BROMOCORAH

BROMOCORAH
Bainal-Tsaqaafah Wad-diin


__ADS_3

Pondok Hidayah malam ini selepas Isya'.


Ajimukti baru saja keluar untuk menemui Manan juga Sobri yang sepertinya sedang bersantai di halaman pesantren bersama para santri yang lain ketika tiba tiba ponselnya berdering.


"Sebentar saya angkat telfon dulu." Ucap Ajimukti pada semua yang ada di halaman itu, kemudian berdiri dan agak sedikit menjauh.


"Assalamu'alaikum, Dik. Ada apa malam malam begini telfon?" Tanya Ajimukti ketika panggilan sudah diterimanya.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Apa Mas Aufa sedang sibuk?" Tanya seseorang dari seberang, suara seorang gadis yang begitu terdengar sangat lembut.


"Tidak juga. Ini Mas baru saja selesai kajian ba'da Isya'. Ada apa memangnya?" Tanya Ajimukti lagi.


"Emmm, tidak ada apa apa sih, Mas. Ini kebetulan saya lagi di Jogja ini juga lagi sama budhe." Sahut gadis di seberang itu kemudian.


"Kamu lagi sama Sibu?" Tanya Ajimukti setelahnya.


"Iya, Mas. Mas mau ngomong sama Budhe?" Tanya gadis diseberang telfon itu kemudian.


"Tidak, Dik. Mas baru saja telfonan sama Sibu. Tapi tadi Sibu tidak bilang kamu disana. Kapan kamu sampai disana?" Tanya Ajimukti sesaat kemudian.


"Emmm, mungkin tadi waktu Mas Aufa telfon, saya belum sampai. Orang saya belum ada setengah jam sampainya." Sahut gadis itu lagi.


"Oh, pantesan. Soalnya tadi Sibu juga tidak bilang. Ngomong ngomong, ada apa kamu sowan ke Jogja? Sendiri apa sama Pak Lek?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Ya sama semua, Mas. Kebetulan bapak sedang cuti satu Minggu. Tapi rencananya saya mau nyusul Mas kesana. Boleh?" Ucap gadis itu dengan akhiran sebuah pertanyaan.


Disini, Ajimukti sedikit mengerutkan keningnya, "Gimana ya, Dik. Disini belum ada perempuannya. Asrama juga baru akan jadi kurang lebih dua sampai tiga bulan. Memangnya kamu tidak apa apa?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Iya, Budhe sudah cerita sih Mas sebenarnya. Tapi saya sudah punya rencana kok, Mas. Tinggal Mas ijinkan apa tidak gitu saja." Gadis itu terdengar sedikit tertawa.


"Emmm, yasudah kalau begitu. Kebetulan disini ada kamar bekas kamar putrinya Pak Kyai yang ngurus pesantren ini. Nanti sewaktu disini, bisa kamu pakai." Ucap Ajimukti setelah itu, meski sebenarnya ia ingin kamar itu tetap dipakai Habiba pada akhirnya, bahkan selama ia tinggal di ndalem, ia tidak pernah sekalipun masuk ke dalam kamar itu. Ia selalu mengunci kamar itu.


"Oke, Mas. Nanti kalau sudah berangkat saya kabari, Mas." Ucap gadis itu terdengar sangat senang.


"Iya kabari saja." Sahut Ajimukti datar.


Tak lama panggilan pun di akhiri dan Ajimukti kembali kepada teman temannya di halaman pesantren.


"Ngopi rien, Gus." Ucap Sobri sembari menyodorkan segelas kopi hitam yang masih panas pada Ajimukti.


"Terima kasih, Kang." Sahut Ajimukti.


"Siapa yang telfon, Jik?" Tanya Manan kemudian.


"Oh, itu, Nan. Adik saya yang kebetulan main ke rumah." Sahut Ajimukti sembari menyalakan sebatang rokok.


"Adik? Bukankah kamu anak tunggal, Jik?" Tanya Manan keheranan.


"Anaknya Pak Lek saya, Nan. Simbahnya dia adik Simbah Kakung saya dari pihak ibu." Jelas Ajimukti setelahnya.

__ADS_1


Manan hanya mengangguk.


"Anaknya Pak Lek Sarjito ya, Gus?" Tanya Sobri menyela.


Ajimukti mengangguk, "Benar, Kang."


"Ada apa, Gus? Kok sepertinya njenengan malah terlihat gelisah?" Tanya Sobri membaca ekspresi wajah Ajimukti.


Ajimukti menghela nafas, "Dia mau nyusul kesini, Kang. Padahal disini belum siap, tapi dasar ana ngeyel." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Begitu ya, Gus. Emmm, sementara suruh tidur di kamar bekas kamar Ning Biba, Gus. Kan kosong itu." Usul Sobri.


"Saya pun tadi juga sudah bilang begitu, Kang. Tapi saya bingung." Sahut Ajimukti kemudian.


"Bingung? Bingung kenapa, Jik?" Sela Manan.


"Ya kan rencananya kamar itu memang biar kembali ke pemiliknya, Nan. Itu kenapa sampai sekarang saya biarkan dan saya kunci." Sahut Ajimukti lagi.


Sobri mengangguk, Manan juga nampak mengangguk.


"Buat persiapan kamar pengantin ya, Jik?" Goda Manan kemudian.


Ajimukti tersentak namun kemudian hanya sedikit melengkungkan bibirnya saja tanpa merespon ucapan Manan itu.


"Oh, iya, Kang Sobri. Saya sampai kelupaan. Beberapa hari yang lalu sampeyan apa bertemu dengan seorang kakek yang memakai udeng di kepalanya?" Tanya Ajimukti mengalihkan pembicaraan.


Sobri menoleh ke arah Ajimukti yang duduk di sebelah Manan. "Iya itu, Gus. Kok njenengan bisa tahu?" Tanyanya kemudian dengan sedikit mengerutkan kening.


"Njenengan apa kenal Simbah Simbah itu, Gus?" Tanya Sobri menyelidik.


Ajimukti mengangguk ringan, "Iya, Kang. Namanya Mbah Sukrono, mertuanya Pak Gandung. Nah, Pak Gandung itu sahabat yang sudah dianggap saudara sama Lek Dullah, Kang." Cerita Ajimukti kemudian menjelaskan.


Sobri mengangguk anggukan kepalanya, "Oh, jadi Simbah itu Mbah Sukrono yang pernah diceritakan bapak yang katanya punya banyak pusaka itu ya, Gus?"


"Benar, Kang. Kemarin itu Mbah Sukro juga mampir sini. Tapi saya tidak melihat sampeyan pas di ndalem." Ucap Ajimukti sembari menghisap batang rokok ditangannya.


"Oalah, jadi yang katanya Kang Khalil sampeyan pulang sama seseorang itu ya sama Mbah Sukro itu, Gus?" Tanya Sobri kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Iya, Kang."


"Saya pikir Simbah itu Wali Mastur, Gus. Habisnya tahu tahu ngasih wejangan, habis itu pergi. Saya kejar tapi malah kehilangan jejak. Padahal jaraknya juga tidak seberapa." Cerita Sobri sedikit malu


Ajimukti kemudian hanya tersenyum, "Memang begitu karakternya Mbah Sukro, Kang. Saya pun terkadang heran. Emmm." Ajimukti lalu mengangguk anggukan kepalanya kemudian meraih gelas kopi dan mulai menyesapnya.


"Apa jangan jangan benar beliau itu wali ya, Jik?" Tanya Manan seolah sangat penasaran.


"Wallahu a'lam, Nan. Khusnudzon saja bahwa beliau orang baik." Sahut Ajimukti sembari meletakkan gelas kopinya.


"Saya ketika mendengar cerita beliau dari bapak sudah penasaran. Eh, malah ketika bertemu orangnya langsung, saya tidak tahu kalau beliaulah Mbah Sukro yang pernah diceritakan bapak." Keluh Sobri.

__ADS_1


"Tambah dibikin penasaran berarti, Kang?" Celetuk Manan.


Sobri hanya tertawa, lalu meraih rokok kreteknya dan menyulutnya sebatang.


"Mbah Sukro itu tipe orang yang sangat sangat nguri nguri kabudayan, tapi tidak keluar dari syari'at Islam. Bukan begitu ya, Jik?" Manan melirik Ajimukti seolah mencari pembenaran.


Ajimukti pun mengangguk, "Kamu benar, Nan. Dan itu menyadarkan kita sebagai kawula muda, yang merasa bahwa kita ini manusia modern. Bahwa kebudayaan pun harus dijunjung tinggi karena bagaimana pun juga itu identitas negara kita." Ucap Ajimukti merespon ucapan Manan.


"Benar kata Guse, Kang Manan. Wujud Hubbul Wathon minal iman kita ya salah satunya dengan ngrekso njogo peninggalan leluhur." Imbuh Sobri.


"Harus kita akui bahwa memang ada permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam dalam membedakan antara agama dan budaya, antara ibadah dan muamalah, antara urusan agama dan urusan dunia, antara sunnah dan bid’ah. Namun, Nan. Secara teoritis perbedaan antara keduanya dapat dijelaskan, meski dalam praktek kehidupan kedua hal tersebut seringkali rancu, kabur, dan tidak mudah untuk dibedakan." Imbuh Ajimukti pula.


"Kamu benar, Jik. Agama dan budaya di Nusantara ini, jika dilihat dari konteks Islam yang berkembang dan hidup di Nusantara ini, telah menjadi hubungan simbiosis. Agama butuh alat atau pun metode untuk disampaikan kepada masyarakat. Agar orang paham terhadap agama, maka dibutuhkan metode ataupun alat supaya agama itu bisa dipahami orang. Begitu kan, Jik?" Timpal Manan kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Tepat, Nan. Dalam konteks kenusantaraan yang ada di Indonesia. Budaya, tradisi dan seni itu menjadi alat untuk menyampaikan ajaran ajaran agama supaya agama lebih mudah dipahami. Karena kalau pesan pesan agama disampaikan dengan cara cara Timur Tengah, tentunya akan ada kesenjangan budaya. Sehingga akan kesulitan untuk memahami dan menerima pesan pesan agama itu kalau metode Arab itu yang dipakai. Oleh karena itu, sejak jaman Walisongo digunakanlah metode atau tradisi nilai nilai kultur orang lokal Nusantara ini sebagai alat untuk menyampaikan. Dan itu terbukti ampuh, Nan. Sehingga dalam waktu kurang dari lima puluh tahun, Walisongo mampu meng-Islamkan masyarakat Nusantara dari yang semula sembilan puluh persen Hindu - Budha berbalik menjadi sembilan puluh persen Islam." Jelas Ajimukti menambahi pernyataan Manan.


“Padahal, Nan. Selama delapan abad, Islam tidak berkembang di bumi Nusantara ini. Data sejarah menunjukkan abad ke delapan, Islam sudah masuk di bumi Nusantara melalui berbagai pintu, baik dari pintu Aceh, pintu Jawa dan pintu pintu daerah lain. Namun, pada kenyataanya Islam sendiri baru berkembang pada abad ke lima belas di zaman Majapahit. Yang artinya apa, Nan? Ada masa kevakuman dari abad ke delapan sampai abad ke lima belas itu, yang mana Islam di Nusantara ini belum bisa diterima oleh bangsa Nusantara. Nah, kevakuman itulah yang kemudian dikoreksi oleh para wali dan ternyata ada kesalahan dalam menyampaikan pesan pesan itu." Sambung Ajimukti kemudian.


“Dan akhirnya disampaikan dengan bahasa, cara, budaya, tradisi yang berkembang di masyarakat seperti saat ini ya kan, Jik? Baru Islam itu bisa masuk." Sahut Manan setelahnya.


"Benar, Nan. Dengan cara yang disampaikan para wali itulah akhirnya melahirkan tembang, gending, syair, babat, serat, sastra dan sebagainya itu. Sehingga dengan kebudayaan ini lebih mudah diterima masyarakat. Makanya tak jarang dalam pertunjukkan budaya banyak nilai nilai Islami disana. Dalam beberapa tembang pun jika kita kupas, akan banyak pesan di dalamnya, semisal yang sering kita dengar seperti tembang Lir Ilir, Sluku Sluku bathok dan tembang lainnya. Mungkin itu sebagian hanya akan menganggap bahwa itu lagu daerah, tapi pada dasarnya tembang itu adalah pesan pesan kebaikan." Imbuh Ajimukti kemudian.


"Benar, Gus. Saya pun beberapa kali ngulik tembang tembang Jawa yang dulu waktu masih SD hanya sebatas pelajaran Muatan Lokal saja, tapi nyatanya tembang tembang itu dalam sekali makna filosofinya." Imbuh Sobri setelahnya.


"Iya, Kang. Makanya kenapa kita perlu nguri uri budaya, ya karena kenyataannya lewat budayalah Islam berkembang. Jangan karena kita merasa manusia modern lalu menganggap budaya itu sebagai mitos, hal jadul, kuno, norak dan penyebutan lainnya. Apalagi kita sebagai orang Jawa yang kental akan budaya. Masak iya kelak kita kalah dengan orang orang luar yang justru kepincut dengan budaya adiluhung kita? Pokoknya, Jowo digowo, barat di ruwat, Arap digarap. Wis komplit itu nanti. Itu baru manusia modern. Ketika keluar di ajak ngobrol Inggris ilate Ra ketekuk, Tindak tanduk entuk, ibadahe yo mathug. Uenak, Kang." Sahut Ajimukti sembari tertawa dan kembali menghisap sisa rokoknya.


"Benar, Jik. Mantap." Imbuh Manan yang juga ikut tertawa karena ucapan Ajimukti itu.


Ajimukti menghela nafasnya, "Dan lagi. Dengan Islam yang seperti ini, yang bisa menyatu dengan budaya Nusantara ini, maka orang menjadi tidak mudah marah. Karena kalau Islam ini sedikit sedikit marah, ditunjukkan dengan emosi ataupun kemarahan kemarahan, akhirnya orang menjadi berpikir mengapa ajaran Islam ini ajarannya marah marah. Ya tho? Kita juga perlu marah tetapi harus pada tempatnya. Kalau kita marah dan mengatasnamakan marah itu pada hal hal yang sifatnya membesar besarkan masalah, maka orang jadi mikir seperti masalah sedikit dibesar besarkan yang akhirnya sama saja dengan mengkerdilkan Islam itu sendiri. Nah, Kondisi seperti ini tentu sudah diantisipasi oleh para wali pada zaman dahulu ketika Sunan Kalijogo mentransformasikan ayat ayat Allah menggunakan seni, budaya dan tradisi. Tujuan menggunakan kebudayaan Nusantara itu sebagai sarana untuk menyebarkan, mengajarkan, dan menyampaikan pesan pesan agama supaya lebih indah, lebih mudah diterima dan lebih menyenangkan ketika didengarkan orang. Dan benar, dengan cara seperti itu justru Islam bisa diterima oleh semua orang, dibanding dengan orang orang yang berteriak teriak tetapi suaranya enggak jelas meskipun itu suara yang mengandung kebaikan. Ini faktual, harus dibedakan antara pesan agama, ajaran agama dengan metode, cara atau alat menyampaikan pesan." Imbuh Ajimukti lagi.


"Ya, Jik. Kamu benar. Saya justru risih kalau banyak yang koar koar begitu. Islam yang adem ayem justru malah terkesan arogan." Sahut Manan kemudian.


Ajimukti kembali meraih rokok kreteknya sebatang lalu menyulutnya. Untuk sesaat mereka yang ada di halaman itu sama sama saling menikmati rokoknya masing masing.


"Oh iya, Jik. Soal yang bapak bapak datang kesini waktu itu. Jadi dia mondokin anaknya disini?" Tanya Manan kemudian.


"Oh, Pak Samsuri itu. Saya juga tidak tahu, Nan. Ya, waktu itu beliau datang meminta solusi, saya sudah kasih solusi, selebihnya keputusan ya ada di tangan beliaunya sendiri." Sahut Ajimukti.


"Sepertinya dia ragu ya, Jik?" Tanya Manan lagi.


"Ya, awalnya begitu, Nan. Tapi ya sudahlah. Kita tunggu saja nanti. Ya kalau anaknya diantar kesini berarti beliau sarujuk dengan saran saya, tapi kalau tidak berarti beliau ada solusi lain yang pasti lebih baik dari saran saya waktu itu." Ucap Ajimukti.


"Manusia itu hanya seperti lalat dan lebah, Nan. Tinggal bagaimana kitanya, mau jadi lalat atau lebah." Ucap Ajimukti sembari menghisap rokok kreteknya dalam dalam.


"Maksudnya, Jik?" Tanya Manan kemudian sembari mengerutkan kening.


"Lha kamu kalau suruh milih. Pilih lalat atau lebah?" Tanya balik Ajimukti pada Manan.


Manan menaikkan alis matanya, "Wah, pasti ini pertanyaan jebakan ini, Jik. To the point saja, Jik." Ucapnya kemudian.

__ADS_1


Ajimukti kemudian hanya tertawa lalu kembali menghisap rokoknya sekali lagi dan menghembuskan asapnya ke atas.


Bersambung...


__ADS_2