BROMOCORAH

BROMOCORAH
Pagi Yang Cerah Senyum Merekah


__ADS_3

Matahari yang mulai merangkak dari ufuk timur, bersinar cukup cerah pagi ini. Gumpalan awan putih yang tergantung di antara celah sinarnya, semakin mempercantik setiap sudut ruang di angkasa. Sisa sisa embun semalam dari beberapa daun yang basah, menyisakan bau anyir di tanah.


Di antara suasana pagi yang indah ini, sebuah keramaian sudah terjadi hampir di seluruh sudut Pondok Pesantren Hidayah. Seluruh santri membicarakan tentang undangan yang ditujukan untuk wali santri setiap dari mereka. Tidak ada yang tau dengan apa yang kemarin sore terjadi di teras ndalem.


Kegiatan masih seperti biasa, belum ada perubahan dengan kegiatan belajar mengajar di pesantren. Ali juga Faruq, untuk sementara menghandle semua kegiatan para santri.


Ajimukti sendiri saat ini sedang berada di kamarnya bersama Dullah, tak lama setelah itu Manan pun datang ke kamar mereka.


"Sekarang saya harus manggil kamu apa? Ajimukti apa Gus Aufa?" Manan tiba tiba menanyakan itu.


Ajimukti mengerutkan kening lalu segera meraih leher Manan dengan lengannya dan mendekapnya erat erat.


"Kamu ini ya, Nan." Ajimukti tertawa di ikuti Manan.


Dullah yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum, dan diam diam membayangkan jika Sobri anaknya bisa berada di tengah tengah mereka saat ini.


Ajimukti mengamati ekspresi wajah Dullah yang tiba tiba berubah. Setelah melepas dekapannya pada Manan, Ajimukti pun meraih ponselnya.


"Telfon siapa, Jik?" Tanya Manan keheranan.


"Saya lupa belum memberitahu Sibu soal ini, Nan." Sahutnya sembari mencari kontak di ponselnya.


Tak lam suara dari seberang terdengar serak, Dullah segera hafal suara itu karena Ajimukti sengaja meloudspiker panggilannya.


"Assalamu'alaikum, Gus." Ucap salam dari seberang dengan nada yang sumringah.


"Wa'alaikumsalam, Kang Sobri. Pripun kabare?" Ucap Ajimukti juga dengan nada bahagia.


"Alhamdulillah, Gus. Bagaimana ada perkembangan apa?" Tanya Sobri kemudian.


"Tidak ada, Kang. Tapi ada yang sepertinya kangen sampeyan ini." Ajimukti tersenyum.


Dari seberang Sobri terdengar tertawa. "Ngapunten, Gus. Bapak bagaimana kabarnya?" Tanya Sobri kemudian.


Tanpa menjawab Ajimukti segera menyodorkan ponselnya pada Dullah. Dengan cepat Dullah meriah ponsel itu.


"Assalamu'alaikum, Le. Iki bapak." Ucap Dullah dengan mata berkaca kaca.


"Wa'alaikumsalam, bapak. Pripun kabare?" Ucap Sobri dari seberang dengan suara yang terdengar begitu bahagia.


"Alhamdulillah, Le." Sahut Dullah pun begitu bahagia.


Untuk beberapa saat Ajimukti membiarkan obrolan bapak dan anak itu. Sementara dirinya, asik menikmati obrolan dengan Manan.


Tak lama kemudian Dullah pun mengembalikan ponsel Ajimukti. Panggilan masih berlangsung.


"Bagaimana pesantren, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Alhamdulillah, Gus. Gus Wahid bisa mengatasi semua. Hasan juga sekarang sudah mau bantu bantu." Sahut Sobri dari seberang.


"Baguslah Kang kalau begitu. Berarti kalo njenengan tinggal sudah nggak apa apa, kan?" Tanya Ajimukti kemudian.


Dullah yang mendengar itu pun mengerutkan kening dan sekelebat menoleh ke arah Ajimukti.


"Maksudnya, Gus?" Tanya Sobri sama bingungnya dengan Dullah.


Ajimukti tersenyum, "Saya minta tolong antarkan Sibu kesini, Kang." Ucap Sobri kemudian.


Belum Sobri menjawab, Dullah sudah terlihat mengembangkan senyumnya.


"Wah, bisa bisa bisa, Gus. Kapan, Gus?" Tanya Sobri dari seberang terdengar bersemangat.

__ADS_1


"Nanti saya matur Sibu dulu, Kang." Ucap Ajimukti kemudian.


Tak lama setelah obrolan itu pun, Ajimukti mengakhiri panggilannya.


"Beneran, Mas. Sobri sampeyan suruh kesini?" Tanya Dullah juga terlihat bersemangat.


Ajimukti mengangguk ringan, "Iya, Lek. Sekalian.." Ajimukti menghentikan ucapannya, lalu tersenyum.


Dullah dan Manan nampak keheranan.


"Sekalian apa, Mas?" Tanya Dullah tidak sabar.


Ajimukti memajukan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke Dullah, "Sekalian mau ngenalin Sobri sama Ajeng, Lek." Ucap Ajimukti lirih lalu kembali tersenyum.


Dullah hanya bisa ikut tersenyum, "Mas Aji ini bisa saja. Apa iya anaknya Prastowo itu mau sama Sobri?" Ucap Dullah tidak mau terlalu menyanjung anaknya.


Sementara Manan yang mendengar itu, kini menelan ludah. Ada rasa yang mengganjal dihatinya. Setidaknya sedikit banyak dia tahu bagaimana perasaan Ajeng kepada Ajimukti saat ini. Ya, meski pun Ajeng belum terang terangan mengakui, namun dari cara Ajeng menatap Ajimukti juga ketika Ajeng membicarakan Ajimukti, Manan sudah bisa memastikan, Ajeng menyimpan sebuah perasaan lebih pada Ajimukti.


Tapi dirinya pun tidak mungkin menyampaikan itu kepada Ajimukti. Manan tahu sejak sore kemarin, diam diam Ajimukti dan Habiba pun telah sama sama saling mengisyaratkan perasaan masing masing.


Manan menghela nafas, dia hanya bisa berharap semua akan baik baik saja. Tidak ada yang tersakiti, entah siapa pun itu nantinya.


"Assalamu'alaikum, Gus..." Disaat itu tiba tiba seorang berdiri di depan pintu sambil mengucap salam.


Ajimukti dan yang lain menoleh ke arah pintu setelah mengucap salam itu. Tak lama Ajimukti berdiri.


"Ada apa Kang Herman?" Tanya Ajimukti pada Herman, salah satu santri sekaligus pengurus pesantren dan juga orang kepercayaan Kyai Aminudin.


Belum menjawab pertanyaan Ajimukti, Herman segera meraih tangan Ajimukti dan berusaha mencium punggung tangannya.


"Sa...saya minta maaf, Gus. Saya, saya pernah membuat salah sama njenengan. Saya khilaf, Gus." Ucap Herman dengan mimik wajah cemas.


Ajimukti tersenyum, "Sudahlah Kang Herman, lupakan. Oh, iya mari masuk. Kita ngobrol di dalam." Ajak Ajimukti kemudian.


Herman sedikit merinding melihat tatapan Dullah kepadanya. Diam diam dia menelan ludah dan tubuhnya sedikit gemetaran.


"Maafkan saya, Gus. Saya benar benar minta maaf!" Ucap Herman sekali lagi ketika Ajimukti sudah kembali duduk.


Sekali lagi juga Ajimukti hanya tersenyum, "Kan tadi saya sudah bilang, Kang. Sudah lupakan saja. Dan lagi saya tidak pernah melihat kesalahan dari sampeyan, jadi apa yang harus saya maafkan?" Ucap Ajimukti kemudian.


"Karena saya, saya pernah menaruh curiga sama njenengan, Gus. Saya benar benar minta maaf, Gus." Lagi lagi kata maaf keluar dari mulut Herman.


"Kang Herman, berapa tahun njenengan nyantri?" Tiba tiba Dullah menyela.


Dengan ketakutan karena tatapan tajam Dullah terhadapnya, Herman pun sedikit gemetaran untuk menjawab, "Se..Sembilan tahun."


Dullah tersenyum menyeringai, membuat jantung Herman semakin berdetak kencang.


"Sembilan tahun nyantri, harusnya membuat sampeyan itu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk." Dullah sedikit menggertak kali ini.


Ajimukti kali ini membiarkannya. Sementara Manan hanya menjadi pendengar sembari menikmati rokoknya.


"Sa...saya.. tttt....tahu, ssss..saya.. saya minta maaf!" Karena gemetaran membuat suara Herman terbata bata untuk bicara.


"Dipikir wening sakdurunge tumindak!" Dullah kembali menggertak Herman.


Herman hanya tertunduk, rasa malu dan takut, bercampur aduk menjadi satu.


"Yasudah, sekarang sampeyan harus bisa berubah. Kasihan orang orang yang berharap sampeyan disini itu menjadi lebih baik, tapi sampeyan nya malah tidak benar benar mengamalkan apa yang sampeyan dapat disini." Ucap Dullah melunak.


Herman yang mendengar itu agak sedikit lebih tenang. Ternyata Dullah tidak semenakutkan dalam pandangannya.

__ADS_1


Dullah tiba tiba menepuk pundak Herman. Seketika tubuhnya seolah teraliri sengatan listrik yang luar biasa dan menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Setiap manusia tentu pernah berbuat salah, Kang Herman. Tapi sebaik-baik manusia yang bersalah adalah yang mau bertobat. Saya salut dengan keberanian sampeyan ini." Ucap Dullah sembari beberapa kali menepuk pundak Herman.


Herman hanya masih saja tertunduk. Kini ketakutan itu sudah mulai mereda. Yang ada justru rasa malu yang luar biasa yang dirasakannya pada Ajimukti juga Dullah.


Sementara itu, beberapa ratus meter dari Pondok Hidayah, di rumah Prastowo di waktu yang sama, Ajeng sedang duduk teras depan rumahnya. Dari kejauhan wajahnya terlihat bersinar. Sesekali pula senyumnya nampak mengembang.


Sumiatun, istri Prastowo yang melihat sikap anak gadisnya itu mengerutkan kening. Ada rasa ingin tahu tentang sikap putrinya itu yang diam diam menyelinap dalam hatinya. Sumiatun mendekat, dan ikut duduk di sebelah Ajeng.


"Kalau tak lihat lihat, kamu sedang bungah, Nduk? Ada apa?" Tanya Sumiatun kemudian.


Ajeng justru tersipu dan kembali melengkungkan bibirnya.


"Ndak apa apa, Bu." Jawab Ajeng masih dengan ekspresi penuh tanda tanya.


Sumiatun tidak lagi ingin meneruskan pertanyaannya meski rasa ingin tahunya semakin besar. Tapi melihat wajah Ajeng yang berbinar, Sumiatun berpikir tidak ada hal yang perlu di khawatirkan.


Prastowo terlihat keluar dari kandang ayam ayam ayamnya. Melihat anak dan istrinya sedang bersantai, Prastowo segera melepas kaos tangan dan sepatu boots nya, lalu melangkah ke arah mereka.


"Sudah, Pak?" Sapaa Sumiatun kemudian.


"Sudah, Bu. Alhamdulillah sepertinya cukup." Ucap Prastowo kemudian.


Ajeng mengerutkan kening, "Cukup? Cukup apanya, Pak? Memang bapak dapat pesanan ayam potong banyak hari ini?" Tanyanya kemudian.


Prastowo tersenyum, lalu ikut duduk. "Ambilkan tehnya bapak dulu, Nduk!" Ucap Prastowo belum menjawab pertanyaan anaknya.


Ajeng tidak membantah dan segera melangkah ke dalam mengambil teh Prastowo di dapur.


"Anakmu wadon kenapa to, Pak?" Tanya Sumiatun sesaat setelah Ajeng masuk.


"Kenapa itu kenapa, Bu? Maksudnya bagaimana?" Tanya Prastowo keheranan dengan pertanyaan tiba tiba Sumiatun itu.


"Ibu lihat lihat, dia agak beda dari semalam, kayaknya lagi sumringah gitu." Jelas Sumiatun kemudian.


"Oh, itu. Bapak juga merasa ada sesuatu, Bu. Tapi biarkan saja. Wong kayaknya, sesuatu yang kita nggak tahu itu bikin anak kita senang gitu kok." Ucap Prastowo kemudian.


Sumiatun hanya mengangguk ringan. Tak lama Ajeng kembali ke teras membawa secangkir besar berisi teh untuk Prastowo.


"Siapa yang pesan ayam potong banyak, Pak? Tadi Ajeng lihat dari dapur kok banyak banget yang bapak potong?" Ajeng sepertinya masih penasaran, karena beberapa tahun belakangan ini, memang Prastowo hanya memotong ayam beberapa puluh ekor saja.


"Itu buat dikirim ke Pondok Hidayah, Nduk!" Sahut Prastowo sambil menyecap tehnya.


Seketika Ajeng memutar badannya, "Berarti benar, Pak? Sekarang Pondok Hidayah sudah tidak diasuh Kyai Aminudin?" Tanya Ajeng bersemangat.


Prastowo mengangguk masih sambil menyeruput tehnya.


"Terus Habiba, bagaimana, Pak? Emmm, maksud Ajeng keluarga Kyai Aminudin. Sekarang mereka tinggal dimana, Pak?" Tanya Ajeng menyelidik.


"Emmm, semalam sih bapak dengar dari istrinya. Mereka mau kembali ke rumah mereka di desa sebelah. Tapi bapak juga tidak tahu. Yang mengantar Gus Faruq soalnya, dan sampai bapak pulang Gus Faruq belum kembali. Mungkin nanti sekalian nganter ayam, bapak tanya lagi." Sahut Prastowo sembari meletakkan cangkir tehnya.


"Emmm, nanti bapak sendiri yang nganter?" Tanya Ajeng kemudian.


"Iya, soalnya setelah tujuh tahu yang lalu, ini kali pertama bapak mau njatah ayam lagi disana." Sahut Prastowo dengan senyum mengembang dari bibirnya.


Ajeng mengangguk dan kemudian senyumnya pun tiba tiba merekah, "Emm, berarti Kang Aji bakal menetap disini ya, Pak?" Tanya Ajeng malu malu.


"Kalau soal itu bapak nggak tahu, Nduk. Ya semoga saja Mas Aji mau meneruskan perjuangan Kang Salim di kota ini, seperti Kang Salim dulu." Ucap Prastowo menerawang penuh harap.


Ajeng pun mengangguk seolah mengaminkan ucapan Prastowo itu.

__ADS_1


Sementara itu, Sumiatun mengamati kembali sikap putrinya itu. Setiap gerak gerik Ajeng tidak pernah lepas dari tangkapan matanya. Tiba tiba hatinya merasakan sesuatu. Sepertinya dia tahu alasan kenapa sikap putrinya berbeda sejak semalam. Diam diam, Sumiatun pun mengembangkan senyumnya.


Bersambung...


__ADS_2