BROMOCORAH

BROMOCORAH
Toleransi


__ADS_3

"Kamu darimana?"


Habiba yang baru saja masuk ke dalam rumah terlonjak kaget ketika tiba tiba Abahnya sudah duduk di sofa ruang tamu dengan suara tinggi dan tatapan yang nanar.


Habiba nampak gugup, dengan terbata ia menjawab, "A...anu, i...itu, Bah. Habiba...Habiba tadi cuma jalan jalan, emmm, di sekitaran pesantren saja."


Kyai Aminudin semakin melotot tajam ke arah Habiba, membuat jantung Habiba berdetak kencang.


"Jawab jujur! Kamu dari mana?" Kyai Aminudin kini mulai membentak, wajahnya merah padam.


"Habiba...Habiba cu...cuma jalan jalan, Bah. Sungguh!" Habiba masih terbata saat kembali menjawab pertanyaan Abahnya itu.


"Sama siapa?" Tanya Kyai Aminudin terdengar menyelidik.


Habiba gelagapan, mendadak mulutnya kaku untuk digerakkan dan rasanya suaranya tertahan di tenggorokannya.


"Abah ini bertanya! Sama siapa kamu tadi!" Kyai Aminudin terdengar kembali membentak, kini suaranya lebih di tinggikan.


Nyai Sarah yang mendengar suara tinggi Kyai Aminudin, dengan tergopoh segera bergegas ke ruangan itu.


"Ada apa ini, Bah?" Tanya Nyai Sarah melihat Kyai Aminudin sepertinya sedang memarahi Habiba.


"Sudah! Umi diam saja! Abah sedang bertanya sama anak ini." Ucap Kyai Aminudin masih dengan suara tinggi.


Nyai Sarah hanya mendengus lalu segera mendekat ke anak perempuannya, "Ada apa, Nduk?" Tanya Nyai Sarah pada putrinya itu.


Habiba masih hanya terpaku membisu. Dia tertunduk dan terlihat hanya memainkan ujung bajunya. Badannya terasa gemetaran saat ini.


"Kenapa diam? Abah ini bertanya lho!" Bentak Kyai Aminudin lagi dengan tatapan semakin tajam ke arah Habiba.


Habiba menghela nafasnya, lalu dengan lirih akhirnya pun menjawab, "Kang Aji, Bah."


Mata Kyai Aminudin terbelalak dan tersenyum menyeringai, "Bagus, sudah berani ya pergi pergi sama laki laki yang bukan mahram?"


"Tapi, Bah?" Habiba mulai berontak.


"Tapi apa? Apa? Hah?" Kyai Aminudin memotong pembelaan Habiba dengan suara tingginya dan mata yang melotot tajam.


"Biarkan anakmu bicara dulu to, Bah!" Nyai Sarah kembali angkat bicara. Lalu membelai pundak Habiba dan menyuruhnya menjelaskan pada Abahnya.


"Habiba dan Kang Aji hanya kebetulan bertemu dan akhirnya jalan bersama sambil ngobrol. Apa itu salah, Bah? Bukankah kita sebagai keluarga ndalem harus memberi contoh yang baik dengan tidak bersikap acuh?" Habiba mulai membela dirinya dihadapan Kyai Aminudin.


"Justru karena kita keluarga ndalem, kamu harus tahu aturan. Apa kata orang orang kalau tahu, putri seorang Kyai jalan berduaan dengan laki laki yang bukan mahramnya? Sadar tidak, itu khalwat. Dosa!" Kyai Aminudin semakin menunjukkan kemarahannya pada Habiba.


Habiba tersenyum sinis, "Abah mengaku sebagai Kyai yang khawatir dengan omongan orang? Apa itu bukan berprasangka buruk, Bah?" Habiba mulai meladeni emosi Abahnya setelah dirasanya lebih tenang kali ini.


Kyai Aminudin bangkit dari duduknya, "Lancang kamu! Sudah berani menggurui Abahmu sekarang! Apa ini hasilmu bergaul dengan berandalan macam Ajimukti?" Kyai Aminudin kini terlihat berkacak pinggang.


"Dia lebih pantas disebut Bromocorah, ketimbang seorang santri. Harusnya dia juga tahu diri. Berani sekali dia jalan sama putri Kyai nya!" Sambung Kyai Aminudin kemudian.


"Berandalan kata Abah? Apa Abah lupa bagaimana Kang Aji memenangkan kompetisi demi nama pesantren kita ini?" Habiba kali ini terdengar membela Ajimukti di depan Abahnya.


"Abah tidak lupa. Abah ingat. Tapi mau sepandai apapun dia. Berandalan tetap saja berandalan. Anggap saja dia waktu itu sedang beruntung." Kyai Aminudin tersenyum menyeringai.


"Kalau memang Kang Aji hanya Abah anggap mengandalkan keberuntungan. Kenapa Abah tidak mengirim santri Abah yang lain, yang Abah anggap mampu tanpa sebuah keberuntungan." Habiba semakin memojokkan Abahnya kali ini.


Kyai Aminudin menatap tajam ke arah Habiba. Kini kedua pasang mata bapak dan anak itu saling beradu pandang.


"Sepertinya kamu sedang benar benar melindungi Ajimukti itu, Nduk. Sepertinya kamu mulai dibutakan olehnya. Sampai sampai kamu berani melawan Abahmu sendiri." Kyai Aminudin menyipitkan matanya.


"Apa jangan jangan kamu menaruh hati pada berandalan itu?" Sambung Kyai Aminudin tanpa basa basi.


Pandangan Habiba kepada Abahnya kali ini terlihat lebih tegas. Sejenak ia menarik nafas dalam.

__ADS_1


"Apa salahnya kalau Habiba memang menyukai Kang Aji, Bah? Dia pantas untuk dicintai dengan semua yang ada pada dirinya." Ucap Habiba tanpa ragu lagi kali ini.


Kyai Ajimukti kali ini benar benar tersulut amarah mendengar ucapan Habiba yang secara tidak langsung mengakui semua perasaannya terhadap Ajimukti.


Nyai Sarah pun yang mendengar kata kata Habiba barusan pun terlihat begitu kaget ketika Habiba dengan terang terangan mengakui itu. Kini wajah wanita paruh baya itu terlihat sedikit cemas lalu meraih pundak putrinya.


"Sudah, Nduk. Jangan diteruskan lagi. Masuklah ke kamar. Biar Umi yang bicara sama Abahmu." Ucap Nyai Sarah berusaha melerai perselisihan bapak dan anak itu.


Habiba tak menyahut, tapi dia kini terlihat menurut saja dengan kata kata Uminya itu. Habiba dengan langkah gontai mulai berjalan ke arah kamarnya.


"Mau kemana kamu? Abah belum selesai bicara!" Kyai Aminudin berusaha menahannya masih dengan suara tinggi.


"Sudahlah, Bah. Jangan terus menekan anakmu. Bagaimana pun dia itu putri kita satu satunya. Biarkan sekarang dia tenang dulu. Abah juga tenangkan diri Abah. Kalau sudah tenang nanti bicarakan lagi." Ucap Nyai Sarah sembari mengusap punggung suaminya, sedikit berusaha menenangkan amarah suaminya itu.


Kyai Aminudin hanya mendengus, lalu tanpa berkata kata lagi menjatuhkan tubuhnya dan terduduk lemas di sofa. Nyai Sarah pun ikut duduk di samping suaminya itu untuk terus berusaha menenangkan Kyai Aminudin yang sudah dipenuhi dengan amarah.


Sementara itu, setelah pertemuannya dengan Habiba tadi pagi, Ajimukti kembali keluar dari area pesantren bersama Manan juga Dullah. Tujuan mereka kali ini ke pasar.


"Apa sejak tadi sampeyan juga cuma duduk duduk dihalaman masjid, Mas? Katanya tadi mau jalan jalan." Ucap Dullah ditengah perjalanan.


"Tidak, Lek. Tadi sempat jalan jalan ke samping pesantren, malah sempat ngobrol juga sama Ning Biba tadi." Jawab Ajimukti sembari berjalan santai pagi ini.


Manan yang mendengar Ajimukti sempat mengobrol dengan Habiba terlihat kaget, lalu menoleh ke arah Ajimukti dengan pandangan penuh selidik.


"Habiba, Jik?" Tanya nya memastikan, "Ngobrolin apa?" Sambungnya kemudian.


Ajimukti sedikit mengangkat bahu, "Obrolan biasa, kebetulan tadi nggak sengaja ketemu. Emmm, ngobrolin soal Budi juga." Sahut Ajimukti tanpa mencoba menutupi apapun.


"Kok tumben ya?" Gumam Manan kemudian.


Ajimukti dan Dullah melirik ke arah Manan.


"Tumben kenapa, Nan?" Tanya Dullah kemudian. Sedikit menaruh rasa penasaran dengan ucapan Manan yang setengah berbisik itu.


"Ah, tidak apa apa, Lek." Manan nampak sedang menutupi sesuatu, Ajimukti memperhatikan itu.


Tak lama, mereka bertiga pun sampai di pasar yang masih terlihat ramai oleh para pengunjung juga para penjual yang saling menjajakan dagangan mereka.


"Kita kesana yuk, Nan." Ajak Ajimukti seraya menunjuk kesalah satu warung makan yang cukup ramai.


Entah kenapa saat Ajimukti mengajaknya kesana, Manan sejenak mengerutkan keningnya.


Begitu mereka tiba disana dengan hanya mengenakan sarung, kaos dan dengan kepala tertutup songkok hitam, pandangan orang orang di dalam warung itu seketika tertuju ke arah mereka. Manan menyadari pandangan orang orang itu yang tertuju ke arahnya dan Ajimukti juga Dullah.


Tak lama seorang pemuda yang masih menggunakan celemek, menghampiri mereka.


"Emmm, kalian dari pesantren ya?" Tanya pemuda itu dengan nada bicara sedikit kurang ramah.


"Iya, Kang." Sahut Ajimukti dengan sedikit melempar senyum. Berbeda dengan Manan yang justru nampak gelisah.


"Anak baru?" Tanya pemuda itu lagi, terdengar ketus.


"Iya, Kang. Dua bulan." Sahut Ajimukti dengan ramah tanpa menaruh curiga sedikit pun.


"Pantas saja. Anak baru rupanya." Ucap pemuda itu lagi yang kali ini membuat Ajimukti dan Dullah sedikit mengerutkan kening.


Sementara itu Manan benar benar nampak gelisah dan wajahnya di penuhi kecemasan.


"Cari tempat lain saja yuk, Jik." Ucap Manan setengah berbisik pada Ajimukti.


Ajimukti kembali mengerutkan kening, tidak tahu maksud Manan yang mendadak mengajak cari tempat lain.


"Sudah, mereka ini tamu. Suruh duduklah." Ucap pemuda yang lain, yang kali ini terlihat lebih ramah. "Mari, Kang. Silahkan duduk. Mau pesan apa?" Ucap pemuda itu dengan sedikit senyum merekah di bibir mungilnya.

__ADS_1


Ajimukti dan Dullah pun tak berpikir panjang dan mereka pun segera duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu, sementara Manan masih berdiri melamun sampai akhirnya Ajimukti menariknya.


"Kamu kenapa, Nan? Sepertinya ada sesuatu." Tanya Ajimukti melihat ekspresi tegang di wajah Manan.


"Iya, Nan. Ada apa sebenarnya?" Dullah menimpali.


"Begini, Jik. Penjual di warung ini Nasrani, dan pernah berseteru dengan Kyai Aminudin." Bisik Manan dengan suara lirih.


Ajimukti mengerutkan kening, lalu terlihat mengangguk.


"Kalian anak baru apa tidak takut kena marah Kyai kalian kalau makan disini?" Tanya pemuda yang sejak awal bersikap kurang ramah itu.


"Sudahlah, Han. Jangan begitu." Potong pemuda yang lebih ramah, "Maafkan ucapan teman saya, Kang. Johanes memang orangnya begitu." Lanjutnya kemudian.


"Samuel, Samuel! Terserah kamu saja lah, Sam. Saya males harus debat sama orang orang sok suci itu." Ucap pemuda bernama Johanes kian menunjukkan ketidaksukaannya pada Ajimukti dan yang lain.


Ajimukti menyipitkan matanya mendengar kata kata 'sok suci' yang dilontarkan pemuda bernama Johanes itu.


"Ada apa sebenarnya, Kang?" Tanya Ajimukti sedikit penasaran pada pemuda yang lebih ramah, yang diketahuinya bernama Samuel itu.


"Panjang ceritanya, Jik. Nanti saja saya ceritakan. Tidak enak disini." Potong Manan setengah berbisik.


Samuel memperhatikan itu, "Tidak apa apa, Kang. Biar saya jelaskan, agar tidak salah paham." Ucap Samuel sembari melempar senyum tulus.


"Kalau tidak keberatan, Kang. Sejujurnya saya penasaran." Ucap Ajimukti tanpa basa basi.


Samuel mengambil duduk di seberang meja tepat di depan Ajimukti duduk saat ini.


"Begini, Kang. Dulu Kyai sampean pernah marah marah ketika ada beberapa santri yang makan disini." Ucap Samuel kemudian.


Ajimukti mengangguk, "Kalau boleh tahu alasan kemarahan beliau apa ya, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Pak Kyai, menganggap makan disini haram, Jik. Karena ini tempat makan orang Non Muslim. Kehalalannya tidak terjamin." Potong Manan lagi.


"Benar, Kang. Kurang lebih seperti yang Mas nya ini jelaskan." Imbuh Samuel kemudian.


"Astaghfirullah, segitunya Kyai Aminudin ya Mas?" Sahut Dullah yang sejak tadi tak lepas perhatiannya dari Samuel.


"Ya, Kyai sampeyan menganggap kami ini kafir, musyrik dan umpatan lainnya. Sementara kami disini menyadari kami berjualan diantara warga yang notabene muslim. Jadi kami pun menghargai itu, berusaha membuat makanan kami pun halal. Tapi ya begitulah, Wang sinawang, Kang." Jelas Samuel kembali menjelaskan.


Ajimukti tersenyum, "Saya mewakili beliau minta maaf ya, Kang. Mungkin beliau terlalu berhati hatinya jadi se fanatik itu." Ucap Ajimukti kemudian.


"Kok, sampeyan yang minta maaf sih, Mas. Kan sampeyan nggak tahu apa apa?" Tanya Dullah keheranan.


"Ini urusannya bukan pribadi, Lek. Tapi ke agama. Sebagai seorang muslim. Kita harus mewakili muslim yang lain ketika muslim yang lain berbuat kesalahan agar umat muslim tidak dipukul rata dengan mindset yang sama." Sahut Ajimukti kemudian.


"Tidak apa apa, Kang. Saya secara pribadi tidak mempersoalkan itu. Ya, karena saya menyadari ketidak tahuan saya soal lingkup Islam." Ucap Samuel dengan senyum ramahnya.


"Tapi menurut saya, Mas. Sikap Kyai Aminudin itu sudah keterlaluan. Dia sama saja sudah menjelek-jelekkan Islam di mata kaum non Islam kan Mas itu artinya?" Dullah nampak geram sendiri.


"Iya, Lek. Benar. Seperti kata Sayyidina Ali, Kalau tidak bisa bersaudara dalam keimanan, setidaknya bersaudara lah karena kemanusiaan. Dan lagi Indonesia ini hanya negara dengan mayoritas penduduknya Islam, bukan negara Islam. Toleransi antar umat beragama juga menjadi bagian penting sebagai manusia yang berakal, Lek." Ucap Ajimukti kemudian.


"Wah, benar Kang apa yang sampeyan katakan ini. Saya pun berusaha untuk tetap mentolerir meski bukan se kepercayaan." Imbuh Samuel yang nampak salut dengan cara berpikir Ajimukti itu.


"Dalam kepercayaan kami, Kang. Ada istilah hubbul Wathon minal iman, Mencintai negara sebagian dari keimanan. Jadi menurut saya, ketika seseorang itu mengatakan mencintai negaranya, berarti dia siap untuk mencintai segala aturan yang ada dalam sebuah negara, dan toleransi antar umat beragama ada dalam bagian negara kita ini. Jadi jika tidak bisa menjaga toleransi, bagaimana bisa disebut seorang yang mencintai negaranya? Bukan begitu, Kang?" Imbuh Ajimukti kemudian.


"Wah, Luar biasa sampeyan ini, Kang. Salut saya dengan cara berpikir sampeyan. Maaf, Kang bukan maksud apa apa. Tapi kalau saja semua umat muslim, emmm, maaf maksud saya semua orang berpikiran sama dengan sampeyan, saya yakin semua orang, entah itu Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Budha dan apapun kepercayaannya, pasti, pasti bisa hidup rukun berdampingan." Lagi lagi Samuel mengungkapkan kekagumannya pada Ajimukti.


"Maaf, Kang. Saya melihat sampeyan ini punya wawasan khusus dalam agama. Emmm, apa sampeyan tidak keberatan jika saling bertukar pengetahuan, Kang?" Tanya Samuel kemudian.


"Maksud sampeyan bertukar pengetahuan yang seperti apa ya, Kang?" Tanya Ajimukti sedikit keheranan.


Samuel nampak ragu untuk meneruskan kata katanya, ia nampak menghela nafas lalu melirik ke arah Johanes yang duduk sendiri di luar warung makan itu.

__ADS_1


"Saya tertarik untuk belajar tentang Islam, Kang. Maaf, bukan saya tidak mengimani kepercayaan saya, tapi saya hanya ingin sedikit tahu tentang Islam saja, Kang." Ucap Samuel sedikit terdengar lirih.


Bersambung...


__ADS_2