
Matahari masih menyisakan sisa semburatnya yang membuat langit sebelah barat terlihat memancarkan warna jingga mempesona. Ada gumpalan awan keabu abuan yang nampak menggumpal di antara pancaran Surya yang mulai dilahap gelap itu.
Sepoi angin berkesiur menggoyang beberapa dedaunan di antara ranting ranting pohon. Beberapa daun kering yang berserakan di tanah pun nampak beterbangan berpindah tempat karena sapuan angin senja ini.
Prastowo sedang menikmati secangkir besar teh di teras rumahnya. Disampingnya ada Sumiatun nampak sedang memangku tampah sembari mengupas kulit bawang. Disaat itu terdengar ponselnya berdering dari arah dalam rumahnya.
"Nduk, Jeng! Tolong itu Hape bapak ada telfon. Kamu bawa sini." Ucap Prastowo setengah berteriak pada anaknya, Ajeng.
"Nggeh, Pak." Sahut Ajeng dari dalam rumah juga dengan suara agak ditinggikan.
Sepersekian detik kemudian Ajeng sudah menyerahkan ponsel itu pada Prastowo, Prastowo melihat sejenak siapa yang menelfonnya sore sore begini.
"Dullah rupanya." Gumam Prastowo kemudian mengangkat panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Dul. Ada apa kok tumben sore sore telfon?" Tanya Prastowo begitu panggilan itu di angkatnya.
"Wa'alaikumsalam... Lama sekali kamu angkat telfon saya, Pras?" Gerutu Dullah dari seberang telfon.
Prastowo sedikit tertawa, "Maaf maaf, Dul. Tadi Hape saya taruh di dalam, saya ini sedang nglaras di emperan." Sahutnya kemudian.
"Eladalah, penak sore sore nglaras." Sahut Dullah pula.
Prastowo semakin memperkeras tawanya mendengar ucapan Dullah itu.
"Ngomong ngomong kamu belum menjawab pertanyaan saya tadi, Dul. Ada apa sore sore kamu telfon? Pasti ada sesuatu kan?" Tanya Prastowo mengulang pertanyaannya.
"Ah, iya, Pras. Memang ada yang ingin saya sampaikan ke kamu." Sahut Dullah.
Di sini Prastowo sedikit mengerutkan keningnya, "Soal apa itu, Dul?" Tanyanya kemudian.
"Mungkin dalam beberapa hari ke depan Mbak Yu akan ke pesantren, Pras. Seperti sebelumnya, saya minta tolong kamu sama Mbak Yu Sum untuk menyiapkan selama Mbak Yu disana nantinya." Ucap Dullah kemudian.
"Oh, begitu rupanya. Kamu tenang saja, Dul. Saya akan siapkan, kebetulan ini istri saya juga ada disini." Sahut Prastowo.
Mendengar namanya disebut Sumiatun menoleh ke arah Prastowo.
"Ono Opo, Pak?" Tanyanya menyela.
"Anu, Bu. Mbak Yu mau ke pesantren. Biasa Dullah menyuruh kita nyiapne ubio rampe selama Mba Yu disini." Sahut Prastowo pada Sumiatun.
"Oh, Mbak Yu Kartika mau berkunjung ke pesantren, Pak?" Tanya Sumiatun lagi memastikan.
Prastowo hanya mengangguk lalu kembali pada Dullah.
"Kamu yang nderekne Mbak Yu, Dul?" Tanya Prastowo kemudian.
"Iya, Pras." Sahut Dullah dari seberang.
"Emmm, kebetulan sekali kalau begitu, Dul. Ada hal yang ingin saya bicarakan sama kamu." Ucap Prastowo setelahnya.
"Hal penting? Hal penting apa itu, Pras?" Tanya Dullah terdengar menyelidik.
"Nanti saja kalau kamu disini, Dul. Tidak leluasa ngomong lewat telfon begini." Sahut Prastowo.
"Memangnya soal apa, Pras?" Tanya Dullah lagi menginterogasi.
"Sudah, Dul. Bukan apa apa. Nanti saja." Sahut Prastowo tidak ingin berterus terang.
"Walah, Pras. Kamu ini bikin saya penasaran saja." Sahut Dullah kemudian dengan suara sedikit berat.
__ADS_1
Prastowo disini justru tertawa, "Memang sengaja biar kamu penasaran, Dul. Tapi yang pasti tidak ada apa apa, Dul. Kamu tenang saja."
"Hmmm, baiklah kalau begitu, Pras."
"Kebetulan saya juga ada yang ingin saya obrolkan sama kamu. Ya, tarenan kurang lebihnya." Ucap Dullah kemudian.
"We e e e e, soal apa itu, Dul?" Tanya Prastowo kemudian.
"Ya, nanti saja kalau kita bertemu, Pras." Sahut Dullah.
"Wah, balas dendam ini ceritanya. Tidak mau terus terang?" Gerutu Prastowo setelahnya.
Dullah terdengar tertawa nyaring di seberang.
"Memangnya kamu saja yang main rahasia rahasiaan, Pras?" Ucapnya kemudian.
Prastowo pun pada akhirnya tidak lagi bisa menahan untuk tidak tertawa.
Tak lama, Prastowo pun menutup telfon dari Dullah itu dan kembali meraih cangkir tehnya dan menyesapnya sekali.
"Ngobrolin apa pak sama Pak Dhe Dullah. Sepertinya seru sekali?" Tegur Ajeng yang sejak tadi hanya memperhatikan bapaknya tertawa dengan ponsel menempel di telinganya.
"Ya, biasa lah, Nduk. Cuma seperti yang kamu dengar tadi, Sibunya Mas Aji mau kesini." Sahut Prastowo.
Ajeng mengangguk anggukan kepalanya ringan, "Kapan, Pak?"
"Bapak belum tahu. Cuma tadi Pak Dhe mu bilang beberapa hari ke depan. Yah, paling Minggu Minggu ini, Nduk." Sahut Prastowo.
Setelahnya Prastowo terlihat menghela nafas. Suara tarikan nafasnya terdengar begitu berat.
"Nduk, Jeng. Sebenarnya ada yang ingin bapak bicarakan sama kamu." Ucap Prastowo kemudian, nampak sedikit ragu, itu terlihat dari arah pandangannya yang tidak tertuju pada lawan bicaranya.
"Apa yang ingin bapak sampaikan? Sampaikan saja, Pak!" Sahut Ajeng dengan suara lirih.
Sekali lagi Prastowo menghela nafasnya dalam dalam.
"Bagaimana antara kamu juga Sobri, Nduk?" Tanya Prastowo kemudian.
"Maaf, bukan maksud bapak apa apa dengan bapak bertanya seperti ini padamu." Lanjut Prastowo menambahi.
Ajeng sejenak terdiam, setelahnya ia mulai mengembangkan senyumnya.
"Ajeng mengikuti alur saja, Pak." Sahutnya lirih.
"Hmmm... Begitu rupanya." Sahut Prastowo setelahnya.
"Ajeng memang sudah sedikit bisa melepas yang sebelumnya, Pak. Dan sejujurnya..." Ajeng menghentikan ucapannya.
Prastowo juga Sumiatun nampak mengarahkan pandangannya pada Ajeng. Menunggu apa yang akan Ajeng ucapkan setelah itu.
"Sejujurnya... Sejujurnya Ajeng mulai simpati dengan Kang Sobri, Pak. Tapi, tapi Ajeng juga belum bisa memastikan. Hanya saja, Ajeng pun berharap itu bukan sebatas kekaguman seperti yang sebelumnya." Lanjut Ajeng kemudian.
Sumiatun terlihat mengembangkan senyumnya mendengar penuturan Ajeng itu, pun dengan Prastowo.
"Jika kamu sudah yakin dan siap. Kamu bilang bapak, Nduk. Bapak tahu Sobri hanya menunggu kesiapan mu saja." Ucap Prastowo kemudian.
"Untuk sesuatu yang halal, Ajeng pikir kapan pun Ajeng akan siap, Pak." Sahut Ajeng pula setelahnya.
Prastowo sedikit tertawa. "Ini tidak semudah bayangan kamu, Nduk. Ini bukan sekedar soal halal haram ataupun baik buruk. Tapi ini soal semua pematangan. Baik dhohiriyah maupun batiniyah kamu." Terang Prastowo kemudian.
__ADS_1
Ajeng hanya kemudian mengangguk anggukan kepalanya.
"Benar apa yang dikatakan bapakmu, Nduk. Jangan sampai dadi grundelane atimu." Imbuh Sumiatun kemudian.
"Iya, Bu."
Sumiatun hanya kemudian mengembangkan senyumnya sembari mengelus belakang kepala putrinya itu.
Untuk sejenak Prastowo bersama istri dan Ajeng, anaknya, sama diam dalam keheningan. Ada sahutan desah nafas yang saling bertaut mengisi kelenggangan teras sore itu. Angin sepoi yang menerbangkan beberapa daun kering juga menggoyang dedaunan diantara ranting sesekali terasa hembusannya membelai wajah wajah teduh mereka bertiga.
Sementara itu, jauh di tempat yang lain seorang gadis muda sedang duduk menyendiri di teras sebuah rumah. Wajahnya nampak berseri, sesekali ada senyum mengembang diantara kesendiriannya itu. Tak jauh dari tempat gadis itu, seorang wanita paruh baya nampak sedang mengamati gadis muda itu. Dari bibir wanita paruh baya itu pun terkembang sebuah senyuman.
Wanita paruh baya itu pun berjalan mendekati gadis itu, lalu berdeham membuat gadis itu sedikit gelagapan.
"Sepertinya sedang senang, Nduk?" Tanya wanita paruh baya itu pada si gadis.
Si gadis hanya kemudian tersenyum sembari menyembunyikan wajahnya dengan sedikit menunduk.
"Ada apa?" Tanya wanita paruh baya itu kemudian.
"Tidak ada apa apa budhe. Saya hanya sedang tidak sabar saja ketemu Mamas. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengannya." Sahut gadis itu sembari masih menyembunyikan senyumnya.
Wanita paruh baya itu sejenak mengerutkan kening seolah tidak begitu saja yakin dengan penuturan gadis itu.
"Tumben, Nduk? Biasanya saja kamu kalau ketemu mamasmu suka kerah, kayak tikus sama kucing." Ucap si wanita paruh baya itu kemudian.
Gadis itu hanya cekikikan sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Budhe... Itu kan dulu. Sekarang kan sudah jarang ketemu. Sudah sama sama dewasa juga." Sahut gadis itu kemudian.
"Emmm, tapi benar itu alasannya? Bukan karena ada hal lain?" Tanya wanita paruh baya itu menyelidik.
Si gadis nampak terbelalak, lalu sejenak menelan ludah.
"Kamu kan dulu lama disana ikut Pakdhe mu, pasti ada yang begitu berkesan disana. Iya kan?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Tidak ya, Budhe." Sahut gadis itu nampak malu malu.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum, tapi ia benar benar melihat ada sesuatu hal yang tidak ingin di ceritakan gadis itu padanya. Tak lama ia pun meninggalkan teras itu dan membiarkan gadis itu kembali menyendiri dengan angan angannya yang membuatnya nampak bungah itu.
Gadis itu kembali sendiri dalam lamunannya di teras itu. Kini ia meletakkan sikunya pada meja untuk menopang kepalanya. Semilir angin yang sesekali membelai wajahnya turut mengibaskan jilbab yang dikenakannya.
Dalam kesendiriannya, ia teringat sore itu ketika ia berpamitan untuk boyong dari sebuah pesantren pada seorang pemuda yang begitu berarti untuknya. Hanya saja sejak kepindahannya, ia tidak lagi pernah tahu kabar pemuda itu, yang ia tahu bahwasannya pemuda itu masih di pesantren yang pernah di tempatnya dan membuatnya mengenal pemuda itu.
Rasa tidak sabar untuk bertemu pemuda itu sudah lama di pendamnya. Ia telah mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi, bahkan jika pada akhirnya pemuda itu telah menamatkan hatinya untuk gadis lain, ia pun sudah siap. Gadis itu sadar, tugasnya bukan untuk khawatir, tugasnya hanya untuk memantaskan diri. Meski pada akhirnya tidak untuk dipersatukan, tapi gadis itu sudah cukup senang dengan pencapaian yang sudah di tuntaskannya, menjaga apa yang sudah dijanjikannya untuk dijaganya.
"Apa kabarnya anak itu ya? Hmmm, semoga dengan adanya Mamas disana, dia juga kecipratan ilmunya Mamas." Gadis itu kembali mengembangkan senyumnya sembari bergumam.
Setelahnya, gadis itu kemudian menegakkan tubuhnya lalu berdiri. Angin kembali menerpanya membuat jilbab juga seweknya sedikit berkibas mengikuti gerakan angin. Masih ada sisa senyumnya yang tersisa yang dibawanya bersama ayunan langkahnya meninggalkan teras itu.
Langit barat mulai menggelap, tak ada lagi sisa sisa cahaya Surya yang menyapa, yang ada hanya tinggal hitam di keseluruhan hamparan langit yang membentang. Ada setitik bintang berkedip manja mengisi pekatnya jagad menawarkan pemandangan tanpa harus dijajakan.
"Nduk, kita lusa ke tempat Mamas mu nya. Bagaimana menurut kamu, Nduk?" Tanya wanita paruh baya itu begitu melihat kelebatan gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Benarkah Budhe? Tentu saja saya setuju tanpa harus ditanya." Sahutnya penuh semangat.
Wanita paruh baya itu hanya kemudian menyahut dengan seulas senyum yang mengembang melihat wajah si gadis itu nampak bersinar.
Bersambung...
__ADS_1