
Pagi itu di kediaman Prastowo. Di teras rumah, di lincak yang terbuat dari bambu.
Sumiatun, istri Prastowo, sedang diam diam mengamati Ajeng, putrinya, yang sepertinya sedang melamun hingga tak menyadari kedatangannya.
"Mikir apa kamu, Nduk? Pagi pagi ibu lihat kamu sudah melamun." Sapa Sumiatun sembari kemudian duduk di sebelah Ajeng.
Ajeng nampak salah tingkah melihat teguran ibunya yang tiba tiba itu.
"Ah, tidak, Bu. Ajeng... Ajeng hanya sedang melihat anak anak kucing itu." Tunjuk Ajeng pada beberapa anak kucing yang memang sedang berlarian di halaman rumahnya bersama induk mereka.
Sumiatun tersenyum, ia mengakui kepandaian anak gadisnya itu hingga untuk beralasan pun terlihat sangat tepat.
"Setelah ini apa rencana kamu, Nduk?" Tanya Sumiatun setelahnya.
Ajeng sedikit menaikan pundaknya. " Belum tahu, Bu. Tapi Ajeng sudah dimintai tolong Kang Aji untuk nanti bantu bantu di pesantren kalau asrama putri sudah siap digunakan." Sahut Ajeng kemudian.
Sekali lagi Sumiatun tersenyum, "Nduk, apa kamu masih berharap soal...?" Sumiatun menghentikan ucapannya. Ia ragu untuk melanjutkan kata katanya.
Ajeng menoleh kearah ibunya, lalu menggenggam punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Bu, Ajeng tahu maksud ibu." Ucap Ajeng Sembari tersenyum.
Sumiatun menghela nafasnya, kemudian ikut tersenyum.
"Ajeng sudah cukup sadar diri posisi Ajeng, Bu. Ibu tidak usah khawatir soal itu."
"Nduk, ibu tidak pernah khawatir sedikit pun. Ibu hanya... Ibu hanya tidak ingin kamu nantinya kecewa saja." Ucap Sumiatun terdengar berat.
"Itu namanya khawatir, Bu. Sudahlah, Bu. Ibu percaya saja sama Ajeng." Ucap Ajeng berusaha meyakinkan dan menenangkan kekhawatiran Sumiatun.
"Mungkin berat ya, Nduk?" Tanya Sumiatun kemudian.
"Mungkin, Bu. Tapi Ajeng bawa enteng saja." Sahut Ajeng.
Sumiatun lagi lagi tersenyum, "Kamu memang seperti bapakmu, Nduk. Tidak hanya kuat tapi hebat." Ucapnya kemudian.
Ajeng menaikkan alis matanya, "Maksud ibu?" Tanyanya setelah itu.
"Kuat itu ketika bisa menghadapi sesuatu yang berat. Tapi ketika berhadapan dengan sesuatu yang berat tapi menganggapnya ringan, itu tidak hanya kuat, tapi hebat, Nduk. Dan itu sifat bapak kamu. Baguslah sifat itu menurun di kamu." Ucap Sumiatun sedikit membelai wajah Ajeng.
Ajeng tersenyum, "Ajeng hanya bisa begitu, Bu. Toh, itu hanya soal takaran, Bu. Dan Ajeng sendirilah yang menakar berat atau tidaknya."
Sumiatun kemudian hanya menghela nafas, "Bagaimana dengan Nak Sobri, Nduk?" Tanyanya setelah itu.
Ajeng mengerutkan kening, pipinya nampak memerah..
"Maksud ibu?" Tanyanya kemudian.
Sumiatun kembali tersenyum, "Buka pintu kamu, Nduk. Jangan biarkan tertutup dan diam dalam kegelapan. Ndunyane iki wis padang." Ucap Sumiatun setelahnya.
Ajeng hanya tersenyum lalu memeluk Sumiatun setelah itu.
"Terima kasih nggeh, Bu." Bisik Ajeng lirih dalam pelukan ibunya.
"Loh, terima kasih untuk apa, Nduk?" Sumiatun melepas pelukan lalu meraih kedua pipi anaknya.
"Ya, terima kasih untuk semua dukungan ibu tho." Jawab Ajeng sedikit gemas.
Sumiatun kembali tersenyum lalu sedikit mencubit dagu anak gadisnya itu.
__ADS_1
"Kamu itu lho, Nduk. Lucu. Ibu ini selain menjadi ibu kamu, juga bisa menjadi sahabat, tempat kamu curhat. Jadi tidak akan ada aib yang pada akhirnya sampai di luaran sana, Nduk. Karena sebaik apapun sahabat dia tetap orang lain, yang punya kehidupannya sendiri." Ucap Sumiatun setelahnya.
Ajeng hanya kemudian tersipu malu malu sembari sedikit menyembunyikan wajahnya.
"Yasudah Ajeng mandi dulu ya, Bu." Ucap Ajeng kemudian sembari berdiri.
Sumiatun hanya kemudian mengangguk dan membiarkan putrinya berlalu dari teras itu.
"Anakmu ngopo, Bu?" Tanya Prastowo yang baru saja keluar dari kandang kandang ayamnya.
"Tidak apa apa, Pak. Hanya mengobrol saja." Sahut Sumiatun.
Prastowo hanya berdehem tak menyahut, lalu meraih cangkir tehnya dan menyeruputnya.
"Kita salah, Pak." Gumam Sumiatun lirih diantara desah nafasnya.
Prastowo memutar kepalanya, menoleh ke arah istrinya juga sedikit memicingkan matanya.
"Maksud ibu iku opo?" Tanyanya kemudian sembari meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja.
"Ah, bapak iku lho. Soal Nak Sobri, Pak." Desah Sumiatun dengan suara berat sedikit kesal.
"Sobri? Ada apa memangnya dengan Sobri, Bu? Apa ada sesuatu dengan anak itu? Atau....?"
"Tidak, Pak. Bukan soal itu. Tapi soal anak kita, Ajeng. Ibu lihat, tidak akan sulit membuat Ajeng bisa membuka hatinya untuk Sobri." Ucap Sumiatun nampak lebih tenang dari sebelumnya.
Prastowo tersenyum, "Belum tentu, Bu. Ajeng itu hanya sedang menimbang hatinya saja. Dia mungkin bisa sedikit menutupi perasaannya pada Mas Aji, tapi bukan berarti dia bisa begitu saja menggantinya dengan Sobri, Bu. Berusaha mungkin. Karena bagaimanapun Mas Aji itu, emmm...setahu bapak yang pertama menyentuh hati anak kita, meski pada akhirnya bukan menjadi yang utama." Jelas Prastowo kini meraih rokok kreteknya.
"Tapi kalau ibu lihat lihat memang sepertinya Nak Sobri juga sudah mulai mengusik pikiran anak wedokmu lho, Pak." Sumiatun masih berusaha meyakinkan Prastowo.
"Alah wis ben, Bu. Bapak waktu milih ibu jadi istri bapak, itu juga ora waton, Bu." Ucap Prastowo sembari mengibaskan tangannya.
"Lha kok ujuk ujuk sampai disitu tho, Pak." Sumiatun kemudian geleng kepala.
"Kaitannya apa, Pak?" Tanya Sumiatun nampak mendesak.
"Bapak tidak sebatas golek bojo waktu milih ibu. Tapi juga golek mbok sing ngemboki untuk anak anak bapak kelak. Dan bapak yakin, tidak hanya seratus persen, seribu persen bahkan. Pondasi yang ibu bangun saat anak kita mulai beranjak dewasa cukup kuat untuk menjadi landasannya di masa yang akan datang." Ucap Prastowo sedikit membuat Sumiatun merah merona.
"Ah, bapak Iki lho. Paling bisa kalau soal berkata kata." Sahut Sumiatun malu malu.
"Tapi bijaksana kan? Sudah seperti Mario teguh tho?" Goda Prastowo kemudian.
"Mario teguh? Sopo kuwi, Pak? Ustadz? Opo Kyai?" Tanya Sumiatun sedikit mengerutkan kening.
Prastowo terbahak, "Wis pokok'e Kuwi, Buk. Wis, bapak mau mandi. Gerah." Ujar Prastowo kemudian berdiri dari duduknya.
"Kamar mandinya masih dipakai anakmu." Seru Sumiatun sedikit kesal sudah dibuat penasaran oleh Prastowo.
"Ealah, Saben mandi jam jaman kae mengko." Prastowo nampak menggerutu sembari melepas kaos oblong yang ia kenakan, begitu ia telanjang dada, nampak bekas sayatan di punggungnya.
"Biasa tho, Pak. Anak perawan." Sahut Sumiatun.
"Halah, genah ibu dulu waktu masih perawan waktu bapak apelin juga kalau mandi kilat. Adus bebek." Ejek Prastowo setelahnya.
"Iya, lha nek ibu mandinya lama, bapak njut mutung." Balas Sumiatun.
Prastowo pun terbahak setelah itu.
Tak lama, di tengah perbincangan suami istri itu, nampak Ajimukti datang berjalan kaki ke kediaman mereka. Prastowo yang melihat kelebatan Ajimukti itu pun segera mengenakan kembali kaos yang sempat tadi dilepasnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Pak Lek, Bu Lek." Sapa Ajimukti sembari menjabat tangan mereka lalu mencium punggung punggung tangan pasangan suami istri itu.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Kon tumben jam segini berkunjung?" Sapa Sumiatun pada Ajimukti.
"Kebetulan tadi kehabisan rokok, terus sekalian cari rokok mampir kesini Bu Lek. Dan sekalian ada perlu sama Pak Lek." Ucap Ajimukti sembari mengarahkan tangannya pada Prastowo.
"Ada apa ya, Mas? Apa ada yang perlu saya lakukan?" Sahut Prastowo begini tahu namanya disebut.
"Tidak Pak Lek. Justru saya kesini mau memberi tahu bahwa insya Allah lusa pesantren mau mengadakan acara rebo pungkasan. Kebetulan sebentar lagi akhir bulan Safar." Ucap Ajimukti kemudian.
Prastowo mengangguk anggukan kepalanya, "Ya ya ya, Rebo Pungkasan ya, Mas? Dulu sewaktu pesantren masih di pegang Kang Salim, setiap Rebo di akhir bulan Safar setiap tahunnya selalu di adakan amalan amalan tertentu, Mas. Tapi semenjak di pegang Kyai Aminudin, tradisi itu sudah tidak ada." Sahut Prastowo kemudian.
"Maka dari itu, Lek. Mungkin tahun ini tradisi itu akan kembali saya gerakkan." Ucap Ajimukti mengimbuhi.
"Bagus, Mas. Bagaimana pun juga itu kegiatan baik. Kegiatan yang sifatnya baik, pasti akan mendatangkan kebaikan. Insya Allah." Tambah Prastowo setelahnya.
"Insya Allah, Lek."
"Walah, malah lupa. Sebentar, Mas Aji. Saya suruh Ajeng buatkan kopi dulu. Pasti tadi di pesantren belum ngopi kan?" Ucap Sumiatun menyela perbincangan Ajimukti dan suaminya.
"Tidak usah repot repot, Bu Lek." Sahut Ajimukti sedikit sungkan.
Sumiatun hanya mengibaskan tangannya lalu bergegas masuk ke dalam.
"Siapa, Bu?" Tanya Ajeng yang baru keluar dari kamarnya dan melihat Sumiatun nampak tergesa gesa.
"Itu, Nduk. Ada Mas Aji diluar. Ibu mau buatin kopi dulu." Sahut Sumiatun.
"Biar Ajeng saja, Bu."
"Hmmm, yowis, kamu buatin kopinya dulu. Ibu mau goreng mendoan biar bisa untuk cemilan." Ucap Sumiatun lalu meraih tempe dan mulai mengirisnya.
Tak berselang lama, Ajeng pun keluar dengan nampan berisi kopi, ke teras tempat dimana Ajimukti nampak berbincang dengan Prastowo.
"Terima kasih lho, Dik." Ucap Ajimukti ketika Ajeng mulai meletakkan gelas kopi untuk Ajimukti ke atas meja.
"Iya, Kang. Oh, iya, Kang. Kang Aji sendiri saja ini?" Tanya Ajeng sembari ikut duduk di sebelah bapaknya.
"Iya, Dik. Tadi masih pada repot." Sahut Ajimukti.
"Emmm, pantas saja. Biasanya sama Kang Sobri kalau tidak pasti di kinthil sama si Manan itu." Ucap Ajeng sembari sedikit tersenyum.
Ajimukti tertawa, "Iya, Dik. Kang Sobri tadi masih ngurus santri Diniyyah. Kalau Manan cuma waktu subuh tadi kelihatan. Habis itu sudah tidak nongol lagi."
Ajeng hanya kemudian mengangguk.
"Diminum, Mas Aji." Prastowo kemudian mempersilahkan Ajimukti untuk menikmati kopi yang sudah disuguhkan anaknya itu.
"Iya, Lek."
"Pak Lek, pamit mandi dulu ya, Mas. Baru selesai ngurus ayam ayam ini tadi." Ucap Prastowo sembari berdiri dari duduknya.
"Iya, Lek. Kebetulan ada yang mau saya obrolkan dengan Dik Ajeng." Sahut Ajimukti.
"Emmm, yasudah kalau begitu." Sahut Prastowo kemudian.
Prastowo pun berlalu dari teras itu. Ajeng sedikit menoleh ke arah Ajimukti. Sejujurnya ia penasaran dengan apa yang ingin Ajimukti obrolkan dengan dirinya.
"Ada apa, Kang Aji? Apa yang ingin Kang Aji obrolkan dengan saya?" Tanya Ajeng sarat penasaran.
__ADS_1
Ajimukti tersenyum lalu menghela nafasnya dalam dalam.
Bersambung...