BROMOCORAH

BROMOCORAH
Uluwwul Himmah


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan langit membiru juga awan yang menyerupai kapas putih yang bergelantungan. Tak ada mendung tersisa meski sore kemarin hujan sempat mengguyur sebagian pelataran. Nyanyian burung gelatik juga ciblek sawah terdengar bersautan, mungkin sekumpulan burung burung itu sedang benar benar menikmati cerahnya pagi ini, bertengger diatas dahan, beterbangan kemudian bernyanyi.


"Alhamdulillah pagi ini tidak hujan, Lek." Ucap Ajimukti pada Dullah yang ketika itu sedang sama sama berdiri di halaman masjid pesantren menikmati udara pagi.


"Iya, Mas. Emmm, berarti hari ini kita jadi ke rumah Mbah Sukro, Mas?" Tanya Dullah sembari merenggangkan otot otot tubuhnya.


"Jadi, Lek. Tapi nanti saya mau sekalian mampir ke rumah Kyai Aminudin. Apa tidak apa apa, Lek? Karena kan rumah Mbah Sukro searah dengan rumah Kyai Aminudin." Sahut Ajimukti.


Mendengar itu Dullah tersenyum, "Mau bertemu Kyai Aminudin apa anaknya, Mas? Pak Lek juga pernah muda lho." Goda Dullah kemudian.


Ajimukti hanya kemudian membalas ucapan Dullah itu dengan senyum malu malu.


"Tapi tidak apa apa kok, Mas. Kan semenjak tembungan itu sampeyan juga belum lagi kesana kan, Mas?" Tanya Dullah kemudian.


Ajimukti menggeleng, "Belum, Lek."


"Sebaiknya justru kita kesana dulu, Mas. Baru nanti setelah dari sana kita ke rumah Mbah Sukro nya, Mas. Jadi nanti tidak muter lagi. Bagaimana?" Saran Dullah kemudian..


Ajimukti mengangguk, "Yasudah, Lek. Bagaimana baiknya saja."


"Terus ini nanti kita berangkat jam berapa, Mas?" Tanya Dullah kemudian.


"Tunggu Nafisa dulu ya, Lek. Soalnya Nafisa baru ke pasar. Tadi saya nitip sesuatu untuk di bawa ke rumah Kyai Aminudin." Sahut Ajimukti kemudian.


"Hmmm, baiklah kalau begitu, Mas. Saya tak mandi dulu saja kalau begitu." Sahut Dullah kemudian.


"Iya, Lek. Tidak usah kesusu." Sahut Ajimukti juga setelahnya.


"Enak kesusu, Mas. Dari pada kesikut." Seloroh Dullah sembari tertawa dan melangkah berlalu.


"Eling umur, Lek." Balas Ajimukti yang juga tak mau kalah.


Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama.


"Bukankah itu gadis yang tempo hari kamu dekati, Xa." Ucap Arya pagi itu pada Hexa sembari menunjuk ke sebuah arah dimana disana ada seorang gadis tengah berjalan sendiri di antara beberapa kios di pasar.


Hexa yang mendengar ucapan Arya itu hanya sepintas menyunggingkan senyumnya.


"Kamu tidak berniat mengejarnya?" Tanya Arya dengan sedikit melirik Hexa.


"Mengejar itu ungkapan untuk posisi dimana ketika kita sedang ditinggal, Ya." Sahut Hexa dengan aksen suara malas.


Arya kemudian sedikit tertawa meledek, "Kenapa? Gagal pendekatannya?"


Sekali lagi Hexa menyunggingkan senyumnya, "Kenapa harus merasa gagal, Ya. Berusaha juga tidak."


"Yakin kamu tidak tertarik dengan gadis itu?" Goda Arya sekali lagi.


"Ketertarikan itu seperti itu, Ya!" Tunjuk Hexa pada salah satu motor yang terparkir.


Arya mengerutkan keningnya, "Motor?"


Hexa untuk kesekian kalinya menyunggingkan senyumnya, "Ketertarikan itu kalau tidak ada remnya, hanya akan menabrak sana sini. Sama seperti motor itu."


"Oh, jadi sudah kamu rem sekarang ini?" Goda Arya lagi.


Hexa tak menyahut, lagi lagi hanya senyum kecut yang tersungging di wajahnya.


"Yakin ini, kamu tidak mau mengejar gadis itu?" Tanya Arya sekali lagi dengan nada meledeknya.


Untuk kesekian kalinya Hexa tersenyum kecut, "Dia tidak sedang berlari untuk apa dikejar. Bahkan dia antheng di tempatnya. Hmmm, setidaknya begitu yang saya lihat."


Arya terbahak mendengar ucapan Hexa itu, "Maksud kamu antheng dengan pendereknya orang itu, Xa? Begitu?"


Hexa hanya menaikkan bahunya mendengar pertanyaan Arya itu.


"Tidak tertarik menemuinya?" Tanya Arya lagi.


"Dia tidak sedang ada janji dengan saya. Jadi untuk apa menemuinya." Sahut Hexa masih dengan aksen malasnya.

__ADS_1


"Sekedar menyapanya mungkin." Desak Arya seolah ingin memojokkan Hexa.


"Dia tidak sedang memperhatikan kesini jadi tidak harus disapa. Kalau harus menyapa, nanti dikiranya sok kenal sok dekat." Hexa berdiri dari duduknya.


"Iya deh. Saya pikir kamu beneran terpesona dengan gadis itu. Ya, setidaknya ingin menggeser tempat Armel mungkin." Ucap Arya juga ikut bangun dari duduknya.


Hexa mengibaskan tangannya ke arah Arya.


"Saya harus kembali ke pesantren. Kamu jadi ingin berkunjung ke rumah Simbahmu?" Tanya Hexa kemudian.


Arya mengangguk, "Kalau saja kamu tidak ada jadwal setelah ini. Saya ingin kamu ikut, Xa."


"Setelah urusan kamu dengan orang itu selesai, mungkin kamu bisa memintakan ijin saya untuk bebas absen kajian." Sahut Hexa santai.


Arya hanya menggelengkan kepalanya ringan, "Dasar."


"Yasudah, buruan kembali ke pesantren. Nanti kalau gadis itu melihat kamu mengobrol dengan saya, dia curiga lagi. Emmm, atau jangan jangan kamu mau menemuinya dan mengajaknya kembali ke pesantren bareng ya, Xa." Goda Arya sekali lagi.


Hexa tak menyahut, ia hanya melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan Arya.


Beberapa jam kemudian, di tepian jalan raya sebuah perkampungan.


Seorang pemuda dengan hanya berkaos lengan pendek dan begitu memperlihatkan banyaknya tatto di lengan tangannya segera berlari mendekat ke arah sebuah mobil yang berhenti di tepian jalan yang tepat berada di samping pagar bambu pembatas halaman rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Gus. Pak Lek Dullah." Sapa pemuda itu kemudian.


"Wa'alaikumsalam, Kang Godril." Sahut Ajimukti di ikuti Dullah.


"Kok tumben, Gus? Mau berkunjung ke rumah Mbak Habiba nggeh?" Tanya Ari Godril kemudian.


"Iya, Kang. Sampeyan di rumah saja ini, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Iya, Gus. Kebetulan hari ini bapak sama emak libur karena mau ada acara, jadi persiapan, Gus." Sahut Ari Godril.


"Acara apa, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Anu, Gus. Nyewu Simbah dari bapak." Sahut Ari Godril.


Ajimukti mengangguk paham.


"Saya langsung saja, Kang. Soalnya setelah ini mau ke rumah teman saya. Ada sedikit keperluan." Sahut Ajimukti kemudian.


"Oh, nggeh, Gus. Saya pikir hanya khusus berkunjung kesini, Gus." Ucap Ari Godril setelahnya.


Tak lama, sebuah kendaraan nampak berjalan masuk ke halaman rumah Ari Godril.


"Itu ada tamu, Kang." Ucap Ajimukti yang sedikit memperhatikan siapa yang datang ke rumah Ari Godril.


Dari motor itu nampak turun seorang pemuda yang membonceng seorang wanita paruh baya.


"Oh, itu Bu Dhe saya, Gus. Beliau kakaknya bapak. Kalau yang laki laki itu, Angga, adik saya." Sahut Ari Godril kemudian.


Ajimukti mengangguk.


"Kalau begitu saya langsung saja ya, Kang Godril. Soalnya sore harus sudah kembali ke pesantren." Ucap Ajimukti kemudian.


"Nggeh, Gus. Monggo." Sahut Ari Godril mempersilahkan.


Ajimukti segera berjalan ke arah rumah Kyai Aminudin, namun saat berjalan ia tak sengaja melirik wanita paruh baya yang di sebut sebut Ari Godril sebagai Bu Dhe nya itu. Tanpa Ajimukti sadari wanita paruh baya itu pun di saat bersamaan juga tengah memperhatikan ke arah Ajimukti. Ajimukti kemudian hanya bisa melempar senyum takdim pada si wanita paruh baya itu, sementara wanita paruh baya itu pun nampak membalas senyum Ajimukti.


"Siapa itu tadi, Ri?" Tanya wanita itu pada Ari Godril ketika kembali ke halaman rumahnya.


"Oh, itu yang pernah saya ceritakan waktu itu Bu Dhe. Gus saya itu." Sahut Ari Godril kemudian.


Wanita itu hanya kemudian mengangguk, "Ternyata masih sangat muda ya, Ri. Mungkin juga masih seumuran kamu."


"Iya, Bu Dhe. Umur mungkin kami seumuran. Tapi soal ilmu dia jauh dari jangkauan saya, Bu Dhe." Sahut Ari Godril kemudian.


"Tidak ada yang jauh, Ri. Jangkauan ilmu itu bukan soal jarak, tapi kemauan juga tekat. Selagi ada kemauan tidak ada yang tidak mungkin." Ucap wanita itu kemudian.

__ADS_1


"Bu Dhe bukan seorang yang mumpuni soal ngaji. Tapi meski setua ini, Bu Dhe juga masih nyantri. Ya, walaupun hanya nyantri sama ustadz ustadz di kampung Bu Dhe setiap kali ada pengajian rutin, Ri. Tapi setidaknya Bu Dhe juga tidak mau di bilang terlambat. Bu Dhe pernah mendengar sebuah ungkapan dari pak Ustadz di masjid Bu Dhe. Kata beliau, man yuridillaahu bihi Khairan yufaqqihi fiid-diin, barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama. Bismillah saja, Ri. Semoga kamu senantiasa bisa Istiqomah." Ucap wanita itu lagi.


"Nggeh, Bu Dhe. Terima kasih untuk nasehatnya. Doakan saya, Bu Dhe." Sahut Ari Godril.


"Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu dan belajar di waktu besar bagai mengukir di atas air. Ungkapan itu tidak salah, Ri. Bu Dhe merasakannya. Rasanya lidah ini sudah kaku kalau suruh belajar Alif ba' ta'. Tapi jangan kesukaran itu dijadikan alasan untuk kita mundur." Ucap wanita itu lagi.


"Iya, Bu Dhe. Saya pun pelan pelan belajar untuk bisa benar benar berubah dan belajar mempelajari apa yang selama ini saya tinggalkan." Sahut Ari Godril.


"Ini juga pelajaran untuk kamu, Le, Ngga. Mumpung kamu masih muda. Jangan sampai menyesal tua kamu nanti, kayak Bu Dhe ini." Ucap wanita itu pada Angga, adiknya Ari Godril.


"Iya, Bu Dhe. Doanya saja." Sahut Angga kemudian.


"Luru ilmu atau mencari ilmu itu wajib 'ain untuk muslim muslimat. Pokok'e, Le. Ojo leren yen durung ilang bodhomu." Imbuh wanita itu kemudian.


Baik Ari Godril maupun Angga hanya kemudian mengangguk paham.


"Hal yang tak kalah penting, Le, anak anakku. Uluwwul himmah, semangat yang tinggi dalam belajar. Selagi masih ada semangat, wis tho yakin saja. Tidak ada yang tidak bagi Allah. Tuntutlah ilmu! Karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurban. Man-laa yuhibbul-'ilma laa khairafiihi. Siapa yang tidak mencintai ilmu, tidak ada kebaikan untuknya." Ucap wanita itu lagi memberi wejangan pada kedua keponakannya itu, Ari Godril juga Angga.


Sementara itu, Ajimukti juga Dullah yang sudah berada di rumah Kyai Aminudin nampak sudah memulai obrolan mereka. Di ruang tamu itu nampak Kyai Aminudin di temani Nyai Sarah menyambut Ajimukti dengan sedikit keterkejutan akan kedatangan Ajimukti yang tiba tiba ini. Tak lama, di tengah obrolan itu, Habiba nampak keluar membawa nampan berisi minuman juga makanan ringan.


"Monggo disambi, Gus." Ucap Habiba mempersilahkan.


"Terima kasih, Ning." Sahut Ajimukti tanpa memandang Habiba.


"Kemarin Faruq juga baru saja dari sini. Dia bilang katanya asrama putri sudah siap ditempati. Apa itu benar?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.


"Benar, Kyai. Alhamdulillah. Semua berkat Kyai." Sahut Ajimukti.


"Berkat saya? Kamu ini ngaco saja." Timpal Kyai Aminudin dengan sedikit senyum kecut.


"Rencana juga gambaran asrama itu bukankah Kyai yang merencanakan. Saya hanya tinggal merealisasikannya saja kan? Apa Kyai lupa?" Sahut Ajimukti.


Kyai Aminudin nampak menghela nafas panjang.


"Yah, memang benar. Dulu dalam kondisi saya yang di penuhi ambisi. Saya berharap bisa membangun asrama itu, memperluas Pondok Hidayah dan melebarkan sayapnya sebagai pesantren terbesar. Tapi tanpa sadari, semua itu hanya keegoisan saya yang membutakan saya waktu itu juga menghalalkan segala cara." Ucap Kyai Aminudin berat.


"Tidak perlu Kyai sesali. Mungkin memang seperti itu jalannya, Kyai. Mungkin memang Pondok Hidayah perlu pembenahan. Bismillah saja, semoga dengan adanya asrama putri nantinya, bisa semakin memberi manfaat untuk sekitar." Sahut Ajimukti kemudian.


"Lalu soal pengajar yang sampeyan utarakan waktu itu bagaimana, Gus?" Tanya Habiba menyela.


"Emmm, mengenai itu ya? Emmm, untuk sementara tetap sampeyan, Dik Ajeng juga Nafisa yang saya mintai sumbang sih nya, Ning. Tapi ini saya juga baru meminta pertimbangan Sibu untuk meminta salah seorang pendereknya di Jogja untuk membantu asrama putri itu nantinya." Sahut Ajimukti kemudian.


"Sebenarnya saya ada satu usulan, Gus." Ucap Habiba kemudian.


Ajimukti nampak mengerutkan keningnya, "usulan apa itu, Ning?" Tanya Ajimukti sedikit penasaran dan merubah posisi duduknya menghadap Habiba.


"Soal pembantu pengajar, Gus. Lebih tepatnya bukan usulan, tapi ingin merekomendasikan seseorang." Ucap Habiba kemudian.


"Oh, siapa, Ning?" Sahut Ajimukti cepat.


"Emmm, teman saya, Gus. Lebih tepatnya adik kelas. Dulu sewaktu Tsanawiyah kami sempat dekat. Tapi begitu Aliyah, teman saya itu tidak melanjutkan di pesantren dan memilih kembali pulang dan melanjutkan sekolahnya di sekolah umum. Ajeng juga dekat dengan teman saya itu. Kebetulan beberapa hari yang lalu kami sempat bertemu dan dia sekarang sudah lulus Sekolah Menengah Atas juga belum tahu untuk melanjutkan kemana, sementara ini dia ikut membantu mengajar di madrasah di kampungnya sekedar mengisi waktu luang." Cerita Habiba kemudian.


Ajimukti mengangguk paham.


"Soal kemampuan juga wawasannya meski tidak banyak menguasai kitab, tapi saya rasa untuk mengajar kelas madrasah teman saya ini sangat menguasai, Gus. Dan lagi, teman saya ini sangat bisa untuk berkomunikasi dengan anak anak." Lanjut Habiba kemudian.


Sekali lagi Ajimukti mengangguk.


"Baiklah, Ning. Terima kasih untuk bantuannya. Saya pasti setuju dengan usulan atau perekomendasian sampeyan ini. Sampaikan pada teman sampeyan itu jika berkenan saya pun minta tolong sumbang sih ilmunya." Ucap Ajimukti kemudian.


"Apa maksud kamu yang tempo hari bertemu di pasar itu, Nduk?" Sela Nyai Sarah yang sejak tadi mendengarkan percakapan anaknya dengan Ajimukti.


"Iya, Mi." Sahut Habiba membenarkan.


"Emmm, kalau umi lihat lihat memang tindak tanduk juga tata krama anak itu bagus sekali sih, Nduk. Dan lagi cara dia bicara dengan orang tua, Masya Allah, santun sekali, Nduk." Ucap Nyai Sarah memuji teman Habiba itu.


"Jadi Umi sudah sempat bertemu teman Habiba itu?" Tanya Kyai Aminudin kemudian.


"Sudah, Bah. Sempat Habiba kenalkan sama Umi. Sempat mengobrol juga. Namanya Amel kalau Umi tidak salah ingat." Sahut Nyai Sarah.

__ADS_1


"Armel, Mi. Bukan Amel." Sela Habiba membetulkan ucapan uminya itu.


Bersambung...


__ADS_2