BROMOCORAH

BROMOCORAH
Nengahi


__ADS_3

Pagi itu seorang pemuda dengan postur tinggi kurus tinggi dan rambut sedikit panjang yang tergerai berjalan santai menuju ke sebuah warung. Di belakangnya, seorang pemuda lain dengan alis mata sedikit tebal mengikutinya. Mereka adalah Arya dan Hexa.


Begitu mereka memasuki warung, disana sudah ada seorang pemuda lain yang begitu melihat keduanya langsung tersenyum kecut. Memandang sekilas lagi kembali membuang wajahnya dan sibuk mengaduk aduk segelas teh di hadapannya.


"Sudah lama kamu, Bud?" Tanya Arya sembari mengambil duduk tak jauh dari tempat duduk di warung itu.


"Kenapa lama sekali, Bang? Biasanya on time?" Sahut pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya.


Arya tertawa ringan, "Ini tadi menunggu Hexa dulu. Cari sikon aman." Sahutnya kemudian.


"Oh." Sahut pemuda itu singkat tanpa ekspresi.


Hexa yang melihat ekspresi kurang suka dari pemuda itu sedikit menyeringai lalu mendengus.


"Kamu dari rumah atau...?" Tanya Arya setelah itu pada si pemuda.


"Iya." Sahut pemuda itu cepat, masih tanpa menoleh.


"Apa kabarnya Pak Dhe, Mas?" Kini Hexa mulai angkat bicara.


Pemuda itu menyeringai, "Kamu salah alamat jika bertanya itu ke saya. Tanya saja sama bapak kamu. Dia kan yang sering kesana?" Sahut pemuda itu dengan nada yang sedikit ketus.


Hexa hanya sedikit menganggukkan kepalanya ringan. Arya melihat kecanggungan di antara keduanya.


"Bapak kalian sahabat karib, tapi kenapa justru kalian sengak sengak'an begini?" Ucap Arya lirih.


"Siapa maksud Bang Arya? Saya biasa saja." Sahut pemuda itu masih dengan nada yang sama seperti sebelumnya.


"Sepertinya yang kamu bilang dengan biasa itu harus kamu rubah, Mas." Sahut Hexa kemudian.


"Apa maksud kamu?" Sahut pemuda itu lagi.


"Tidak ada maksud, Mas Budi lebih tua dari saya, tentu saja lebih bijak seharusnya." Sahut Hexa pada pemuda yang ternyata adalah Budi itu.


Budi tersenyum kecut, "Jadi kamu ingin bilang saya kekanak Kanakan? Begitu?"


"Tidak, Mas Budi. Tapi jika Mas Budi merasa begitu ya itu hak sampeyan, Mas." Sahut Hexa dengan nada sedikit ketus pula.


Arya hanya kemudian geleng geleng kepala melihat dua pemuda itu beradu mulut di depannya.


"Cobalah kalian pikirkan lagi, bagaimana pun tidak baik menyimpan kebencian berlarut larut." Ucap Arya setelah itu.


"Saya hanya belum bisa terima saja, Bang..." Ucap Budi sedikit memancarkan aura kemarahan di matanya.


"Tidak terima apa, Mas? Mas Budi masih berpikir kalau bapak saya ikut campur dalam masalah Pak Dhe lalu melimpahkan semua ke Pak Dhe? Begitu?" Sahut Hexa dengan nada sedikit meninggi.


"Memang begitu kan?" Sahut Budi menatap tajam Hexa.


"Saya terima kalau itu ada buktinya, Mas. Tapi kalau tidak ada bukti, itu sama dengan memfitnah. Dan saya tidak terima jika sampeyan memfitnah bapak saya!" Hexa pun membalas tatapan Budi juga dengan kemarahan.


"Oh, jadi kalau kamu tidak terima, lalu kamu mau apa? Heh?" Tantang Budi sedikit ingin berdiri namun di tahan Arya.


"Sudah, Bud. Berhenti! Hexa juga." Ucap Arya kemudian.


Kedua pemuda yang saling berhadapan itu hanya bisa saling melempar pandang dengan sama sama memancarkan aura kebencian dan kemarahan. Rahang mereka sama sama mengeras, mempertegas bentuk wajah keduanya.

__ADS_1


"Saya tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar disini. Siapa pun itu tidak seharusnya diselesaikan dengan emosi seperti ini." Ucap Arya kemudian.


Wajah Budi masih diselimuti kemarahan, namun akhirnya ia hanya kembali mengaduk aduk gelas tehnya. Sementara Hexa ia hanya kemudian menghela nafasnya.


"Tapi disini saya ingin mencoba menengahi saja. Tidak bermaksud membela atau menjatuhkan salah satu diantara kalian." Ucap Arya lagi.


"Kamu Budi..." Lanjutnya sembari menepuk lutut Budi.


"Saya ingin lebih dulu mengatakan sesuatu ke kamu. Kenapa? Karena disini di antara kamu dan Hexa, kamu yang lebih tua. Memang umur bukan pathok'an kedewasaan seseorang. Tapi saya yakin, dengan lebihnya umur kamu dibandingkan Hexa, cara berpikir kamu sesuai umur kamu." Lanjutnya kemudian.


Budi hanya masih bersikap seperti sebelumnya. Menunduk dan tanpa ekspresi.


''Innadz-dzonna laa yughnii minal-haqqi syai'an. Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apa pun. Maka, ijtanibuu katsiuron minadz-dzonni baghdz-dzonni itsm. Jauhilah memperbanyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa." Ucap Arya kemudian.


Budi hanya menundukkan kepalanya tanpa sedikit pun menatap Arya saat ini.


''Iyakum wadz-dzonna fainnadz-dzona akdzabul-hadiits. Takutlah kalian berprasangka, karena ia merupakan sesuatu dusta perkataan. Jad jelas, prasangka merupakan perbuatan yang berbanding lurus dengan itsm, dosa dalam pandangan Allah dan akdzabul-hadiits, sedusta dusta perkataan dalam pandangan Rasulullah. Karenanya, prasangka sedapat mungkin harus dihindari, dan hanya orang-orang beriman yang bisa melakukannya, Bud." Ucap Arya sembari kembali menepuk lutut Budi yang berada di sebelahnya.


"Terima kasih, Bang. Terima kasih sudah mengingatkan saya." Ucap Budi lirih.


Arya kemudian tersenyum, "Saya tidak sedang mengingatkanmu, Bud. Itu juga peringatan untuk saya juga. Sebagai teman, bukankah kita harus saling mengingatkan?" Ucapnya kemudian.


"Bang Arya benar."


"Sahabat itu bukan yang harus selalu mendukung kita meski kita sedang berbuat dzalim. Sahabat itu, mereka yang mau mengingatkan satu sama lain saat salah satunya berbuat khilaf. Seneng dielingne Ojo kesenengen, nangis dielingne Ojo kebablasen. Itu sahabat sebenarnya." Ucap Arya lagi.


"Dan kamu, Hexa. Idfa' billatii hiya ahsanus-sayyiah, Balaslah kejahatan dengan cara yang terbaik. Sehingga, Alladzii bainaka wabainahu 'adaawatu ka annahuu waliyyu hamiim. Orang yang ada rasa permusuha antara kamu dan dia, akan seperti teman setia." Ucap Arya sembari memfokuskan pandangannya pada Hexa yang berada di depannya.


Hexa hanya kemudian menganggukkan kepalanya ringan.


"Tidak semua sikap kemarahan seseorang harus di hadapi dengan kemarahan yang sama. Ada kalanya kita harus ngashor, merendah. Mengalah bukan berarti kalah, justru dengan mengalah kita lah pemenangnya. Menang dari diri kita sendiri, menang dari emosi dan kemarahan kita sendiri. Api jika kita balas dengan api, yang ada api itu akan membesar, ketika api membesar, sekitar pun akan merasakan panasnya. Lalu bagaimana memadamkan api? Beri air, siram dengan air. Tapi perlu di ingat, air pun harus kita pilih benar benar, apakah memang air atau minyak yang menyerupai air." Ucap Arya masih tertuju pada Hexa.


"Sabar. Jangan terpancing dengan kemarahan yang orang berikan ke kamu. Lathi ora kudu di bales nganggo lathi opo meneh belati. Cukup bales nganggo ati." Sahut Arya setelahnya.


Hexa hanya kemudian mengangguk.


"Mungkin saat ini kalian belum bisa berdamai dengan hati kalian masing masing. Tidak apa apa. Hanya saya berpesan, jangan terlalu lama menyimpan amarah kalian." Ucap Arya lagi.


Kedua pemuda yang saling berhadapan itu hanya kemudian menganggukkan kepala mereka.


"Lain bahasan... Budi, apa kamu tidak ada keinginan untuk kembali kesana?" Tanya Arya kemudian.


Mendapati pertanyaan itu, seketika Budi mendongak lalu mengarahkan pandangannya pada Arya.


"Kenapa tiba tiba kamu bertanya seperti itu, Bang?" Tanya Budi kemudian.


Arya kemudian tersenyum, "Alasan pertama, karena saya melihat kamu sudah banyak berubah saat ini."


"Alasan pertama? Berarti ada alasan lain?" Tanya Budi sedikit mengerutkan keningnya.


"Alasan lainnya banyak, tapi alasan alasan lain itu, kamu yang tahu." Sahut Arya.


Budi kemudian menghela nafasnya panjang.


"Tapi ya, semua terserah kamu, Bud." Imbuh Arya melihat ekspresi wajah Budi saat ini.

__ADS_1


"Saya ikut sampeyan saja, Bang." Ucap Budi lirih dengan suara beratnya.


"Jika ada tempat, kenapa harus di jalanan, kan begitu?" Sahut Arya.


"Jangan memojokkan saya, Bang. Bagaimana dengan niat Bang Arya sendiri untuk menemui orang itu?" Tanya Budi kemudian.


Arya tertawa, "Baiklah, baiklah, maaf maaf... Sudah tidak usah bahas itu lagi." Ucapnya kemudian.


"Kenapa, Bang?" Tanya Budi justru kini berbalik menyudutkan Arya.


"Ada hal yang tidak bisa saya ceritakan, Bud." Sahut Arya dengan ekspresi sedikit canggung.


Budi hanya menganggukkan kepalanya ringan.


"Sekarang bagaimana soal tugas yang saya berikan ke kamu?" Tanya Arya pada Budi setelah itu.


"Semua sudah saya selesaikan, Bang. Ini semua kitab yang sampeyan minta. Silahkan di cek, benar atau tidak?" Ucap Budi sembari mengeluarkan beberapa tumpuk kitab dari tas ranselnya.


Segera setelah itu, Arya mulai membuka satu persatu kitab yang ditaruh di atas meja oleh Budi. Sesekali Arya nampak menganggukkan kepalanya.


"Bagus. Sudah semua." Ucapnya kemudian.


"Kitab sebanyak itu untuk apa, Ya?' Tanya Hexa sedikit menaruh rasa penasaran.


"Untuk kamu juga Budi pelajari." Sahut Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari setiap lembaran kitab yang dibukanya.


"Untuk kami, Bang?" Tanya Budi setahnya.


"Benar, Bud. Itu semua kitab kitab yang akan sangat berguna untuk kalian." Terang Arya kemudian.


Baik Budi maupun Hexa, keduanya sama sama menganggukkan kepalanya.


"Soal yang akan kita temui hari ini sebenarnya siapa dia, Ya?" Tanya Hexa setelah itu.


"Iya, Bang. Siapa? Apa dia juga kenal dengan orang itu? Atau...?".


"Tidak tidak tidak. Ini berbeda, yang akan kita temui hari ini tidak ada sangkut pautnya dengan teman lama saya itu. Yang akan kita temui kali ini adalah seorang tua yang begitu berwawasan luas dengan tanpa meninggalkan asal usulnya." Sahut Arya kemudian.


Lagi lagi Budi dan Hexa sama sama mengangguk.


"Sebaiknya kita segera berangkat kesana sekarang. Saya khawatir kalau Hexa terlalu lama perginya, orang orang disana akan curiga." Ucap Arya kemudian.


"Benar, Ya. Saya bingung setiap kali harus membuat alasan." Imbuh Hexa.


Untuk hal ini Budi tidak berkomentar.


Tak lama mereka pun bersama sama meninggalkan warung itu dan mencari angkutan yang akan membawa mereka ke tempat mereka akan pergi hari ini.


Setelah perjalanan beberapa saat, mereka pun tiba di sebuah rumah berdinding gebyok yang sangat kental dengan beberapa pajangan dinding yang begitu unik.


"Ini rumahnya, Bang?" Tanya Budi setelah itu.


"Benar, Bud." Sahut Arya.


"Ayo kita kesana. Sepertinya yang ingin saya kenalkan pada kalian ada dirumah." Ajak Arya sembari melangkah mendahului Hexa dan Budi. Hexa dan Budi pun berjalan beriringan mengikuti Arya.

__ADS_1


Tak lama setelah mengucap salam, seorang perempuan paruh baya nampak keluar dari dalam rumah itu.


Bersambung...


__ADS_2