
Selepas Dzuhur di pelataran masjid pesantren Pondok Hidayah.
"Gus Faruq kemana memangnya, Jik?" Tanya Manan ketika itu.
"Beliau ada urusan dengan keluarganya, Nan." Sahut Ajimukti sembari menyandarkan punggungnya di tiang penyangga masjid.
"Oh, pantas saja, tadi sewaktu saya lewat aula kok kamu yang mengisi kajian." Sahut Manan yang juga ikut duduk.
"Oh, iya, Jik. Kang Sobri kapan kembali kesini?" Tanya Manan kemudian.
"Kemarin Lek Dul sudah mengabari saya, katanya minggu minggu ini. Lek Dul juga bilang katanya ada hal yang ingin beliau sampaikan. Tapi soal apa beliau tidak bilang." Sahut Ajimukti kemudian.
Manan terlihat mengangguk, "Apa ada masalah, Jik?"
"Saya juga tidak tahu, Nan. Lek Dul tidak bilang pasti. Beliau hanya bilang ini ada kaitannya dengan wasiat Almarhum bapak." Sahut Ajimukti lagi.
"Wasiat Kyai Salim?" Manan nampak sedikit penasaran mendengar itu.
Ajimukti mengangguk.
"Apa masih berhubungan dengan Kyai Aminudin juga, Jik?" Tanya Manan lagi.
Ajimukti menaikkan bahunya, "Entahlah, Nan. Saya pun tidak bisa menebaknya."
"Oh, iya, Nan. Saya lihat kamu sekarang justru semakin dekat dengan Hexa." Ucap Ajimukti kemudian.
Manan sedikit tertawa, "Tidak juga, Jik. Memang di beberapa kesempatan saya sempat mengobrol dengan anak itu. Dan, setelah saya sering mengobrol dengannya, ada hal yang memang diluar dugaan saya, Jik."
Ajimukti mengerutkan keningnya, "Hal diluar dugaan? Apa itu, Nan?" Tanyanya kemudian.
"Emmm, dari gaya bicaranya mungkin dia terkesan agak angkuh. Tapi setelah saya memancingnya bicara, ternyata wawasan anak itu cukup luas, Jik. Pikiran anak itu tidak seangkuh kelihatannya." Ucap Manan kemudian.
Mendengar itu, Ajimukti sedikit melengkungkan bibirnya, "Itulah, Nan. Kadang isi dan bungkus bertolak belakang."
"Ya, Jik. Kamu benar."
Ajimukti kemudian menepuk lutut Manan, "Dekati anak itu terus, Nan. Gali seberapa dalam wawasannya." Ucapnya setengah berbisik.
Manan mengangguk paham, "Saya mengerti, Jik."
Sementara itu dihalaman rehabilitasi jiwa.
"Setelah ini Mas Budi mau kemana?" Tanya Mulatsih pada Budi siang itu.
"Emmm, kemungkinan akan ke pasar kota, Bu Dhe. Ini tadi teman saya mengabari kalau dia mengajak bertemu." Sahut Budi kemudian.
"Jangan habiskan masa muda hanya keluyuran, Mas. Kamu masih punya banyak kesempatan. Bu Dhe lihat kamu anaknya pintar." Ucap Mulatsih kemudian.
Mendapat pujian seperti itu Budi hanya tersenyum, "Bu Dhe tenang saja. Teman saya ini meski masih seumuran saya, tapi dia sudah saya anggap layaknya guru saya, Bu Dhe. Saya belajar banyak dari teman saya itu Bu Dhe. Selain guru, dia pun sudah saya anggap Abang saya sendiri, Bu Dhe." Sahut Budi setelahnya.
"Baguslah. Cari teman yang memberi manfaat ya, Mas" Sahut Mulatsih juga setelahnya.
"Iya, Bu Dhe."
"Oh, iya, Mas. Itu keponakan yang Bu Dhe ceritakan tadi." Tunjuk Mulatsih pada seorang pemuda yang naik sepeda motor dan melaju ke arah mereka.
Tak lama pemuda itu menghentikan motornya tepat berada di depan Mulatsih dan Budi berdiri.
"Ini Mas Budi. Keponakan Bu Dhe. Angga namanya. Ya meskipun sebenarnya Angga ini keponakan dari Almarhum suami saya. Bapaknya Angga ini adik kandungnya suami saya." Ucap Mulatsih memperkenalkan pemuda bernama Angga itu pada Budi.
"Nah, Angga. Ini Mas Budi. Mas Budi ini keponakannya sahabat Bu Dhe yang Bu Dhe kunjungi." Ucap Mulatsih pada Angga setelahnya.
Kedua pemuda itu pun kemudian saling berjabat tangan dan sama memperkenalkan diri masing masing.
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan sampeyan, Mas." Ucap pemuda bernama Angga nampak ramah.
"Iya, Mas. Begitu pun saya." Sahut Budi.
"Jangan panggil saya, Mas. Saya masih bocah, Mas. Yang seharusnya di panggil Mas itu sampeyan. Karena sampeyan saja seumuran kakak saya." Ucap Angga kemudian.
Budi tersenyum, "Panggilan Mas kan tidak harus untuk yang lebih tua, Mas Angga. Ini wujud menghargainya saya pada sampeyan." Sahutnya kemudian.
Angga hanya kemudian ikut tertawa.
"Wah, kalian sepertinya langsung akrab saja." Sela Mulatsih kemudian.
Mendengar itu Budi dan Angga serempak tersenyum.
"Kalau tidak ada acara, mbok ya ikut saya mampir ke rumah, Mas." Ucap Mulatsih pada Budi setelah itu.
"Ngapunten, Bu Dhe. Mungkin lain kali saja. Karena seperti saya bilang tadi Bu Dhe. Teman saya ingin bertemu saya." Sahut Budi kemudian.
"Oh, yasudah kalau begitu." Sahut Mulatsih juga setelahnya.
"Atau kalau ada waktu main main ke rumah saya, Mas Budi. Kebetulan saya punya kakak laki laki seumuran sampeyan." Sela Angga kemudian.
"Emmm, kakak laki laki itu anaknya Bu Dhe Sih?" Tanya Budi kemudian.
"Bukan, Mas Budi. Itu kakaknya Angga sendiri." Potong Mulatsih kemudian.
"Benar, Mas. Kebetulan saya sendiri juga punya kakak laki laki. Ya, meski beda bapak, tapi kakak saya itu ya sudah saya anggap kakak kandung saya." Imbuh Angga kemudian.
"Emmm, begitu. Insya Allah, kapan ada waktu saya akan main main ke rumah Mas Angga." Sahut Budi kemudian.
"Boleh saya minta nomor Mas Angga." Sambung Budi kemudian.
"Oh tentu saja, Mas." Angga segera merogoh ponsel di sakunya.
"Ini nomor saya, Mas." Ucap Angga sembari menunjukkan nomor di layar ponselnya pada Budi.
"Sudah, Mas." Sahut Angga.
"Baiklah kapan kapan kita bisa mengobrol lagi, Mas. Untuk sekarang saya permisi dulu karena saya sudah ada janji dengan teman saya." Ucap Budi kemudian.
"Baik, Mas. Hati hati." Sahut Angga.
"Hati hati, Mas Budi. Sampaikan salam saya untuk teman Mas Bud itu juga pada Mas Nugroho kalau Mas Budi mengunjungi beliau." Imbuh Mulatsih.
"Insya Allah akan saya sampaikan, Bu Dhe." Sahut Budi.
Tak lama setelah itu mereka pun berpisah. Budi segera berlalu dari halaman pusat rehabilitasi jiwa itu, begitu pun Mulatsih dan Angga yang juga segera pergi meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat kemudian.
"Dari mana kamu, Bud?" Tanya Arya begitu melihat Budi datang dan langsung memesan es teh manis di ke penjaga warung tempat Arya berada saat ini.
"Jenguk Bu Dhe saya, Bang." Sahutnya singkat.
"Bu Dhe kamu? Emmm, maksud kamu yang saat ini berada di..." Arya menghentikan ucapannya, ragu untuk meneruskan ucapannya, ia takut menyinggung Budi.
Budi memahami itu, ia pun kemudian mengangguk, "Iya, Bang. Siapa lagi memangnya. Saya juga cuma Bu Dhe satu itu yang sekarang masih di pusat rehabilitasi jiwa." Sahutnya sembari menerima segelas es teh manis.
"Eh, tapi hari ini Bu Dhe saya bertambah satu, Bang. Jadi saya sekarang punya dua Bu Dhe." Lanjut Budi kemudian sebelum menyeruput es teh di tangannya.
Arya nampak mengerutkan kening, ia tak paham maksud ucapan Budi itu, "Maksudnya, Bud?" Tanyanya kemudian.
"Jadi tadi sewaktu saya mengunjungi Bu Dhe saya, Bang. Saya kebetulan bertemu dengan teman Bu Dhe saya. Jadilah kami mengobrol, dan ternyata orangnya ramah. Nyambung juga banyak wejangan dari beliau." Sahut Budi nampak begitu bersemangat.
__ADS_1
"Bu Dhe kamu punya teman, Bud. Apa teman Bu Dhe kamu itu dulunya juga..." Arya lagi lagi menghentikan ucapannya.
Budi sedikit mengerutkan keningnya, menunggu Arya melanjutkan ucapannya.
"Juga apa, Bang?" Tanya Budi kemudian setelah beberapa saat ditunggu Arya tak juga melanjutkan ucapannya.
"Pasien disana, Bud." Ucap Arya lirih.
Budi tertawa mendengar itu membuat Arya mengerutkan keningnya keheranan.
"Kenapa tertawa?" Arya masih saja nampak keheranan.
"Tidak apa apa, Bang. Emmm, teman Bu Dhe saya yang tadi bertemu saya itu bukan pasien, Bang. Beliau teman Bu Dhe saya sejak Bu Dhe saya masih sekolah. Dan dari beliau saya jadi tahu sejarah tentang Bu Dhe saya." Ucap Budi masih menyisakan sedikit senyum di wajahnya.
"Oh, begitu. Saya pikir...".
"Mantan ODGJ begitu?" Potong Budi cepat.
Arya hanya kemudian tertawa begitu ucapannya terpotong.
"Ngomong ngomong, Hexa belum juga kelihatan, Bang. Kemana anak itu?" Tanya Budi kemudian mengganti topik pembicaraan mereka.
"Hmmm, sepertinya dia sedang anteng di pesantren, Bud." Sahut Arya singkat sembari menyalakan sebatang rokok.
"Lalu, soal rencana Bang Arya mengajak saya kemarin. Jadinya kapan, Bang?" Tanya Budi seolah mengingatkan Arya.
Sejenak Arya nampak menghela nafas sembari menghisap dalam dalam sisa rokok di tangannya.
"Mungkin dalam Minggu Minggu ini, Bud." Ucap Arya kemudian.
"Hmmm, apa ada hal yang membuatmu ragu, Bang?" Tanya Budi melihat ekspresi Arya yang sedikit berubah.
Arya menggeleng, "Ragu sih tidak, Bud. Hanya saja..."
Arya menghentikan ucapannya.
"Ah, sudahlah, Bud. Nanti kamu juga akan tahu sendiri." Ucap Arya kemudian, kini ada ekspresi senyum yang seolah dipaksakannya.
Budi hanya sepintas membalas senyum itu, ia pun tidak berkata apa apa lagi setelahnya. Arya pun kini hanya nampak sibuk menghabiskan sisa rokoknya.
Tak lama, Hexa pun samar samar terlihat berjalan mendekat ke arah mereka.
"Saya pikir kami sedang memilih anteng di pesantren, Xa." Ucap Arya begitu Hexa datang menghampiri mereka.
"Bosen lah, Yak." Sahut Hexa singkat.
"Bukankah kamu sedang mengincar santriwati disana?" Sahut Arya juga setelahnya.
"Oh, iya, Xa. Saya sudah dengar itu dari Bang Arya. Sebenarnya siapa gadis yang di maksud Bang Arya dan sedang kamu dekati itu, maaf saya tanya begini karena setahu saya disana tidak ada santriwati meski sudah ada asramanya hanya saja kan belum beroperasi." Sela Budi kemudian.
"Oh, mengenai itu? Sebenarnya saya tidak dekat dengan yang Arya maksud itu, Mas. Emmm, dia juga bukan santriwati disana. Dia itu adiknya teman Arya itu." Sahut Hexa kemudian.
"Adiknya orang itu? Tunggu tunggu, bukankah dia anak tunggal, Xa?" Budi terlihat penasaran setelah mendengar penjelasan Hexa itu.
"Emmm, mengenai itu saya tidak tahu, Mas." Sahut Hexa kemudian.
"Tapi ada satu hal yang saya tahu." Ucap Hexa setelahnya.
"Apa itu, Xa?" Tanya Budi nampak benar benar penasaran.
"Gadis itu sudah lama dekat dengan salah seorang penderek disana, Mas." Ucap Hexa setelah itu.
"Penderek? Siapa?" Tanya Budi memburu.
__ADS_1
"Manan."
Bersambung...