
Hari itu, di pagi menjelang siang, di serambi sebuah rumah yang sebagian cat di temboknya mulai mengelupas.
"Kamu sudah datang, Cah Bagus?" Sapa seorang wanita paruh baya pada seorang anak muda yang sejak beberapa menit yang lalu duduk di bangku serambi rumah itu.
"Sudah, Bu Dhe. Maaf soalnya tadi kebetulan ban motor saya bocor Bu Dhe, jadi agak kesiangan." Ucap pemuda itu sedikit menjelaskan sesuatu.
"Yasudah, Le. Tidak apa apa. Oh, iya, Le. Kamu sudah sarapan belum? Kebetulan hari ini Bu Dhe masak oseng teri." Ucap wanita paruh baya itu kemudian.
"Kebetulan sudah, Bu Dhe. Sebelum berangkat tadi saya sudah sarapan." Sahut pemuda itu.
"Yasudah kalau begitu, Le."
"Oh, iya, Bu Dhe. Apa kita berangkat sekarang atau bagaimana Bu Dhe." Ucap pemuda itu setelahnya.
"Kamu tidak mau minum minum dulu, Le? Bu Dhe buatkan kopi dulu bagaimana?" Wanita itu sesaat menawarkan minum pada si pemuda.
"Tidak usah, Bu Dhe. Tadi waktu di tempat tambal ban saya sudah minum es. Soalnya habis nuntun sepeda lumayan, jadi gerah. Nanti kalau ngopi, malah anyang anyangen tho, Bu Dhe." Kelakar pemuda itu sembari sedikit tertawa ringan.
"Nek nyang nyangan yo di kekne sisan tho, Le." Sahut wanita paruh baya itu tak mau kalah.
"Bu Dhe Sih ini bisa saja lho." Pemuda itu semakin memperlebar tawanya.
"Oh, iya, Bu Dhe. Saya dengar Mas Arya sempat kesini? Apa sudah pergi lagi?" Tanya pemuda itu kemudian.
"Halah, Le Le. Kamu itu, kayak tidak tahu mas mu wae. Mas mu itu kesini juga cuma hitungan jam, habis itu pergi dinan dinan." Sahut wanita paruh baya itu sembari merapikan selendang yang melingkar di bahunya.
"Oh, iya, Le. Surat yang Bu Dhe suruh antarkan bagaimana? Sudah kamu kirimkan?" Tanya wanita itu kemudian.
"Sudah, Bu Dhe. Saya berikan ke santri sana." Sahut pemuda itu kemudian.
"Tapi benar kan sesuai alamat yang Bu Dhe berikan ke kamu?" Tanya wanita itu memastikan.
"Yakin, Bu Dhe." Sahut pemuda itu tak kalah meyakinkan.
"Baguslah, Le. Terima kasih ya, Le." Sahut wanita itu sembari sedikit melengkungkan bibirnya.
"Tapi, Bu Dhe. Bukankah itu pesantrennya kakak Bu Dhe dan kata Bu Dhe yang ngurus sekarang keponakan Bu Dhe. Kenapa harus dengan surat Bu Dhe kalau ada yang ingin Bu Dhe sampaikan." Tanya pemuda itu beberapa saat kemudian.
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum tidak menyahut.
"Sudah sudah, itu nanti nanti saja Bu Dhe beri tahu, sekarang antar saja Bu Dhe bertemu sahabat Bu Dhe." Ucap wanita itu kemudian.
Si pemuda hanya mengangguk.
"Nanti kamu ikut masuk saja, Le. Dari pada menunggu diluar, kan lama." Ucap wanita itu ketika sudah berada di atas motor.
"Wah, tidak saja Bu Dhe, nanti saya malah cuma dlongap dlongop. Malah nanti saya di kira pasien disana juga." Sahut si pemuda sembari menyalakan mesin motornya.
"Kamu itu, Le Le. Bisa saja. Memangnya kamu mau jadi pasien disana? Kalau mau biar nanti Bu Dhe daftarkan sekalian." Ucap wanita paruh baya itu sedikit menggoda si pemuda.
__ADS_1
"Ah, Bu Dhe Sih ini lho bisa saja kalau ngerjain saya." Ucap pemuda itu sembari memacu gas sepeda motor yang di kemudikannya.
Dua jam perjalanan berlalu tanpa terasa, motor yang dikendarai pemuda dan wanita paruh baya itu kini nampak memasuki sebuah pusat rehabilitasi jiwa. Tak lama motor itu berhenti dan si wanita nampak turun dari motor itu.
"Kamu benar tidak ikut masuk, Le?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Tidak Bu Dhe. Saya tunggu di warung biasanya saja. Bisa merokok sambil lihat YouTube." Sahut si pemuda sembari cekikikan.
"Yasudah kalau begitu, Bu Dhe masuk dulu, Le."
Setelah itu si wanita paruh baya itu segera berjalan masuk ke dalam gedung tempatnya berhenti, sementara si pemuda kembali memacu motornya keluar dari halaman gedung itu.
"Keluarga Ibu Ningsih ya?" Sapa seorang penjaga yang sepertinya begitu hafal dengan wanita itu.
"Betul, Bu." Sahut si wanita sembari melemparkan senyum ramahnya.
"Ini Bu Ningsih masih senam, Bu. Mohon ditunggu sebentar. Oh, iya, Bu. Kebetulan juga ada keluarga Bu Ningsih yang juga mengunjunginya." Ucap si penjaga itu kemudian.
"Keluarga Bu Ningsih? Siapa, Bu?" Tanya wanita paruh baya itu sedikit mengerutkan keningnya.
"Mas yang itu, Bu." Tunjuk si penjaga pada seorang pemuda yang duduk tak jauh dari tempat jaga itu.
Si wanita paruh baya segera menghampiri pemuda itu.
"Maaf, Mas. Mas ini apa benar keluarga Ningsih?" Tanya wanita paruh baya itu tanpa basa basi.
"Saya temannya Ningsih, Mas. Saya sering kok mengunjungi Ningsih kesini. Maaf kalau boleh tahu Mas ini siapa ya?" Tanya wanita paruh baya itu kemudian.
"Saya Budi, Bu. Keponakannya Bu Dhe Ning. Bu Dhe Ning itu Bu Dhe saya, kakaknya bapak saya." Sahut pemuda yang tak lain adalah Budi.
"Oh, Nak Budi anaknya Mas Nugroho?" Tanya wanita paruh baya itu kemudian.
Budi mengangguk pelan, "Benar, Bu. Saya anaknya Pak Nugroho."
"Wah, sudah besar rupanya. Kenalkan, Mas. Saya Mulatsih, saya ini temannya Ningsih dari Ningsih masih sekolah dulu." Ucap wanita paruh baya bernama Mulatsih itu setelahnya.
"Oh, begitu rupanya. Baru tahu ini kalau Bu Dhe Ning punya teman yang masih sering mengunjunginya." Sahut Budi mulai tidak canggung lagi.
"Panggil saja saya Bu Dhe Sih, Mas." Ucap Mulatsih itu kemudian.
Setelah berkata seperti itu, Mulatsih kemudian duduk di bangku bersebalahan dengan Budi.
"Dulunya, Ning itu orangnya grapyak, Mas. Gampang akrab dengan siapa saja. Dia dulunya banyak teman. Tapi semenjak Ning seperti ini, mungkin hanya saya satu satunya temannya Ning, Mas." Ucap Mulatsih kemudian.
Budi nampak tercengang, "Berarti Bu Dhe Sih ini tahu betul tentang Bu Dhe saya itu?" Tanyanya kemudian.
Mulatsih tersenyum, "Tentu saja saya tahu, Mas. Bahkan soal sebab kenapa Ning seperti ini pun saya tahu." Sahut Mulatsih setelahnya.
"Berarti kedekatan Bu Dhe Sih dengan Bu Dhe saya ini jauh dari pada kedekatan saya dengan Bu Dhe." Sahut Budi kemudian.
__ADS_1
"Memang, Mas. Saya ingat betul, dulu waktu saya terakhir ke rumah Ning dan Ning belum seperti sekarang ini, umur kamu masih hitungan bulan, Mas. Bahkan anak saya saja lebih tua dari kamu." Kenang Mulatsih kemudian.
"Emmm, berarti Bu Dhe Sih tahu betul soal laki laki itu?" Tanya Budi kemudian.
Mulatsih sedikit menoleh ke arah Budi, lalu menganggukkan kepalanya ringan.
"Bisa di bilang, saya lah penyebab Ning seperti ini, Mas?" Ucap Mulatsih kemudian.
"Maksud Bu Dhe Sih?" Tanya Budi penasaran.
"Yah, saya lah yang mengenalkan Ning dengan laki laki itu." Sahut Mulatsih tenang.
Budi hanya mengangguk mendengarkan.
"Laki laki itu kakak saya. Yah, karena saya dan Ning adalah teman dekat, awalnya saya hanya berniat untuk mengajak Ning untuk menemani saya menemui kakak saya itu, Mas. Tapi siapa sangka, Ning diam diam menyimpan perasaan terhadap kakak laki laki saya itu, sementara keadaannya, kakak saya itu sudah beristri. Dan siapa sangka juga semua akhirnya seperti ini." Ucap Mulatsih kali ini suaranya sedikit tertahan.
"Jadi begitu, Bu Dhe." Sahut Budi kemudian.
"Benar, Mas. Semua berawal dari situ." Mulatsih menghela nafasnya.
"Saya merasa menyesal sudah mengenalkan Ning pada kakak saya itu, Mas. Jika saja waktu itu saya tidak mengajak Ning, mungkin Ning tidak akan seperti ini." Lanjut Mulatsih kemudian.
"Sudahlah, Bu Dhe. Semua mungkin memang sudah di atur seperti ini. Ini bukan salah Bu Dhe juga. Siapa yang tahu dan siapa yang bisa mengira bagaimana sebuah hati di bolak balikan kan Bu Dhe?" Ucap Budi kemudian.
"Kamu benar, Mas. Tapi bagaimana pun rasa sesal itu selalu ada. Makanya, bagaimana pun kondisi Ning, saya tetap akan menganggap Ning itu sahabat saya." Sahut Mulatsih setelahnya.
"Saya salut dengan persahabatan antara Bu Dhe Sih dengan Bu Dhe Ning. Sahabat tanpa terpengaruh dengan bagaimana kondisi keadaan masing masing." Ujar Budi kemudian.
"Selain karena alasan yang Bu Dhe bilang tadi juga karena Bu Dhe ini sudah bukan anak muda lagi, Mas. Bagi anak muda akan mudah untuk mencari teman atau sahabat. Tapi jika sudah tua begini, semua akan sibuk dengan urusan masing masing, anak sibuk dengan hidupnya sendiri, yang ada hanya sepi, Mas. Makanya, meski Ning seperti itu, tapi saya selalu bisa berbagi keluh kesah dengannya, Mas. Dan lagi, Ning tidak seperti bayangan kita kok, Mas. Memang terkadang dia masih ngelantur kalau bicara. Tapi ada kalanya, ia bahkan bisa memberi solusi yang bahkan kita saja tidak pernah terpikirkan." Ucap Mulatsih kemudian.
Budi mengangguk anggukan kepalanya, "Bu Dhe benar. Kadang rasa sepi itu hal yang bisa jadi sangat menakutkan di banding apa pun juga."
Mulatsih hanya kemudian tersenyum.
"Mas Budi ini kerja atau bagaimana?" Tanya Mulatsih kemudian.
Budi tersenyum, "Dulunya saya nyantri Bu Dhe, tapi setelah bapak ada masalah, saya jadi sedikit minder dan akhirnya memutuskan untuk keluar. Dan sekarang saya hanya lontang lantung sembari membenahi diri saya saja Bu Dhe." Sahut Budi kemudian.
"Oh, jadi kamu pernah nyantri, Mas. Wah, sama dengan anaknya Bu Dhe. Anaknya Bu Dhe dulu juga nyantri, tapi sekarang juga sama persis kayak kamu. Lontang lantung tidak jelas. Bu Dhe saja kadang bingung hanya sekedar untuk tahu kabarnya. Bahkan kemana mana Bu Dhe justru sama keponakannya almarhum suami Bu Dhe." Ucap Mulatsih kemudian.
Budi tertawa mendengar itu.
"Wah, ternyata ada juga yang seperti saya ya Bu Dhe. Saya pikir hanya saya yang mantan santri kemudian memilih kelayapan tidak jelas." Ujar Budi kemudian.
"Heh, tidak boleh bilang begitu, Mas. Tidak ada istilah mantan santri. Berada atau tidaknya kamu di pesantren, kamu tetaplah harus menanamkan diri kamu bahwa kamu itu santri, Mas. Santri itu bukan gelar, tapi penanaman diri yang harus tertanam dalam hati. Pengakuan diri yang harus selalu di pupuk jangan sampai layu. Bu Dhe juga selalu mengingatkan hal itu sama anak Bu Dhe. Meski tidak lagi nyantri, Bu Dhe selalu mewanti wanti anak Bu Dhe untuk selalu mengamalkan apa yang sudah ia dapat, sekecil apapun itu. Karena meski hanya sekecil biji gandum, kalau itu bisa menjadikan manfaat untuk orang lain, itu justru akan lebih berkah daripada methenteng ngadep kitab di pesantren, Mas." Ucap Mulatsih kemudian.
Mendengar itu, ada sebuah perasaan yang kemudian menjalar di dalam hati Budi. Ia seolah mendapat pukulan yang kuat yang membuatnya sedikit bergetar kali ini. Untuk sesaat ia hanya menundukka kepalanya. Ini kali kedua ia mendapat perhatian yang luar biasa dari orang yang baru dikenalnya, setelah ia mengenal Arya sebelumnya.
Bersambung...
__ADS_1