BROMOCORAH

BROMOCORAH
Obrolan Membosankan


__ADS_3

"Soal tawaran saya tadi bagaimana, Bli?" Ulang Ajimukti sekali lagi.


Nyoman kemudian tertawa.


"Masih saja kamu membahas itu, Bli." Ucap Nyoman kemudian meraih gelas kopinya dan menyesapnya sekali.


"Saya bukan maksud menolak, Bli. Hanya saja saya sendiri sedang merangkak saat ini." Sahut Nyoman lagi.


Ajimukti tersenyum, "Bli, ada unen unen Jawa mengatakan, Ojo ngoyak kadonyan, oyak'en akherat, ndonyamu bakal ketut." Ucap Ajimukti sembari kembali menepuk paha Nyoman meyakinkan.


"Saya tahu, Bli. Tapi kamu tahu sendiri lah, Bli." Sahut Nyoman kemudian.


"Justru karena saya tahu saya mengatakan itu, Bli." Desak Ajimukti lagi.


Nyoman hanya kemudian menghela nafasnya panjang.


"Sebenarnya ada hal lain, Bli. Sebenarnya saya ingin menyembunyikan ini. Tapi berhubung kamu terus mendesak saya, sementara jika saya tolak hanya akan semakin membuat saya merasa bersalah. Mungkin sebaiknya saya beritahu kamu, Bli. Tapi saya harap kamu jaga rahasia ini." Ucap Nyoman kemudian.


Ajimukti mengerutkan kening, begitu juga Sobri yang sejak tadi hanya diam, kini lebih memfokuskan pandangannya pada Nyoman.


"Ada apa, Bli?" Tanya Ajimukti sarat penasaran.


Sekali lagi Nyoman menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya kuat kuat.


"Saya sebenarnya sedang berkonsentrasi pada salah satu majelis, Bli. Tidak banyak memang tapi mereka Istiqomah. Itu alasan yang memberatkan saya." Ucap Nyoman kemudian.


Mendengar itu Ajimukti nampak menghembuskan nafasnya lega, lalu tersenyum setelahnya.


"Bli, Bli, kenapa tidak berterus terang saja. Itu kan kabar bagus. Saya sampai deg degkan, saya pikir ada masalah apa. Tidak tahunya seperti itu. Hmmm, bagus lah, Bli." Ucap Ajimukyi setelahnya.


Nyoman hanya kemudian tersenyum.


"Maafkan saya, Bli. Saya sudah berprasangka tidak baik sama kamu." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Tidak apa apa, Bli. Saya sebenarnya enggan sekali untuk menceritakan ini, tapi ya itu tadi. Berhubung saya tidak enak sama kamu kalau saya menolak tawaran kamu tadi. Yah, mau tidak mau saya terus terang saja." Sahut Nyoman kemudian.


"Saya jadi penasaran dengan majelis kamu itu, Bli." Ucap Ajimukyi setelah itu.


Nyoman tersenyum, "Silahkan, Bli. Kapan ada waktu mampir ke rumah saya. Saya ajak bertemu rekan rekan saya."


"Tentu saja, Bli. Nanti juga kamu harus mengajak mereka berkunjung ke pesantren, Bli. Harus itu." Sahut Ajimukti setelahnya.


"Insya Allah, Bli. Mereka yang kebetulan mempercayakan saya untuk menyalurkan apa yang sudah saya dapat dulunya adalah orang orang yang tidak pernah di pandang baik oleh sebagian masyarakat, Bli." Ucap Nyoman kemudian.


"Maksud kamu, Bli?" Tanya Ajimukti penasaran.


"Mereka adalah mantan preman, Bli. Oleh karenanya saya beri nama majelis saya itu Ekspresho, Bli." Sahut Nyoman kemudian.


"Ekspresho? Namanya unik sekali, Bli." Sahut Ajimukti juga.


"Yah, begitulah, Bli. Karena kami kumpul kumpul hanya untuk membaca maulid sama ngopi saja. Lalu sedikit sedikit saya selipin kajian, Bli. Yang ringan ringan saja, yang penting bisa mereka terima." Ucap Nyoman kemudian.


"Masya Allah, luar biasa sekali, Bli." Ajimukti nampak bersemangat mendengar itu.


"Lalu Ekspresho itu sendiri pasti ada maknanya kan, Bli?" Lanjut Ajimukti bertanya.


Nyoman tertawa ringan, "Itu hanya kepanjangan saja, Bli. Ekspresho itu Eks Preman berSholawat, Bli." Jelasnya kemudian.


Ajimukti tersenyum sembari mengangguk anggukan kepalanya.


"Itu luar biasa sekali, Bli. Saya benar benar kagum sama kamu." Puji Ajimukti lagi.


"Ya, mereka sudah bisa sholawat saja saya sudah senang, Bli. Makanya saya ingin benar benar mendampingi mereka sampai mereka benar benar menemukan jalan yang di ridhoi Allah, Bli." Sahut Nyoman kemudian.


"Saya sangat terkesan dan mendukung itu, Bli. Jika butuh apa apa untuk kelangsungan Ekspresho, kamu bilang saja, Bli." Ucap Ajimukti kemudian.


"Matur suksma sebelumnya, Bli." Sahut Nyoman setelahnya.

__ADS_1


"Teruskan, Bli. Teruskan niat baik kamu itu." Imbuh Ajimukti kemudian.


Nyoman tersenyum, "Saya hanya ingin memperbaiki hati mereka dulu saja, Bli. Memperbaiki hati mereka untuk menyelamatkan akhirat mereka." Ucapnya kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Benar, Bli. Saya setuju. Saya pun mencoba mempraktikkan itu, Bli.".


"Sulit, Bli. Memang sulit. Tapi memang begitulah caranya. Perbaiki hati dan hati akan memperbaiki pikiran, lalu pikiran akan memperbaiki lisan, kemudian lisan akan memperbaiki hidup hingga pada akhirnya hidup akan memperbaiki akhirat. Berawal dari hati yang baik, Insya Allah akan berakhir dengan akhirat yang baik pula. Bukan begitu, Bli?" Ucap Nyoman setelahnya.


"Benar, Bli. Hati adalah poros dari segala perputaran. Kendalikan porosnya maka putaran itu bisa kita kendalikan." Imbuh Ajimukti.


Mereka pun akhirnya sama sama mengangguk dalam kesarujukan.


Sementara Ajimukti masih melanjutkan obrolannya dengan Nyoman ditemani Sobri. Ditempat lain, Manan nampak sedang melamun sendiri di teras masjid pesantren.


Tak lama nampak seseorang datang menghampirinya.


"Apa kamu merasa kehilangan sesuatu?" Suara itu seketika menyadarkan Manan dari lamunannya dan segera menengadahkan kepalanya melihat si pemilik suara.


"Kamu, Hexa. Mengagetkan saja." Sahut Manan yang memang benar benar sempat terkejut.


"Maaf. Bagaimana dengan yang saya tanyakan barusan?" Ucap Hexa dingin dan datar.


"Pertanyaan? Pertanyaan apa, yang mana?" Tanya Manan kebingungan.


Hexa nampak menghela nafas, "Apa kamu merasa kehilangan sesuatu?" Ulangnya kemudian.


Manan mengerutkan keningnya seolah berpikir sesuatu.


"Yang hilang? Apa ya?" Gumamnya sembari masih berpikir.


Tak lama ia pun teringat dengan foto yang memang tiba tiba tidak ada, namun dia sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Memang, tapi itu..."


"Apa foto ini?" Potong Hexa sembari menunjukkan foto yang ia keluarkan dari saku bajunya.


"Benar, itu milik saya. Bagaimana bisa ada di kamu!" Tanya Manan kemudian.


"Yasudah. Lain kali simpan baik baik agar tidak terjatuh!" Ucap Hexa kemudian tanpa memperdulikan pertanyaan Manan.


Manan hanya kemudian menerima foto yang di sodorkan Hexa padanya. Setelah Manan menerima itu, tanpa berkata kata lagi, Hexa segera melenggang berlalu dari hadapan Manan.


"Hexa! Tunggu!" Seru Manan.


Hexa segera menghentikan langkahnya lalu kembali menoleh ke arah Manan.


"Apa lagi?" Ucapnya masih tetap dingin dan datar.


"Terima kasih."Ucap Manan setelahnya.


Hexa tidak menyahut, ia hanya kembali memutar kepalanya dan kembali mengayunkan kakinya untuk menjauh.


"Kenapa harus buru buru? Tidak bisakah kita mengobrol sebentar?" Seru Manan setelahnya.


Sekali lagi Hexa menghentikan langkahnya, kali ini ia nampak menghela nafasnya.


"Apa yang mau di obrolkan? Paling juga obrolan yang membosankan." Sahut Hexa tanpa menoleh.


"Bagaimana kamu yakin kalau obrolan itu akan membosankan?" Sahut Manan sembari sedikit melangkah mendekat ke arah Hexa.


Hexa mendengus, "Obrolan tentang obsesi besar untuk masuk surga. Hah, apa itu bukan sebuah obrolan yang membosankan?"


"Apa kamu tahu bagaimana surga?" Tanya Manan kemudian.


"Saya tidak tahu, juga tidak ingin tahu." Sahut Hexa kali ini suaranya terdengar lirih dan mengejek.


Manan mengangguk, "Berarti kamu tidak terobsesi untuk masuk surga ya? Pantas kamu bilang obrolan tentang hal hal yang baik yang mendatangkan pahala kamu anggap membosankan." Ucapnya dengan nada sedikit mengejek juga.

__ADS_1


"Hampir separuh waktu saya dalam sehari saya habiskan untuk mendengar ceramah, jadi kalau obrolan itu lebih ke ingin menceramahi saya. Sebaiknya cari pendengar yang lain." Sahut Hexa.


"Loh, siapa yang ingin menceramahi kamu?" Sahut Manan juga setelahnya.


"Anggap saja tidak." Sahut Hexa pula.


"Sudah kan obrolannya?" Lanjutnya kemudian.


Manan menyunggingkan bibirnya. "Sebenarnya kita bisa betah mengobrol jika saja ada waktu." Ucap Manan lirih setelahnya.


"Tentu saja. Dimana pun tempat, perdebatan memang membuat waktu tak terasa selama apapun itu." Sahut Hexa.


"Jadi kamu menganggap obrolan kita ini sebuah perdebatan?" Tanya Manan menyelidik.


Hexa tak lagi menyahut, setelah sempat tersenyum kecut dia pun kembali mengayunkan kakinya melangkah menjauhi Manan. Manan hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepergian Hexa itu.


Meski ucapan ucapan Hexa terdengar ketus dan tidak enak di dengar, namun kali ini Manan berusaha untuk sabar dan menyikapinya dengan tenang. Setidaknya, dia melakukan itu demi rasa pekewuhnya pada Ajimukti.


Manan mengamati foto yang baru saja di berikan Hexa padanya itu. Seketika ada senyum mengembang di bibirnya.


"Semoga ada kesempatan yang mempertemukan kita lagi. Entah kapan itu." Gumamnya diantara desah nafasnya sebelum akhirnya pergi berlalu meninggalkan tempat itu.


Sementara itu tak jauh dari tempat Manan berada sebelumnya. Ada santri yang diam diam mengamati dan tanpa sengaja mendengar obrolan Manan juga Hexa barusan.


"Kamu lihat kan, Lil. Bagaimana sikap Hexa pada Manan. Padahal yang kita tahu Manan lah yang sempat menghajar anak itu. Tapi sepertinya anak itu tidak ada kapoknya." Ucap Imam pada Khalil yang berada di sebelahnya.


"Sudah, Mam. Itu bukan urusan kita. Kalau kita ikut emosi, kita tidak lebih baik dari Hexa. Bahkan Hexa mungkin lebih baik dari kita." Sahut Khalil sembari melangkah berlalu dari tempatnya berada saat ini.


Imam mengerutkan kening, "Kenapa begitu, Lil? Apa maksudnya?" Tanya Imam sarat keheranan.


"Ya, jelas Hexa lebih baik, Mam. Coba kamu pikirkan. Hexa tidak suka pada siapa dia tunjukkan terang terangan. Lah kita? Justru sikap ketidaksukaan kita, hanya bisa kita tunjukkan di belakang. Pengecut sekali." Sahut Khalil setelahnya.


Imam seketika tertawa.


"Kenapa kamu tertawa, Mam?"


"Tumben kamu bijak sekali, Lil?"


Khalil tersenyum kecut, "Itu kata Gus Aji yang pernah saya dengar, Mam."


"Ah, pantas saja. Seumur umur saya kenal kamu, Lil. Kamu tidak pernah bicara sebijak tadi."Ucap Imam sembari mendorong kepala Khalil.


Khalil hanya kemudian tertawa.


"Gelo saya, Lil.".


Khalil mengerutkan keningnya, "Gelo? Gelo kenapa?"


"Gelo, karena sudah khusnudzon sama kamu." Ucap Imam dengan wajah mengintimidasi.


Khalil hanya lagi lagi terbahak mendengar itu.


"Tapi ngomong ngomong, Gus Aji sama Kang Sobri tadi kemana, Mam?" Tanya Khalil kemudian.


"Emmm, yang saya dengar sih, Gus Aji mengajak Kang Sobri untuk mencari teman lamanya sewaktu di pesantren begitu, Lil." Sahut Imam.


"Emmm, apa jangan jangan untuk membantu mengajar disini ya, Mam?" Tanya Khalil sedikit menerawang.


"Entahlah kalau soal itu, Lil. Nanti kita bisa tanya Kang Sobri saja." Sahut Imam.


Khalil hanya kemudian mengangguk.


"Sebaiknya kita bantu bantu pawon saja, Mam. Besok kan Bu Nyai Kartika sowan kesini." Ucap Khalil setelah beberapa saat.


"Baiklah, Lil."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2