BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kesadaran Ajeng


__ADS_3

"Sudah belum Bang makannya. Kalau sudah gantian dong. Kalau mau ngobrol mending diluar saja. Disini itu tempat makan."


Mendengar teguran seorang pemuda yang usianya mungkin empat lima tahun dibawahnya itu, Ajimukti hanya kemudian melempar senyum.


"Oh, kami sudah. Monggo kalau mau duduk." Ajimukti mempersilahkan pemuda itu duduk setelah sebelumnya ia berdiri dari duduknya dan memberi isyarat pada Khalil dan Imam. Khalil dan Imam yang sempat ingin naik darah karena sikap pemuda itu pun kemudian hanya bisa nurut saja ketika Ajimukti memberi mereka isyarat.


Ajimukti segera menuju ke tempat si penjual untuk membayar makanannya.


"Loh, kok buru buru banget, Mas Aji. Kopinya juga belum dihabiskan." Ucap si penjual itu ramah.


"Tidak apa apa, Kang. Kebetulan warung sedang ramai. Tidak enak sama pengunjung yang lain." Sahut Ajimukti.


"Sebenarnya karena pemuda itu, Kang. Mentang mentang kami sudah selesai lalu ngobrol, e dia malah nyolot." Ucap Khalil sedikit masih kesal dengan pemuda itu.


Ajimukti pun kembali memberi isyarat pada Khalil untuk tidak memperpanjang masalah ini.


"Benar begitu, Mas?" Tanya si penjual nampak tidak enak dengan Ajimukti.


"Tidak apa apa, Kang." Sahut Ajimukti kemudian.


"Jadi berapa, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian


"Jadi totalnya tujuh puluh dua ribu, Mas. Sudah tujuh puluh saja." Ucap si penjual itu.


Ajimukti menyodorkan uang lima puluhan ribu dua puluhan ribu juga lima ribuan.


"Kelebihan, Mas." Si penjual itu mengembalikan lima ribuan Ajimukti.


"Tujuh puluh dua kan, Kang? Sudah sisanya buat sampeyan saja." Balas Ajimukti.


"Tapi, Mas..."


Ajimukti menahan ucapan si penjual itu dengan isyarat tangannya.


"Pemuda itu namanya Hexa, Mas. Dia baru lulus SMA tahun ini. Anaknya memang kurang punya unggah ungguh. Sejak SMA, dia sering nongkrong di warung saya, bahkan kalau bolos sekolah sama teman temannya, dia bisa dari pagi sampai sore di warung saya ini." Ucap si penjual itu kemudian.


Ajimukti kemudian hanya mengangguk lalu melirik ke arah pemuda itu.


Dari penampilan pemuda itu sepertinya ia anak orang berada. Itu terlihat dari pakaian bermerk yang pemuda itu kenakan.


"Yasudah kalau begitu, Kang. Kami permisi dulu." Ucap Ajimukti setelah itu, lalu mengajak Khalil dan Imam beranjak dari warung makan itu.


"Benar benar ingin saya kasih pelajaran anak itu tadi, Gus." Ucap Khalil masih kesal.


Ajimukti tersenyum, "Sudah, Kang. Tidak apa apa. Benar yang dikatakan pemuda tadi. Tidak seharusnya kita sudah selesai makan tapi malah masih mengobrol. Kasihan pengunjung lain." Sahut Ajimukti kemudian.


"Tapi njenengan tadi juga dengar sendiri bapaknya warung tadi bilang kalau dia saja bisa berlama lama disana, Gus. Kok, sekarang malah nyuruh orang lain buru buru pergi." Timpal Imam.


Sekali lagi Ajimukti tersenyum, "Biarkan saja, Kang. Kalau kita meladeni pemuda labil semacam itu. Kita justru tidak jauh beda dengan pemuda itu tadi, Kang."


Khalil dan Imam pun kemudian hanya mengangguk dan kemudian diam lalu terus berjalan mengekor di belakang Ajimukti berjalan ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari warung itu.


Sementara itu, tak jauh dari Pondok Hidayah. Manan sedang mengambil ayam potong di rumah Prastowo, ketika Ajeng tiba tiba menegurnya.


"Tumben sendiri saja, Nan?" Tanya Ajeng ketika Manan sedang menata daging ayam itu ke dalam box besar.

__ADS_1


"Khalil sama Imam ikut Ajik ke pasar belanja, Jeng." Sahut Manan masih sibuk menata daging itu.


"Emmm..." Ajeng mengangguk anggukan kepalanya.


"Emang Kang Sobri kemana? Kok tidak kamu ajak buat menemani?" Tanya Ajeng kemudian.


"Tadi sewaktu saya kesini, Kang Sobri masih nyuci. Dari pada nunggu dia keburu siang. Yasudah saya berangkat sendiri saja." Sahut Manan sembari berjalan ke arah kran untuk mencuci tangannya.


"Ngomong ngomong, kamu belum juga dapat kabar dari Nafisa, Nan?" Tanya Ajeng tiba tiba.


Manan yang baru saja duduk tak jauh dari Ajeng sedikit tersentak dengan pertanyaan Ajeng yang tiba tiba itu. Ia hanya kemudian menggeleng.


"Blas, sama sekali?" Tanya Ajeng lagi sedikit menekan.


"Iya, Jeng. Sejak saat itu. Saya sudah tidak bisa menghubungi dia." Sahut Manan dengan suara berat.


Ajeng mengerti dengan perasaan Manan saat ini. Sejujurnya dia menyesal setelah bertanya itu. Tidak seharusnya ia mengungkit soal Nafisa itu lagi.


"Maaf ya, Nan." Ucap Ajeng lirih.


"Maaf buat apa, Jeng?" Tanya Manan tanpa menoleh ke arah Ajeng.


"Sudah tanya tanya itu lagi. Tidak seharusnya saya mengungkit itu. Bikin kamu ingat lagi kan?" Ucap Ajeng terdengar penuh sesal.


Manan tersenyum, "Tanpa kamu tanya pun saya sedikit pun tidak bisa lupa dari dia, Jeng. Setiap saat juga ingat dia. Jadi kamu tidak usah semenyesal itu gara gara bertanya itu." Ucapnya kemudian.


Ajeng tersenyum. Sejujurnya ia pun tahu dan membenarkan pernyataan Manan itu. Ia tahu seberapa berartinya Nafisa untuk Manan saat itu bahkan sampai saat ini. Belum ada satu sosok pun yang pernah sedikit pun menggeser Nafisa di hati Manan sejauh ini.


"Kamu yang sabar ya, Nan. Mudah mudahan buah kesabaran kamu ini kelak bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan." Ucap Ajeng pada akhirnya.


"Sebenarnya ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kamu, Jeng." Ucap Manan kemudian dengan suara berat.


Ajeng sedikit menoleh ke arah Manan. Dahinya berkerut tanda ada rasa penasaran menyelinapi pikirannya.


"Soal apa itu, Nan?" Tanyanya kemudian.


Manan sekali lagi menghela nafas, "Soal Kang Sobri."


Ajeng semakin penasaran, lagi lagi ia mengerutkan keningnya.


"Kang Sobri? Ada apa dengan Kang Sobri, Nan? Apa sesuatu terjadi padanya atau...?"


Manan menoleh ke arah Ajeng. "Kenapa kamu jadi seheboh itu sih, Jeng?" Potongnya kemudian.


Ajeng kemudian nampak gelagapan dan mulai salah tingkah.


"Tidak, Nan. Habisnya kamu mau bicara tapi soal orang lain. Kan saya jadi... Emmm... Ah sudahlah." Ajeng nampak malu malu.


"Apa kamu naksir sama Kang Sobri, Jeng? Bukankah kamu sebelumnya naksir sama Ajik?" Tanya Manan tanpa basa basi lagi.


"Saya? Naksir Kang Sobri? Ya tidak lah, Nan. Kamu ini bercanda saja, lho." Meski berkata begitu namun Manan melihat sikap Ajeng agak sedikit berbeda.


"Kalau memang iya. Saya justru bersyukur, Jeng. Karena sebenarnya hal itu yang ingin saya bicarakan ke kamu." Ucap Manan lirih diantara desah nafasnya.


Lagi lagi Ajeng mengerutkan keningnya, "Maksud kamu, Nan?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Sepertinya Kang Sobri menyimpan perasaan ke kamu, Jeng." Ucap Manan setelah itu.


Ajeng sedikit tersentak lalu menelan ludah, "Ahh, Kamu itu ngaco, Nan. Mana mungkin itu, Nan." Ajeng sejenak mengibaskan tangannya.


Manan mendongak lalu menoleh dan tersenyum.


"Saya pikir kamu cukup bisa membaca sikap Kang Sobri, Jeng." Ucapnya sembari berdiri.


"Yasudah ya, Jeng. Saya mau kembali ke pesantren dulu. Keburu siang, nanti malah tidak nyandak waktu masaknya." Lanjutnya sembari menaikkan box ke atas motor.


"Hmmm, hati hati, Nan." Ucap Ajeng begitu Manan mulai menyalakan mesin motornya.


"Nitip salam buat Kang Sobri tidak?" Goda Manan kemudian.


Ajeng hanya kemudian memukul bahu Manan. "Kamu itu lho, Nan. Ngawur!"


Manan hanya tersenyum melihat wajah Ajeng mulai memerah lalu bergegas menarik gas motornya dan berlalu dari rumah Prastowo itu.


Seperginya Manan dari rumahnya, Ajeng kembali duduk ditempatnya tadi. Ia pun tersenyum sendiri.


"Saya sedang mencoba menata keyakinan saya, Nan. Bagaimana pun saya tahu meski semua berusaha menutupinya. Saya cukup sadar diri jika harus memaksa hati saya untuk bertahan dengan ego saya untuk tetap mempertahankan perasaan saya pada Kang Aji hanya akan membuat hati saya sakit. Saya tidak tahu apa saya salah ketika menjatuhkan rasa ini pada Kang Sobri. Saya hanya berusaha meyakinkan hati saya sendiri bahwa ini bukan pelarian saya saja, Nan. Saya melihat ketulusan di mata Kang Sobri. Mudah untuk kita jatuh cinta pada orang yang mencintai kita." Batin Ajeng seraya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya lalu kemudian kembali melamun sendiri.


Ketika tiba di Pondok Hidayah, Manan berpapasan dengan Ajimukti yang baru saja tiba juga di pesantren. Khalil dan Imam yang melihat Manan membawa box berisi daging ayam segera membantunya menurunkan dari atas motor.


"Terima kasih, Lil." Ucap Manan kemudian.


"Kamu sendiri saja, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Iya, Jik. Soalnya Kang Sobri tadi saya lihat sedang mencuci. Yasudah sendiri juga bisa, Jik." Sahut Manan sembari memarkir motornya.


"Harusnya tadi nunggu kita, Nan. Biar ada yang bantu." Sela Khalil kemudian.


"Walah, keburu tidak sampai waktunya nanti, Lil. Yasudah ayo kita bawa ke dapur saja." Ucap mana kemudian.


"Iya, Kang Khalil. Sampeyan bantu Manan saja angkat itu. Biar yang di mobil saya sama Kang Imam yang bawa." Ucap Ajimukti sembari membuka bagasi mobilnya.


"Tidak apa apa, Gus?" Tanya Khalil lagi.


"Sudah, tidak apa apa." Ajimukti mengibaskan tangannya lalu segera menyusul Imam menurunkan barang belanjaan mereka.


"Gus Aufa luar biasa ya, Nan. Saya sampai sekarang masih suka menyesal atas perlakuan saya dulu." Ucap Khalil saat mengangkat daging ayam ke dapur.


"Sudah, Lil. Tidak usah dipikirkan. Toh, Ajik saja sudah tidak pernah mengungkitnya. Sekarang itu yang penting kita rigenke dia ngurus pesantren ini sambil kita juga ngaji, Lil." Sahut Manan.


Khalil mengangguk, "Kamu benar, Nan. Beruntung sekali saya sekarang bisa dekat dengan Gus Aufa."


"Ajik itu sama persis dengan Kyai Salim, Lil. Sayang kamu belum sempat bertemu beliau. Ajik dan Kyai Salim itu di depan bisa jadi panutan, di tengah ngrangkul, jika disuruh di belakang pun dia tawaduk. Jarang sekali ulama seperti dia dan Kyai Salim, Lil. Rata rata, yang ada pada saling berebut menunjukkan eksistensinya untuk berada di yang paling depan." Ucap Manan setelah itu.


"Iya, Nan. Kamu benar. Itu yang harus kita contoh dari Gus Aufa." Sahut Khalil.


"Kapan ada waktu, kamu cerita ya soal Kyai Salim. Biar pun saya belum sempat bertemu beliau, tapi saya ingin belajar hidup dari beliau lewat orang orang yang sempat dekat dengan beliau." Ucap Khalil kemudian.


Manan hanya tersenyum, lalu membuka pintu dapur dengan tangannya sebelah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2