BROMOCORAH

BROMOCORAH
Hexa, Santri Baru


__ADS_3

"Dia santri disini juga, Pak?" Bisik pemuda itu pada Samsuri.


"Hush, jaga sikap kamu." Samsuri sedikit menyikut perut anaknya.


"Mas Aji, perkenalkan ini Hexa anak saya yang saya ceritakan kemarin." Ucap Samsuri memperkenalkan.


Ajimukti tersenyum, "Kalau tidak salah kita pernah bertemu di warung makan dekat pasar kan?" Tanya Ajimukti pada anaknya Samsuri yang bernama Hexa itu.


Hexa nampak tidak suka dengan pertanyaan Ajimukti itu. Samsuri pun sedikit mengerutkan kening mendengar bahwa Hexa makan di warung dekat pasar.


"Benar? Kamu pernah bertemu Mas Aji?" Tanya Samsuri pada Hexa.


"Yang makan di warung kan banyak, Pak. Saya juga tidak sengaja makan di warung itu. Warung yang mana yang dimaksud saya juga tidak tahu." Sahut Hexa nampak malas sembari melirik Ajimukti dengan lirikan tidak suka.


Ajimukti kemudian hanya tersenyum, sepertinya dia menangkap sesuatu. Sepertinya Hexa berusaha menutupi dari Samsuri bahwa dia sering nongkrong di warung itu, bahkan sejak zaman sekolah dia dan teman temannya suka bolos seharian di warung itu.


"Yasudah kita masuk dulu saja, Pak. Kita bicara di dalam." Ucap Ajimukti kemudian.


Samsuri hanya kemudian mengangguk lalu berjalan mengikuti Ajimukti dan Sobri. Hexa pun juga mengekor di di belakang mereka.


"Kamu sama orang ini santri disini juga ya?" Tanya Hexa pada Sobri yang berjalan disebelahnya.


Sobri kemudian tersenyum sinis.


"Iya." Sahutnya datar tanpa berekspresi.


"Jadi setelah ini, saya serahkan Hexa pada Mas Aji. Mau di bagaimana pun pokoknya saya pasrah bongkok'an sama Mas Aji." Ucap Samsuri begitu mereka duduk di ruang tamu ndalem.


"Iya, Pak. Pak Samsuri tenang saja." Sahut Ajimukti.


"Pak Kyai nya dimana? Kenapa dia tidak kelihatan? Kenapa cuma santri ecek ecek yang disuruh menyambut santri baru. Kesan awal yang kurang baik." Ucap Hexa dengan wajah malasnya.


"Hexa...!!! Jaga sikap kamu!" Bentak Samsuri kemudian.


"Maaf, Mas Aji. Begitu lah Hexa. Dia memang tidak punya tata krama." Ucap Samsuri beralih pada Ajimukti dengan sedikit malu atas ucapan anaknya.


"Tenang saja, Pak. Tidak apa apa. Saya bisa memakluminya." Sahut Ajimukti dengan menyempatkan tersenyum.


Berbeda dengan Sobri yang begitu sangat tidak suka melihat sikap sok nya Hexa itu.


"Gus, saya permisi dulu." Ucap Sobri kemudian. Dia tidak tahan melihat sikap Hexa, rasanya dia ingin sedikit memberi anak itu pelajaran bersopan santun.


Ajimukti hanya mengangguk pada Sobri. Setelahnya Sobri pun berlalu dari ruang tamu itu.


"Gus? Dia tadi sebut kamu Gus? Emmm, berarti kamu ini anaknya Pak Kyai ya?" Tanya Hexa sedikit melirik tajam ke arah Ajimukti.


Ajimukti lagi lagi hanya tersenyum.


"Sudah Hexa. Kamu diam. Jangan buat bapak malu." Ucap Samsuri lirih pada anaknya.


"Sudah, Pak. Biarkan saja." Sahut Ajimukti begitu mulai bisa melihat karakter Hexa seperti apa.


"Iya, saya anaknya Kyai Salim, pendiri pesantren ini." Ucap Ajimukti pada Hexa setelahnya sembari tersenyum tenang.


"Pantas saja." Sahut Hexa dengan senyum mengejek.


Ajimukti mengerutkan kening, "Pantas saja kenapa?" Tanyanya kemudian.


"Kamu berlagak seperti yang punya pesantren saja." Ucap Hexa dengan senyum meremehkan.

__ADS_1


"Hexa...!!!" Bentak Samsuri.


"Sudah, Pak." Ajimukti memberi isyarat dengan tangannya.


"Maafkan atas kelancangan Hexa, Mas Aji. Oh, maksud saya Gus Aji." Ucap Samsuri sedikit menundukkan kepalanya.


"Tidak apa apa, Pak." Sahut Ajimukti masih dengan ekspresi wajah yang sama.


Setelah beberapa saat berbincang, Samsuri pun pamit undur diri dari ndalem pesantren dan meninggalkan Hexa tinggal di pesantren itu.


"Pokoknya saya titip Hexa, Mas Aji. Maaf jika sudah merepotkan." Ucap Samsuri sembari berjalan ke arah mobilnya.


"Bapak tenang saja. Sebisa kami, kami akan merubah perilaku anak bapak. Saya yakin, Hexa sebenarnya anak yang baik." Sahut Ajimukti kemudian.


Samsuri hanya kemudian mengangguk lalu beralih pada Hexa.


"Awas saja jika kamu disini membuat masalah. Bapak tidak akan segan lagi. Ingat itu." Ucap Samsuri pada Hexa setelahnya.


"Sebenarnya membosankan jika harus bergaul dengan anak anak muda ndeso disini. Tapi tidak apa apalah. Saya akan betah betahin." Sahut Hexa dengan ekspresi malas.


Samsuri hanya bisa geleng geleng kepala melihat sikap anaknya itu.


Tak lama Samsuri pun sudah berada di dalam mobilnya dan setelah berpamitan dengan Ajimukti, ia pun berlalu dari halaman masjid pesantren tempatnya memarkir mobil. Kini di halaman itu tinggal Ajimukti berdua bersama Hexa.


"Ah, saya mengantuk. Apa saya nanti akan ada kamar sendiri?" Tanya Hexa sembari menguap.


Ajimukti tersenyum, "Ada, tenang saja. Masuklah dulu biarkan santri santri ndalem menyiapkan kamar untuk kamu." Sahut Ajimukti sembari berjalan.


"Oh, iya. Saya harap kamu tidak bilang bapak saya kalau saya sering di warung itu. Kalau tidak kamu akan tahu akibatnya." Ancam Hexa kemudian.


Ajimukti lagi lagi hanya tersenyum, "Kamu tenang saja, Hexa."


Ajimukti tidak menyahut, ia hanya kemudian tersenyum saja.


Tak lama, Khalil, Imam dan Manan datang ke ndalem.


"Gus, kamar untuk santri barunya sudah kami siapkan." Ucap Khalil setelahnya sembari melirik tajam ke arah Hexa. Ia tahu bagaimana perangai anak muda ini ketika ia dan Ajimukti bertemu di warung makan itu.


"Terima kasih, Kang." Sahut Ajimukti.


"Kenapa kamu sendirikan kamarnya, Jik?" Tanya Manan sedikit berbisik.


"Nanti kamu juga akan tahu, Nan." Sahut Ajimukti lagi.


Manan hanya mengangguk.


"Yasudah, Hexa. Mari saya antar ke kamar kamu." Ucap Ajimukti pada Hexa setelah itu.


"Bagus, saya harap kamarnya sesuai keinginan saya." Sahut Hexa sembari meraih ranselnya dan berjalan keluar ndalem.


"Benar benar tidak di didik tata krama anak itu, Jik. Rasanya ingin sekali saya kasih pelajaran." Gumam Manan.


"Sabar saja, Nan. Lambat laun dia juga akan terbiasa. Kita hanya perlu membiasakannya dengan kebiasaan disini." Sahut Ajimukti.


Tak lama, mereka berlima pun sudah berada di depan sebuah kamar. Hexa sengaja di tempatkan di kamar paling ujung.


"Hah, jadi ini kamar saya? Apa tidak ada yang lebih baik lagi? Sama kamar pembantu saya saja, bagusan kamar pembantu saya." Oven Hexa begitu masuk dan melihat kamar itu.


"Mana gerah, tidak ada kipas angin apa ya disini? Dan ini..." Hexa duduk di tempat tidur di kamar itu.

__ADS_1


"Apa saya harus tidur di kasur ini? Benar benar bisa bikin badan saya sakit ini nantinya. Ini tidak layak disebut kamar Bosku." Gerutu Hexa lagi.


Manan, Khalil dan Imam nampak ingin marah mendengar ucapan Hexa itu. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa apa mengingat rasa sungkan mereka pada Ajimukti.


Sementara Ajimukti sendiri hanya tersenyum lalu mendekat ke Hexa. "Sampeyan laki laki apa bukan?" Tanya Ajimukti setelahnya.


"Heh, kamu itu hanya lebih tua dari saya empat atau lima tahun. Jangan berlagak kamu seperti laku laki dewasa. Kamu mau bukti kalau saya ini laki laki tulen?" Ucap Hexa sedikit menaikkan suaranya.


Manan mulai mengepalkan tangannya, hanya saja Ajimukti menyadari itu dan segera menahannya dengan isyarat tangannya.


"Baiklah kalau begitu. Kamu lihat semua disini juga laki laki. Tidak ada yang mengeluh, karena mereka kuat. Laki laki itu kuat tidak sebatas di ucapan saja." Balas Ajimukti.


"Oh, jadi kamu menganggap saya hanya membual? Kamu mau bukti?" Hexa nampak membusungkan dadanya lalu menggulung lengan tangannya.


Manan sudah hampir tidak tahan melihat sikap Hexa yang kurang ajar itu. Tapi lagi lagi Ajimukti menahannya.


"Sebaiknya simpan tenaga kamu untuk bisa nyenyak tidur. Kasur ini memang cukup keras. Dan saya pikir kamu akan lama tidur di kasur ini." Kini Ajimukti nampak tersenyum kecut.


"Saya akan telfon bapak untuk mengirim kasur yang jauh lebih mahal dan empuk." Seru Hexa setengah kesal.


"Mengirim kemana?" Tanya Ajimukti dengan tatapan menyelidik.


"Ya ke kamar ini. Saya tidak terbiasa tidur di kasur keras seperti ini." Omelnya lagi.


Ajimukti tersenyum, "Silahkan kalau mau bawa sendiri. Hanya saja nanti kamu pakai di sana ya?" Tunjuk Ajimukti ke halaman kamar.


"Heh, apa maksud kamu?" Hexa sedikit membentak.


"Kasur dan kamar ini sudah satu paket. Jadi kalau kamu mau bawa kasur, tempat yang kosong hanya disana, di halaman. Bisa di pahami kan apa maksudnya?" Ucap Ajimukti sedikit menatap tajam Hexa.


Mendapati tatapan Ajimukti yang seperti itu, ada yang berdesir di ulu hati Hexa.


"Hah, kalian ngaku santri, tapi dzalim." Gumamnya menggerutu.


Ajimukti tak lagi menyahut, lalu ia bergegas memutar badan dan keluar dari kamar itu di ikuti Manan, Khalil dan Imam.


"Kamu yakin, Jik. Emmm, maksud saya. Kamu yakin menerima dia nyantri disini?" Tanya Manan ketika mereka tiba kembali di teras ndalem.


"Kenapa tidak, Nan." Sahut Ajimukti sembari menyalakan rokoknya.


"Ya, kan kamu lihat sendiri perangai anak bernama Hexa tadi. Sepertinya hanya akan bikin susah kita saja, Jik." Ucap Manan lagi.


"Benar, Gus. Apa tidak hanya akan merepotkan." Imbuh Khalil.


"Saya saja rasanya sudah ingin memberi pelajaran sama anak itu." Sahut Manan lagi.


"Sama, Nan. Saya malah sejak bertemu pertama waktu di warung." Timpal Khalil.


Ajimukti tersenyum, "Justru karena perangai anak itu yang seperti itu, itu menjadi tantangan untuk kita."


"Tantangan yang bagaimana, Jik. Orang jelas jelas wataknya saja sudah susah diatur. Bahkan bapaknya saja memasukkan dia kesini kan karena alasan itu." Sahut Manan.


"Begini, Nan. Kalau kita mengajar orang orang yang basicnya dan latar belakangnya sudah wong ngajinan, itu tidak sulit. Itu seperti berjalan di pasir pinggir pantai. Tidak begitu terlihat bekasnya. Tapi jika kita bisa membuat orang orang semacam itu berubah, sama seperti kita mengukir batu. Perubahan bentuk itu akan sangat jelas terlihat. Bisa dipahami?" Tanya Ajimukti di akhir katanya.


Manan, Khalil dan Imam sama sama hanya menganggukkan kepala.


"Ketika kita bicara tentang agama di pengajian, kita bisa sangat dipahami. Karena memang sudah tempatnya. Tapi bagaimana jika kita memberi kajian di tempat tempat yang tidak terjamah hal hal yang berhubungan dengan agama? Di bar misalnya, di cafe, diskotik bahkan lokalisasi."


"Tapi meski bukan tempatnya, tapi jika apa yang kita sampaikan bisa diterima, dampaknya akan begitu jelas terlihat, Nan. Itulah dakwah. Orang yang sudah Islam dan gelem ngaji, ngaji hanya untuk menambah ilmunya. Tapi untuk orang orang yang nol puthul, bisa kita dalanke, bukankah itu bisa menjadi amalan yang luar biasa. Ingat, Nan. Seperti Hexa itu, dia butuh jor joran rohani. Jika kita ingin dakwah, berjihad, merubah orang orang seperti Hexa lah jalannya." Ucap Ajimukti sembari kembali menyesap rokok ditangannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2