BROMOCORAH

BROMOCORAH
Sobri


__ADS_3

Siang itu di bawah pohon waru yang berdaun cukup lebat, sesekali angin menerbangkan aroma wangi padi yang menguning dari sawah yang membentang di kiri kanan jalan. Terik matahari siang ini cukup menyengat, tapi di bawah pohon waru itu nampak teduh, daun lebat di pohon waru itu mampu untuk memayungi tanah di bawahnya dari sengatan matahari siang ini.


Prastowo menghentikan langkah kecilnya ketika tepat di hadapannya berdiri seorang pemuda yang datang dari arah berlawanan.


"Sobri." Tanyanya dengan sedikit mengerutkan kening.


"Bagaimana bisa kamu sudah ada disini? Mau kemana kamu?" Lanjutnya bertanya.


"Saya menerabas jalan itu, Lek." Tunjuk Sobri pada jalan kecil tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Prastowo mengangguk. Ia pun tahu jalan itu, memang akan lebih cepat, hanya saja harus melewati semak semak juga jalanan tanah yang agak licin.


"Maaf, Lek. Saya sengaja menemui sampeyan disini. Apa Pak Lek ada waktu? Ada yang ingin saya bicarakan dengan Sampeyan, Lek." Ucap Sobri kemudian.


"Oh, begitu rupanya. Kenapa tidak ke rumah saja, Bri?" Tanya Prastowo kemudian.


"Saya hanya tidak enak dengan Bu Lek Sum, Lek." Sahut Sobri sedikit tertunduk.


Prastowo mengangguk, "Baiklah kalau begitu. Apa yang ingin kamu bicarakan? Kebetulan Pak Lek tidak ada kegiatan hari ini." Ucapnya kemudian.


Sobri menghela nafasnya, seolah ia ingin menenangkan hatinya sendiri sebelum bicara.


"Ini mengenai Ajeng, Lek." Ucap Sobri kemudian.


Prastowo mengerutkan kening, lalu ia mengambil duduk di batu besar di bawah pohon itu.


"Ada apa dengan Ajeng?" Tanyanya kemudian.


Sobri pun merasa tidak enak jika harus berdiri, ia pun akhirnya duduk di batu yang lain.


"Entah hanya firasat saya saja atau apa. Tapi sejauh saya mengenal Ajeng, saya merasa Ajeng sepertinya menyimpan sebuah perasaan khusus pada Gus Aufa, Lek." Ucap Sobri pada akhirnya.


Prastowo terhenyak, ia menoleh ke arah Sobri untuk sesaat, sebelum akhirnya mendongak ke atas dan kembali menghela nafasnya.


"Saya sebagai bapaknya Ajeng pun tidak mungkin tidak merasakan itu, Bri. Tapi saya juga tidak bisa berbuat banyak, mengingat semua ini urusannya dengan perasaan seseorang, dan perasaan itu hal yang sangat sensitif." Sahut Prastowo dengan suara beratnya.


"Saya tahu, Lek. Dan mungkin Pak Lek pun menyadari sesuatu." Ucap Sobri kemudian.


"Menyadari sesuatu? Soal apa itu, Bri?" Tanya Prastowo sedikit menoleh ke arah Sobri.


"Soal perasaan Gus Aufa pada Ning Habiba putri Kyai Aminudin, Lek." Ucap Sobri lirih diantara desah nafasnya.


Prastowo kembali terlihat menghela nafasnya. "Ya, kalau soal itu saya pun menyadarinya, Bri. Makanya saya bilang ini hal yang sangat sensitif."


"Itu mungkin alasan kenapa saya menemui sampeyan sekarang ini, Lek." Ucap Sobri kemudian.


Prastowo pun kembali menoleh dan mengerutkan keningnya, tapi akhirnya sebuah senyum mengembang dari bibir hitamnya yang tebal.

__ADS_1


"Jadi kamu...?" Prastowo menggumam dan sedikit mengangguk anggukan kepalanya ringan.


"Saya tidak tahu apa ini pantas saya sampaikan dalam kondisi seperti ini, Lek. Tapi setidaknya saya sudah menjalankan amanah bapak saja." Ucap Sobri menutup ucapannya dengan seulas senyum.


"Amanah Dullah? Maksud kamu?" Tanya Prastowo sarat keheranan.


Sobri masih dengan ekspresi tersenyumnya.


"Bapak berpesan pada saya untuk lebih mengenal Ajeng. Dan sejujurnya..." Sobri memotong ucapannya sendiri.


"Hmmm, jadi Dullah menganggap serius obrolan waktu itu. Tidak saya sangka sebegitu tidak inginnya dia menyinggung saya." Prastowo bergumam diantara senyum yang seketika mengembang.


"Dan kamu, Sobri. Saya sudah sangat paham sekali." Ucap Prastowo kemudian beralih pada Sobri.


Sobri hanya kemudian mengangguk malu.


"Saya tidak bisa membantu banyak, Bri. Semua ini Ajeng penentunya. Jadi Pak Lek menyarankan, berusahalah! Buatlah dirimu dipandang layak di mata Ajeng. Kamu dengan Mas Aji tumbuh bersama, jadi bisa saya pastikan kepribadian kamu pun tak kalah dengan Mas Aji, tapi meski begitu, meski untuk keseluruhan kamu dengan Mas Aji sangat tipis perbedaan wawasan dan pengetahuannya. Tapi kembali lagi ini soal hati, kamu harus bisa memenangkan hati Ajeng jika kamu serius padanya. Untuk selebihnya saya merestui jika itu terbaik untuk Ajeng." Ucap Prastowo sembari memandang lekat ke arah Sobri.


Sobri tersenyum, "Terima kasih, Lek. Meski pada akhirnya Ajeng tidak bisa membuka hatinya untuk saya, tapi saya akan berusaha semampu saya untuk menjadikan diri saya pantas untuk Ajeng." Ucapnya kemudian.


Prastowo berdiri di ikuti Sobri lalu menepuk pundak Sobri.


"Saya akui, sebagai seorang bapak, saya ingin seorang imam terbaik untuk Ajeng. Begitu saya menyadari Ajeng memiliki perasaan pada Mas Aji, saya pun berharap begitu besar. Tapi, jika pada akhirnya kamu bisa memenangkan hati Ajeng, percayalah, saya pun akan sangat bahagia dan tenang menjalani sisa umur saya karena menyerahkan Ajeng pada lelaki sepertimu."


Sobri tak menyahut, dia hanya kemudian tertunduk.


"Yasudah, saya mau ke ladang dulu. Kamu mau ke rumah atau kembali ke pesantren?" Tanyanya pada Sobri.


"Hmmm, baiklah kalau begitu. Lain waktu kita lanjutkan obrolan kita ini, Bri." Ucap Prastowo kemudian.


"Iya, Lek."


Tak lama mereka pun berpisah dan sama sama meninggalkan tempat itu. Sama sama melawan teriknya matahari yang masih terasa menyengat. Namun dibawah sengatan matahari yang terasa membakar kulit itu, ada kelegaan pada hati keduanya yang begitu memberi keteduhan.


Sementara itu di Pondok Hidayah, tak lama setelah berakhirnya perbincangan antara Ajimukti dan yang lainnya. Ari Godril justru datang mengunjungi Ajimukti. Setelah kepulangannya ke rumah orang tuanya, wajah Ari Godril nampak berseri seri kali ini.


"Jadi Pak Lek juga Pak Dhe Baron sudah berhasil menangkap orang yang sempat menyuruh mereka menyerang njenengan itu, Gus?" Tanya Ari Godril di awal awal perbincangan mereka.


"Benar, Kang. Dan setelah di interogasi ternyata ada orang lain di belakangnya, orang itu berada di dalam sel tahanan kota." Sahut Ajimukti.


Ari Godril mengangguk paham, "Kebetulan saya ada teman yang masih menjadi warga binaan disana, Gus. Jika kita sudah tahu namanya, saya bisa minta tolong teman saya itu mencari tahu informasi soal orang itu." Ari Godril menawarkan bantuannya.


"Tidak usah, Kang. Terima kasih sebelumnya. Saya akan langsung menemuinya sendiri saja agar bisa langsung berbicara dengan orang itu." Sahut Ajimukti kemudian.


Tak berselang lama, Sobri nampak berjalan ke arah teras ndalem itu. Melihat ternyata Ari Godril pun disana, ia pun segera menemui mereka.


"Dari mana, Kang?" Tanya Ajimukti begitu melihat Sobri mengambil duduk di depannya.

__ADS_1


"Emmm, dari depan, Gus." Sahut Sobri sedikit ragu.


Namun Ajimukti melihat keanehan pada sahabatnya itu. Ia melihat keringat yang membanjiri wajah Sobri juga warna kulit yang sepertinya habis terkena sengatan matahari. Tapi Ajimukti pun tidak ingin mendesak Sobri untuk berterus terang, ia yakin ada hal pribadi yang Sobri tutupi darinya dan tidak ingin ia bagi bersama dirinya.


Hanya berselang beberapa menit setelah kedatangan Sobri itu, seorang warga dari sekitar pesantren datang dan langsung menuju ndalem. Setelah saling mengucap salam, Ajimukti mempersilahkan warga itu duduk.


"Ini saya di utus Kang Wahyu untuk mengantar ini, Gus. Sekalian ngaturi njenengan, kalau nanti malam tidak ada halangan, njenengan katuran rawuh di rumahnya Kang Wahyu." Ucap warga itu sembari menunjuk besek yang terbuat dari anyaman bambu yang ditaruhnya di atad meja.


"Oh, jadi begitu, Kang? Kalau saya boleh tahu di rumah Kang Wahyu ada acara apa ya, Kang?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Anu, Gus. Itu. Walimahan Aqiqah anak keduanya Kang Wahyu." Sahut warga itu.


"Oh, walimahan ya. Insya Allah nanti saya usahakan untuk datang, Kang. Dan nanti sampaikan terima kasih saya sama Kang Wahyu ya, Kang." Ucap Ajimukti setelahnya.


"Nggeh, Gus. Nanti saya sampaikan." Sahut warga itu kemudian kembali berdiri dan berpamitan pada Ajimukti juga yang berada di teras ndalem itu.


"Aqiqah, Gus?" Tanya Ari Godril kemudian.


"Iya, Kang." Sahut Ajimukti.


"Seberapa penting aqiqah itu, Gus? Saya beberapa kali mendengar itu tapi mau tanya njenengan belum sempat." Ucap Ari Godril setelahnya.


Ajimukti menegakkan posisi duduknya, "Aqiqah dilaksanakan untuk mengungkapkan raya syukur kepada Allah SWT atas hadirnya anggota keluarga baru dalam keluarga, Kang. Aqiqah sendiri berasal dari bahasa Arab al-qat’u yang berarti memotong." Ucapnya kemudian.


"Memotong? Kenapa memotong, Gus? Apa yang di maksud disana, memotong tali pusar?" Tanya Ari Godril penuh rasa ingin tahu.


Ajimukti dan Sobri tersenyum mendengar pertanyaan polos Ari Godril.


"Memotong disini yang di maksud adalah menyembelih, Kang. Adapun menyembelih disini adalah menyembelih kambing sebagaimana yang menjadi syarat pelaksanaan aqiqah itu sendiri, Kang. Seperti yang diterangkan dalam sebuah Hadits, Sayidatun Aisyah RA berkata, Rasulullah bersabda, amarahum 'an al-ghulaami syaataani mukaafiataani wa'an al-jaariyati syaatun. Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing." Ajimukti mulai sedikit memberi penjelasan.


Ari Godril mengangguk, "Jadi sebuah keharusan nggeh, Gus?"


"Untuk yang mampu memang iya, Kang. Seperti dijelaskan dalam Hadits lain dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, beliau berkata Rasulullah bersabda, ma'al-ghulaami 'aqiiqatun fa-ahriiquu 'anhu daman wa amiithuu 'anhul-adza, Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya." Jelas Ajimukti setelahnya.


"Lalu bagaimana jika tidak mampu? Tidak perlu khawatir, di dalam hukumnya, aqiqah umum dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran si jabang bayi, disembelih kan kambing lalu diberi nama dan dicukur rambutnya, rambut itu kemudian ditimbang untuk kemudian di sesuaikan harga emas, misal hasil timbangan rambut itu dua gram, tinggal kita cari tahu berapa harga emas dua gram itu, lalu uang itu kita sedekahkan. Adapun jika belum mampu dihari ketujuh, bisa empat belas hari setelahnya.Jika belum mampu juga, dua puluh satu hari setelahnya. Jika belum mampu juga, sampai ia mampu, bahkan jika harus akhirnya mengaqiqahi dirinya sendiri pun dibolehkan. Tapi jika memang benar benar tidak mampu, maka aqiqah di tiadakan pada diri orang itu, bukan lagi menjadi sebuah keharusan."


"Hukum aqiqah adalah sunah muakkad atau sunah yang sangat diutamakan. Rasulullah SAW bersabda, Semua bayi tergadaikan dengan aqiqah-nya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan, diberi nama, dan dicukur rambutnya." Lanjut Ajimukti kemudian.


"Digadaikan? Maksudnya, Gus?" Ari Godril masih menelisik sampai ia benar benar paham.


"Begini, Kang. Taruhlah pengibaratan disini. Jika kita menggadaikan sesuatu barang pada seseorang, apa barang itu masih bisa dibilang milik kita?" Tanya Ajimukti kemudian.


"Mungkin masih, Gus. Hanya tidak sepenuhnya." Sahut Ari Godril sesuai kemampuan menangkap ucapan Ajimukti.


"Nah, begitulah, Kang. Barang itu baru bisa utuh menjadi milik kita jika kita menebusnya kan? Seperti itu lah aqiqah, aqiqah itu untuk menebus si anak dari Allah. Sebuah ungkapan rasa syukur, Kang." Ajimukti menjelaskan.


Ari Godril mengangguk. "Saya bisa memahami ini, Gus."

__ADS_1


Setelah pembahasan mengenai aqiqah itu, Ari Godril masih bertanya tentang hal hal lain yang belum sepenuhnya ia pahami. Ajimukti pun menjelaskan setiap apa yang Ari Godril tanyakan, sesekali juga Sobri membantu Ajimukti untuk menjelaskan pada Ari Godril di teras ndalem itu.


Bersambung...


__ADS_2