BROMOCORAH

BROMOCORAH
Pesan Prastowo


__ADS_3

Sore harinya, Ajimukti mendatangi Prastowo bersama Sobri juga Manan untuk menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi itu alasannya sebenarnya kenapa Nugroho menyerang sampeyan, Mas?" Tanya Prastowo setelah Ajimukti menceritakan apa yang ia tahu dari Nugroho.


"Benar, Lek." Sahut Ajimukti sembari mengangguk mengiyakan.


"Jadi Nugroho itu adiknya Ningsih gadis yang waktu itu hampir setiap hari datang ke terminal. Hmmm..." Prastowo seolah ingat sesuatu.


"Jadi Pak Lek pun tahu soal Ningsih Ningsih itu?" Tanya Sobri kemudian.


"Tidak begitu tahu. Yang saya tahu, ada gadis cantik dari kalangan berada hampir setiap hari mendatangi terminal untuk bertemu Kang Salim. Tapi setiap kali gadis itu datang, Kang Salim selalu beralasan ini itu untuk tidak berlama lama dengan gadis itu. Hmmm... benar dugaan kami dulu bahwa gadis itu memang menaruh hati pada Kang Salim, dan sangat tidak saya sangka bahwa itu akan jadi masalah di masa sekarang." Prastowo nampak mengangguk ringan.


"Sebaiknya kita lepaskan Pak Warsito saja, Lek. Toh, kita sudah tahu akar permasalahannya." Ucap Ajimukti setelah itu.


"Tapi, Jik. Jika kita lepaskan sekarang, sementara Pak Nugroho masih terlihat dendam, apa tidak akan menimbulkan masalah lagi? Bisa jadi mereka kembali merencanakan sesuatu." Sahut Manan kemudian.


"Saya tahu, Nan. Tapi apapun rencana mereka nantinya, saya yakin, saya bisa mengatasinya. Dan lagi, saya jadi tahu sesuatu tentang kehidupan Pak Nugroho yang lain." Ucap Ajimukti kemudian.


"Apa itu, Jik?" Tanya Manan penasaran.


Ajimukti tersenyum, setelah menyeruput kopinya ia kemudian menyalakan sebatang rokok.


"Kamu ingat Samuel, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Samuel? Tunggu tunggu. Rasanya saya tidak asing dengan nama itu, Jik." Manan seolah mengingat ingat nama yang disebutkan Ajimukti itu.


"Oh, iya, Jik. Saya ingat. Bukankah dia yang punya warung di ujung terminal itu. Emmm, yang orang non muslim itu kan, Jik?" Manan sepertinya mulai ingat sesuatu.


Ajimukti mengangguk, "Benar, Nan. Samuel yang itu."


"Lalu apa hubungannya dia dengan masalah ini, Jik?" Manan masih belum bisa menangkap ucapan Ajimukti.


"Apa ada nama baru lagi, Mas?" Tanya Prastowo yang juga penasaran.


"Tidak, Lek. Begini, Nan. Jadi Samuel itu sebenarnya adalah anak Pak Nugroho dari pernikahan sebelumnya. Jadi Samuel itu kakaknya Budi hanya saja beda ibu." Ucap Ajimukti kemudian.


Manan terkejut, ekspresinya berubah seketika.


"Bagaimana kamu tahu itu, Jik?" Tanya Manan masih dengan ekspresi yang belum berubah.


"Jadi tadi saya sengaja mendatangi Pak Nugroho di tempatnya di tahan, tanpa saya duga, disana saya bertemu dengan Samuel. Hanya saja sepertinya Pak Nugroho tidak ingin saya tahu soal Samuel. Jadi begitu saya datang, beliau segera menyuruh Samuel pulang. Tapi ternyata Samuel masih menunggu saya diluar. Jadi setelah itu kami mengobrol. Ya, dari situlah saya tahu semua itu." Ajimukti menceritakan tentang pertemuannya dengan Samuel juga tentang hubungan Samuel dengan Nugroho.

__ADS_1


"Dari Samuel juga saya tahu alamat Warsito. Juga tentang ibunya Budi yang tinggal di rumah itu saat ini. Budi pun sesekali juga datang kesana." Lanjut Ajimukti.


"Baiklah kalau begitu, Mas. Saya akan beritahu Baron untuk melepaskan Warsito itu." Ucap Prastowo kemudian.


"Iya, Lek. Setelah ini saya selesaikan sendiri masalah dengan Pak Nugroho ini. Tapi jika nanti saya menemui kendala, saya tetap membutuhkan bantuan sampeyan juga yang lainnya." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Tenang saja, Mas. Apapun bantuan yang Mas Aji minta pasti saya siap." Sahut Prastowo.


"Iya, Jik. Kami juga siap. Iya kan, Kang." Manan menambahi, lalu beralih pada Sobri.


Sobri hanya mengangguk.


"Yasudah, Lek. Kalau begitu saya pamit dulu. Sebelum Maghrib saya harus menggantikan Gus Faruq untuk nyemak anak anak. Tadi pagi Gus Faruq ijin, hari ini katanya beliau pulang." Ucap Ajimukti sembari berdiri dari duduknya.


"Iya, Mas. Bagaimanapun nanti kabari saya, Mas." Sahut Prastowo lagi.


"Pasti, Lek."


"Ngapunten, Gus. Saya kentun rien nggeh. Ada yang mau saya obrolkan dengan Pak Lek." Ucap Sobri menyela.


Ajimukti menoleh ke arah Sobri, lalu tersenyum dan mengangguk.


Tak lama Ajimukti dan Manan pun berlalu dari rumah Prastowo itu. Sementara Sobri dan Prastowo masih berdiri di teras rumah Prastowo.


Prastowo tersenyum, "Sebenarnya tidak ada, Bri. Saya hanya ingin memberitahumu saja. Mungkin kurang dari tiga Minggu ini Ajeng akan kembali dari pesantren. Kemungkinan saya sendiri yang menjemputnya, apa kamu mau ikut menjemput Ajeng?" Tanyanya kemudian.


Sobri nampak tersenyum lebar, "Apa tidak apa apa, Lek? Emmm, maksud saya Ajeng. Apa Dik Ajeng tidak akan berpikir macam macam?"


Prastowo menepuk pundak Sobri, "Kamu itu anaknya Dullah, Bri. Jika tidak menjadi menantu saya pun, kamu itu sudah saya anggap anak lanangku dewe."


Sobri nampak tersipu mendengar itu.


"Tapi, Lek. Nanti bagaimana jika seperti waktu itu? Emmm, maksud saya. Gus Aufa yang menjemput Dik Ajeng." Ucap Sobri kemudian.


"Ya kamu benar, Bri. Hmmm...!" Prastowo nampak khawatir, hal itu luput dari perkiraannya.


"Atau begini saja, Bri. Jika nanti Mas Aji yang meminta untuk jemput Ajeng, yasudah kamu tetap ikut saja." Prastowo tidak punya pilihan lain.


"Baik, Lek." Sahut Sobri.


"Ingat, Bri. Allah telah menuliskan nama pasanganmu. Yang perlu kamu lakukan adalah memperbaiki hubunganmu dengan-Nya." Pesan Prastowo pada Sobri sore itu.

__ADS_1


Sobri mengangguk paham.


"Allah menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai, maka janganlah berlebihan mencintainya, agar saat sedih tidak berlebihan. Tetap saling menjaga satu sama lain untuk selalu dekat dengan Allah. Semoga kelak bersama-sama masuk Surga, itu tujuannya."


"Pasti, Lek. Lelaki yang baik tidak akan bermain-main dengan cinta, sebab dia tahu kata cinta menuntut tanggung jawab." Sahut Sobri memberi keyakinan pada Prastowo.


"Saya tahu, dalam segi apapun kamu pantas. Tapi kembali lagi, semua Ajeng lah yang memutuskan pada akhirnya." Sekali lagi Prastowo menepuk pundak Sobri.


Sementara itu di waktu yang hampir bersamaan, sepulangnya dari rumah Prastowo. Ajimukti berjalan santai di iringi Manan. Sesekali ia menyapa beberapa orang ketika ditemuinya di jalan.


"Ada apa ya, Jik. Kok Kang Sobri sepertinya sedang ingin bicara empat mata dengan Pak Dhe Pras?" Tanya Manan kemudian.


"Entahlah, Nan. Saya harap akan ada kabar baik dari obrolan mereka." Sahut Ajimukti.


"Maksud kamu, Jik?" Tanya Manan justru penasaran.


Ajimukti menghela nafas, "Sepertinya, Kang Sobri menaruh hati pada Dik Ajeng, Nan. Itu yang saya tangkap. Tapi Alhamdulillah, karena sebelumnya Pak Lek Dullah juga Pak Lek Prastowo sempat guyonan soal itu. Siapa tahu dari guyonan bisa beneran besanan." Ajimukti sedikit tersenyum di akhir ucapannya.


Namun berbeda dengan Manan. Ia justru mengkhawatirkan soal Ajeng. Bagaimanapun juga, ia tahu Ajeng justru diam diam menyimpan perasaannya untuk Ajimukti.


"Kenapa, Nan?" Tanya Ajimukti menyadari perubahan ekspresi wajah Manan.


"Ah, tidak, Jik." Manan gelagapan ketika Ajimukti menyadari itu.


"Kalau ada yang ingin disampaikan, sampaikan saja, Nan!" Ucap Ajimukti setelahnya.


Manan bimbang, ia tidak tahu apa mungkin ia akan mengatakan perasaan Ajeng pada Ajimukti, ia tidak tahu bagaimana reaksi Ajimukti setelah ini, belum lagi Ajimukti sedang banyak masalah akhir akhir ini. Dan juga, apa Ajeng akan suka ketika perasaannya justru orang lain yang menyampaikannya.


"Tidak, Jik. Tidak sekarang maksudnya." Sahut Manan kemudian.


"Hmmm, yasudah kalau begitu." Ajimukti terdengar menghela nafasnya.


"Mungkin dua Minggu lagi saya akan berkunjung ke Jogja. Apa kamu mau ikut, Nan?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Ke Jogja, Jik? Ada apa?" Tanya Manan penasaran tapi nampak senang dengan ajakan Ajimukti itu.


"Hanya ingin mengunjungi Sibu saja, Nan. Dan lagi kangen suasana pesantren disana. Sekalian ada hal yang mau saya rembukkan sama Sibu." Sahut Ajimukti kemudian.


"Maaf, Jik. Kalau boleh tahu soal apa itu, Jik? Apa soal kejadian yang di timbulkan Pak Nugroho akhir akhir ini atau hal lain?" Tanya Manan sekali lagi.


"Tidak, Nan. Ini bukan soal Pak Nugroho. Saya ingin kesampingkan itu dulu. Ini..." Ajimukti menghentikan ucapannya lalu menghela nafas.

__ADS_1


"Ini soal Habiba."


Bersambung...


__ADS_2