
Setiap kali menyapa, senja selalu nampak indah. Dengan goresan abstrak jingganya dari biasan piringan matahari yang hampir lenyap di ufuk barat. Juga semilir sepoi angin yang menjajakan hawa dingin yang perlahan membelai kulit.
Ajimukti tertegun. Ada yang berdesir di rongga rongga ulu hatinya. Ada getaran yang membabi buta diantara detak jantungnya. Rasanya tubuhnya mulai memberat. Untuk sepersekian detik dia seolah berada dalam ruang gravitasi yang berbeda. Ritme detakan jantungnya yang mulai tak beraturan mulai menggoyahkan laju pernafasannya. Sesak dan seakan akan menyempit.
"Dari mana, Kang?" Tanya Habiba sejurus kemudian.
Ajimukti masih di posisinya. Dullah menyadari itu, lalu menyenggol Ajimukti dari arah belakang.
"I...iya...gimana, Ning Biba?" Ucap Ajimukti gelagapan.
Habiba hanya tersenyum
"Sampeyan iku lho, Kang. Darimana?" Habiba mengulangi pertanyaannya.
"Oh, itu, Ning. Emmm, dari sana." Jawab Ajimukti berusaha menguasai keadaan.
"Ada yang lagi deg degkan ni." Bisik Dullah sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Ajimukti. Ajimukti hanya menoleh dan sedikit nyengir kuda.
"Kok tumben, Kang. Nggak sama Kang Manan?" Tanya Habiba melihat mereka hanya berdua saja.
"Anu, Ning. Emmm, itu. Manan tadi katanya ada semakan sama Gus Faruq."
"Oh, iya ya. Tadi Mas Faruq katanya juga mau ada semakan santri alfiyah." Ucap Habiba sedikit mendongak.
"Yasudah Kang Aji kalau gitu. Saya permisi dulu. Sudah mau maghrib." Ucap Habiba kemudian.
"Monggo, Ning." Sahut Ajimukti tanpa sekalipun memandang kearah Habiba.
"Oh, iya, Kang. Ngomong ngomong, selamat ya, Kang. Dan semoga menang!" Ucap Habiba dibarengi gerakan gerakan tangannya sedikit mengepal keatas.
Ajimukti sesaat melongo dan sedikit menaikkan kepalnya memandang ke arah Habiba. "Untuk apa, Ning?" Tanyanya kemudian.
Habiba hanya membalas dengan isyarat senyumnya.
"Selamat Ning Biba milih sampeyan, Mas. Dan sampeyan menang dari si Budi." Bisik Dullah lagi sembari cekikikan dibelakang Ajimukti.
Ajimukti spontan menyikut Dullah dan tepat kena diperutnya.
"Auw...!!!" Pekik Dullah.
__ADS_1
Habiba yang menyadari itu segera beralih pandang kearah Dullah, "Kenapa, Pak?" Tanya Habiba polos.
Dullah hanya sedikit meringis dan mengelus elus perutnya.
"Ini, Ning. Ada semut nakal gigit perut saya." Sahut Dullah lalu sengaja menyenggol Ajimukti.
"Yasudah saya permisi dulu, Nggih?" Ulang Habiba lagi, lalu berlalu dari hadapan Ajimukti dan Dullah.
Semilir angin sore menerbangkan bau harum dari parfum yang dipakai Habiba. Begitu harum semerbak membuat yang mencium baunya akan merasakan kenyamanan.
"Huh..." Ajimukti terdengar menghela nafas.
"Kenapa, Mas?" Tanya Dullah yang menyadari itu.
"Tidak apa apa, Lek." Sahutnya datar. "Yasudah kita masuk dulu, Lek. Sebentar lagi maghrib." Lanjut Ajimukti sembari kembali berjalan kearah halaman Pondok Hidayah.
Dullah hanya geleng geleng kepala. Lalu kembali menyusul Ajimukti yang kembali meninggalkannya.
Tak berselang lama. Adzan maghrib berkumandang dari corong masjid Pondok Hidayah juga dari corong corong masjid disekitar pondok. Saling bersautan, membuat siapa pun bergetar mendengar nama Allah begitu merdu diagungkan.
Ajimukti mengganti bajunya dan segera keluar dari kamarnya di ikuti Dullah. Didepannya beberapa santri juga sudah bersiap menuju masjid.
"Iya, Mas. Perasaan belum ada satu bulan tapi kok rasanya sudah lamaaaa banget." Sahut Dullah.
Ajimukti tak kembali menyahut. Melanjutkan langkahnya diantara riuh obrolan para santri.
Waktu berlalu. Semua santri masih duduk ditempatnya masing masing. Sebelum sholat dimulai tadi, Kyai Aminudin mengumumkan para santri untuk tetap di masjid karena ada yang ingin beliau sampaikan.
Kyai Aminudin bangun dari pengimaman masjid lalu berdiri dibalik mimbar masjid. Setelah sebelumnya memberi salam beliau pun mengatakan pengumuman penting yang ingin disampaikan kepada seluruh santri Pondok Hidayah.
"Seperti yang sudah saya sampaikan beberapa minggu yang lalu mengenai kompetisi antar pesantren se-Jawa Timur yang akan diadakan minggu minggu ini. Alhamdulillah, dari pengurus Pondok Hidayah sudah memutuskan siapa yang akan mewakili pesantren kita maju ke kompetisi tersebut." Ucap Kyai Aminudin lantang.
Sontak apa yang disampaikan Kyai Aminudin tersebut membuat para santri khususnya kelas Alfiyah saling pandang satu sama lain. Berbeda hal nya denga trio senior, Budi, Khalil dam Imam. Di barisan shaft paling depan mereka nampak tersenyum penuh kemenangan.
"Hanya satu santri yang pada akhirnya akan mewakili pesantren kita ini. Itu dikarenakan tidak ada selain santri ini yang mendaftar, jadi atas usulan dari beberapa santri juga pengurus diputuskanlah siapa yang akan maju ke kompetisi tersebut mewakili pesantren kita ini. Inipun atas pertimbangan seluruh pengurus Pondok Hidayah." Kyai Aminudin menghela nafasnya, "Dan untuk yang saya sebut namanya, mohon untuk maju ke depan untuk sedikit memberi keyakinan bahwa dia memang layak untuk maju ke kompetisi tahun ini." Ucap Kyai Aminudin.
Sekali lagi para santri hanya bisa saling pandang. Dari sorot mata mereka semua tergantung pertanyaan siapa santri yang berani mengikuti kompetisi tersebut.
"Ajimukti." Lanjut Kyai Aminudin kemudian, membuat berpuluh puluh pasang mata serentak melongo penuh rasa tidak percaya.
__ADS_1
Ajimukti dengan penuh ketenangan berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Kyai Aminudin di ikuti pandangan pandangan terkejut dari para santri. Budi, Khalil dan Imam pun seketika merasa puas. Dullah dan Manan yang sejak tadi duduk disebelah Ajimukti juga mengiring langkah Ajimukti dengan senyum yang mengembang. Sementara dari bilik yang lain sebuah senyum diam diam juga merekah diantara bibirnya yang mungil memperlihatkan lesung pipinya.
Ajimukti segera menyambut tangan Kyai Aminudin dan berdiri disebelah Kyai Aminudin setelah Kyai Aminudin turun dari mimbarnya.
"Coba Nak Aji beri sedikit contoh ceramah yang mungkin bisa meyakinkan mereka termasuk saya. Karena bagaimana pun status Nak Aji disini adalah santri diniyah, mungkin sulit bagi mereka percaya dengan keputusan pengurus pesantren memilih Nak Aji sebagai perwakilan Pondok Hidayah. Mengingat ini bukan kompetisi main main." Ucap Kyai Aminudin lirih.
"Sendiko dawuh, Kyai." Sahut Ajimukti sembari sedikit menundukkan badannya dan meraih mic pengeras suara yang ada di mimbar.
Untuk sejenak suasana masjid hening. Seluruh mata tertuju pada sosok Ajimukti yang kini berdiri di depan mereka. Untuk sesaat Ajimukti menghela nafasnya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..." Ucap salam Ajimukti memulai. Serentak seluruh isi masjid menjawab salam Ajimukti dengan tatapan yang tak lepas darinya.
"Bismillaahirahmanirrahiim... Alhamdulillahirabbil-'alamin... Nahmaduhu wanasta'iinuhu, wanastaghfiruhu, wana'uudzubillahi min suruuru anfusinaa, wa min sayyiati a'maalinaa, man-yahdillahu falaamudhillalah, wa man-yudhlil falaahadiyalah..." Ajimukti dengan tenang dengan suaranya yang lembut memulai mukadimahnya hingga menyampaikan beberapa potong ayat dengan seluruhnya bahasa arab membuat seluruh isi masjid membisu.
Dullah dan Manan yang duduk agak belakang hanya saling melempar pandang dan sesekali tersenyum. Kyai Aminudin hanya mengangguk angguk dengan kedua tangannya disedekapkan didada. Gus Faruq hanya diam memperhatikan setiap apa yang disampaikan Ajimukti dengan menaruh tangan kanannya didagu sebagai penyangga kepalanya, sesekali menganggukkan kepalanya dan sesekali pula tersenyum. Sementara Budi, Khalil dan Imam mereka nampak gelisah bak cacing kepanasan. Mendengar suara lantang Ajimukti berceramah lantang dengan bahasa arab seketika membuat wajah mereka tampak gelisah.
"Ihwaaniil-ahibaa'... kafaytu kalaamii fii hadzihil-furshoh... wa idzaa wa jadtum minniy khothoyaatin athlubul-'afwa minkum... wa ilaal-liqoo'... fii waqtin uhro... syukran 'ala husnihtimaamikum... wallahul-muwaafiq ila aqwamith-thoriiq... Wassalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh..." Ajimukti menutup ceramahnya, lalu turun dan menghampiri Kyai Aminudin.
Kyai Aminudin nampak tersenyum puas lalu menepuk pundak Ajimukti.
"Saya sekarang yakin dengan keputusan Faruq memilih kamu mewakili pesantren kita ini, Nak Aji." Ucap Kyai Aminudin, "Saya sebagai Guru kamu bangga sekali memiliki santri seperti kamu yang diam diam memiliki kelebihan berbahasa arab yang luar biasa." Imbuh Kyai Aminudin.
Ajimukti hanya tertunduk. Sementara seluruh santri yang berada di masjid masih tercengang tidak percaya dengan semua ini.
Kyai Aminudin mempersilahkan Ajimukti kembali duduk. Ajimukti pun segera kembali ke tempat duduknya semula. Disana Dullah dan Manan sudah menunggunya dengan dengan senyum yang mengembang dari kedua bibir mereka.
Kyai Aminudin kembali mengucapkan beberapa patah kata kepada seluruh santri sebelum akhirnya memberi aba aba kepada Budi untuk mengumandangkan adzan Isya'.
Budi berdiri dari duduknya dengan kaki sedikit gemetar. Raut wajahnya begitu menyiratkan sebuah kegelisahan.
"Kamu kenapa, Bud?" Tanya Kyai Aminudin menyadari ada yang berbeda pada Budi.
"Ti...tidak, Kyai. Ssss..saya...saya baik baik, -saja." Ucap Budi dengan suara terbata bata dan gemetaran.
Kyai Aminudin menghela nafas. "Duduklah!" Ucap Kyai Aminudin lalu memerintahkan santri yang lain untuk mengumandangkan adzan.
Adzan berkumandang malam ini di Pondok Hidayah. Memecah ketegangan yang dibuat Ajimukti untuk beberapa saat tadi. Kini suasana kembali hening, hanya terdengar suara Kyai Aminudin serak serak memimpin sholat Isya' berjama'ah malam ini.
Bersambung...
__ADS_1