BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sinau Macapat


__ADS_3

"E, Mas Arya. Monggo Mas mari masuk. Silahkan!" Ucap seorang perempuan paruh baya pada Arya dengan senyum ramah yang seolah memang Arya sudah tidak asing lagi baginya.


"Simbah ada Bu Lek?" Tanya Arya kemudian.


"Ada, Mas. Itu lagi di belakang. Lagi bikin Kranji." Sahut si perempuan itu kemudian.


"Bikin Kranji? Buat apa Bu Lek? Seingat saya, Simbah tidak punya ayam." Tanya Arya sedikit mengerutkan kening.


"Piye tho, Mas. Simbah beli jago kemarin sore. Nggenti punyanya tetangga sebelah." Sahut si perempuan sembari sedikit menggelengkan kepalanya ringan.


"Oh, ya sudah Bu Lek. Saya temuin Simbah dulu kalau begitu." Ucap Arya kemudian.


"Oh, iya, lupa. Ini teman teman saya Bu Lek. Ini Hexa, kalau yang ini Budi." Tunjuk Arya pada Hexa dan Budi secara bergantian untuk memperkenalkan.


Hexa dan Budi pun segera menyalami dan mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu.


"Yasudah, masuk sana, Mas." Ucap si perempuan itu kemudian mempersilahkan Arya dan kedua temannya untuk menemui Simbah yang di maksud Arya itu.


Arya pun tanpa sungkan segera masuk ke dalam rumah itu dan segera menuju ke belakang. Hexa dan Budi memandang sekeliling rumah itu. Di sana sini, di dinding dinding ruangan yang dilewati mereka, mereka selalu memandang beberapa pajangan yang tertempel di dinding itu. Ada beberapa pusaka juga yang tertata rapi di salah satu sudut ruangan.


Tak lama, setelah melewati ruang tamu itu, Arya tiba di bagian belakang rumah. Ada pintu terbuka yang menghubungkan rumah itu dengan halaman rumah. Di sana, dihalaman belakang rumah itu, di bawah sebuah pohon melinjo, nampak duduk seorang tua dengan udeng terikat di kepalanya sedang mengenam beberapa bilah batang bambu.


Samar samar terdengar alunan Gending Jawa yang mengalun merdu dari mulut si Kakek itu. Dengan suara baritonnya yang sedikit berat begitu nampak si Kakek menghayati setiap lirik dalam langgam itu, sehingga membuat yang mendengarkannya pun akan sedikit merinding.


"Assalamu'alaikum, Mbah." Sapa Arya kemudian dari arah belakang si Kakek itu.


Si Kakek segera menghentikan langgamnya, lalu memutar kepalanya dan pandangannya langsung tertuju kearah tiga pemuda yang berjalan ke arahnya. Seketika ada senyum merekah diantara kulit keriput dan seketika juga memperlihatkan beberapa giginya yang sudah tanggal.


"Ealah, kamu, Le. Rene rene!" Ucap si Kakek itu sembari melambaikan tangannya setelah menjawab salam Arya.


"Sepertinya Simbah sedang sibuk sekali?" Tanya Arya sembari mengambil duduk di atas potongan batang bambu yang cukup besar tak jauh dari si Kakek duduk.


"Tidak, Le. Ya hanya dolanan saja ini." Sahut si Kakek dengan senyum khasnya.


"Ini kedua teman saya yang saya ceritakan tempo hari, Mbah. Ini Hexa dan ini Budi." Ucap Arya kemudian memperkenalkan Hexa dan Budi pada si Kakek.


"Ya ya ya, anggap saja di rumah sendiri yo, Le." Ucap si Kakek bersamaan dengan jabatan tangan dengan kedua pemuda yang dibawa Arya menemuinya itu.

__ADS_1


Hexa dan Budi hanya kemudian menganggukkan kepalanya saja.


"Tadi itu nembang apa, Mbah? Kok sepertinya enak sekali." Tanya Arya kemudian.


"Tembang Pangkur, Le." Sahut si Kakek itu sembari melanjutkan menganyam batang bambu.


"Tembang Pangkur? Itu tembang apa, Ya?" Tanya Hexa pada Arya setengah berbisik.


"Itu salah satu dari tembang Macapat, Le." Sahut si Kakek yang mendengar bisik bisik Hexa itu.


"Tembang Macapat? Maksudnya, Mbah?" Tanya Hexa kemudian tanpa sungkan langsung pada si Kakek.


Si Kakek itu kemudian tersenyum, lalu meletakkan bilah bilah batang bambu ke tanah.


"Tembang Macapat itu merupakan salah satu kelompok tembang yang sampai saat ini masih diuri uri wong Jowo, Le. Ada sebelas tembang dalam macapat, masing-masing memiliki karakter dan ciri yang berbeda, memiliki wataknya sendiri, dan memiliki aturan aturan penulisan khusus dalam membuatnya." Jelas si Kakek kemudian.


"Aturan? Itu seperti not not nya begitu, Mbah?" Tanya Hexa lagi.


"Saya tidak terlalu tahu istilah baratnya, Le. Hanya yang saya tahu, tembang macapat itu beraturan khusus. Nah, Aturan khusus tersebut biasa disebut sebagai wewaton atau guru atau patokan. Nah, dalam macapat terdapat tiga guru yakni guru gatra atau banyaknya jumlah baris dalam satu bait, guru wilangan atau banyaknya suku kata dalam setiap baris dan guru lagu atau jatuhnya suara si penggending dalam setiap baris atau kalau wirama Jawa bilangnya dhong dhing." Ucap si Kakek itu kemudian.


"Pantas saja langgamnya bagus dan bikin trenyuh, Mbah. Orang tertata begitu?" Sahut Hexa sembari sedikit melempar senyum.


"Bukan pakar, Le. Simbah hanya senang lalu Simbah cakne untuk laku lampah uripe Simbah. Karena dalam macapat terdapat banyak sekali pelajaran untuk kita." Sahut si Kakek itu kemudian.


"Tembang Macapat diyakini sebagian besar orang Jawa sebagai kelompok tembang yang memiliki makna proses hidup manusia, proses dimana Tuhan memberikan ruh-Nya, hingga manusia tersebut kembali kepada-Nya. Sifat-sifat manusia sejak lahir hingga kematiannya digambarkan dengan runtut dalam sebelas tembang macapat." Imbuh si Kakek itu lagi.


"Sebelas tembang, Mbah? Jadi macapat itu bukan satu lagu begitu?" Tanya Budi yang sejak tadi diam.


"Bukan, cah bagus. Seperti kata Simbah tadi, tembang macapat itu kelompok tembang. Ada sebelas tembang yang tergabung dalam tembang macapat dan semuanya memiliki wewatonnya sendiri sendiri. Yo ora bedo koyo wong urip, Le. Ada aturan aturan yang harus di ikuti, dijalankan lan ora biso di sepelekne. Orang hidup kalau menyepelekan aturan, pasti hidupnya juga tidak karuan. Podo karo tembang macapat, kalau tidak sesuai aturannya, yo ra penak dirungokne." Sahut si Kakek itu setelahnya.


"Emmm, begitu ya, Mbah? Sepertinya tembang macapat itu sarat dengan makna hidup ya, Mbah?" Sahut Hexa lagi.


"Benar, Le."


"Lalu, Mbah. Sebelas tembang macapat itu sendiri apa saja, Mbah?" Tanya Budi kemudian.


Si Kakek nampa menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Budi itu.

__ADS_1


"Sebelas tembang macapat itu antaranya, Mas kumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom, Asmarandana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh lalu yang terakhir Pocung. Dan kesebelas tembang itu turut runtut seperti halnya hidup manusia dari lahir hingga ke liang lahat, Le." Ucap si Kakek itu kemudian.


"Simbah jelaskan saja ke mereka, Mbah. Biar mereka semua tahu. Saya pun hanya pernah dengar, tapi belum begitu paham." Sela Arya setelah itu.


Si Kakek hanya kemudian tersenyum.


"Simbah akan jelaskan satu persatu, Le. Dari yang pertama, Maskumambang. Maskumambang menjadi pertanda dimulainya kehidupan manusia di dunia . Tembang Maskumambang ini memberi gambaran tentang janin dalam kandungan ibu ketika sedang hamil. Arti dari pada Maskumambang sendiri banyak yang memaknai sebagai emas yang terapung, emas kumambang. Karena anak janin bakal anak itu ibarat emas, Le. Harta berharga bagi orang tuanya. Lalu, Mijil. Mijil merupakan kehadiran di dunia ini. Nyeprote bocah seko padarane biyunge. Mijil artinya sama dengan wijil yaitu keluar dari perut ibu. Setelah itu Kinanthi. Kinanthi, dalam filosofinya adalah masa di mana seorang anak sedang dibimbing dan diarahkan oleh orang tuanya supaya dapat menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Purwakaning pamardi siwi, Le. Setelah itu menginjak masa muda, tembange sinom. Sinom berasal dari kata enom yang artinya muda, masa muda ini digunakan untuk menuntut ilmu, mencari teman dan mencari jati diri. Jati diri ketemu, wayahe tembang Asmarandana. Asmarandana menggambarkan gejolak asmara di kehidupan manusia. Masa ini dimulai saat manusia mulai ada ketertarikan dengan lawan jenis yaitu saat remaja. Wayahe kasmaran. Wayahe mudeng Gandrung lan Wuyung. Kalau sudah ketemu sing srek, tembange gambuh, Le. Gambuh dapat diartikan jumbuh yaitu cocok atau sepaham, menggambarkan babak baru dalam kehidupan manusia yaitu manusia masa masa pernikahan. Sak bar Kuwi, Dhandhanggula. Dhandhanggula menggambarkan proses suka duka dalam berumah tangga yang harus dilewati bersama sama mulai mapan dalam berkeluarga dan dapat mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. Gegarane wong akrami, Dudu bondho dudu rupo, Amung ati pawitane, Luput pisan keno pisan, Yen gampang luwih gampang, Yen angel, angel kelangkung, Tan keno tinumbas arto." Ucap si Kakek kemudian menutupnya dengan suluk bowo masih dengan suara khasnya.


Arya, Hexa dan Budi hanya kemudian mengangguk anggukan kepala mereka.


"Luar biasa ya Mbah seniman jaman dulu." Puji Hexa kemudian.


"Ya karena pengrawit jaman dulu itu tidak sekedar nyerat, Le. Tapi mereka juga menyisipkan wejangan, pangeling di dalamnya." Sahut si Kakek itu kemudian.


"Betul sekali, Mbah." Arya membenarkan ucapan si Kakek itu.


"Nek wis tekan dhandhanggula, Le. Tembang selanjutnya Durma. Durma berasal dari kata derma yang artinya member rejeki kepada orang lain, paweweh. Saat segala kebutuhan sudah tercukupi dan sudah tidak ada kekurangan apapun. Manusia mulai memikirkan untuk berbagi rejeki kepada orang lain. Namun tak jarang setelah merasa cukup dia malah bersikap sombong dan angkuh." Lanjut si Kakek.


"Itulah sifat manusia, Mbah. Nek njaluk kudu, nek oleh lali." Sela Arya.


Si Kakek tersenyum seolah setuju dengan pemikiran Arya itu.


"Selesai Durma, Pangkur. Koyo dene Simbah, Le. Simbah wis tekan tembang Iki. Tinggal nunggu dua tembang setelahnya." Ucap si Kakek dengan suara berat namun ada senyum yang mengembang di wajah teduhnya.


"Memangnya pangkur itu bagaimana, Mbah?" Tanya Budi setelahnya.


"Pangkur berasal dari kata mungkur atau mundur. Manusia mulai mundur dari nafsu duniawi dan mulai memikirkan kehidupan setelah meninggal nanti. Setelah semua kebutuhan di dunia terpenuhi giliran manusia mencari bekal untuk kehidupan yang abadi kelak, Le. Urip ndunyo sepiro suwene, akherat tetep panggon sejatine, Le." Jelas si Kakek itu kemudian lalu menghela nafas setelahnya.


"Dua tembang setelah itu, Megatruh sama Pocung, Le. Megatruh adalah tembang Macapat yang menggambarkan manusia saat sakaratul maut. Megat berarti berpisah, ruh artinya nyawa. Berpisah antara jiwa raga dan kembali ke asalnya. Lalu Pocung. Pocung itu tembang dari gambaran badan yang telah ditinggalkan oleh ruhnya kemudian disucikan sebelum dikembalikan ke tanah. Jasad kemudian dimandikan dan dibungkus dengan kain kafan disebut pocong. Tembang Macapat Pocung sarat akan pengingat untuk kita akan kematian. Tembang ini menjadi yang terakhir dari sebelas tembang macapat. Seperti manusia, setelah di kafani atau di pocong, maka sudah pungkas kehidupannya di dunia." Selesai mengucapkan itu si Kakek nampak menerawang, keriput di kelopak matanya nampak sekali terlihat. Sesekali si Kakek itu pun menghela nafas.


"Kalau lihat anak anak muda seperti kalian, Simbah jadi ingat seseorang. Dia itu juga anak muda seumuran kalian, tapi tidak seperti anak muda pada umumnya." Ucap si Kakek sembari kembali meraih wilahan bambu setelah beberapa saatnya terdiam.


"Siapa, Mbah?" Tanya Arya yang meski sudah beberapa kali mengunjungi si Kakek namun baru pertama kali mendengar hal itu.


"Awalnya menantu saya bertemu sama teman masa mudanya. Nah, pemuda itu di bawa sama teman lama menantu saya itu. Tapi setelah beberapa saat mengobrol, siapa sangka ternyata anak muda itu anaknya orang yang sangat saya kagumi, anggaplah anaknya guru saya." Ucap si Kakek itu kemudian.


Arya menganggukkan kepalanya. "Saya jadi penasaran dengan cerita Simbah. Kapan ada waktu saya ingin bersilaturahmi dengan anak muda yang Simbah ceritakan itu." Ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Tentu saja. Kebetulan saya tahu pesantrennya. Kita bisa kesana kapan pun." Ucap si Kakek sembari mengembangkan senyumnya.


Bersambung...


__ADS_2