BROMOCORAH

BROMOCORAH
Kebetulan Yang Kebetulan


__ADS_3

Keesokan harinya, sehari setelah kepulangan Ari Godril kerumahnya. Baron memandang tajam Suko yang baru saja tiba di ruangannya.


"Jadi benar yang kamu katakan, Suko? Orang orang kamu sudah menemukan jejak Warsito itu?" Tanya Baron sembari menikmati rokok di ujung pipanya.


"Benar, Kang. Secara tidak sengaja orang orang saya bertemu Warsito di Rutan. Mereka sempat ingin menahan Warsito tapi sayangnya Warsito berhasil melarikan diri dan orang orang saya kehilangan jejaknya." Ucap Suko menyiratkan rasa kekecewaannya.


"Di Rutan ya? Ada keperluan apa Warsito disana?" Baron bergumam.


"Entahlah, Kang. Mungkin dia membesuk seseorang disana." Sahut Suko sedikit menaikkan pundaknya.


"Tapi setidaknya ini sudah cukup untuk kita laporkan pada Kang Prastowo." Imbuh Baron kemudian.


"Benar, Kang." Suko mengiyakan.


"Oh, iya, Suko. Saya ada tugas lain untuk kamu." Ucap Baron kemudian.


"Tugas apa, Kang?" Tanya Suko sedikit mengerutkan keningnya. Suko nampak sedikit ragu dan bertanya dalam hati, di saat seperti ini kenapa Baron masih bisa menerima klien.


Baron menyadari kegelisahan Suko.


"Tenang saja, Suko. Ini masih ada hubungannya dengan Kang Prastowo. Kang Prastowo juga yang memberi tugas ini." Ucap Baron sembari menjentikkan abu rokok pada asbak.


Suko menghela nafas, namun juga sedikit penasaran.


"Kalau begitu tugas lain itu apa, Kang?" Tanya Suko kemudian.


"Kang Prastowo meminta kita untuk mencari alamat orang ini. Hanya mencari tahu alamatnya, selebihnya, kata Kang Prastowo, akan diselesaikan sama Mas Aji sendiri." Ucap Baron sembari menunjukkan foto pada layar ponselnya.


Suko mengamati baik baik foto pada layar diagonal itu.


"Ini...?" Gumamnya.


Baron menaikkan bola matanya, melirik ke arah Suko.


"Ada apa Suko?" Tanyanya kemudian.


"Orang ini sama dengan yang diminta keponakan saya, dia pun hanya meminta saya membantunya untuk mencarikan alamatnya, kata keponakan saya, itu atas permintaan temannya." Ucap Suko begitu yakin.


Baron mengerutkan kening dengan penuturan Suko tersebut.


"Apa mungkin keponakan saya mengenal Kang Prastowo atau bahkan Mas Aji ya, Kang?" Suko bergumam.


"Kamu coba tanyakan sama keponakan kamu itu, siapa yang menyuruhnya!" Titah Baron kemudian.


"Baik, Kang. Dan kebetulan saya sudah berhasil menemukan alamat orang dalam foto ini." Ucap Suko memastikan.


Baron menegakkan posisi duduknya.


"Benarkah? Lalu siapa orang ini? Dan dimana alamatnya?" Tanya Baron bersemangat.


"Saya tidak dapat informasi mengenai nama orang ini. Hanya saja informasi yang saya dapat, nama istri orang ini Sarah, dan memiliki seorang anak perempuan yang sekarang berada di pesantren, bernama Habiba." Ucap Suko memberi penjelasan.


"Baik, Suko. Informasi ini akan sangat penting untuk kita laporkan pada Kang Prastowo. Setelah ini kamu siapkan mobil dan kita ke rumah Kang Prastowo." Perintah Baron kemudian.


"Baik, Kang. Akan segera saya siapkan." Sahut Suko kemudian berdiri dan keluar untuk menyiapkan mobil seperti permintaan Baron itu.


Begitu tiba di tempat parkir, Suko terlebih dahulu menelfon keponakannya, Ari Godril, untuk menanyakan siapa teman yang menyuruhnya mencari alamat orang yang sama dengan perintah Prastowo itu.


"Iya, Pak Lek. Ada apa? Bukankah di pesan kemarin Pak Lek ingin datang langsung kesini?" Suara Ari Godril dari seberang begitu ia mengangkat telfon Suko itu.


"Bukan soal itu. Ada yang ingin Pak Lek tanyakan padamu." Ucap Suko kemudian.


"Hmmm, soal apa Pak Lek?" Sahut Ari Godril.


"Apa kamu mengenal seseorang bernama Prastowo?" Tanya Suko tanpa basa basi.


"Prastowo? Hmmm, saya tidak mengenalnya, Lek. Prabowo ada, panggilannya Wowok." Jawab Ari Godril.


"Pak Lek sedang tidak ada waktu untuk bercanda, Le. Jawab saja, kamu kenal atau tidak!" Suko nampak serius dengan ucapannya kali ini.

__ADS_1


"Iya iya, Lek. Maaf, sepaneng banget. Saya tidak kenal, Lek. Dan baru dengar namanya." Ucap Ari Godril kemudian.


"Hmmm, baiklah. Kalau Ajimukti, apa kamu kenal atau pernah mendengar namanya?" Tanya Suko lagi.


"Ah, siapa lagi itu Pak Lek. Saya juga tidak mengenalnya. Ada apa Pak Lek mencari nama nama itu? Apa ada masalah? Perlukah bantuan keponakanmu ini? Kebetulan saya butuh pelampiasan untuk peregangan otot otot saya." Tanya Ari Godril kemudian.


"Itu bukan urusan kamu. Dan jaga bicaramu. Kamu tidak tahu siapa orang itu tapi berlagak." Sahut Suko sedikit membentak Ari Godril.


"Maaf maaf, Pak Lek. Oh iya, bagaimana soal alamat orang itu?" Tanya Ari Godril sejurus kemudian.


"Nikmati dulu waktumu disitu. Pak Lek tidak akan ingkar janji." Sahut Suko.


"Oh, iya, Le. Kalau boleh tahu, siapa teman mu yang memintamu mencari alamat orang itu. Sepertinya sangat penting sekali sampai kamu bisa melakukan semua ini?" Tanya Suko kemudian.


"Emmm, namanya Aufa, Lek. Dia memang orang yang sudah merubah saya. Kalau Pak Lek ada waktu saya akan kenalkan dengannya." Jawab Ari Godril bersemangat.


"Baiklah, kalau Pak Lek ada waktu." Sahut Suko.


"Yasudah, Pak Lek ada urusan lain. Salam buat emak mu." Lanjut Suko setelahnya.


"Baiklah baiklah. Pak Lek memang orang yang penuh dengan urusan urusan. Selamat mengurus urusan Pak Lek saja kalau begitu." Ucap Ari Godril dengan nada malas.


Suko tidak menyahut, dia hanya kemudian menutup telfonnya, tak lama setelah itu Baron nampak keluar dan berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan Suko itu.


"Sepertinya orang yang menyuruh Ari keponakan saya bukan Kang Prastowo maupun Mas Aji, Kang. Saya baru saja menanyakannya, dan Ari tidak mengenal mereka. Teman Ari itu bernama Aufa." Ucap Suko ketika mereka sudah berada di jalan.


"Hmmm, yasudah, Suko. Tapi setidaknya karena permintaan keponakan kamu itu, kita jadi bisa menemukan alamat orang yang diminta Kang Prastowo itu. Semoga Kang Prastowo juga Mas Aji tidak lagi kecewa dengan apa yang sudah kita lakukan tempo hari." Sahut Baron yang duduk kursi samping kemudi.


"Iya, Kang." Suko hanya menyahut datar.


"Setelah dengar keterangan kamu barusan, saya jadi punya kesimpulan, Ko." Ucap Baron sedikit tersenyum.


Suko melirik itu, "Kesimpulan apa, Kang?" tanyanya penasaran.


"Seperti informasi yang kamu dapat, orang itu punya anak gadis kan? Dan lagi Kang Prastowo berpesan pada saya hanya sekedar mencarikan alamatnya orang itu saja, selebihnya urusan Mas Aji. Lalu teman kepanakanmu juga hanya ingin mencari alamatnya saja kan? Emmm...." Baron menghentikan ucapannya.


Suko mengangguk.


Suko mendadak tertawa, "Bisa jadi, Kang. Jika memang begitu, soal temannya keponakan saya, biar nanti saya yang urus. Kita bisa bantu Mas Aji, Kang." Usul Suko kemudian.


Baron pun tiba tiba tertawa di ikuti Suko yang juga kembali tertawa.


Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di halaman rumah Prastowo. Melihat ada mobil yang berhenti di halaman rumahnya, Prastowo juga Sumiatun pun segera keluar untuk melihat siapa yang datang.


Begitu melihat ternyata itu Baron juga Suko, Prastowo pun segera mengajak mereka masuk ke dalam ruang tengah rumah itu.


"Ada apa kalian menemui saya?" Tanya Prastowo sesaat kemudian.


"Ini mengenai tugas yang Kang Prastowo berikan pada kami, Kang." Jawab Baron menjelaskan.


"Oh, iya iya. Bagaimana soal tugas itu? Apa kalian sudah mendapatkan informasi yang saya inginkan?" Tanya Prastowo lagi.


Baron melirik Suko, Suko mengerti maksud Baron. Suko pun segera menjelaskan pada Prastowo.


"Jadi orang orang saya sempat bertemu dengan Warsito itu di Rutan, Kang. Hanya saja Warsito cukup licik sehingga orang orang saya kehilangan jejaknya." Suko menjelaskan.


"Rutan? Ada keperluan apa orang itu di Rutan?" Prastowo bergumam sembari menggaruk dagunya.


"Itulah, Kang. Saya pun belum tahu pasti ada urusan apa Warsito itu di Rutan. Tapi saya sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya, Kang." Suko menambahkan penjelasannya.


"Baiklah, terima kasih untuk kerja keras kalian. Saya tetap menunggu kabar selanjutnya." Ucap Prastowo dengan ekspresi yang sangat berbeda dengan ketika ia datang menemui Baron tempo hari.


"Lalu untuk tugas kedua, soal mencari alamat seseorang itu. Suko juga sudah menyelesaikannya, Kang. Suko sudah mendapatkan alamat orang itu." Ucap Baron setelahnya.


"Oh, benarkah? Dimana alamatnya?" Tanya Prastowo bersemangat.


"Entah kebetulan atau bagaimana, Kang. Tapi orang itu mengontrak di rumah yang dulu pernah saya kontrak, tepat berada di samping rumah istri Kang Dasman." Ucap Suko menjelaskan.


Prastowo terkejut mendengar itu.

__ADS_1


"Dan kebetulan lagi, beberapa hari yang lalu, keponakan saya juga meminta bantuan saya untuk mencari alamat orang itu juga, Kang. Tapi setelah saya tanyakan ternyata teman keponakan saya itu bukan sampeyan ataupun Mas Aji. Ada orang lain juga yang mencari orang itu, melalui keponakan saya." Lanjut Suko kemudian.


"Begitu ya. Tapi, terima kasih. Kerja bagus. Saya akan memberi tahu ini pada Mas Aji sekarang." Prastowo segera berdiri dan terlihat sedang melakukan panggilan.


Hanya beberapa patah kata yang ia ucapkan saat menelfon, lalu menutup telfonnya dan kembali ke kursinya semula.


"Kita tunggu Mas Aji. Sebentar lagi pasti kesini." Ucap Prastowo kemudian.


Baron dan Suko hanya mengangguk.


Tak berselang lama, Ajimukti, Sobri juga Manan pun tiba di rumah Prastowo. Sobri yang melihat mobil sedan hitam terparkir di halaman rumah Prastowo sedikit berbisik pada Ajimukti. Ajimukti hanya mengangguk paham.


Setelah mengucap salam mereka pun di persilahkan masuk. Sejenak Ajimukti dan Sobri saling beradu pandang dengan Suko. Sobri pun ingat bagaimana tempo hari ia beradu kemampuan dengan Suko yang kini dihadapannya.


"Apa kabar, Pak Suko?" Tanya Sobri kemudian.


Suko tersenyum lalu menghampiri Sobri dan seketika memeluknya.


"Maafkan saya yang tempo hari." Ucap Suko, lalu melepas pelukannya pada Sobri.


"Sudahlah, Pak Suko, lupakan. Sekarang kita adalah keluarga." Sahut Sobri ramah.


Baron dan Suko pun beralih pada Ajimukti, setelah menyampaikan permintaan maaf mereka, mereka pun kembali duduk di kursi ruang tengah rumah Prastowo itu.


"Jadi apa yang ingin, Pak Lek sampaikan?" Tanya Ajimukti kemudian pada Prastowo.


Prastowo memberi isyarat pada Baron, Baron hanya mengangguk paham, lalu menegakkan posisi duduknya.


"Begini, Mas Aji. Ini berkaitan dengan orang yang menyuruh saya mengerjai Mas Aji itu." Baron mengawali ucapannya.


"Emmm, orang yang bernama Warsito itu, Pak?" Tanya Ajimukti memastikan.


Baron mengangguk, "Orang orangnya Suko sudah sempat bertemu dengan orang itu di Rutan, hanya saja mereka gagal mengejar Warsito itu. Maafkan kami." Baron menunduk.


Ajimukti tersenyum, "Tidak apa apa, Pak. Justru saya berterima kasih atas bantuannya. Dan maaf sudah sangat merepotkan."


"Tidak, Mas Aji. Ini bentuk penebusan atas kesalahan kami." Baron menimpali.


"Tapi di Rutan? Ada urusan apa orang itu di Rutan?" Ajimukti bergumam.


"Entahlah, Mas. Tapi orang orang saya sudah saya suruh menyelidiki itu." Suko menambahi keterangan Baron.


"Saya sangat berterima kasih, Pak." Ajimukti sedikit menunduk pada Suko.


"Lalu, ada lagi, Mas Aji." Imbuh Prastowo.


"Soal apa, Lek?" Tanya Ajimukti pada Prastowo.


"Mengenai Aminudin." Ucap Prastowo sembari mematikan sisa rokoknya pada asbak di atas meja.


"Kyai Aminudin? Bagaimana, Lek?" Tanya Ajimukti bersemangat.


"Suko sudah menemukan alamatnya. Biar Suko yang menjelaskan." Prastowo melirik Suko. Suko segera mengerti.


"Seperti yang tadi sempat saya sampaikan pada Kang Prastowo, Mas Aji. Entah kebetulan atau apa, tapi ternyata orang yang sampeyan ingin tahu alamatnya itu, mengontrak di sebuah rumah yang dulu sempat saya kontrak, dan rumah itu bersebelahan dengan rumah kakak ipar saya." Suko menjelaskan.


"Wah, sangat kebetulan sekali itu, Jik." Manan nampak terkesan.


"Tidak hanya itu, Mas. Yang membuat saya cepat mendapat alamat orang itu karena kebetulan juga, keponakan saya beberapa hari yang lalu juga meminta saya untuk mencari alamat orang itu. Dan kata keponakan saya itu atas permintaan temannya. Hanya saja ketika tadi saya tanyakan kepada keponakan saya, dia tidak mengenal Kang Prastowo ataupun sampeyan. Ada orang lain yang menyuruhnya." Suko melanjutkan penjelasannya.


Ajimukti tersentak, "Ada orang lain yang mencari Kyai Aminudin melalui keponakan sampeyan, Pak?"


"Betul, Mas." Suko menjelaskan.


Ajimukti mengerutkan keningnya. Siapa kira kira orang yang mencari Kyai Aminudin melalui keponakan Suko tersebut dan ada urusan apa?


"Apakah keponakan kamu itu anak Kang Dasman, Ko?" Tanya Prastowo saat itu.


"Benar, Kang." Suko membenarkan sembari mengangguk.

__ADS_1


Ajimukti kemudian hanya terdiam. Dalam pikirannya apa semua ini berkaitan, tentang orang bernama Warsito itu juga teman dari keponakan Suko itu. Tapi untuk saat ini Ajimukti tidak ingin berprasangka buruk. Seperti kata Suko, mungkin semua kebetulan ini memang hanya kebetulan.


Bersambung...


__ADS_2