BROMOCORAH

BROMOCORAH
Malam Di Teras Langgar


__ADS_3

Setelah hampir delapan jam lebih perjalanan antara Pondok Hidayah dan Fadhlun Muthoriq, tepat selepas Azar mereka pun tiba di ndalem Nyai Kartika. Nyai Kartika yang sudah mendapat kabar sebelumnya memang sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kepulangan Ajimukti dibantu beberapa khodam ndalem.


Beberapa saat setelah Ajimukti melepas rindu kepada ibunda tercintanya Nyai Kartika. Ajimukti pun mengajak Manan untuk berkeliling pesantren Fadhlun Muthoriq. Begitu melihat Gus nya rawuh, beberapa santri segera memberi salam dengan mereka membungkukkan badan.


Manan yang melihat itu sungguh takjub, suasana pesantren ini sama persis ketika Pondok Hidayah masih di asuh oleh Kyai Salim.


"Gimana, Nan. Kamu pasti betah tinggal disini." Seru Dullah yang ketika itu tiba tiba menghampiri mereka.


"Ah, Lek Dul. Sejujurnya saya rindu suasana pesantren yang seperti ini, Lek." Sahut Manan kemudian.


"Berhubung sudah disini, tidak afdhol kalau kamu tidak mampir ke rumah Pak Lek, Nan." Imbuh Dullah kemudian.


"Pasti tho, Lek." Manan terkekeh.


"Oh iya, Jik. Pesantren ini juga didirikan Kyai Salim kah?" Tanya Manan pada Ajimukti kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Betul, Nan. Dulunya, ini rumah peninggalan Simbah dari Sibu untuk ditempati Sibu juga Pak Lek, adiknya Sibu. Tapi setelah Pak Lek meninggal, Sibu berinisiatif mendirikan madrasah. Awalnya hanya anak anak sekitaran sini, termasuk Kang Sobri. Sementara saya waktu itu nyantri di Rembang. Karena semakin banyak warga yang menitipkan anaknya untuk ngaji disini, akhirnya bapak mulai membangun satu persatu lahan yang masih kosong. Ya, meskipun pesantren ini tidak sebesar Pondok Hidayah, Nan." Ceritanya kemudian.


"Jadi bisa dibilang ini anak cabangnya Pondok Hidayah, Jik?" Tanya Manan setelahnya.


"Ya, bisa dibilang begitu, Nan." Sahut Ajimukti.


Perbincangan itu pun berlanjut sembari Ajimukti terus mengajak Manan melihat lihat sekitaran pesantren Fadhlun Muthoriq.


Malam hari suasana pesantren Fadhlun Muthoriq terlihat begitu cerah. Suara beberapa santri yang masih mengaji menambah suasana malam semakin terasa sejuk dirasakan.


Di teras langgar tempat biasa Ajimukti dan Sobri dan beberapa santri biasa menghabiskan malam. Ajimukti sudah bersiap begadang dengan kopi hitam panas juga beberapa bungkus rokok. Disana selain ada Manan, juga ada Hasan dan Wahid, mereka berdua adalah khodam ndalem sekaligus ba'dal Ajimukti mengajar beberapa santri.


"Mari, Nan. Ngopi dulu." Ajimukti mempersilahkan Manan.


"Iya, Kang. Ngopi sama rokok itu kebiasaan ulama kita. Jadi anggap saja meniru ngopi dan rokok'annya ulama, kita kecipratan barokahnya." Celetuk Hasan yang orangnya memang sedikit suka menghibur.


Manan hanya tersenyum sembari menyeruput kopi panasnya.


"Ngopi itu, ngolah pikir, Kang. Jadi kalau sudah ngopi, Insya Allah pikiran ini jadi lancar, jadi buat ngaji itu sat set gitu." Lagi lagi Hasan berkelakar membuat yang lain tertawa.


"Dan jangan lupa Kang Manan. Rokoknya." Wahid juga tak mau kalah, setelah dirinya menyalakan sebatang rokok dia pun menawarkan rokok pada Manan.


"Benar, Kang. Apalagi habis makan. Mantap. Seperti pepatah, ni'matan ududan ba'da daharan." Lagi lagi Hasan menimpali dengan leluconnya.


"Harus jadi ahli hisab di dunia biar nanti nggak di hisab di sananya." Timpal Wahid.


"Apa iya begitu, Jik?" Manan beralih ke Ajimukti yang sejak tadi hanya tertawa ketika mendengar celetukan Hasan.

__ADS_1


"Sudah pokoknya kalau mau merokok, niati saja menghilangkan stres kamu, Nan. Maka itu sudah menjadi ibadah, soalnya kalau kamu stres ya malah bikin orang lain susah." Ajimukti pun kemudian tertawa diikuti yang lain.


"Berarti halal ya, Gus?" Hasan kemudian bertanya diantara tawanya.


"Halal, wis gitu saja kok repot." Ajimukti menghisap rokoknya dalam dalam, yang lain lagi lagi tertawa.


"Kamu, San San. Kita ini sudah miskin, masih mau menawar hukum pula. Hadegh." Wahid kembali nyeletuk.


"Tapi tahu tidak, Kang. Setelah saya teliti haji sama rokok dan kopi itu mahalan rokok dan kopinya lho, Kang. Padahal kalau laki laki kayak kita ini, ngopi saja pakai selera, belum lagi yang bapak bapak, ngopi sampai cari warung yang jaraknya tiga kilo, cuma biar lepas dari pantauan istrinya. Lah, itu malah habis berapa itu? Misal kopi secangkir tiga ribu, rokok tiga batang lima ribu, itu sudah delapan ribu, jarak rumah sampai warung habis bensin dua ribu, itu sudah habis berapa? Sepuluh ribu. Sepuluh ribu sehari, sudah haji plus plus itu, Kang." Celetuk Ajimukti.


Manan yang baru pertama mendengar obrolan ini nampak hanya tertawa sendiri.


"Wah, gawat berarti ini, Gus." Wahid pun tak mau kalah.


"Gawat ngopo e, Kang?" Hasan menoleh ke Wahid.


"Ya, berarti selama kita bisa rokok'an sama ngopi, kita ini tergolong kaya lho kalau di pikir pikir. Bisa gagal lolos hisab ini. Kan katanya orang miskin nggak di hisab." Wahid kembali berceloteh membuat Ajimukti kembali tertawa.


"Kalau Allah itu menghitung per mitsqala dzarroh, Kang. Hal sekecil apapun Allah hitung. Meriang sampeyan, Kang." Hasan menimpali.


"Walah, gak sido kaji, hisap tetep nglakoni, jalaran ngopi." Gumam Wahid dengan gaya khasnya.


"Yang kena hisab karena tidak haji itu semuanya, Kang. Nah lho. Piye iku?" Hasan menambahi.


"Eh, ngeyel. Makanya, Kang. Kalau orang mlarat kayak kita ini kalau Jum'atan usahakan di shoff awal. aljumu'atu hajjul-fuqaraa' Wal-masakin. Soalnya kalau nggak di shoff awal, entar kalah sama orang kaya yang sudah haji. Wis kaji jik melok Jum'atan shoff ngarep pisan. Repot, Kang. Kita kebagian apa coba?" Lagi lagi Hasan membuat Ajimukti dan yang lain tertawa terpingkal.


"Ah, kamu, San San. Ajian pengawuranmu itu lho." Wahid nampak geleng geleng.


Perbincangan itu pun berlanjut hingga malam semakin larut. Manan yang baru pertama kali merasakan obrolan seperti ini begitu terasa betah berlama lama di teras langgar itu.


"Saya dengar dari Mbah Lurah, katanya njenengan sempat ada masalah sewaktu di Pondok Hidayah? Apa itu benar, Gus?" Tanya Wahid ketika obrolan mereka sudah semakin panjang. Mbah Lurah adalah panggilan Dullah di pesantren Fadhlun Minallah.


"Sudah beres, Kang. Hanya masalah kecil yang perlu di luruskan. Sekarang semua sudah beres." Sahut Ajimukti kemudian.


"Memang banyak sekarang, Gus. Orang orang mengatasnamakan agama untuk hal hal pribadi. Sangat disayangkan orang orang munafik seperti itu." Sahut Hasan.


"Benar, Kang. Tapi sebagai pengingat kita juga, Kang. Orang munafik jangan gampang di cap saat ini. Misal ada orang yang membodohi kita, jangan langsung kita cap munafik, takutnya malah kita yang riyak dan merasa sudah berilmu tinggi. Saya sering mewanti wanti pada para santri, jangan mentang mentang kita ini santri, orang pondokan, begitu kita bilang sesuatu tentang agama lalu ada orang yang mendustai apa yang kita sampaikan lalu kita bilang orang itu munafik. Karena kita pun belum tentu benar. Nah, kalau kita belum tentu benar, berarti yang mendustakan itu pun belum tentu jelas kemunafikannya." Jelas Ajimukti menanggapi ucapan Hasan.


"Itu, San. Dengerin kalau Gus Aufa ngendikan. Kamu itu jangan tik tik bilang munafiq. Ndak kulino." Timpal Wahid.


"Ngapunten, Gus." Hasan sedikit malu atas ucapannya.


Ajimukti hanya tersenyum, "Tidak masalah, Kang. Soalnya di jaman akhir ini, kita memang susah membedakan, mana orang alim mana orang munafik."

__ADS_1


"Saya ada cerita, Kang. Dulu di jaman Sayyidina Abu Bakar. Sayyidina Abu Bakar pernah ditipu seseorang, lalu pengikut beliau yang mendengar itu pun marah marah bahkan mau membunuh orang yang sudah menipu beliau itu. Jawabnya abu bakar, laysa dzalika liahadin ba'da rasulillaahi Shalallahu 'alaihi wasalam. Hanya Nabi yang jika dimana orang yang mendustakannya akan jadi munafik. Sedangkan orang yang mendustakanku tidak jadi munafik. Wis biasa wae. Jadi gampangane, Kang. Jangan ada pengadilan ekstrim, seperti pengadilan terhadap orang yang mendustakan Rasulullah. Karena Rasulullah pasti benar. Bukannya Sayyidina Abu Bakar juga benar? Ya, benar. Tapi tensinya tidak sampai orang boleh dibunuh karena mendustakan beliau." Jelas Ajimukti kemudian.


"Tapi kita juga khawatir jika sampai terjadi apa apa dengan njenengan, Gus. Karena bagaimana pun kami masih butuh bimbingan njenengan." Sahut Hasan yang nampak masih sedikit malu karena satu kesalahan ucapnya.


"Apapun yang akan orang lakukan pada kita, biarkan, Kang. Sebenarnya saya pun kemarin membuat kesalahan juga. Tidak seharusnya saya sekelewatan itu sama Kyai Aminudin." Ajimukti menghela nafasnya.


"Sudah, Jik. Kamu sudah tepat. Dan saya lihat memang butuh sedikit pelajaran untuk membuat Kyai Aminudin menyadari kesalahannya. Toh, sekarang kamu berhasil kan?" Timpal Manan yang tahu betul kejadian saat itu.


"Benar, Gus. Saya pun hanya mendengar dari cerita Mbah Lurah jadi geram sendiri. Jadi saya pun membenarkan apa yang njenengan lakukan waktu itu." Imbuh Wahid kemudian.


Ajimukti hanya tersenyum kemudian kembali menyeruput kopi yang sudah dingin.


"Sampeyan sampeyan ini nggak salah kalau jadi santrinya bapak." Celetuk Ajimukti kemudian.


Hasan dan Wahid justru saling pandang dan tidak paham dengan ucapan Ajimukti.


"Kenapa memangnya, Gus?" Tanya Hasan kemudian.


"Pokoknya begitulah." Ajimukti malah membuat mereka penasaran, kemudian kembali tertawa.


Obrolan itu pun terus berlanjut, sementara malam pun semakin larut. Selain perbincangan mereka diteras langgar itu, yang terdengar hanya beberapa daun kering yang bergesekan karena tiupan angin, juga nyanyian nyanyian serangga malam.


"Sepertinya sudah waktunya kita istirahat, Kang. Tapi sebelum itu saya ada cerita. Ini kisah nyata yang datang dari Pasuruan. Kalian tentu tahu kan Mbah Hamid Pasuruan kan? Beliau itu kan ulama Masyhur di Pasuruan. Nah, suatu ketika pernah ada tiga orang mabuk. Tiga orang mabuk itu kemudian bertengkar. Gara garanya apa? Dirumah itu ada fotonya Mbah Hamid. Nah, si Shohibul bait pangunci itu berkata, yok opo rek, ojok mabuk ndek kene, sungkan karo Mbah Hamid. Terus, temannya yang lain jawab, gak popo mung foto thok! Nah, kemudian mereka pun bertengkar, sama sama pangunci bertengkar cuma gara gara fotonya Mbah Hamid. Ini yang melerai pun bingung. Mau tertawa takut dosa. Pemabuk bertengkar karena khilaf." Mendengar cerita Ajimukti itu pun sontak membuat Hasan dan Wahid juga Manan tertawa.


"Wah, nggak jadi ngantuk ini, Gus." Celetuk Hasan.


"Berarti sampeyan calon orang hebat, Kang." Sahut Ajimukti.


"Aamiin, Gus. Eh, tapi kok bisa, Gus?" Tanya Hasan kemudian


"Ya, kan kata Gus Muwafiq, Jika ingin menjadi orang hebat, maka kalahkan rasa ngantuk, Kang." Sahut Ajimukti seraya bangun dari duduknya.


Tak lama Ajimukti dan Manan pun beranjak dari teras langgar itu. Sementara Hasan dan Wahid, setelah membereskan gelas kopi dan membersihkan teras langgar, mereka pun juga kembali ke kamar mereka.


"Kita istirahat, Nan. Besok kita jalan jalan, mumpung kamu disini." Ucap Ajimukti pada Manan.


"Iya, Jik. Oh iya, Jik. Boleh saya tanya sesuatu."


"Silahkan, Nan. Tapi kalau pertanyaannya yang berat berat, jawabnya ngutang dulu ya." Celetuk Ajimukti sembari terkekeh.


"Nggak kok, Jik. Ini soal pangunci tadi. Apa sih itu, Jik. Kok saya baru dengar istilah seperti itu ya?" Ucap Manan sembari garuk garuk kepala.


"Oh itu, itu istilah orang sini, Nan. Pangunci itu paguyuban ngunjuk ciu."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2