
"Gus, ini laporan pembangunan gedung asrama putri yang njenengan minta." Ucap Herman pagi ini pada Ajimukti yang sedang bersantai di teras ndalem. Di teras itu, selain Ajimukti dan Sobri, juga ada Khalil dan Imam.
"Terima kasih, Kang." Sahut Ajimukti lalu kemudian mengamati berkas berkas itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Gus. Assalamu'alaikum..." Ucap Herman berpamitan kemudian kembali meninggalkan teras ndalem itu.
Ajimukti hanya mengangguk sembari menjawab salam Herman itu.
"Alhamdulillah, nggeh, Gus. Sekarang Kang Herman juga sudah banyak sekali perubahannya." Ucap Khalil sesaat setelah Herman berlalu dari teras itu.
"Kalau di ingat ingat, Kang Herman dan saya dulunya sebelas dua belas." Khalil kembali bergumam.
Ajimukti sedikit menoleh ke arah Khalil dan sedikit mengerutkan keningnya.
"Apa memangnya, Kang? Yang sebelas dua belas sama sampeyan." Tanya Ajimukti kemudian.
"Ya, sikap perbuatan dan perilaku kami ke njenengan, Gus. Kalau ingat itu saya menyesal, Gus. Tapi sayangnya kami hanya berani mengolok olok njenengan kalau di belakang njenengan." Ucap Khalil.
Ajimukti tersenyum, "Berarti saya waktu itu cukup berwibawa ya, Kang. Bicara di depan saya tidak berani." Ajimukti memperlebar senyumnya.
Khalil dan Imam kemudian nampak tertawa malu malu. "Belum lagi Budi kalau mengkritik njenengan, Gus." Khalil geleng kepala.
"Dzaka Allah, Kang. Setiap kritikan dari manusia itu penyemangat saya untuk berkembang. Tidak saya pusingkan, selagi yang mengkritik makhluk do'if, tidak penting. Tapi kalau itu yang mengkritik Gusti Allah, baru saya khawatir." Sahut Ajimukti.
"Justru saya gelo, Kang. Gelo kenapa waktu itu tidak bisa memberikan apa apa." Lanjut Ajimukti.
"Maksudnya, Gus?" Tanya Imam penasaran.
"Ya, minimal saya beri hadiah, Kang. Kan waktu itu saya diberikan sebuah kebaikan." Sahut Ajimukti lagi.
"Kebaikan? Kados pundi niku, Gus?" Tanya Khalil sama herannya dengan Imam.
"Ya kan kalau ada orang ngrasani, kebaikannya orang itu diberikan pada orang yang dirasani tho, Kang." Celetuk Ajimukti sembari tertawa ringan.
Khalil dan Imam saling melempar pandang, lalu mereka pun terlihat malu mengingat masa lalu mereka.
"Jangan merasa saya sedang menyindir lho, Kang. Saya bicara begini hanya guyon biar tidak sepaneng. Siapa tahu ke depannya sampeyan sampeyan diposisi saya waktu itu. Pepeling saja, Kang. Sebagai seorang santri, dirasani itu tidak perlu di bikin susah. Alhamdulillah saja. Kalau perlu kita beri hadiah. Kadang orang salah memberi nama, Kang. Mereka terlalu serius merespon sesuatu. Dalam definisi setiap orang, pembenci itu pasti diartikan orang yang tidak suka dengan kita. Tapi coba kita pakai hukum Allah dan Rosul, pembenci itu pemberi kebaikan. Latih dan tanamkan itu dalam keseharian kita. Insya Allah gak bakal ono istilah baper baperan. Wa 'allama adamal asma'." Ucap Ajimukti kemudian.
"Kami tidak merasa tersindir, Gus. Karena kami memang menyadari kekhilafan kami dulu." Sahut Khalil sedikit menundukkan kepala.
"Yang terpenting bukan bagaimana kita dulu, seperti apa dan siapa. Tapi bagaimana kita menjadikan diri kita sekarang. Tidak ada kata terlambat selagi masih sempat. Kalau ada yang bilang nasi sudah menjadi bubur. Ya makan saja buburnya, sama enaknya kok. Agar tidak ada kata percuma." Lanjut Ajimukti lagi.
Khalil dan Imam hanya kemudian kompak mengangguk.
__ADS_1
"Rasulullah itu, Kang. Kalau mengajarkan soal hidup itu gampang sekali. Allahumaj'al-lilhayaata ziyaadatan lii fii kulli khairi waj'alil-mauta raahatan lii min kulli syarrin. Jadi kalau kita hidup anggap saja peluang untuk menambah kebaikan. Kalau kita mati, anggap saja akhir dari semua potensi keburukan kita. Kita mungkin sekarang tidak zina, tapi berpotensi zina. Kita sekarang tidak ndem ndeman, tapi berpotensi ndem ndeman. Kita sekarang mungkin tidak selingkuh, tapi tetep berpotensi selingkuh. Jadi kalau ndelalah kita mati, ya sudah anggap saja akhir dari semua potensi keburukan itu. Alhamdulilah." Ajimukti masih melanjutkan obrolannya dengan Khalil juga Imam.
Mendengar itu Khalil dan Imam kompak mengangguk dan bisa memahami ucapan Ajimukti itu.
"Coba, Kang Khalil Kang Imam. Sekali kali statuskan kalau al-hayat adalah ziyaadatan lana fii kulli khoirin. Lalu al-maut adalah raahatan lii min kulli syarrin. Sehingga kita menjalani hidup happy, mati ya happy. Tidak ada masalah." Lanjut Ajimukti lagi.
"Njih, Gus. Sendiko." Sahut Khalil.
"Kencengi dongane, Kang. Allahumma 'afini fiii sam'ii wa basharii. Ya Allah sehatkanlah pendengaran dan penglihatanku. Karena sekarang ini banyak yang pendengaran dan penglihatannya sudah tidak sehat, Kang. Banyak yang menggunakan pendengarannya untuk berbicara, penglihatan untuk berbicara, sementara sebenarnya mereka itu tuli, mereka itu buta. Dan ketika mereka bicara, orang lain harus menggunakan pendengarannya untuk mendengarkan ucapan mereka, harus menggunakan penglihatannya agar melihat mereka. Wolak walik'e jaman, Kang." Imbuh Ajimukti.
"Njih, Gus. Leres. Yang nyata malah dibuat drama. Sementara yang hanya drama dipercaya seolah itu nyata." Sahut Khalil sembari menggelengkan kepalanya ringan.
"Itulah, Kang. Semoga kita tidak tergerus arus yang semacam itu." Ajimukti sedikit melenguh.
"Aamiin, Gus." Sahut yang ada di teras itu lirih bersamaan.
"Oh, iya, Gus. Membahas yang lain. Apa Njenengan sudah bertemu Kyai Aminudin lagi?" Tanya Imam kemudian.
Ajimukti mengangguk, "Sudah, Kang. Dan insya Allah rencananya kalau asrama putri sudah selesai. Ning Biba yang akan saya serahin kewenangan untuk mengurusnya. Karena tidak mungkin saya atau kita kan?" Sahut Ajimukti.
Imam mengangguk, "Berarti njenengan juga sudah bertemu dengan Ning Biba ya, Gus?" Tanyanya lagi.
"Sudah, Kang." Jawab Ajimukti singkat.
"Ning Biba itu sangat berbeda dengan Kyai Aminudin, Gus. Dia itu wanita idaman. Maaf lho Gus kalau saya laduk. Tapi njenengan cocok kalau sama Ning Biba. Apalagi kan Ning Biba tidak jadi menerima lamaran Budi." Ucap Imam sedikit membuat Ajimukti tersentak kemudian tertawa.
"Tapi saya setuju dengan Imam, Gus. Cocok kalau Ning Biba sama njenengan." Imbuh Khalil menambahi dengan sedikit senyum menggoda Ajimukti.
Sobri yang mendengar Gus-nya di goda seperti itu hanya diam diam menahan senyumnya. Andai saja mereka berdua tahu bahwasannya Ajimukti sudah melamar Habiba, bagaimana reaksi mereka. Membayangkan itu Sobri tidak lagi bisa menyembunyikan senyumnya, membuat Ajimukti salah tingkah dan kemudian menyikut Sobri, karena ia tahu apa yang saat ini di bayangkan Sobri.
Tak lama setelah itu, Manan terlihat datang tergesa gesa ke arah teras ndalem itu.
"Assalamu'alaikum..." Seru Manan dan segera menyalami satu persatu yang ada di teras itu.
"Wa'alaikumsalam.... Ada apa, Nan? Kenapa kamu terlihat tergesa gesa seperti itu?" Tanya Ajimukti setelahnya.
"Anu, Jik. Itu ada yang nyari kamu di depan." Ucap Manan sembari menata nafasnya.
"Siapa, Nan?" Ajimukti kemudian berdiri dari duduknya.
"Tidak tahu, Jik. Saya baru pertama kali ini melihatnya. Orangnya sepertinya seorang pengusaha, Jik." Jawab Manan kemudian.
"Pengusaha? Siapa ya?" Ajimukti sedikit penasaran.
__ADS_1
"Iya, Jik. Saya lihat dari penampilannya sepertinya begitu." Sahut Manan lagi.
"Yasudah, kita kesana dulu, Nan." Ucap Ajimukti sembari melangkah meninggalkan teras ndalem nya.
Tak lama ia pun sudah berada di depan, di teras masjid pesantren. Di sana ada seorang lelaki agak sedikit gemuk sedang duduk di lantai teras. Dilihat dari penampilan, juga mobil yang terparkir di sana, memang seperti kata Manan.
Begitu melihat kedatangan Ajimukti, pria itu pun segera bangun dari duduknya dan menyambut Ajimukti yang semakin dekat berjalan ke arahnya.
"Assalamu'alaikum..." Ucap orang itu kemudian.
"Wa'alaikumsalam Warohmatulloh... Bapak mencari saya?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Apa Mas ini yang bernama Aufaturahman?" Tanya pria itu kemudian.
Ajimukti mengangguk, "Benar, Pak. Saya Aufa."
Pria itu kemudian tersenyum, "Perkenalkan nama saya Samsuri. Kedatangan saya kesini karena saya mencari Mas Aufa, karena ada sedikit perlu dengan Mas Aufa." Ucap pria bernama Samsuri itu kemudian.
"Kalau boleh tahu perlu apa ya, Pak Samsuri?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Oh, iya, Pak. Mbok mari kita kedalam saja ngobrolnya." Ajak Ajimukti kemudian.
Samsuri mengangguk, "Baik, Mas."
Ajimukti segera mengajak Samsuri ke ndalem nya. Samsuri pun hanya mengikuti langkah Ajimukti disebelahnya.
"Jadi ada perlu apa bapak mencari saya?" Tanya Ajimukti mengulangi pertanyaannya begitu mereka sudah duduk di ruang tamu ndalem.
"Begini, Mas. Saya tahu pesantren ini dari seorang kawan lama bernama Nugroho. Mungkin Mas Aji tahu nama itu." Ucap Samsuri kemudian.
"Nugroho? Tunggu! Apa yang bapak maksud Nugroho itu Nugroho Sastro Darmono?" Tanya Ajimukti memastikan.
"Benar, Mas. Nugroho yang itu." Sahut Samsuri kemudian.
Ajimukti mengangguk, "Lalu ada apa, Pak?"
Samsuri terlihat menghela nafas sebelum ia berkata, "Begini, Mas. Saya punya anak yang sangat susah diatur. Apapun yang ia lakukan selalu semaunya sendiri tanpa pernah mengindahkan larangan saya. Sembrono dan sak karepe dewe. Saya sudah Judeg mengarahkan anak saya itu, Mas. Lalu saya waktu menjenguk Nugroho mendapat saran dari dirinya untuk menemui njenengan, karena menurut dirinya, njenengan bisa memberi saya solusi untuk itu." Ucap Samsuri kemudian.
"Pak Nugroho memberi saran seperti itu?" Gumam Ajimukti setengah tidak percaya mengingat kejadian waktu itu. Diam diam Ajimukti pun bersyukur dalam hati.
"Bagaimana Mas Aji. Apa Mas Aji bisa memberi saya solusi?" Tanya Samsuri terlihat begitu berharap.
Ajimukti terdiam sesaat, kemudian menghela nafasnya dalam dalam.
__ADS_1
"Masukkan dia ke pesantren saja, Pak. Disini saya akan berusaha nggulowentah akhlaknya. Insya Allah. Sebisa saya." Ucap Ajimukti penuh keyakinan.
Bersambung...