BROMOCORAH

BROMOCORAH
Nafsu Dan Hati Nurani


__ADS_3

"Sebagai orang Islam kita tentu tidak asing dengan istilah Syariat, Tariqat, Hakikat dan Makrifat dalam ajaran sufismenya. Nah, sedulur papat limo pancer itu sufismenya orang Jawa, Kang." Ajimukti kembali meneruskan ucapannya.


Semua yang ada di teras masjid pesantren itu mengangguk seolah paham.


"Lalu, Sedulur papat lima pancer itu dalam pemahaman orang Jawa sendiri merupakan puncak kesatuan dengan Illahi. Nah, dalam pandangan ini, tubuh manusia diibaratkan sebagai kerajaan yang menempatkan pancer sebagai pemimpin dan sedulur papat ini sebagai yang diatur. Kemudian, jika sedulur papat ini selaras dengan pemimpinnya yaitu pancer yang dengan kata lain si manusia itu. Maka manusia akan menemukan kesatuan kehidupan dan Tuhannya." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Lalu menurut sufisme Islam bagaimana mengenai sufisme Jawa itu Kang Aji?" Tanya Harun kemudian.


"Begini, Kang Harun. Sedulur papat dalam keyakinan sufisme Jawa ialah *****. Nafsu inilah yang menjadi tindakan manusia yang mewujud menjadi rasa dan keinginan." Ajimukti mencoba menggambarkan itu pada Manan juga para santri yang ada disana. "Dalam ajaran Njeng Sunan Kalijaga, sedulur papat dikenal dengan kanespon yang terdiri dari empat ***** yaitu aluamah, sufiyah, amarah dan mutmainah." Lanjut Ajimukti sejurus kemudian.


"Nah, ini nih, Jik. Soal ***** yang terbagi menjadi empat, sedikit banyak sih saya sudah dengar. Tapi bisa kamu perinci lagi? Ya, biar makin gamblang." Potong Mana. kemudian, masih begitu mengikuti penjelasan Ajimukti.


Ajimukti meraih sebatang rokoknya sebelum melanjutkan bahasannya. Tak lama asap mengepul dari mulutnya.


"Pertama, nafsu Aluamah. ***** Aluamah itu meliputi keinginan yang paling dasar dalam hidup, semisal keinginan kita untuk makan dan minum. Jika manusia memiliki banyak keinginan untuk makan, berdampak tidak baik dalam tubuh maupun pikiran. Makan yang terlalu banyak menjadikan manusia malas, tidak banyak beraktivitas dan berisiko terserang banyak penyakit, itu karena manusia kurang bisa mengendalikan ***** Aluamah itu, Nan." Ucap Ajimukti mengarahkan pandangannya pada Manan.


Manan hanya mengangguk ringan, mengisyaratkan bahwa dirinya sedikit banyak paham akan penjelasan Ajimukti itu.


"Lalu selanjutnya, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Nah, Kedua, Nafsu Sufiyah. ***** Sufiyah itu ***** yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial manusia. ***** ini memengaruhi keinginan manusia agar disanjung, memiliki pangkat, derajat, loba, tamak dan yang lainnya. Pada dasarnya kan kebanyakan manusia memiliki keinginan untuk dinilai lebih daripada manusia lain. Nah, ***** inilah yang kemudian mampu menggerakkan manusia untuk berbuat jahat kepada manusia lainnya. ***** ini membuat manusia selalu gelisah dan mengusahakan berbagai cara agar memperoleh kekuasaan dan penghargaan." Lanjut Ajimukti.


"Emmm, jadi orang orang di atas yang serakah itu bisa dikategorikan kaum Sufiyah dong, Jik?" Manan tertawa.


Ajimukti mengerutkan kening, "Maksudnya?"


"Ya, kan, kita tahu sendiri, mereka, orang orang di atas hobby sekali berebut pamor, pangkat, saling sikat sikut, saling sampar, nggak peduli rakyat kecil yang jadi korbannya, yang penting tujuan mereka tercapai. Ya kan?" Manan menyunggingkan bibirnya.


Ajimukti terbahak, "Jangan begitu, Nan. Khusnudzon saja, mungkin itu tuntutan pekerjaan."


"Yah, semua juga alasannya itu, Jik. Tuntutan pekerjaan. Tapi apa iya, ada pekerjaan yang nuntut buat mengorbankan hak hak orang lain?" Manan masih ngotot.


"Wah, Kang Manan cocok ini jadi politisi." Puji Ilyas sambil tersenyum.


Ajimukti tersenyum mendengar itu.

__ADS_1


"Yasudah lanjut, Jik." Ucap Manan kemudian.


"Oke, lanjut nih?" Tanya Ajimukti kemudian.


Semua mengangguk dan kembali fokus pada penjelasan Ajimukti.


"Nah, yang Ketiganya, Nafsu Amarah. ***** ini merupakan muntahan sifat amarah melalui rasa amarah, emosi dan kekecewaan, terhadap apa yang menimpa diri si manusianya itu. ***** ini membuat seseorang menjadi tidak tenang, sehingga perilaku yang ditimbulkan menjadi tidak layaknya manusia." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Jadi karena manusia kurang bisa mengendalikan ***** Amarah ini ya, Kang. Yang terkadang membuat manusia berperilaku di luar batas layaknya hewan buas, bahkan bisa lebih buas daripada hewan?" Tanya Ilyas memotong.


"Benar sekali, Kang Ilyas. Rasa marah yang berlebihan bisa membuat kita hilang kendali. Nah, hal ini tentu bisa merugikan diri sendiri dan orang lain bahkan bisa berakibat fatal." Sahut Ajimukti kemudian.


Ilyas mengangguk di ikuti yang lain, yang sepertinya penjelasan Ajimukti ini bisa mereka terima.


"Padahal itu paling susah dikendalikan, Mas." Celetuk Dullah yang sejak tadi tidak banyak berkomentar.


"Sangat susah bahkan, Lek. Oleh karenanya, Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa yang mampu menahan amarah seseorang. Allaahummaghfirlii dzanbii, wa adzhib ghaizha qalbii, wa ajirnii minas syaithaani. Tuhanku, ampunilah dosaku, redamlah murka hatiku, dan lindungilah diriku dari pengaruh setan." Lanjut Ajimukti kemudian.


Semua seolah mengaminkan.


"Yang terakhir, Jik." Manan sudah tidak sabar untuk menunggu penjelasan terakhir Ajimukti tentang *****.


" Yang keempat dan yang terakhir, ***** Mutmainah. ***** Mutmainah itu ***** yang mengajak pada arah kebaikan, seperti membantu orang, rasa simpati, empati, beribadah dan bergembira. ***** ini dipengaruhi oleh persepsi yang membentuk pemahaman tentang kebaikan manusia seperti halnya ajaran agama, budaya dan pengalaman hidup si manusia itu sendiri. Namun ***** Mutmainah jika berlebihan juga tidak baik bagi manusia itu sendiri, sebab dia akan lupa melihat dirinya sendiri jika terlelap kesenangan bersama dirinya." Terang Ajimukti.


"Istilahnya, lali ngoco gitu, Mas?" Tanya Dullah memotong.


"Emmm, bisa dibilang begitu, Lek." Sahut Ajimukti.


"Nah, ketika sedulur papat tidak dapat dikendalikan, maka kehidupan seseorang akan semrawut. Seseorang akan dirundung kegelisahan dan melampiaskan segala keinginan. Jika keinginan itu gagal, maka akan berakibat pada kesedihan dan kemarahan yang berkepanjangan serta sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dalam kaitannya bagaimana manusia mengendalikan *****-***** tersebut. Nah, disini ini dapuk nya. Karena, baik ajaran Islam maupun Jawa menganjurkan manusia untuk puasa. Hal ini dimaksudkan untuk menekan ***** sehingga pikiran menjadi tenang, jiwa dan raga menjadi sehat, sehingga *****-***** tidak saling menguasai diri dan menekan pancer atau jati diri." Jelas Ajimukti kemudian.


"Wah, mantap, Jik. Gamblang sekarang." Sahut Manan kemudian.


"Iya, Kang Aji. Mantep penjelasannya. Ngobrol rasa ngaji kalau kayak gini." Puji Harun menambahi.


"Jadi betah, Kang." Imbuh Hamid juga.

__ADS_1


Ajimukti hanya tersenyum, "Ya, saya tahunya juga sedikit sedikit, Kang. Mungkin masih banyak salahnya juga. Kalau pengen lebih jelas lagi mungkin bisa ditanyakan ke yang lebih mumpuni, Kang." Sahut Ajimukti.


"Tapi itu tadi sudah luar biasa, Kang. Nggak semua orang ngerti lho itu tadi." Puji Hamid kemudian.


"Tapi itu kan sedulur papat nya, Jik. Lalu untuk pancer nya sendiri menurut sufisme Jawa bagaimana, Jik?" Tanya Manan masih berusaha mengorek lebih dalam.


"Oh, iya, Kang. Bener bener bener." Ilyas mengimbuhi.


Ajimukti mematikan rokoknya, lalu mengganti posisi duduknya.


"Pancer itu, seperti di penjelasan saya sebelumnya, Kang. Pancer itu pusat atau bisa juga disebut kunci. Pusat atau kunci atau Pancer itu ialah hati nurani, Kang. Hati nurani lah yang mengendalikan sedulur papat atau ***** ***** dalam diri. Dalam pandangan Jawa, hal ini dikenal dengan Nur Muhammad atau guru sejati. Nah, sebagai guru sejati, Pancer itu adalah penyeimbang jagad kecil dalam diri manusia atau dikenal dengan roso jati sejatining roso." Ucap Ajimukti kemudian.


"Dan ketika Pancer sudah ditemukan atau aktif dalam diri si manusia, manusia akan mampu mengendalikan dirinya dan menempatkan dirinya di berbagai situasi. Sehingga membuat si manusia itu tidak gampang gelisah dalam menjalankan kehidupan. Aktifnya Pancer membuat *****-***** terkendalikan, manusia akan lebih bijak, kapan waktunya marah, sedih, senang dan bahagia dengan kadar yang semestinya." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Dalam juga ya, Jik, ternyata?" Ucap Manan di sela sela penjelasan Ajimukti itu.


"Begini, Nan. Saya lanjutkan ya? Dalam sufisme Jawa sedulur papat limo pancer itu dapat kita simpulkan merupakan istilah untuk menggambarkan pengenalan diri secara mendalam. Manusia memiliki hati nurani untuk menentukan kebijakan dalam merespon segala permasalahan yang ada, yang kemudian dikenal dengan Pancer. Sedangkan sedulur papat ialah perwujudan ***** atau respon pada diri atas segala hal yang ada. Garis besarnya, Nan. Jika manusia sudah mengenal sedulur papat limo Pancer, berarti dia sudah mengenal dirinya. Mengenal dirinya berarti mengenal Tuhannya. Perkenalan ini mengarahkan pada penyatuan dengan Tuhan yang Maha Esa. Melalui pengendalian ***** dan pemahaman mengenai jati diri, mengarahkan manusia untuk menyadari tentang hakikat kehidupan dunia, sehingga manusia akan menyadari apa yang harus dilakukan di dunia ini." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Itu seperti istilah Syeh Siti Jenar ya, Jik? Manunggaling kawula Gusti." Tanya Manan kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Benar, Nan. Manunggaling kawula Gusti adalah tingkatan ketika manusia sudah benar benar meninggalkan keduniawian, dan hidupnya sepenuhnya hanya untuk Tuhannya."


"Saya pun punya kesimpulan dari semua yang Mas Aji sampaikan, Nan. Kehidupan ini, itu lakon, dan manusia ialah wayangnya. Pengenalan terhadap sedulur papat limo pancer akan menuntun manusia untuk melakoni lakon kehidupan yang diberikan Gusti Allah. Menurut penangkapan saya, pada intinya sedulur papat limo Pancer itu ialah diri manusia dengan segala *****-***** yang menyelimutinya. Pengendalian terhadap sedulur papat oleh Pancer pada manusia, ibarat manusia mengendalikan mesin. Mesin akan bermanfaat apabila manusia mengendalikannya dengan bijak. Sebaliknya apabila manusia tidak memahami mesin, diri manusia justru akan dikendalikan oleh mesin itu sendiri." Dullah mengimbuhi.


"Benar itu yang dikatakan Lek Dullah, Nan. Inti dari semua itu ya seperti yang disampaikan Lek Dullah itu, Nan. Simple nya." Timpal Ajimukti kemudian.


Manan mengangguk, "Saya paham, Jik. Jadi sangat paham."


Ajimukti melirik jam ditangannya. "Sudah semakin sore ini, Kang. Sementara ngobrolnya ini dulu saja. Sudah waktunya antri mandi, biar nanti Maghrib nya nggak grabyakan." Ucap Ajimukti kemudian.


"Iya, Kang Aji. Wah, keasikan ngobrol malah nggak sadar sudah mau Maghrib." Sahut Wahid.


"Yasudah, kita balik ke kamar dulu, Mas Aji!" Ajak Dullah kemudian.


"Yasudah, Lek Dul. Saya sama teman teman juga balik dulu. Lanjut besok." Ucap Manan kemudian turun dari teras dan meraih sandal jepitnya di ikuti beberapa santri yang lain.

__ADS_1


Hari sudah semakin sore, semburat di ufuk barat sudah kian menjingga. Hawa dingin pun perlahan mulai menyeruak, menandakan pergantian malam akan segera segera.


Bersambung...


__ADS_2