
"Untuk mengawali semua, alangkah lebih baiknya saya meminta maaf dulu sama kamu, Dik." Ucap Ajimukti sembari kembali menghela nafas, menenangkan hatinya sendiri.
Ajeng diam diam tersenyum meski ia menyembunyikan itu.
"Emmm, apa setelah boyong kamu sama Habiba, emmm, maksud saya Ning Biba. Apa masih sering komunikasi, Dik?" Tanya Ajimukti kemudian.
"Alhamdulillah, Kang. Masih. Karena Habiba itu sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Kami bersama sejak dari kami awal masuk pesantren. Apa apa berdua. Yah, kami berharap setelah ini kami pun tetap bisa seperti itu terus, Kang." Ucap Ajeng nampak bersemangat.
Ajimukti tersenyum, "Syukurlah kalau begitu, Dik"
Ajeng mengerutkan keningnya, "Ada apa memangnya, Kang? Emmm, maksud Ajeng, kenapa tiba tiba Kang Aji menanyakan Habiba?" Tanyanya kemudian.
Untuk kesekian kalinya Ajimukti menghela nafasnya, "Saya... Saya ingin jujur tentang sesuatu, Dik." Ucapnya kemudian.
"Jujur?" Ajeng sedikit mengernyitkan dahinya.
"Jujur soal apa, Kang?" Tanyanya setelah itu.
"Soal.... Emmm, soal saya dan Habiba, Dik." Ucap Ajimukti sedikit berat dan tertahan.
Mendengar itu, Ajeng sedikit melengkungkan bibirnya.
"Sejak awal, sejak pertama Habiba bercerita tentang sampeyan, Kang. Saya yakin, sangat yakin, ada sesuatu yang Habiba rasakan pada sampeyan. Dan ketika di kompetisi waktu itu, saat dia memaksa saya mengantarnya untuk mengenalkan saya sama sampeyan, hari pertama dimana saya bertemu sampeyan pula. Saya yakin, Habiba begitu sangat mengagumi sampeyan, Kang." Ucap Ajeng sembari tetap memperlihatkan senyumnya.
"Habiba itu gadis yang baik, Kang. Selain itu dia juga sangat pintar. Sejak kami satu pesantren, saya tidak pernah sedikit pun bisa mengungguli dia." Imbuh Ajeng sedikit memuji Habiba.
Ajimukti kemudian tersenyum, "Saya sudah melamarnya, Dik." Ucap Ajimukti pada akhirnya.
Ajeng masih dengan senyumnya, "Alhamdulillah, Kang. Saya turut senang mendengar itu. Emmm, lalu rencana ke tingkat selanjutnya kapan, Kang?" Tanya Ajeng setelahnya.
"Insya Allah menurut rencana saya Ruwah nanti, Dik. Semoga saja tidak ada kendala." Sambung Ajimukti.
"Syukurlah, Kang. Berarti saya akan kembali dekat dengan Habiba." Ucap Ajeng lirih.
Ajimukti mengangguk ringan.
"Maafkan saya ya, Dik." Ucapnya kemudian.
"Maaf? Maaf untuk apa, Kang?" Tanya Ajeng setelahnya.
"Untuk apapun. Untuk..." Ajimukti menghentikan ucapannya lalu menghela nafasnya.
__ADS_1
"Sudahlah, Kang. Saya tahu maksud sampeyan." Ajeng pun kini menghela nafasnya.
"Setidaknya saya punya kebanggaan tersendiri bisa sedekat ini dengan seorang putra Kyai yang mana Kyai itu sudah seperti saudara bagi bapak saya." Ucap Ajeng kemudian.
Ajeng kembali menghela nafasnya, "Saya hanya berharap apa yang menjadi doa saya tidak salah, Kang. Emmm, dulu saya pernah berdoa semoga kita dipertemukan dua kali, sekali di dunia ini, dan sekali di surga nanti. Semoga kita bisa bertemu juga disana nanti, Kang." Imbuh Ajeng setelahnya.
Ajimukti tersenyum, "Kamu, Manan, Kang Sobri itu saudara saudara saya, Dik. Selamanya akan begitu. Tidak hanya disini. Disana pun saya berdoa, semoga kita semua bisa berkumpul."
"Kang?"
"Iya, Dik."
"Jaga Habiba ya, Kang! Dia sudah memantaskan dirinya, bahkan sebelum mengenal sampeyan. Kini, tugas sampeyan memantapkan hatinya bahwa sampeyan pun sudah berlaku sama sepertinya." Ucap Ajeng kemudian.
Setelah percakapan itu pun, Ajimukti segera undur diri dari kediaman Prastowo untuk kembali ke Pondok Hidayah. Sementara Ajeng, ia pun tak lama setelah kepergian Ajimukti segera masuk ke dalam kamarnya.
Sumiatun menyadari ada sesuatu terjadi pada anak gadisnya itu. Ia pun segera menyusul Ajeng ke dalam kamarnya. Di dalam, Ajeng nampak sedang tidur tengkurap memeluk guling. Samar samar Sumiatun mendengar suara sesenggukan.
"Uwis, Nduk. Awakmu mau ngomong opo karo, Ibu? Wis lali?" Ucap Sumiatun tanpa menggubris apakah Ajeng menyadari kedatangannya atau tidak.
"Mboten, Bu. Ajeng hanya sedang ingin membebaskan perasaan Ajeng saja." Sahut Ajeng masih di posisinya.
"Jebul perih, Bu." Imbuhnya sedikit lebih lirih.
"Nggeh, Bu."
"Yowis gek enggal dileremke atine. Ora apik ngujo panenglasan suwe suwe, Nduk." Ucap Sumiatu kali ini sembari mengelus kepala Ajeng.
"Kenapa ya, Bu. Harus singgah kalau akhirnya tidak untuk sungguh sungguh?" Ucap Ajeng kini mulai beranjak dari tidurnya.
"Loh, itu kan bukan kerentek atine Mas Aji, Nduk. Itu kamu sendiri yang membiarkan hatimu terbuka saat itu." Sahut Sumiatun.
"Iya, Bu. Ajeng tahu itu. Ini semua salah Ajeng." Sahut Ajeng setelahnya.
"Tidak, Nduk. Tidak ada yang salah. Kamu mengaguminya dan itu manusiawi. Hanya saja, ketika rasa kagum itu berubah jadi perasaan lain. Dan ketika perasaan itu tidak bersambut, kamu juga harus legowo, Nduk." Imbuh Sumiatun kemudian.
"Nggeh, Bu." Kini Ajeng mulai menyandarkan kepalanya ke bahu ibundanya itu. Isaknya masih sesekali terdengar.
Sementara itu, Ajimukti yang juga sedang menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi teras, dikejutkan dengan kedatangan Sobri.
"Sepertinya ada sesuatu, Gus?" Tanya Sobri sembari duduk di kursi depan Ajimukti duduk saat ini.
__ADS_1
Ajimukti kemudian menegakkan badannya, "Saya baru saja menemui Ajeng, Kang." Ucapnya lirih setelah itu.
Sobri hanya sedikit mengguratkan senyum.
"Ajeng hanya selalu saja menyembunyikan kesedihannya dengan senyumnya yang sepanjang obrolan selalu ia perlihatkan. Hanya saja, sorot matanya tak bisa menipu saya, Kang." Gumam Ajimukti kemudian.
"Dia itu wanita kuat, Gus. Hanya kurang pandai untuk menyembunyikan perasaannya." Sahut Sobri.
"Apa saya salah, Kang?" Tanya Ajimukti dengan suara lirih dan terdengar berat.
"Tidak, Gus. Akan lebih salah jika njenengan tidak segera memberitahukannya sementara njenengan tahu kebenarannya."
"Tapi, Kang. Kenapa rasanya saya sangat menyesal dengan semua ini." Imbuh Ajimukti.
"Itu bukan penyesalan, Gus. Itu hanya iba. Rasa welas asihe njenengan yang selalu menjadi bagian dari njenengan." Sahut Sobri.
"Ya, sampeyan benar, Kang. Lalu saya harus bagaimana?" Tanya Ajimukti sedikit bimbang pada akhirnya.
"Tidak harus bagaimana bagaimana, Gus. Teruskan langkah njenengan. Ajeng bersikap seperti itu tidak semata untuk menutupi perasaannya atau berpura pura kuat. Itu semua ia lakukan karena ia menghargai njenengan. Wujud legowo nya dia." Timpal Sobri.
"Apakah kebahagiaan harus mengorbankan perasaan orang lain, Kang?" Tanya Ajimukti masih dengan kebimbangan yang sama.
"Qul alhaqo walaw kan murona, Gus. Itu kejujuran, kebenaran, meski pun itu pahit. Bukan sebuah pengorbanan perasaan, Gus." Sahut Sobri.
Ajimukti kemudian hanya tersenyum. Kali ini, keduanya sama sama diam dalam keheningan. Sobri tahu betul bagaimana perasaan Ajimukti saat ini. Ia hanya bisa menenangkan sebisanya..
Di tempat Ajeng sendiri pun juga nampak hening. Sumiatun sudah berlalu dari kamar anak gadisnya itu. Ia ingin membiarkan Ajeng benar benar bisa menenangkan hatinya dulu.
Ajeng duduk menatap halaman belakang rumahnya dari balik kaca jendela. Langit pagi menjelang siang nampak cerah dengan beberapa gumpalan awan yang menggantung indah di sana.
"Jika saja aku bisa mengulangi hidupku lagi, Gus. Aku ingin menemukanmu lebih cepat. Tapi kenyataannya hidup ini sekali. Aku tahu, cinta itu melibatkan dua belah pihak. Jika tidak, maka cinta hanyalah khayalan. Ya, khayalan. Sebuah mimpi berkepanjangan yang tanpa terlelap sekalipun mimpi itu terus menggelayuti ku."
"Gus, terima kasih. Terima kasih karena njenengan sudah berkenan singgah di pintu yang tidak sengaja terbuka. Meski njenengan tidak ingin menetap disana, tapi tolong, Gus. Tolong bantu membersihkan sisa sisa pijakan njenengan itu. Pintu ini kembali ingin ku buka, Gus. Pergilah seperti saat tanpa sengaja njenengan singgah waktu itu! Bawa semua yang njenengan bawa! Biarkan siapa pun yang ingin singgah untuk sungguh, tidak lagi menemukan sisa sisa istirahat njenengan disana. Sudah ku siapkan bilik lain yang yang tidak pernah tertutup untuk njenengan singgahi. Bukan disini, jangan lagi menengok kesini. Pintu ini memang sengaja kembali ku buka untuk kembali menunggu seseorang yang ingin menggantungkan namanya disana."
"Terima kasih, Gus. Sungguh terima kasih."
Ajeng mengusap air matanya yang begitu saja mengalir membasahi pipinya. Sesekali ia nampak menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya kuat kuat.
Diluar, dibalik jendela kamarnya. Langit masih memperlihatkan hamparan yang cerah. Sepertinya tak ada angin, terlihat daun daun yang sejak tadi hanya ikut diam tanpa bergoyang.
Diam diam Sumiatun membuka sedikit pintu kamar anak gadisnya yang sedang dirundung kepiluan itu. Ia sengaja hanya ingin menengok keadaan Ajeng saat ini. Melihat Ajeng yang hanya melamun, hati Sumiatun seolah ikut merasakan kepedihan anaknya itu.
__ADS_1
"Semoga semua segera baik, Nduk. Baik nggo awakmu, baik nggo atimu. Gek ndang wedarke panelangsanmu, Nduk. Jagate lagi rame, ojo ngujo kasepenmu." Batin Sumiatun sembari pelan pelan menutup pintu kamar anaknya itu, dan berlalu membawa rasa perih karena kesedihan yang tengah dialami anak gadisnya itu.
Bersambung...