
"Loh, bukane namanya Simbah itu malah bagus, Mbah?" Ajimukti kini mulai angkat bicara memuji nama Sukrono.
Sukrono terlihat mengangguk, "Ya, benar. Bahkan saya pun mengakuinya setelah saya setua ini. Nama saya ternyata sebuah pangeling, pengingat. Yang akan mengingatkan saya setiap setiap Jum'at siang bahwa saya harus berdoa untuk kehidupan saya. Dan disitulah saya memahami maksud Asmo kinaryo jopo, sebenarnya."
"Benar, Mbah. Dan nama Sukrono sendiri bagi saya memiliki sebuah makna yang dalam, Sukrono, Syukurono, Bersyukurlah." Timpal Ajimukti.
Sukrono tertawa, semakin memperlihatkan gigi ompong nya. "Kamu pandai berfilsafah ternyata, Le cah bagus" Sukrono memuji Ajimukti, "Namamu tadi siapa, Simbah lupa?" Tanyanya kemudian.
"Saya Ajimukti, Mbah." Sahut Ajimukti sedikit menundukkan kepalanya.
Sukrono mengangguk ringan, "Ajimukti? Nama yang bagus dan sangat bermakna, Le. Aji ateges Kajen, berharga. Mukti ateges wani, Berani."
Ajimukti hanya tersenyum. Dia ingat ketika Gandung juga pernah mengartikan maksud dibalik namanya.
"Apa nggak kita sebaiknya ngobrol di dalam saja!" Ajak Sukrono sejurus kemudian sembari berdiri. "Ndung, ajak masuk tamu tamu kita." Perintah Sukrono pada menantunya itu.
Gandung hanya mengangguk lalu mengajak mereka masuk ke omah ndalem Sukrono. Mereka pun hanya mengiyakan lalu mengikuti Gandung yang berjalan di belakang Sukrono. Sementara mereka duduk di kursi kursi kayu jati yang ada di ruangan itu, Mursini, istri Gandung terlihat sudah membawa baki berisi minuman dan beberapa piring berisi pisang rebus juga singkong rebus.
Ajimukti, Dullah dan Manan mengamati seluruh ruangan omah ndalem itu. Beberapa pajangan seperti boneka golek, keris, wayang kulit, dan benda benda pusaka lain terlihat tertata di beberapa sisi ruangan. Topeng ganongan yang seperti terpajang di depan pun di ruangan ini juga ada. Dan yang membuat mereka bergidik, di ruangan itu juga terdapat lukisan yang orang orang sering menyebutnya Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan.
"Banyak benda pusaka ya, Mbah?" Celetuk Manan sejurus kemudian.
Sukrono hanya tersenyum. "Benda benda ini warisan leluhur, Le. Saya hanya nguri-uri nya saja. Ya, sebagai koleksi." Sahut Sukrono tenang.
Gandung terlihat masam mendengar jawaban Sukrono. Sepertinya dia ingin memprotes jawaban Sukrono itu. Ajimukti memperhatikan ekspresi wajah Gandung saat ini.
"Apa semua benda pusaka ini menyimpan daya magis, Mbah?" Tanya Manan lagi.
Sukrono tersenyum lalu mengambil sebuah peti yang cukup besar. Gandung memperhatikan apa yang akan dilakukan mertuanya itu dengan kotak itu. Dia sepertinya paham betul apa isi kotak itu.
"Ini semua benda benda yang Simbah kumpulkan selama ini. Simbah sampai pernah jual tanah untuk membeli benda benda ini." Ucap Sukrono sembari menepuk tutup peti itu dan belum berniat membukanya.
Ajimukti mengerutkan keningnya, dia berpikir memang benar yang di katakan Gandung. Sukrono memang sampai menjual tanah untuk mendapatkan benda benda itu. Tapi untuk apa? Batin Ajimukti saat ini.
"Banyak yang beranggapan kalau saya menyimpan benda benda ini karena benda benda ini punya khodam, punya karomah, bisa sebagai jimat, bisa untuk sipat kandhel dan lain sebagainya. Tapi kalau Simbah, menyimpan ini, mengkoleksi ini, tidak lebih karena ini tinggalan leluhur kita. Benda benda ini memiliki simbol kejayaan tanah leluhur kita." Ucap Sukrono kemudian.
Ajimukti memandang dalam ke arah Sukrono. Dullah dan Manan pun saling melempar pandang. Sementara Gandung masih terlihat enggan merespon ucapan mertuanya itu.
"Simbah tahu. Orang orang yang tidak sepaham dengan Simbah, hanya akan berpikir Simbah ini musyrik, syirik, menggunakan benda benda ini untuk mendapatkan ngelmu. Dan tak jarang yang menganggap Simbah ini malah seperti paranormal atau dukun. Bahkan kamu dan istrimu, Mursini juga berpikir begitu kan, Le, Ndung." Sukrono beralih pandang ke arah Gandung.
__ADS_1
Gandung hanya mengangguk ringan. "Saya dan Mursini hanya khawatir sama bapak. Banyak to, Pak. Orang orang yang semasa hidup punya cekelan, lalu menjelang akhir hayatnya seperti apa? Mursini was was, Pak." Sahut Gandung kemudian.
"Ya ya ya, saya memahami itu, Ndung. Tapi baik kamu atau Mursini sayangnya tidak ada yang pernah mau tahu soal kenapa bapak mengoleksi benda benda itu." Ucap Sukrono masih tetap dengan ketenangannya.
Gandung kembali tertunduk. Memang benar kekhawatirannya bersama istrinya selama ini hanya timbul dari pikirannya sendiri.
"Lalu sebenarnya, untuk apa benda benda ini, Mbah? Dan apa manfaatnya?" Tanya Ajimukti kemudian ketika ada kesempatan untuk dirinya bicara.
Sukrono menghela nafas, "Untuk apa sudah saya jelaskan tadi, Le. Kalau manfaatnya hampir semua benda ini memiliki manfaatnya sendiri sendiri." Sahut Sukrono kemudian.
"Tidak hanya mengkoleksi, tapi saya mencoba mengenali benda benda ini, menggali makna yang terkandung didalamnya. Bahkan saya pun mempelajari bagaimana cara orang orang yang katanya bisa memanfaatkan benda benda ini." Lanjut Sukrono.
Semua yang ada disitu menatap tajam Sukrono dan sama sama tidak mengerti maksud dari penjelasan Sukrono itu. Bahkan Mursini, istri Gandung pun terperanjat. Ia kini seperti seorang yang sama sekali tidak mengenal bapaknya sendiri.
"Lalu apa saja benda benda itu, Mbah. Dan seberapa dalam Mbah Sukro mengenali benda benda itu?" Ajimukti mencoba memancing Sukrono dengan pertanyaannya.
Sukrono tersenyum tipis, lalu membuka tutup peti di depannya. Semua mata tertuju pada isi kotak itu. Sukrono lalu mengambil sesuatu dari kotak itu.
"Ini, Le. Semua ini hasil perburuan Simbah selama puluhan tahun ini." Sukrono memperlihatkan satu persatu benda benda dalam peti itu dan ditaruhnya pada selembar kain putih.
Semua yang ada di ruangan itu terbelalak akan banyaknya benda benda pusaka koleksi Sukrono. Sukrono meraih sebuah kalung berbandul seperti batu hitam yang diukir menyerupai kuncup bunga, lalu memakainya.
"Ini kalung biasa, Nak Dullah. Bandulnya ini kalau orang mengira pasti terbuat dari batu. Tapi ini sebenarnya kayu stigi." Ucap Sukrono menjelaskan.
"Itu manfaatnya apa, Mbah?" Tanya Dullah lagi masih diselimuti rasa penasaran.
Sukrono tiba tiba tertawa, "Ya manfaatnya ben nambahi ganteng." Sahutnya sembari nyengenges. "Ini nggak ada manfaatnya, Nak Dullah. Bagi saya ini nggak lebih aksesoris saja. Aksesorisnya wong mbien." Lanjutnya.
Ajimukti, Dullah dan Manan serempak mengangguk dan pandangan mereka masih tertuju pada benda benda dihadapan mereka.
"Kalau ini apa, Mbah?" Tanya Manan melihat benda mirip gelang.
"Ini namanya akar bahar merah kristal, Le. Ini yang yang putih juga ada." Sukrono menunjukkan akar bahar yang sekilas mirip kipas, "Nah, ini kalau orang orang, banyak yang percaya, kalau akar bahar ini mampu menolak guna guna, menambah karismatik kewibawaan bagi yang memakainya. Bahkan ada juga yang bilang si pemakai akan lebih ulet dalam melakukan segala hal. Itu kalau orang orang, Le. Kalau saya ya akar bahar ini cuma aksesoris, pajangan dan duwen duwen, ya, meski ini sebenarnya bisa buat obat reumatik, karena akar bahar ini banyak mengandung yodium." Sukrono menjelaskan tentang benda yang katanya akar Bahar itu, lalu kembali meletakkannya dan meraih benda lain.
"Ini, Le. Semacam ini saja orang orang banyak yang cari." Sukrono memegang sesuatu seperti bunga kering.
"Itu apa, Mbah?" Tanya Manan kemudian.
"Ini kalau orang orang bilang kembang kamijara, ini itu sebenarnya kembang sereh biasa. Ya, cuma langka, Le. Soalnya sereh jarang yang sampai berbunga. Katanya, ini buat pengasihan dan bisa narik rejeki." Ucap Sukrono kemudian, meletakkan itu dan menunjukkan benda benda yang lain.
__ADS_1
"Dan ini. Ini iwak tempel, kata orang juga bisa jadi media pengasihan. Padahal ini sebenarnya cuma ikan parasit yang suka nempel di tubuh ikan paus. Digoreng juga enak. Kayak ikan asin." Lanjut Sukrono setengah tertawa dan kembali menunjukan giginya yang ompong.
"Ini samber lilin atau kumbang pelangi. Ini juga katanya bisa buat pengasihan, pemikat kalau sayapnya di jadikan susuk, Le. Biasanya orang orang dipakai disini." Ucap Sukrono sambil menunjuk alis matanya.
"Ini batu akik ya, Mbah?" Tanya Ajimukti melihat kotak yang penuh berisi cincin akik.
Sukrono lalu membuka penutupnya. "Ya, beberapa akik koleksi Simbah, Le. Ini namanya, galih kelor, sebenarnya ini itu kayu, Le. Kayu trembesi atau Saman. Kata orang orang ini itu bisa melunturkan susuk. Ya, kalau Simbah sih ini cuma akik biasa." Sahut Sukrono meletakkan cincin itu dan meraih cincin akik lainnya. "Ini kalimaya, ini panca warna, kata orang orang ya ada manfaatnya, tapi kalau Simbah ya nggak lebih cuma sebatas koleksi, Le." Ucap Sukrono lagi.
"Ini bukannya merah delima ya, Mbah?" Tanya Ajimukti menunjuk cincin dengan batu akik berwarna merah.
"Benar, Le. Ini banyak orang salah tafsir tentang maksud merah delima. Ini sebenarnya cuma batu merah Siam biasa. Merah delima yang melegenda itu sebenarnya perlambang saja." Jelas Sukrono meletakkan cincin itu ke tempatnya.
"Maksudnya perlambang, Mbah?" Ajimukti kembali menggali dari Sukrono.
Sukrono menghela nafasnya, "Merah delima itu sebenarnya kiasan. Merahnya itu Seko Tembung meruh utawa meruhi, -ngerteni. Sementara delima itu sebenarnya Dalima. Apa itu Dalima? Dalima itu, Dal yang berjumlah lima. Dimana mencarinya? Di surat Al Ikhlas, Le. qul huwallaahu ahad, satu. allaahush-shamad, dua. lam yalid, tiga. wa lam yuulad, empat. wa lam yakul-lahuu kufuwan ahad, lima." Sukrono menjelaskan dengan gerakan tangannya untuk menyakinkan.
"Jadi tegese merah delima itu, meruhi Dalima, gandeng ilat Jowo, ya jadinya merah delima." Sambung Sukrono.
Ketika Sukrono mengatakan itu, seketika semua tersentak. Dullah dan Manan saling melempar pandang. Gandung pun beradu pandang dengan Mursini, istrinya. Mereka berdua tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari seorang Sukrono. Sementara Ajimukti hanya sedikit melengkungkan bibirnya.
Sukrono kembali memasukkan barang barang koleksinya ke dalam peti dan menutupnya kembali, lalu beranjak dan mengembalikan peti itu ke tempatnya semula.
Semua yang ada disitu masih tidak percaya bahwa sebenarnya Sukrono memiliki wawasan seluas itu.
Sukrono kembali ikut duduk di kursinya sebelumnya. Dan meraih gelas kopi yang tadi sudah di siapkan Mursini.
"Banyak orang yang salah kaprah karena melihat orang lain mengoleksi pusaka, Le. Mereka menganggap orang yang menyimpan pusaka dan benda benda ini akan menyembah pusaka pusaka itu. Padahal banyak orang yang menyimpan itu sebagi wujud penghormatan terhadap peninggalan leluhur. Mereka tanpa bertanya, tanpa tahu maksud dan tujuan, dengan mudahnya bilang, ini syirik, kafir dan berbagai ucapan menurut pandangan mereka. Mereka lupa, di Arab sana, Rikmane Njeng Nabi, darah, bekas telapak kaki, dan pedang beliau pun masih disimpan kan? Itu kenapa? Karena mereka yang menyimpan itu ingin mengenang dan memberi tahu penerusnya bahwa semua itu nyata keberadaannya, selain karena mereka ingin menghormati peninggalan Rasulullah. Lah, terus apa mereka itu syirik? Kafir?" Ucap Sukrono kemudian.
Ajimukti yang paham ucapan Sukrono itu pun mengangguk ringan.
"Lalu bagaimana dengan ilmu ilmu yang sering digunakan para dukun untuk mengelabuhi orang, Mbah? Apa Mbah Sukro tahu sesuatu?" Tanya Ajimukti kemudian ingin mengorek lebih dalam tentang pengetahuan Sukrono dalam hal kejawenan.
Sukrono mengangguk ringan dan terdengar menghela nafasnya.
"Santet, pelet, tenung dan lain sebagainya ya. Hmmm..." Sukro kembali mengangguk, lalu kembali berdiri dari duduknya menuju ke sebuah meja kecil dan terlihat mengambil sesuatu.
"Simbah ingin tunjukan sesuatu pada kalian." Ucap Sukrono lirih setelah kembali duduk ke kursinya.
Semua yang ada disana sangat penasaran dengan apa yang akan Sukrono tunjukan pada mereka. Mereka saling pandang. Sembari menunggu Sukrono membuka kotak kecil di depannya, semua yang ada di sana terdiam, hanya nafas mereka yang terdengar memburu.
__ADS_1
Bersambung...