
"Bapak pikir selamanya kamu tidak mau menemui bapak lagi, Bud."
Nugroho, lelaki paruh baya yang kini sedang mengenakan baju dengan punggung bertuliskan warga binaan pemasyarakatan itu, nampak berkaca-kaca melihat dua pemuda duduk bersebelahan di hadapannya saat ini.
Budi, anaknya, nampak tertunduk dihadapannya. Disebelahnya ada Samuel, saudara beda ibu yang nampak tenang membiarkan Budi dengan suasana hatinya sendiri.
Sesekali terdengar nafas berat dari Nugroho.
"Ma...maafkan Budi, Pak." Beberapa kali hanya kata itu yang meski sedikit berat dan terbata, lebih sering keluar dari mulut Budi. Dan setiap kali Budi berkata seperti itu, Nugroho hanya selalu membalasnya dengan senyum sembari sesekali meraih tangan Budi.
"Entah wujud kecintaan Tuhan yang seperti apa bapak tidak tahu, Bud. Tapi yang pasti, hari ini, bapak percaya bahwa akan selalu ada hikmah dibalik musibah itu benar adanya. Hari ini, bapak benar-benar merasa menjadi bapak, Bud. Ya untuk kamu, ya untuk Sammy." Ucap Nugroho masih terdengar berat.
Yah, Sammy. Sammy adalah panggilan Nugroho untuk Samuel.
"Hari ini, untuk pertama kalinya bapak melihat kedua anak laki-laki bapak bisa duduk bersebelahan seperti ini. Bapak tidak tahu, kapan hari ini akan terjadi jika saja masalah bapak ini tidak ada. Tapi nyatanya, karena masalah ini, bapak jadi bisa melihat kedua anak bapak duduk bersama dihadapan bapak." Kini entah bagaimana, mata Nugroho nampak kembali berkaca-kaca.
"Bapak tahu, Bud. Mungkin selamanya akan sulit untuk kamu memaafkan bapak. Tapi, untuk pertama kalinya dalam hidup bapak. Bapak mohon kepada kamu. Tetaplah bersaudara dengan Sammy. Sudah banyak dosa yang bapakmu ini perbuat, pantas jika bapak tidak mendapat maaf. Tapi sebanyak apapun dosa bapak, bapak tidak ingin melihat ada perselisihan antara anak-anak bapak." Imbuh Nugroho dengan suara makin berat dan terdengar serak.
"Budi sudah memaafkan bapak." Ucap Budi lirih.
Mendengar itu Nugroho tersenyum, "Sudahlah, Bud. Jangan memaksa jika memang kamu belum bisa memaafkan bapakmu ini."
"Tapi sungguh, Pak. Budi sudah memaafkan bapak. Budi sudah melupakan semua." Ucap Budi yang kini mulai berani menatap wajah Nugroho.
Kini, justru Nugroho yang tertunduk diantara isaknya.
"Sudahlah, Pak. Sekarang yang terpenting kesehatan bapak disini. Dan bapak bisa melewati semua ini sampai bapak keluar. Kami pastikan kami akan menyambut kepulangan bapak nantinya." Ucap Samuel yang sejak tadi lebih banyak diam.
"Benar, Pak. Bapak segera pulang. Budi... Budi pribadi sudah merindukan berkumpul dengan bapak." Imbuh Budi.
Mendengar kata-kata yang keluar dari kedua anaknya itu, air mata Nugroho tidak bisa terbendung lagi. Bulir-bulir bening itu begitu saja membasahi kedua pipinya.
"Kesibukan kamu sekarang apa, Le?" Tanya Nugroho pada Budi setelah semua mulai kembali tenang.
"Tidak ada, Pak." Sahut Budi singkat sembari tertunduk.
Nugroho nampak menghela nafas.
"Sebenarnya bapak mulai merasa menyesal atas keputusan kamu keluar dari Pondok Hidayah, Le. Tapi mau bagaimana lagi, semua juga salah bapak. Pasti kamu malu sama teman-teman kamu." Ucap Nugroho kemudian.
Budi tidak menjawab, ia hanya terus tertunduk. Karena pada kenyataannya apa yang dikatakan bapaknya itu benar. Malu. Yah, malu lah yang menjadi alasan keluarnya Budi dulu dari Pondok Hidayah.
"Bapak yakin. Jika saja saat itu kamu tidak keluar, mungkin kamu sekarang bisa lebih banyak pengetahuan, Bud. Karena sekarang Pondok Itu tidak lagi dipegang Kyai Aminudin. Kyai yang hanya kemaruk kekuasaan itu." Ucap Nugroho kemudian.
"Bapak tahu dari mana soal itu?" Tanya Budi sarat keheranan karena setahu dia, Kyai Aminudin lengser dari Pondok Hidayah dan digantikan oleh Ajimukti beberapa bulan setelah Nugroho masuk dipenjara.
"Entah ada urusan apa antara bapak sama Mas Aji. Tapi waktu itu Mas Aji perna kesini menemui bapak, Bud." Sela Samuel kemudian.
"Ajimukti? Ajimukti kesini, Pak? Apa itu benar?" Tanya Budi memastikan.
Nugroho mengangguk, "Ya. Ajimukti memang pernah beberapa kali kesini dan pernah berpapasan dengan Samuel." Jawab Nugroho membenarkan ucapan Samuel.
"Lantas, ada urusan apa Ajimukti menemui bapak?" Tanya Budi yang masih begitu penasaran.
__ADS_1
Nugroho tersenyum dan terlihat menghela nafas, "Kesalahpahaman, Bud. Tapi semua sudah terselesaikan dan bapak pun juga sudah mengakui kesalahan bapak." Jelasnya kemudian.
"Entah itu soal apa, tapi syukurlah kalau memang sudah selesai, Pak." Sahut Budi kemudian.
Nugroho lagi-lagi hanya tersenyum, "Tenang saja, Bud. Tuhan lebih cepat menyadarkan bapak."
"Lalu, apa kamu tidak berniat untuk kembali kesana, Le?" Tanya Nugroho kemudian.
Mendapati pertanyaan itu Budi hanya lagi-lagi diam dan tertunduk.
"Kembalilah kesana, Bud. Saya yakin, Ajimukti akan dengan senang hati menerima kamu disana." Pinta Nugroho kemudian.
"Kamu tentu masih ingat Samsuri teman bapak kan?" Tanyanya kemudian.
Budi mengangguk, "Bagaimana saya tidak ingat, Pak. Bukankah Pak Samsuri yang membuat bapak disini?" Ucapnya kemudian.
Mendengar itu Nugroho lagi-lagi tersenyum dan kembali meraih tangan Budi.
"Bud, bukan Pak Samsuri yang membuat bapak disini. Kamu jangan menyalahkan siapapun. Jika ada yang harus disalahkan ya bapak lah orangnya, Bud. Pak Samsuri juga hanya korban saja. Jadi buang pikiran kamu jika semua ini gara-gara pak Samsuri." Pesan Nugroho pada Budi.
Budi pun hanya mengangguk saja. Ia juga sudah berjanji pada Arya bahwa ia tidak akan lagi menyalahkan Samsuri atas semua yang terjadi pada bapaknya. Dan lagi ia dan Hexa, anaknya Samsuri pun baru saja memperbaiki hubungan mereka yang selama ini renggang.
"Oiya, sekarang Alhamdulillah anaknya Pak Samsuri juga sudah dimasukkan ke Pondok Hidayah, Bud." Ucap Nugroho kemudian.
Mendengar itu, Budi tidak heran sama sekali.
"Saya sudah tahu, Pak." Sahut Budi lirih.
Kali ini justru Nugroho lah yang sedikit kaget, keningnya mengkerut.
"Budi ini sekarang berteman baik dengan Hexa, anaknya Pak Samsuri itu, Pak." Sela Samuel kemudian.
"Benar begitu, Bud?" Tanya Nugroho memastikan.
Budi mengangguk, "Iya, Pak."
"Tapi kok kamu bisa tahu, Sam?" Tanya Nugroho beralih pada Samuel.
"Jadi Budi ini sekarang sering nongkrong di pasar, Pak. Yah, tidak jauh dari warung saya. Bersama Hexa itu, sama satu lagi, Arya namanya. Dan setahu saya Arya ini juga dulunya jebolan pesantren. Dan saya sering memperhatikan Budi, Pak. Jadi tahu betul." Jelas Samuel kemudian.
"Iya, Pak. Betul yang dikatakan Samuel." Imbuh Budi membenarkan penjelasan Samuel.
"Lalu kenapa anaknya Samsuri justru sering tongkrongan di pasar, Bud? Dan kenapa bisa dekat sama kamu?" Tanya Nugroho kemudian.
"Itu karena Arya yang diceritakan Samuel tadi, Pak." Sahut Budi kemudian.
"Arya? Siapa anak itu? Dan kamu kenal darimana?" Tanya Nugroho lagi.
"Seperti kata Samuel tadi, Pak. Arya dulunya juga nyantri. Bahkan dia itu... Emmm, sudahlah, Pak. Yang pasti dia itu tahu lebih banyak dari saya soal ilmu agama. Saya kenal juga tidak sengaja, tapi dia lebih dulu kenal dengan Hexa daripada sama saya. Karena saya merasa cocok setiap kali memberi saya penjelasan mengenai ini itu. Saya pun kemudian mencoba ngangsu ilmu sama Arya ini, Pak." Jelas Budi kemudian.
Nugroho mengangguk, "Ya ya ya, bapak tidak masalah kamu berteman dengan siapa saja, Bud. Selagi teman itu mengarah ke kebaikan dan bisa memberi kamu manfaat. Mau bagaimana pun kehidupan latar belakangnya. Toh, sekarang pun bapak melihat banyak perubahan dari diri kamu. Jadi ya bapak bisa menyimpulkan bahwa Arya teman kamu itu memang banyak memberi pengaruh atas perubahan kamu ini, Bud." Ucap Nugroho kemudian.
Budi mengangguk saja mendengar petuah Nugroho itu.
__ADS_1
Untuk beberapa saat mereka bertiga masih terus melanjutkan obrolannya hingga sampai saat petugas memberi isyarat bahwa jam kunjung untuk Nugroho sudah selesai.
"Kalian hati-hati, tetap jaga diri, dan yang paling penting rukun lah kalian sebagai saudara." Pesan Nugroho sembari beranjak dari duduknya.
"Bapak juga. Jaga kesehatan disini." Ucap Samuel seperti biasa sebelum dia berpamitan.
"Iya, Pak. Bapak tidak usah memikirkan kami diluar. Insya Allah kami suda dewasa, sudah bisa mengatur kehidupan kami sendiri. Yang terpenting bapak disini. Tenangkan pikiran bapak." Imbuh Budi.
"Yah. Bapak sekarang merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Bapak ingin segera menyelesaikan ini dan pulang, kembali bersama kalian." Sahut Nugroho yang lagi-lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Kami pulang dulu, Pak." Ucap Samuel yang sejak tadi memang lebih tenang dari Budi.
Setelah berpamitan mereka pun berpisah di ujung pintu ruang kunjung.
"Bud, bapak titip ibumu." Ucap Nugroho diakhir pertemuannya dengan Budi kali ini.
Budi hanya mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Samuel meninggalkan tempat itu. Nugroho hanya mengamati kedua anaknya yang berjalan menjauh dari tempatnya, matanya masih sedikit berkaca hingga salah seorang petugas menyadarkannya dan mengajaknya kembali ke kamarnya.
Diluar masih ada sisa-sisa air hujan. Pelataran yang masih basah, juga genangan-genangan air di sebagian tempat menandakan hujan siang tadi sempat deras.
"Saya langsung ya, Sam." Ucap Budi pada Samuel ketika mereka sudah berada di luar area Lapas.
"Loh, kamu mau kemana, Bud?" Tanya Samuel keheranan.
"Mungkin saya akan pulang dulu, Sam." Sahut Budi lirih.
"Oh, baiklah kalau begitu. Hati-hati kamu." Ucap Samuel kemudian.
"Oh, iya, Sam. Boleh saya membuat satu permintaan ke kamu?" Ucap Budi sebelum berpisah dengan Samuel.
"Mengenai?" Tanya Samuel sarat keheranan.
"Pertemuan kita ini, juga soal...?" Bud menghentikan sesaat ucapannya.
Samuel masih menunggu Budi melanjutkan ucapannya.
Budi nampak menghela nafas.
"Soal apa, Bud?" Tanya Samuel ketika dirasa Budi terlalu lama menahan kelanjutan ucapannya.
Sekali lagi Budi menarik nafasnya dalam-dalam, "Soal Ajimukti, Sam. Saya tahu kamu cukup dekat dengan Ajimukti. Saya harap kamu merahasiakan pertemuan kita ini, merahasiakan soal kedekatan saya dengan Arya dengan Hexa. Bisa, Sam?" Tanya Budi kemudian.
Samuel mengangguk, "Tapi kenapa, Bud?" Tanyanya kemudian.
"Soal itu biar menjadi alasan yang tidak harus saya jelaskan, Sam." Sahut Budi.
Sekali lagi Samuel mengangguk, "Baiklah, Bud. Apapun alasan kamu saya tidak mau tahu. Saya menghormatinya. Dan mengenai pesan kamu tadi. Saya berjanji untuk merahasiakannya dari Mas Aji."
"Terima kasih, Sam. Kalau begitu saya duluan." Ucap Budi kemudian berlalu mendahului Samuel.
Samuel hanya mengangguk sembari melemparkan seulas senyum kemudian membiarkan Budi menjauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Setelah dirasa Budi semakin jauh, Samuel pun segera bergegas untuk kembali ke pasar.
Bekas hujan masih menyisakan embun dan bulir-bulir bening pada beberapa daun. Tanah yang basah pun menyeruakkan bau anyir yang terbawa hembusan angin. Langit masih sedikit mendung, matahari masih enggan beranjak dari balik selimut awan keabu-abuan itu.
__ADS_1
Samuel berdiri di trotoar jalan menunggu angkutan yang akan membawanya kembali ke pasar. Diantara sisa air hujan yang masih menetes dari daun di atasnya, ada senyum teduh yang begitu saja mengembang dari bibirnya.
Bersambung...