
Beberapa hari setelah perjalanan Ajimukti dan yang lain ke Pacitan.
Suasana malam yang dingin dengan angin yang berkesiur sesekali, dibawah lampu halaman yang remang remang, segelas kopi menemani obrolan Ajimukti dan Sobri malam ini. Di sekeliling mereka, suara serangga malam yang mulai mencari makan mengisi kelengangan malam bertaut dengan suara daun kering yang berserak diterbangkan angin.
"Apa belum ada kabar soal Ning Habiba, Gus?" Tanya Sobri di tengah perbincangan mereka malam ini.
Ajimukti menggeleng, "Belum, Kang. Entahlah, saya juga bingung. Apa Ning Biba memang tidak kembali ke pesantren atau pengurus itu lupa mengabarkan."
Sobri mengangguk, "Lalu bagaimana, Gus? Emmm, maksud saya, langkah kita selanjutnya?" Tanyanya kemudian.
"Entahlah, Kang. Mungkin kita tunggu saja dulu sampai ada kabar dari pesantren di Pacitan, sembari kita juga terus menunggu kabar dari Gus Faruq." Sahut Ajimukti kemudian.
Sobri diam sejenak, "Apa kita perlu meminta bantuan Kang Godril, Gus?" Ucapnya kemudian, menyebut salah satu nama yang membuat Ajimukti mengerutkan keningnya.
"Kang Godril ya?" Ajimukti mengangguk ringan sembari menggaruk ujung dagunya.
"Benar, Gus. Mungkin kita bisa meminta bantuan orang orangnya Kang Godril. Bagaimana, Gus?" Tanya Sobri sekali lagi menyarankan.
Ajimukti sejenak diam dan hanya menganggukkan kepalanya ringan, ia sepertinya belum bisa memutuskan untuk saat ini. Sobri menyadari itu.
"Tenang saja, Gus. Sekedar ikhtiar saja. Bukankah orang orangnya Kang Godril tersebar dimana mana. Jika pun tidak, dia punya banyak kenalan di berbagai daerah." Sobri sekali lagi meyakinkan Ajimukti pada usulannya itu.
Ajimukti masih saja hanya mengangguk. Ajimukti pun ingat betul siapa Godril dan sudah berapa kali juga Godril membawa orang orangnya berkontribusi dalam pembangunan pesantren Fadhlun Muthoriq beberapa tahun lalu.
Godril di mata sebagian orang mungkin hanya seorang anak jalanan yang notabene hanya akan di pandang dekat dengan segala tindak kriminal. Ya, Godril adalah seorang anak jalanan yang cukup disegani dan ditakuti di antara anak jalanan yang lain. Pengikutnya lumayan besar dan tersebar di berbagai wilayah di pulau Jawa. Tapi beberapa tahun belakangan ini, ia sudah bertobat dan mengaji pada Ajimukti, bahkan Godril sejak ia berniat bertobat sampai saat ini, sudah berhasil menghafal delapan belas juz dalam Al Qur'an. Dan sekarang pun ia berhasil menarik sebagian besar orang orangnya untuk ikut bertobat.
"Kang Sobri tolong hubungi saja Kang Godril. Sekalian kirim foto Kyai Aminudin kepadanya biar Kang Godril bisa tahu." Ucap Ajimukti kemudian.
"Baik, Gus. Nanti akan segera saya hubungi Kang Godril nya." Sahut Sobri di iringi sebuah senyuman.
Ajimukti mengangguk ringan. Diam diam dia pun berharap, melalui bantuan Godril nantinya, dirinya bisa segera tahu keberadaan Kyai Aminudin.
"Benar kata sampeyan, Kang. Entah apapun hasilnya yang penting kita ikhtiar dulu saja." Ucap Ajimukti kemudian.
"Iya, Gus. Saya yakin kok, Gus. Semakin banyak usaha kita, itu akan semakin mendekatkan kita pada hasil." Sobri terdengar membangun keyakinan Ajimukti.
"Iya, Kang. Kang Sobri benar. Harusnya saya tidak melupakan tiga mantra kehidupan. Tapi yah.... Namanya juga manusia, meski sudah tahu La tahzan wa la tayasuu. Tetap saja howo kesel itu ada." Ajimukti sedikit menutup ucapannya dengan tawa kecil.
"Wah wah wah, ini pasti seperti yang pernah bapak ceritakan ini, Gus. Hasil dari silaturahmi sama Mbah Sukrono. Jadi Gus Aufa mulai kenal mantra mantra." Sobri membalas tawa Ajimukti.
__ADS_1
Ajimukti memperlebar tawanya, "Walah, jadi sampai yang bertemu Mbah Sukrono, Lek Dul ceritakan ke Kang Sobri?" Tanyanya kemudian.
"Iya, Gus. Saking senengnya bapak bisa bertemu menantunya Mbah Sukrono itu, Lek Gandung, sahabat lamanya bapak." Sahut Sobri masih sedikit membubuhi ucapannya dengan senyuman.
"Tapi bener lho, Kang. Waktu pertemuannya Lek Dul sama Pak Gandung. Rasanya 'Mak Jleb' gitu." Ajimukti sedikit mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya tanpa sengaja bertemu Gandung yang ternyata sahabat lamanya Dullah.
"Tapi ngomong ngomong, Gus. Tiga mantra kehidupan yang njenengan maksud tadi itu apa?" Ucap Sobri tiba tiba. Dari wajahnya jelas sekali terlihat gambaran sebuah rasa keingintahuan yang nyata.
Ajimukti tertawa, membuat Sobri mengerutkan keningnya.
"Kenapa tertawa, Gus?" Tanyanya kemudian.
"Itu bukan dari Mbah Sukro, Kang. Pasti sampeyan mikirnya mantra yang hewes hewes gitu ya?" Ajimukti menaikkan salah satu alis matanya dan mengarahkannya pada Sobri.
Sobri hanya tertawa di balik tangannya yang ia tutupkan ke mulut.
"Lalu apa Gus tiga mantra yang njenengan maksud itu?" Rupanya Sobri masih juga penasaran.
"Heleh, bukan apa apa, Kang. sampeyan sebenarnya juga sudah tahu, sudah hafal, sudah nglokop diluar kepala." Sahut Ajimukti.
Sobri kembali mengerutkan keningnya, sedikit bingung diantara rasa penasarannya itu.
"Begini, Kang. Dengar baik baik ya." Ajimukti terlihat menarik nafasnya dalam dalam. Sobri mengamatinya dengan seksama, tak ingin melewatkan apa yang akan di sampaikan Ajimukti itu.
"Sun amatek ajiku jolo sutro, tampangku tampang kencana, jatiraga ana wetan, sun jalakake ragani wong jagad wetan, rut , kaerut. rut,rut,rut, teka kadep teka lerep, teka welas, teka asihragane wong jagad wetan, pada asih menyang aku kabeh, kidul 'si kae anake kae', sun makulon 'si kae anake kae', nyawa lerpulungati 'si kae anake kae' tengah, Allahe, dewane. Nabine wong jagad tengah pada asih menyang aku kabeh. Busssshhh..." Ajimukti mengucap cepat lalu meniup ke arah Sobri setelah itu tertawa terbahak.
Sobri menepuk keningnya, "Itu mah ajian pelet jolo sutro, Gus."
Ajimukti semakin lepas tertawanya. Sobri memasang wajah cemberut.
"Oh, iya tho, Kang. Berarti keliru, Kang." Ucap Ajimukti sengaja menggoda Sobri, dan Sobri tahu betul itu.
"Ah, njenengan niku, Gus Gus." Sobri masih memasang wajah cemberutnya.
"Yang benar begini, Kang." Ucap Ajimukti kemudian. Ia nampak serius kali ini. Sobri pun mulai kembali memperhatikan.
Ajimukti sekali lagi menarik nafas dalam dalam, "Alloohumma alfu ruhin Fulanah binti Fulan ruhin fiima komiha wa’alfu ni’matin wa’alfu salamatin wa’alfu bibarookatin wa’alfu mu’jizatin nabiyyi salalloohu alaihi wassalam wa’alfu irhasin wa’alfu karoomatin sulthoni auliya’ sayyidina Syekh Abdul Qadir Jaelani ghoddasalloohu sirrohul aziz wa’alfu hususiatin min hadzihi Fulanah binti Fulan wa’alfu ma’unatin birohmatika yaa arhamarroohimin..." Ajimukti sekali lagi dengan cepat merapal mantra itu kemudian menutupnya dengan sapuan tangan ke wajahnya.
Sobri sekali lagi menepuk keningnya sendiri, "Njenengan ini lho, Gus. Itu kan rapal kumbang ali ali. Memangnya saya tidak tahu. Huuuu...." Sobri mencibir Gus nya itu.
__ADS_1
Sekali lagi Ajimukti tertawa lepas karena sudah mengerjai Sobri. Sobri kembali memasang wajah cemberut.
"Serius ini saya, Gus. Malah njenengan ki. Hmmmm..." Sobri masih terus saja memasang wajah cemberutnya.
"Lagian sampeyan ini lho, Kang. Wong kita itu belajar bareng dari kecil. Jadi apa yang saya tahu, pasti sampeyan juga tentu sudah tahu." Ajimukti kali ini terkesan serius.
"Ya, tapi kan akhir akhir ini pergaulan kita beda, Gus. Saya yakin pasti sampeyan wawasannya sudah jauh di atas saya." Sobri terdengar meninggikan Ajimukti.
"Ah, siapa bilang, Kang?" Ajimukti membantah asumsi Sobri.
"Lha, nyatanya tiga mantra kehidupan itu pun saya nggak tahu." Sobri masih kembali mengungkit soal ucapan Ajimukti di awal tadi.
Ajimukti kembali tertawa mendengar itu. Ternyata Sobri masih begitu penasarannya dengan tiga mantra kehidupan yang sepintas Ajimukti ucapkan tanpa sengaja.
"Hmmmm, seperti kata saya tadi Kang Sobri. Sebenarnya sampeyan juga tahu, hafal bahkan diluar kepala." Sahut Ajimukti sembari menyecap kopinya yang sudah mulai dingin.
"Tapi saya memang baru dengar ini, Gus." Sahut Sobri yang juga meraih gelas kopinya.
"Tiga mantra itu sebenarnya bukan apa apa, Kang. Bukan suluk, wirid maupun hizib dan apapun itu sebutannya. Itu hanya sebuah ungkapan, Tiga mantra itu, yang pertama, Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil. Kedua, Man shobaru zafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Dan yang ketiga, Man yazro' yahsud, siapa yang menanam akan menuai." Ajimukti menoleh ke arah Sobri.
"Gimana, Kang. Sudah tahu? Sudah nggak penasaran lagi kan? Sudah hafal dan nglokop kan? Pasti sampeyan bakal bilang, 'ooo.. jebule itu tho' ya kan?" Lanjut Ajimukti kemudian tertawa.
Benar saja, Sobri pun kemudian juga ikut tertawa.
"Tapi benar lho, Gus. Saya tadi penasaran banget." Sahut Sobri.
"Tapi meski sudah tahu itu. Saya jadi tambah wawasan. Jadi merasa di ingatkan lagi." lanjut Sobri lagi.
"Ya kan tadi kita sedang membahas soal usaha mencari tahu keberadaan Kyai Aminudin. Jadi saya juga nggak ada maksud apa apa. Tahu tahu nyeletuk gitu saja. E, malah bikin sampeyan penasaran." Ajimukti sekali lagi tertawa melihat ekspresi wajah Sobri yang terlihat malu karena tadi sempat merengek.
"Nanti jangan lupa kabari Kang Godril nggeh, Kang. Pokoknya soal kita mencoba ikhtiar melalui Kang Godril saya serahkan sepenuhnya sama sampeyan, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.
"Nggeh, Gus. Sendiko dawuh." Sahut Sobri.
Ajimukti kembali menyecap sisa kopinya. Kini ia juga terlihat mulai menyalakan rokok di bawah langit yang semakin gelap tanpa bintang. Angin terus saja menyibakkan hawa dingin malam ini.
Untuk sesaat Ajimukti dan Sobri tidak lagi terdengar berbincang, mereka sama sama asik menghisap rokok ditangan mereka. Dalam keadaan itu, pandangan Ajimukti entah kenapa tertuju pada pergelangan tangan kirinya, dan pandangan itu tepat berhenti pada gelang kaoka yang melilit pergelangan tangan kirinya. Dalam kebisuan senyumnya diam diam mengembang.
Bersambung...
__ADS_1