahan emak mu dengan suaminya yang sekarang? Bukankah itu sudah berlalu puluhan tahun, Le. Dan Pak Lek lihat pun bapak tirimu itu tanggung jawab sekali sama emak mu." Suko kembali meyakinkan Ari. Lagi lagi Ari hanya tersenyum kecut.


"Maaf, Lek. Saya sedang tidak ingin membahas itu dulu." Ucap Ari seraya berdiri dari duduknya.


"Ari! Bagaimanapun juga bapakmu sudah tenang disana. Pak Lek ini adik kandung bapakmu, dan sudah menganggap emak mu, kakak Pak Lek sendiri, tapi Pak Lek legowo ketika emak mu memutuskan menikah lagi." Suko masih terus mencoba meyakinkan Ari.


"Emak mu butuh teman berbagi di sisa sisa hidupnya, Le. Mengertilah!" Suko nampaknya belum menyerah.


"Hah, sudahlah, Lek. Saya paling malas jika sudah membahas ini setiap kali." Ari nampak kurang senang membahas itu.


"Apa kamu tidak menyayangi emak mu, Le, Ri?" Tanya Suko kemudian.


"Apa emak juga mencintai bapak, Lek?" Ari membalik pertanyaannya itu.


Suko terlihat tersenyum, "Kalau emak mu tidak mencintai bapakmu. Tidak akan emak mu waktu itu datang ke Pak Lek dan meminta restu Pak Lek, satu satunya keluarga bapakmu, Le." Ucap Suko kemudian.


"Kamu berpikir terlalu cethek, Le. Suatu saat kamu pun akan menikah. Kamu akan punya kehidupanmu sendiri. Tanggung jawabmu akan tertuju pada anak dan istrimu. Disaat itu apa kamu tega melihat emakmu sendiri? Ketika kamu harus berbagi waktu, dia hanya akan menunggu waktu luangmu diantara waktu waktumu untuk anak dan istrimu kelak." Suko kembali melontarkan ucapannya berharap Ari memahami semua dan masuk ke dalam hatinya.


Ari tak menyahut, ia hanya kemudian berlaku tanpa berpamitan pada Suko. Suko hanya bisa geleng kepala melihat sikap keras kepala keponakannya itu.


"Lihatlah Kang Dasman. Anakmu, sama keras kepalanya seperti dirimu dulu." Suko bergumam diantara senyumnya, kemudian bangun dari duduknya dan beranjak berlalu meninggalkan bangku taman itu.


Sementara Ari terus berjalan ke arah motor vespa tua yang di parkirnya di luar taman. Tak lama Ari pun terlihat merogoh ponsel dan sepertinya berusaha melakukan panggilan ke seseorang. Karena tak lama terdengar Ari mengucapkan salam pada seseorang di seberang sana.


"Kang Godril, bagaimana? Apa Kang Godril sudah ada kabar soal alamat Kyai Aminudin?" Tanya seseorang di seberang telfon.


"Maaf, Kang Sobri. Untuk saat ini, belum. Tapi saya baru saja meminta bantuan paman saya yang tinggal di Malang. Kebetulan paman saya punya banyak anak buah dan relasi. Mungkin bisa lebih mempercepat pencarian kita." Godril menjelaskan pada lawan bicaranya di seberang yang tak lain adalah Sobri.


"Baiklah kalau begitu, Kang Godril. Saya, juga Gus Aufa menunggu kabar dari Kang Godril. Sebelumnya terima kasih dan maaf sudah merepotkan sampeyan, Kang." Ucap Sobri lagi dari seberang.


"Sama sama, Kang Sobri. Dan saya tidak pernah merasa direpotkan sedikit pun. Justru saya senang bisa membantu Gus Aufa meski saat ini belum membuahkan hasil, tapi saya akan terus berusaha membantu Guse." Ucap Ari alias Godril itu kemudian.


Tak lama, Godril pun mematikan panggilannya dan segera setelah memasukkan ponselnya ke saku jaket, ia pun menyalakan mesin motor Vespanya dan berlalu dari taman pinggiran kota itu.


Sementara itu di tempat Sobri berada saat ini, di Pondok Hidayah. Ajimukti baru saja masuk ke arah ndalem ketika ia melihat Sobri baru saja menerima telfon.

__ADS_1


"Siapa, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Itu, Gus. Kang Godril." Sahut Sobri.


"Oh, Kang Godril? Apa sudah ada kabar, Kang?" Tanya Ajimukti lagi.


"Untuk saat ini belum, Gus. Tapi kata Kang Godril, dia baru saja meminta bantuan pamannya. Kata Kang Godril, pamannya ini punya banyak anak buah juga relasi. Jadi diharapkan bisa mempermudah pencarian, Gus." Jawab Sobri seperti yang disampaikan Godril padanya di telfon tadi.


Ajimukti hanya mengangguk.


"Njenengan kok baru kembali, Gus? Apa tadi ngobrol dulu sama Gus Faruq?" Tanya Sobri menyadari Ajimukti cukup lama kembali ke ndalem setelah selesai kajiannya siang ini.


"Iya, Kang. Ngobrol dulu tadi. Tapi bukan sama Gus Faruq. Tapi sama Kang Khalil juga Kang Imam." Sahut Ajimukti sembari menyalakan rokoknya.


"Kang Khalil dan Kang Imam? Santri di kelasnya Gus Faruq itu, Gus?" Tanya Sobri memastikan.


"Iya, Kang. Mereka dulu juga senior saya sewaktu saya pura pura nyantri di awal awal saya kesini dulu." Ucap Ajimukti kemudian.


"Oh, apa mereka yang bapak ceritakan itu, Gus. Yang trio senior itu?" Sobri sekali lagi memastikan.


"Iya, Kang. Mereka berdua temannya Budi yang pergi dari pesantren tanpa pamit." Jelas Ajimukti.


Sobri hanya kemudian mengangguk paham.


"Tapi sebenarnya mereka itu cucu seorang Alim Ulama yang masyhur, Kang." Imbuh Ajimukti.


Sobri menoleh ke arah Ajimukti. Kini ia sedikit penasaran dengan silsilah Khalil dan Imam itu.


"Ulama Masyhur itu siapa, Gus?" Tanyanya kemudian.


"Simbah Kyai Abu Bakar, Kang." Jawab Ajimukti singkat.


"Almaghfurlah Simbah Kyai Abu Bakar maksud njenengan, Gus?" Tanya Sobri memastikan.


"Iya, Kang."


Sobri mengangguk paham.


"Berarti mereka keponakan Kyai Ubaidillah, Gus?" Tanyanya kemudian.


Ajimukti hanya mengangguk mengiyakan.


"Saya pernah beberapa kali berada di satu acara dengan Kyai Ubaidillah, Gus. Beliau adalah seorang Kyai muda yang menurut saya termasuk dalam kategori Kyai waro', beliau sudah seperti tidak lagi berfokus pada keduniawian, seperti sudah meninggalkannya. Dan di jaman sekarang ini, sudah sangat jarang Kyai seperti beliau ini, Gus."


Ajimukti mengangguk, "Iya, Kang. Sejauh yang saya tahu juga, memang Kyai Ubaidillah mewarisi sifat sifat alim Simbah Kyai Abu Bakar semasa sugeng nya beliau."


"Saya berharap, semoga Kang Khalil dan Kang Imam setelah ini bisa belajar banyak dari pamannya itu, sehingga mereka kelak bisa menjadi pendakwah dan pensyiar yang seperti Simbah Kyai Abu Bakar wulang wurukkan, Kang." Lanjutnya kemudian.

__ADS_1


"Aamiin, Gus. Semoga saja."


Bersambung...


__ADS_2