
Malam ini rembulan tidak nampak. Langit seluruhnya gelap pekat, tak ada hiasan tergantung diantara hitamnya, hanya rintik yang selepas Maghrib tadi sempat turun sedikit membasahi tanah juga dedaunan.
Di teras sebuah rumah, nampak tiga orang pemuda sedang asik mengobrol. Asap rokok yang menemani obrolan itu nampak mengepul diantara sorot cahaya lampu teras itu.
"Mas Arya, terima kasih, nggeh?" Ucap Ari Godril di tengah tengah obrolan itu.
"Terima kasih? Terima kasih untuk apa, Mas?" Tanya Arya sembari menghisap sisa rokok di tangannya.
"Karena sampeyan sudah meluangkan waktu datang kesini." Ucap Ari Godril kemudian.
Mendengar itu Arya sedikit tertawa membuat Angga yang ada di situ pun ikut keheranan.
"Kebalik, Mas. Justru, yang harusnya bilang terima kasih itu saya." Sahut Arya kemudian.
"Kenapa bisa sampeyan, Mas?" Tanya Ari Godril dibuat penasaran balik.
"Ya, karena yang kita doakan malam ini tadi itu Simbah saya. Bapaknya bapak saya, Mas." Sahut Arya kemudian.
Ari Godril mengangguk, "Ya, kalau soal itu sampeyan benar, Mas. Tapi saya bilang terima kasih sebagai anak tertua bapak, meski saya bukan anak kandung bapak, tapi bapak sudah saya anggap bapak kandung saya, pengganti bapak saya. Jadi ucapan terima kasih saya ini atas nama Shohibul bait, Mas." Ucap Ari Godril kemudian.
"Ya, Mas. Saya menghargai itu, dan sangat salut sama sampeyan. Tapi, Mas. Disini, meski ini rumah Pak Lek Slamet, tapi saya sebagai cucu Simbah juga mengucapkan terima kasih untuk semua bantuan sampeyan, keikhlasan sampeyan nyengkuyung nyewu nya Simbah malam ini, sehingga semua berjalan lancar." Ucap Arya kemudian.
"Iya, Mas. Hmmm, sejujurnya, acara seperti ini baru pertama ini saya ikuti lagi, Mas. Terakhir sekali yang saya ingat, saya pernah mengikuti acara semacam ini itu waktu mendaknya bapak. Sudah hampir sepuluh tahun berlalu." Ucap Ari Godril kemudian.
Arya nampak mengangguk mendengarkan ucapan Ari Godril itu.
"Alhamdulillah, Mas. Daerah kita, khususnya keluarga kita masih nguri uri tradisi yang semacam ini. Meski sebagian kalangan sudah banyak yang meninggalkan dengan alasan tidak ada anjuran dan lain sebagainya, tapi di tempat kita tinggal ini, masih lestari saja hingga sekarang, tidak goyah dengan peradaban yang semakin mengada ada." Ucap Arya kemudian.
"Betul, Mas Arya. Beruntunglah kita yang bisa berkumpul bersama orang orang yang masih melanggengkan tradisi semacam ini." Sahut Ari Godril membenarkan.
"Iya, Mas. Tapi lebih beruntung mereka yang lebih dulu berpulang, Mas." Gumam Arya kemudian.
"Loh, kenapa begitu, Mas?" Tanya Angga yang sejak tadi hanya lebih memilih diam mendengarkan percakapan kedua kakaknya itu.
"Ya, beruntung, Ngga. Setidaknya beliau beliau masih ada yang mendoakan. Nah, sementara kita kelak nanti, jika kita di panjangkan umur dan sampai tua, kita pun belum tahu apa saat kita sudah tiada masih ada yang mendoakan kita atau tidak, apakah tradisi semacam ini masih akan ada yang nguri uri." Arya nampak gelisah mengucapkan itu.
__ADS_1
Angga juga Ari Godril merasakan betul apa yang di ucapkan Arya itu.
"Sebenarnya mengenai tradisi slametan dari mitung ndinan, matang puluh, nyatus, mendak sampai nyewu itu bagaimana, Mas Arya?" Tanya Ari Godril kemudian.
"Saya tidak begitu tahu, Mas. Hanya sedikit apa yang saya tahu mengenai tradisi itu." Sahut Arya kemudian.
"Tidak apa apa, Mas. Sedikit sedikit yang penting bisa menambah pengetahuan saya." Ucap Ari Godril.
Arya hanya kemudian tersenyum, setelahnya ia nampak menghela nafas.
"Slametan diserap dari bahasa arab Salamah, Mas. Yang mempunyai arti selamat atau damai. Pada dasarnya tujuan slametan adalah sedekahan dengan harapan dijauhkan dari hal hal yang membahayakan baik untuk keluarga yang ditinggalkan ataupun bagi ahli kubur itu sendiri. Slametan biasanya diawali pada hati ketiga atau nelung ndinan, lalu ketujuh atau mitung ndinan dan kemudian pelaksanaan slametan biasanya berlanjut sampai pada hari ke empat puluh atau kemudian diadakan acara matang puluh, berlanjut lagi di hari ke seratus atau nyatus, pada hari peringatan genap tahun pertama akan diadakan mendak pisan, pada peringatan genap tahun kedua mendak pindo, pada peringatan genap tahun ke tiga mendak ping telu atau slametan terahir yang menandai genap seribu hari atau nyewu, Mas. Biasanya dengan disertai ritual mengganti batu nisan. Namun ada yang sudah menggantinya ketika sudah dikuburkan sepasar yaitu lima hari atau selapan, tiga puluh lima hari pasca di kuburkan." Jelas Arya kemudian.
"Berarti kalau sudah nyewu sudah, Mas?" Tanya Ari Godril kemudian.
"Tidak juga, Mas. Kalau di masyarakat kita umum di adakan Haul, yaitu peringatan tahunan geblake atau meninggalnya seseorang, meski umumnya itu untuk para Kyai dan jarang dilakukan khalayak umum sih, Mas. Tapi jika orang biasa mengadakan pun tida masalah, Mas. Sah sah saja. Karena tujuannya mengirimkan doa, bersedekah untuk ahli waris yang sudah meninggal." Jelas Arya kemudian.
Ari Godril mengangguk paham, "Lalu apa ada makna di balik tradisi tradisi itu, Mas?" Tanyanya kemudian.
"Banyak ahli sejarah yang mengaitkan pelaksanaan slametan tersebut dengan proses pembusukan tubuh yang mati sebelum pada akhirnya melebur dengan tanah. Dalam kondisi normal, proses peleburan jasad manusia berlangsung dalam tujuh tahap, Mas. Nah, disetiap tahapan itulah, ahli waris yang masih hidup katakanlah ngiringke agar dalam setiap tahapan itu dilancarkan dan diberi keselamatan." Ucap Arya menjelaskan.
"Begini, Mas Ari. Ini dari yang saya tahu saja, ini juga dari guru saya. Tahap pertama adalah tiga hari setelah jasad dimakamkan ketika diyakini jasad mulai membengkak. Oleh karena itu diadakanlah acara tiga harian atau nelung ndinan. Lalu, tahap kedua. Tahap kedua terjadi pada hari ketujuh, ketika pembengkakan menuju puncaknya dan akhirnya meletus. Setelah itu daging hancur, terurai dan kemudian membusuk. Setelah empat puluh hari yaitu pada tahap ke tiga, proses pembusukan ini diikuti dengan pergerakan tubuh secara perlahan namun pasti, Kepala perlahan mulai tegak seperti halnya lutut. Sementara pada hari ke seratus yang menjadi tahap ke empat, tubuh yang membusuk berubah menjadi seperti orang duduk tegak dengan lutut tertekuk keatas. Kemudian pada tahap ke lima atau setahun setelah kematian, lambat laun kepala akan mencapai lutut. Setahun kemudian atau pada tahap ke enam, setelah semua daging sudah hancur tak tersisa, kaki jenazah akan tertekuk sampai kebawah pantat, sedangkan kepala menyatu dengan lutut. Akhirnya, Mas. Pada tahap ketujuh yaitu waktu tahun ke tiga atau ke seribu hari, semua tulang akan terkumpul bersama sebelum kemudian akhirnya melebur dengan tanah." Jelas Arya kemudian.
Ari Godril mengangguk memahami setiap apa yang diucapkan Arya itu, pun dengan Angga yang juga turut menyimak.
"Nah, jika kita amati gerakan tulang dalam proses pembusukan ini akan sama dengan gerakan pertumbuhan jabang bayi dalam alam kandungan namun dengan arah yang terbalik. Proses ini mengandung arti mistis, sehingga dalam setiap proses layak untuk diperhatikan dan atas alasan inilah mengapa slametan perlu dilaksanakan, tujuannya ya seperti kata saya tadi, Mas. Agar diberi keselamatan, dilancarkan." Jelas Arya lagi.
"Ya, Mas. Saya pernah mendengar tentang proses orok dalam kandungan. Hmmm, memang sama hanya kebalikannya dari itu. Namun dengan durasi yang lebih singkat." Sela Angga kemudian.
"Lalu kenapa ini justru kental sekali dengan tradisi Jawa, Mas?" Tanya Ari Godril kemudian.
"Itu karena secara keberadaan, Mas. Jawa ini secara keberadaan lebih tua dari Islam. Dan tradisi slametan sudah ada sejak Islam belum masuk di Jawa. Tujuannya, orang orang dulu itu melakukan pemujaan terhadap roh roh orang yang sudah meninggal bukan berarti mereka syirik, itu bertujuan agar tetap terjadi hubungan yang harmonis antara yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Dan karena itu orang orang dulu pun mempunyai makna dia setiap tahapan slametan itu, Mas." Jelas Arya kemudian.
"Lalu makna di setiap tahapan itu apakah berbeda, Mas?" Tanya Angga kemudian.
Arya mengangguk, "Iya, Ngga. Dalam pandangan Jawa, ada slametan geblag atau ngesur tanah, maksudnya menggeser tanah. Acara ini umum dilakukan sore hari setelah mayit di semayamkan. Maknanya sendiri yaitu berpindahnya alam fana ke alam baka dan wadag semula yang mulanya dari tanah akan kembali ke tanah." Jelas Arya.
__ADS_1
Angga mengangguk memahami itu.
"Lalu akan diadakan lagi pada hari menjelang hari ketiga atau pasaran ke tiga, biasa disebutnya nelung ndina. Dalam hal ini, orang Jawa berkeyakinan bahwa orang yang sudah meninggal, masih berada di dalam rumah, namun roh tersebut sudah tidak ada di sentongnya atau tempat tidurnya lagi. Roh sudah berkeliaran untuk mencari jalan agar dengan mudah meninggalkan rumah dan keluarganya. Lalu berlanjut di malam ketujuh, yaitu mitung ndinan. Pada hari ke tujuh orang Jawa berkeyakinan bahwa roh orang yang sudah meninggal sudah keluar dari rumah. Makanya kadang kala secara simbolis ada yang membuka genteng atau jendela, Ngga. Hal ini bukan tanpa maksud, hal ini dilakukan agar sebelum slametan dimulai, roh orang yang meninggal dapat dengan lancar meninggalkan rumah, kemudian roh yang sudah keluar dari rumah itu akan berhenti sejenak di pekarangan rumah dan berada di halaman sekitar. Nah, untuk melancarkan itulah masyarakat Jawa umumnya mengadakan Bancakan untuk mengiring roh orang yang sudah meninggal itu agar lancar saat keluar pekarangan. Bancakan sendiri itu kalau tidak salah diambil dari wadah tumpeng pungkur yang dibuat dari anyaman bambu renggang, orang Jawa menyebutnya ancak. Isi dari ancak itu ya nasi ya lauk pauk. Sedekah intinya. Sedekah itu untuk siapa? Ya hadiah dari sedekah atau ganjarannya untuk yang meninggal itu." Jelas Arya kemudian sembari kembali meraih sebatang rokok dan menyulutnya.
"Ternyata banyak sekali maknanya ya, Mas." Sela Ari Godril kemudian.
"Benar, Mas. Jadi tradisi orang dulu yang kalau orang sekarang bilang bid'ah lah, syirik lah dan penyebutan lainnya, sebenarnya diadakan bukan asal dan tanpa maksud. Dan semua itu, tujuannya sangat lah bagus, Mas. Tapi ya itu kembali kepada penyikapan setiap individunya sih, Mas." Sahut Arya.
"Lalu untuk empat puluh hari sampai nyewu sendiri apa ada maknanya juga, Mas?" Tanya Ari Godril kemudian..
"Tentu saja, Mas. Tradisi slametan matang puluh dina, bagi orang Jawa di maksud kan untuk memberi penghormatan kepada orang yang sudah meninggal, karena saat itu roh orang yng sudah meninggal sudah mulai meninggalkan pekarangan atau saknjabaning wangon dan sudah akan menuju ke alam kubur. Roh mulai mencari kerun yaitu jalan yang lurus, bersih yaitu jalan yang mana ketika keberangkatannya dulu sudah disapu. Lalu berlanjut ke Nyatus dina. Dalam Nyatus dina, tidak ada yang berbeda, tujuannya pun sama, hanya pada prosesi ubo rampe yang sedikit membedakan, karena pada acara ini biasanya akan di sediakan pasung, ketan juga kolak. Pasung ini dibuat menyerupai gunung, dibungkus daun nangka yang isinya gandum, maknanya agar yang meninggal mendapatkan payung perlindungan. Karena mereka akan melewati jalan yang panjang dan panas. Hal itu juga berhubungan dengan dibuatkannya ketan sebagai lemek atau alas. Ketan ini maknanya raketan, pendekat. Yaitu mendekatkan diri dengan Tuhan. Lalu kolak, kolak itu maksudnya khaliq atau kholaq, pencipta. Sajian itu diharapkan bisa melancarkan yang meninggal menghadap Sang Khalik. Nah, penafsiran semacam ini menunjukkan ada perpaduan antara Hindu-Jawa dengan Islam yang keduanya mempunyai dambaan untuk kembali kepada Tuhan dengan tata titi tentrem." Ucap Arya kemudian.
"Mendak pisan, mendak pindho itu untuk mengenang. Agar yang meninggal masih merasa bahwa keberadaannya masih diakui. Karena orang Jawa percaya meski mereka sudah meninggal tapi sebenarnya roh mereka masih ada di alam semesta, hanya tempatnya yang berbeda. Itu juga merupakan sarana instrospeksi diri bahwa kematian adalah peristiwa khusus yang umum dan akan di alami setiap makhluk. Kullu nafsin dzaiqatul-maut, setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sementara Nyewu, ini adalah prosesi terakhir orang Jawa. Orang Jawa percaya bahwa ketika sudah seribu hari, yang meninggal itu sudah benar benar akan meninggalkan dunia ini. Oleh sebab itu acara nyewu di adakan sebagai bentuk penghormatan juga pelepasan pada roh yang telah meninggal itu. Ya Wallahu a'lam bish-shawab, Mas. Itu dari yang saya tahu." Ucap Arya kemudian.
"Wah, ternyata selain tahu makna secara agama, kejawen sampeyan boleh juga, Mas." Puji Ari Godril kemudian.
Arya tertawa mendengar itu, "Itu saya tahu dari Mbah Sukrono, Mas."
"Mbah Sukrono? Siapa itu, Mas?" Tanya Ari Godril penasaran.
"Itu Simbahnya Mas Arya, Mas." Sela Angga.
"Simbah dari Budhe Sih?" Tanya Ari Godril lagi.
"Bukan, Mas. Lebih tepatnya beliau itu sahabat Almarhum Simbah saya dari pihak ibu. Jadi ya sudah saya anggap layaknya simbah saya sendiri, Mas." Sahut Arya menjelaskan.
Ari Godril mengangguk paham, "Wah, saya dapat ilmu baru ini, Mas. Alhamdulillah, ternyata Allah memberi saya dua berkah sekaligus." Ucapnya kemudian.
"Apa itu, Mas?" Tanya Angga.
"Ya ini, Ngga. Dapat Kakak sekaligus Guru." Sahutnya sembari menepuk pundak Arya.
Arya yang mendapat pujian itu hanya tertawa lalu kembali menghisap sisa rokoknya.
Bersambung....
__ADS_1