BROMOCORAH

BROMOCORAH
Orang Tak Dikenal


__ADS_3

Manan baru pulang dari membeli rokok ketika didapatinya seorang lelaki paruh baya sedang berdiri bersandar di tembok gerbang Pondok Hidayah. Manan sejenak memfokuskan pandangan ke lelaki itu, sepertinya lelaki itu sedang mengamati sekitar halaman pesantren.


Dengan langkah tenang kini Manan mencoba melangkah mendekat ke lelaki itu.


"Bapak cari siapa?" Sapa Manan dari arah belakang lelaki paruh baya itu.


Seketika lelaki itu terlonjak kaget dan segera memutar badannya.


"Loh, bapak bukannya yang waktu itu juga memata-matai teman saya?" Ucap Manan kemudian.


Lelaki itu nampak gelagapan. Dari wajahnya pun terlihat sangat kebingungan.


"Ada perlu apa bapak ini sebenarnya?" Tanya Manan lagi.


Lelaki itu tidak menjawab. Tapi dari gelagatnya sepertinya lelaki itu ingin segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Saya permisi dulu. Maaf." Ucap lelaki itu. Manan menarik lengan lelaki itu untuk menahannya.


"Saya tidak akan membiarkan bapak pergi sebelum bapak menjawab pertanyaan saya. Ada perlu apa bapak ini sebenarnya?" Manan mengulangi pertanyaannya dengan masih memegang lengan lelaki itu.


"Maaf tapi saya harus pergi." Lelaki itu sedikit meronta. Tapi Manan semakin erat memegang lengan lelaki itu.


"Sebelum saya tahu tujuan bapak. Saya tidak akan melepaskan bapak." Ancam Manan kali ini.


Lelaki itu terdengar menghela nafas. Manan masih mencengkeram lengan lelaki itu.


Duak!!!


Tiba tiba lelaki itu menyikut pinggang samping Manan dengan begitu kerasnya. Seketika Manan melepaskan pegangan pada lengan lelaki itu dan jatuh tersungkur ke tanah.


"Maafkan saya anak muda. Sejujurnya saya tidak ingin menyerang atau bahkan melukai mu. Suatu saat saya harap kamu bisa mengerti. Sekali lagi mohon maafkan saya." Ucap lelaki itu sembari beranjak meninggalkan Manan yang masih mengerang kesakitan.


"Tung...tunggu, Pak. Saya...saya ingin tahu tujuan, bapak." Dengan kondisinya masih menahan sakit Manan masih berusaha menahan lelaki itu.


Lelaki paruh baya itu menoleh sembari tersenyum, "Oh iya, anak muda. Sampaikan salam dan rasa terima kasih saya untuk teman kamu karena sudah menolong saya waktu itu." Ucap lelaki itu kemudian dengan langkah cepat berlalu dari hadapan Manan.


Manan masih merintih kesakitan memegangi pinggangnya. Rasanya seperti dipelintir, kram dan mual bercampur menjadi satu. Dalam kondisinya seperti itu dan teringat ucapan lelaki itu barusan. Manan sepertinya mengingat sesuatu.


Tak lama seorang santri melintas dan melihat Manan yang sepertinya kesakitan. Segera santri itu mendekat dan menanyakan apa yang terjadi pada Manan.


"Kang, Manan? Kang, Manan kenapa? Apa yang terjadi." Sapa santri itu segera mendekati Manan yang masih terlihat menahan rasa sakit.


"Sudah nggak papa. Bantu saya antar kan ke kamar Ajimukti saja." Pinta Manan pada si santri.

__ADS_1


"Baik, Kang." Santri itu segera membantu memapah tubuh Manan. Manan mencoba berdiri sembari masih memegangi pinggangnya yang rasanya masih begitu sakit. Dengan langkah sempoyongan Manan dibantu santri itu berjalan menuju kamar Ajimukti.


Setiba di kamar Ajimukti. Ajimukti dan Dullah tersentak kaget melihat kondisi Manan yang dipapah seorang santri. Segera mereka bangun dan membantu Manan.


"Ada apa ini, Nan?" Tanya Ajimukti.


Dullah segera mengambil segelas air putih dan menyodorkannya ke Manan.


"Diminum dulu, Nan. Biar tenang lalu cerita apa yang terjadi." Kata Dullah sembari menyodorkan segelas air itu ke Manan. Dengan nafas terengah engah Manan menerima segelas air putih itu dan segera meminumnya.


"Maaf saya permisi dulu ya, Kang. Masih ada keperluan lain." Santri yang mengantar Manan undur diri dari kamar Ajimukti.


Manan masih merasakan sakit di pinggangnya. Beberapa kali ia memijat mijat sendiri pinggangnya itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu, Manan?" Sekali lagi Ajimukti bertanya, berharap mendapat jawaban dari Manan.


"Iya, Nan. Apa kamu berkelahi dengan santri lain atau gimana?" Imbuh Dullah juga masih dipenuhi rasa penasaran.


Manan menghela nafas. "Saya tadi melihat ada seorang lelaki seumuran Lek Dul sepertinya sedang memata matai pesantren. Ini sudah yang kedua kalinya saya memergoki dia sedang mengamati pesantren." Manan menata nafasnya.


Ajimukti dan Dullah masih menunggu kelanjutan ucapan Manan.


"Saya tadi mencoba ingin tahu apa yang bapak bapak itu lakukan? Ada keperluan apa? Tapi seperti ketika pertama saya memergokinya. Bapak bapak itu ingin segera pergi. Dan tadi saya mencoba menahannya." Lanjut Manan.


Manan mengangguk, "Tapi setelah itu dia meminta maaf. Dia bilang ini bukan keinginannya." Lanjut Manan lagi.


Ajimukti dan Dullah tercengang. "Lalu?" Tanya Ajimukti lagi.


"Dan setelah itu dia menitip pesan untukmu, Jik." Lanjut Manan lagi.


Ajimukti tersentak. Kini Ajimukti dan Dullah saling bertatapan. "Apa yang orang itu katakan?" Dullah kali ini dipenuhi rasa penasaran.


Manan kembali menghela nafas, "Orang itu bilang titip pesan untuk kamu, Jik. Dan menyampaikan terima kasihnya. Baru setelah itu saya ingat siapa bapak bapak itu."


"Siapa, Nan?" Dengan cepat Dullah memotong. Sementara Ajimukti pun keheranan dan hanya mengerutkan kening.


"Kamu ingat kejadian di pasar kapan itu? Ketika ada penjambretan?" Tanya Manan pada Ajimukti sembari menegakkan badannya. Sepertinya kondisinya sudah jauh lebih baik.


Ajimukti mengangguk, "Iya, saya masih ingat. Lalu apa ada kaitannya dengan kejadian waktu itu, Nan?" Tanya Ajimukti sarat keheranan.


Manan kembali mengangguk, "Ya, bapak bapak yang memukul saya ini, jambret yang waktu itu kamu tolong di pasar, Jik."


Ajimukti terperanjat, dari raut wajahnya dia nampak syok. "A..apa kamu serius, Nan?" Tanya Ajimukti memastikan.

__ADS_1


"Iya, Jik. Ketika pertama saya memergokinya, saya sempat merasa tidak asing. Tapi saya tidak tahu pasti pernah melihat bapak itu dimana. Dan baru tadi saya ingat kalau bapak itu adalah jambret yang waktu itu kamu tolong." Jawab Manan sembari memutar mutar pinggangnya.


Ajimukti mengangguk ringan.


"Menolong jambret? Maksudnya apa, Mas?" Tanya Dullah yang sejak tadi diam karena kebingungan dengan percakapan mereka.


"Iya, Lek. Jadi kapan itu saya sama Manan pas pergi ke pasar berdua itu. Saya dan Manan melihat ada penjambretan. Nah, saya kejar. Tapi setelah itu jambret nya saya kasih uang karena dia melakukan itu pun terpaksa karena istrinya sedang sakit, dia butuh uang untuk menebus obat istrinya." Ajimukti menceritakan kejadian dipasar sore itu.


Dullah mengangguk pelan, sekarang dirinya mulai sedikit paham. "Tapi kenapa kata Manan dia seperti sedang memantau pesantren ini, Mas?" Tanya Dullah setelahnya.


"Itulah Lek yang saya nggak ngerti. Tapi dari cerita Manan barusan, sepertinya orang itu tidak bermaksud jahat." Sahut Ajimukti sembari memegang dagunya.


"Saya pun berpikir seperti itu, Jik. Saya lihat dari sorot mata bapak itu. Sepertinya memang ada sesuatu yang coba bapak itu tutupi dari saya tadi." Imbuh Manan kemudian.


Ajimukti mengangguk ringan, "Ada apa sebenarnya?" Sekali lagi Ajimukti meraba raba dagunya sembari menerawang.


"Mungkin memang kita perlu cari tahu, Jik." Usul Manan. "Saya yakin entah besok atau lusa, bapak itu pasti akan muncul lagi." Imbuhnya kemudian.


"Tapi apa itu mungkin, Nan? Maksud saya setelah dua kali kamu pergoki dia. Apa mungkin dia akan kembali lagi?" Tanya Ajimukti memastikan.


"Mungkin tidak ditempat yang sama, Jik. Menurut saya dia sedang ada perlu dengan kamu. Ketika pertama saya memergokinya pun saya melihat pandangannya tertuju ke arahmu." Lanjut Manan menjelaskan.


"Saya khawatir, Mas. Kalau ndelalah orang itu punya niat jahat sama Mas Aji bagaimana?" Timpal Dullah sedikit menyiratkan kekhawatirannya pada Ajimukti.


Ajimukti menepuk paha Dullah, "Tenang saja, Lek. Saya yakin bapak itu tidak bermaksud jahat." Ajimukti mencoba menenangkan kekhawatiran Dullah.


"Kalau begitu saya ikut mengawasi, Mas. Kalau sampai terjadi apa apa biar saya sikat orang itu. Kebetulan badan saya sudah njarem semua. Lama nggak olahraga." Ucap Dullah bersemangat.


Ajimukti hanya geleng geleng kepala, "Sudah, Lek. Nggak akan ada yang kayak gitu. Kalau pun ada Lek Dul maju duluan lah." Kini Ajimukti tertawa.


"Ngomong ngomong bagaimana, Nan. Masih sakit?" Tanya Ajimukti beralih ke Manan.


"Sudah lumayan, Jik. Kalau tadi rasanya memang nggak karuan." Keluh Manan. "Emmm, sepertinya saya mesti belajar silat sama kamu, Jik. Ya buat jaga jaga kalau kalau terjadi kayak gini. Jadi saya siap." Manan kini sudah mulai sedikit tertawa.


"Masak anaknya Anggoro tukang gebuk, tumbang sama gitu aja." Ejek Dullah sedikit ikut tertawa bersama Manan.


"Lama nggak dilatih, Lek. Jadi kethul." Timpal Manan masih dengan tawanya.


"Tapi saya masih penasaran, Mas. Kalau belum melihat sendiri siapa orang itu." Kini wajah Dullah kembali terlihat serius.


Ajimukti hanya mengangguk, "Saya pun juga, Lek. Entah ada apa dibalik semua ini. Tapi sekali lagi saya yakin, bapak itu pasti tidak ada maksud jahat."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2