BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sobri VS Suko


__ADS_3

"Jadi ini pondok pesantren yang Bos maksud. Hmmm... Lumayan besar juga."


Seorang lelaki berkacamata hitam dengan model rambut cepak layaknya seorang tentara memandang lekat area Pondok Hidayah dari balik kaca mobilnya pagi ini. Tak lama ia terlihat membuka pintu mobil depan dan keluar dari mobil sedan hitam itu. Postur tinggi tegapnya begitu terlihat gagah berdiri. Sejenak senyumnya menyeringai diantara paparan sorot sinar mentari pagi yang mengenai wajahnya.


Laki laki itu hanya berdiri bersandar pada mobilnya dengan menyilangkan tangannya di dada. Ekspresinya tenang namun pandangan matanya jelas terpaku pada area pesantren.


Tak lama, seorang pemuda bersarung kotak kotak dan hanya mengenakan kaos hitam namun tidak lupa mengenakan songkok hitamnya, terlihat berjalan keluar. Melihat pemuda itu, lelaki berkaca mata hitam segera menegakkan tubuhnya dan berjalan menghampiri pemuda itu.


"Selamat pagi. Apa sampeyan santri di pesantren ini?" Tanya laki laki berkaca mata hitam itu dengan suara datar dan sedikit serak.


Pemuda itu mengamati sekilas orang yang menyapanya. Dari penampilannya, laki laki ini sepertinya bukan warga desa ini. Sejenak pemuda itu mengerutkan keningnya.


"Iya. Benar. Saya santri disini. Ada apa ya, Pak?" Tanya pemuda itu sedikit menaruh curiga.


"Oh, tidak apa apa. Saya hanya ingin mencari seseorang yang katanya juga santri disini." Ucap laki laki itu dengan aksen yang sama.


Kembali pemuda itu mengerutkan keningnya, dan juga sedikit menyipitkan matanya.


"Oh iya, perkenalkan, nama saya Suko Baskoro." Laki laki itu tiba tiba memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya ke arah si pemuda itu.


Dengan ragu, pemuda itu meraih tangan lelaki yang ternyata Suko anak buah Baron sekaligus paman Ari Godril.


"Sobri." Sahut pemuda itu dengan suara datar sesaat setelah menjabat tangan Suko.


Senyum kecut mengembang dari bibir Suko seketika itu juga.


"Kalau boleh tahu, siapa yang sedang bapak cari disini. Barangkali saya kenal." Ucap Sobri menyelidik.


Suko menghela nafas sebelum menjawab dengan suara datar. "Namanya Ajimukti."


Mendengar nama Ajimukti yang sedang dicari Suko, Sobri terkejut, seketika ia merasa ada sesuatu dari Suko yang ia belum tahu apa itu.


"Ada apa Pak Suko mencari Ajimukti itu kalau saya boleh tahu?" Tanya Sobri sekali lagi menyelidik.


Suko kembali tersenyum, "Apa Nak Sobri mengenalnya?" Tanyanya kemudian.


Sobri memicingkan matanya, ia ragu untuk menjawab, karena saat ini dirinya masih sedikit curiga dengan laki laki di depannya ini.


"Tentu saja. Beliau pengasuh pondok pesantren ini." Sahutnya kemudian tanpa ragu lagi.


Dan sekali lagi senyum mengembang di bibir Suko.


"Bagus sekali. Ternyata bocah itu memang bukan pemuda biasa." Batin Suko dalam hati.


Melihat Suko yang tersenyum sendiri dengan senyum yang tidak biasa, Sobri semakin menaruh curiga pada Suko di hadapannya ini.


"Ada perlu apa Pak Suko dengan Gus Aufa. Emmm, Maksud saya Ajimukti?" Tanya Sobri masih menyelidik.


Suko mengibaskan tangannya, "Ah, tidak Nak Sobri. Lain kali saja saya menemuinya langsung." Ucap Suko kemudian.


"Saya permisi dulu. Terima kasih untuk waktunya." Ucap Suko sedikit menundukkan badannya kemudian mencoba membuka pintu mobilnya.


"Tunggu!" Sobri menahan pintu mobil itu. Untuk sesaat pandangannya beradu dengan tatapan tajam Suko dibalik kaca mata hitamnya.

__ADS_1


Suko sekali lagi hanya tersenyum kecut, "Ada apa Nak Sobri?" Tanyanya kemudian.


"Bapak belum menjawab pertanyaan saya." Ucap Sobri masih dengan posisi menahan Suko membuka pintu.


"Pertanyaan yang mana?" Tanya Suko sembari melepas kaca matanya. Kini Sobri benar benar bisa melihat sorot mata laki laki itu.


"Ada apa Pak Suko mencari Ajimukti?" Tanyanya sekali lagi.


Suko memperlebar senyumnya, "Bukankah tadi sudah saya jawab? Saya ingin menemuinya sendiri."


Sobri menatap tajam pada Suko. Seketika Sobri merasa tidak suka dengan sikap laki laki di depannya ini. Kemarin ada segerombolan orang bayaran yang tiba tiba menyerang Ajimukti. Dalam pikiran Sobri saat ini, bisa jadi laki laki di depannya ini bagian dari gerombolan orang orang itu atau bahkan orang yang menyuruh gerombolan gerombolan itu untuk menyerang Ajimukti.


"Ada apa Nak Sobri?" Tanya Suko ketika mendapati Sobri menatap dirinya tajam.


"Saya tidak akan membiarkan bapak pergi sebelum bapak menjawab pertanyaan saya tadi." Sobri menekan ucapannya.


Suko lagi lagi tersenyum. Tapi kali ini senyumnya terlihat begitu mengejek.


"Oh iya. Tapi bagaimana agar saya bisa pergi?" Tanya Suko kemudian.


"Pak Suko tinggal jawab pertanyaan saya tadi. Dan setelahnya silahkan jika bapak ingin pergi." Sahut Sobri tenang tanpa keraguan sedikit pun.


Suko menyeringai, "Kalau saya tidak mau? Bagaimana?"


Sobri kembali menatap tajam ke arah Suko. Baginya wajah Suko kali ini benar benar terlihat menyebalkan.


"Itu berarti bapak belum bisa pergi dari sini." Ucapnya kemudian.


"Ah, banyak omong kamu, Nak. Minggir!" Bentaknya sembari mengarahkan pukulan pada Sobri.


Sobri yang juga memiliki kemampuan ilmu bela diri, secepat kilat menghindari pukulan Suko itu,.kemudian sedikit memundurkan badannya.


"Benar ternyata. Memang bapak ini seperti kecurigaan saya." Ucapnya kemudian.


"Boleh juga kamu, Nak Sobri. Kamu bisa menghindari pukulan ku." Suko melepas kancing lengan bajunya lalu menggulung lengan baju itu sampai sikut.


Sesaat setelahnya ia kembali berusaha menyerang Sobri. Melihat akan mendapat serangan susulan Sobri segera memasang kuda kudanya dan bersiap menghadang serangan Suko itu.


Suko mengarahkan pukulannya tepat ke arah wajah Sobri. Dengan sigap Sobri memundurkan kepalanya dan berusaha meraih tangan Suko yang terjulur ke arahnya, tapi Suko menyadari itu dan kemudian menarik kembali tangannya. Kini Suko terlihat mengayunkan tendangan sampingnya, Sobri pun segera menangkis tendangan itu dengan tangkisan luar menggunakan tangan kirinya.


Merasa serangannya gagal, Suko menarik kaki kanannya itu dengan sedikit lompatan ke belakang. Begitu kakinya menyentuh tanah, Suko segera menekannya sebagai tumpuan untuknya melompat dan kembali menyerang. Kini Suko sudah bersiap mengarahkan lutut juga tinjunya ke arah Sobri.


Sobri yang menyadari serangan Suko itu pun segera melompat mundur. Serangan Suko gagal, dan ia hanya kembali menjejakkan kakinya ke tanah. Setelah Sobri mundur selangkah, ia kemudian memutar badannya dan bersiap melancarkan serangan balasan dengan tendangan kaki kirinya.


Serangan Sobri itu berhasil di tangkis Suko, namun Suko meski berhasil menangkis serangan Sobri itu, tubuhnya sempat terdorong kesamping.


"Boleh juga keahlian bela dirimu." Lagi lagi Suko bergumam.


Sobri tak menyahut, ia hanya terus memandang tajam ke arah Suko dan mengamati setiap pergerakan Suko.


Suko terlihat sedang mengatur nafasnya sebelum akhirnya kembali menyerang Sobri. Pukulan demi pukulan secara beruntun Suko arahkan pada Sobri, tapi setiap pukulan Suko itu berhasil Sobri tangkis. Sobri pun tak mau kalah, ia pun membalas serangan Suko kepadanya itu, tapi rupanya Suko pun cukup lincah untuk bisa menangkis serangan beruntun Sobri.


Keduanya saling memundurkan badan, lalu sama sama mengatur nafas masing masing. Keringat langsung membasahi kening kedua laki laki itu.

__ADS_1


"Apa kamu masih belum menyerah dan membiarkanku pergi, Nak Sobri?" Tanya Suko sembari terus mengatur nafasnya yang terengah engah.


Sobri menyeringai. "Harusnya saya yang bertanya sama sampeyan, Pak. Apa Pak Suko belum juga mau menyerah dan mengatakan tujuan Pak Suko sebenarnya?"


"Jumawa kamu!" Suko meradang mendengar Sobri membalik pertanyaannya itu. Dia merasa diremehkan oleh kata kata Sobri itu.


Kembali Suko bersiap menyerang ke arah Sobri. Sobri pun sejak tadi tidak pernah melepas kuda kudanya, ia pun bersiap kembali menghadang serangan beruntun Suko kali ini.


Bak! Buk! Bak!


Pukulan demi pukulan kembali dilancarkan Suko. Begitu pun Sobri, ia pun tidak hanya sekedar menangkis serangan Suko, ia pun terus melakukan serangan serangan tajam ke arah Suko. Tapi rupanya Suko bukan orang yang begitu saja bisa Sobri hantam. Beberapa kali pukulan Sobri pun berhasil Suko tangkis dan hindari. Tak jauh berbeda dengan Suko. Ia pun merasa Sobri memang cukup tangkas menguasai ilmu bela diri. Ia cukup kewalahan menghadapi Sobri kali ini. Ia berpikir keras untuk segera mengakhiri pertarungan pagi ini, jika tidak, ia tidak akan segera bisa pergi dari tempat ini.


Tendangan, tinjuan, secara membabi buta Suko arahkan pada Sobri. Dengan gesit dan lincah, Sobri berhasil menangkis serangan serangan Suko itu sekali lagi. Nafas mereka terdengar memburu diantara pukulan pukulan tajam yang terus mereka berdua arahkan satu sama lain.


"Belum mau menyerah juga rupanya?" Senyum suko menyeringai diantara ucapannya itu.


Pandangannya tertuju pada Sobri untuk mencari kelemahan pemuda di depannya itu. Seketika senyumnya kembali mengembang, lalu kembali bersiap menyerang ke arah Sobri.


Sobri kembali masih terus bersiap menyongsong serangan Suko kali ini. Tapi begitu Suko tepat berada di depannya, tiba tiba Suko menghentikan langkahnya, Sobri tersentak, belum sempat ia menyadari kesalahannya membaca gerakan Suko, sebuah tendangan keras menghantam perutnya dan membuatnya tersungkur ke tanah di belakangnya.


Senyum Suko menyeringai, merasa ia telah berhasil menemukan kelemahan Sobri.


Sobri berusaha bangun, tapi belum sempat ia berdiri dan memasang kuda kudanya. Suko telah lebih dulu menghantamkan tinjunya dan tepat mengenai rahang samping Sobri. Sobri terpelanting dan kembali jatuh ke tanah, bibir sampingnya sedikit mengeluarkan darah. Sobri mengusapnya, rasanya cukup perih.


"Bagaimana, Nak? Masih ingin bermain main dengan saya? Atau kita sudahi saja?" Suko terdengar sombong setelah dirinya merasa bisa menyarangkan pukulannya pada Sobri.


Sobri mulai tersulut amarah, ia segera berusaha bangun dan kembali memasang kuda kudanya. Kali ini ia tidak ingin kecolongan lagi. Kali ini Sobri lebih fokus lagi mengamati pergerakan lawannya.


"Oh, masih ingin lanjut rupanya?" Suko mengejek.


Tanpa basa basi ia segera mengarahkan kembali serangannya pada Sobri. Sobri bisa menghindar dan berusaha menyerang balik ke arah Suko, tapi sayang, tenaganya mulai melemah. Pukulan Sobri dengan mudah ditangkis Suko, dan bahkan Suko berhasil memanfaatkan serangan Sobri itu dan menguntungkannya sekali lagi.


Disaat menangkis serangan Sobri, secara bersamaan Suko menarik lengan Sobri, sedikit membungkuk dan segera mengarahkan tinjunya tepat mengenai perut Sobri. Suko mendorong tubuh Sobri dan sekali lagi, pukulan keras menghantam wajah Sobri. Sobri membentur bagian depan mobil Suko sebelum akhirnya kembali terjatuh ke tanah. Nafasnya tak beraturan. Darah kembali terlihat di ujung bibirnya.


Suko berjalan santai ke arah Sobri sembari kembali menggulung lengan bajunya yang lepas. Senyumnya terlihat menyeringai penuh kebencian.


"Saya sudah berbaik hati, Nak. Tapi rupanya kamu cukup keras kepala." Ucapnya sembari lebih mendekat beberapa langkah ke arah Sobri.


"Sebenarnya kemampuanmu lumayan, saya pun awalnya merasa kewalahan. Tapi kamu harus lebih banyak berlatih untuk bisa benar benar mengalahkan saya." Suko terdengar sombong dan congkak ketika mengucapkan itu.


Suko menggerakkan kaki kanannya, mengayunkannya, dan berusaha menendang Sobri yang masih dengan posisi tersungkur di tanah.


"Mampus kamu, Nak." Suko berteriak sekuat tenaga sembari mengayunkan kakinya.


Krak!


Brak!


Sebuah tendangan yang sangat kuat mematahkan serangan Suko pada Sobri kali ini. Suko terlempar kesamping dan jatuh terjerembab ke tanah dengan cukup keras.


"Sialan." Suko mengumpat sembari memukul tanah dan berusaha bangkit kembali.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2